Arya Tangkas Kori Agung

Om AWIGHNAMASTU NAMOSIDDHAM, Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.

 
Refrensi Pasek Tangkas
Untuk menambah Referensi tentang Arya Tangkas Kori Agung, Silsilah Pasek Tangkas, Babad Pasek Tangkas, Perthi Sentana Pasek Tangkas, Wangsa Pasek Tangkas, Soroh Pasek Tangkas, Pedharman Pasek Tangkas, Keluarga Pasek Tangkas, Cerita Pasek Tangkas. Saya mengharapkan sumbangsih saudara pengunjung untuk bisa berbagi mengenai informasi apapun yang berkaitan dengan Arya Tangkas Kori Agung seperti Kegiatan yang dilaksanakan oleh Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Pura Pedharman Arya Tangkas Kori Agung, Pura Paibon atau Sanggah Gede Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Keluarga Arya Tangkas Kori Agung dimanapun Berada Termasuk di Bali - Indonesia - Belahan Dunia Lainnya, sehingga kita sama - sama bisa berbagi, bisa berkenalan, maupun mengetahui lebih banyak tentang Arya Tangkas Kori Agung. Media ini dibuat bukan untuk mengkotak - kotakkan soroh atau sejenisnya tetapi murni hanya untuk mempermudah mencari Refrensi Arya Tangkas Kori Agung.
Dana Punia
Dana Punia Untuk Pura Pengayengan Tangkas di Karang Medain Lombok - Nusa Tenggara Barat


Punia Masuk Hari ini :

==================

Jumlah Punia hari ini Rp.

Jumlah Punia sebelumnya Rp.

==================

Jumlah Punia seluruhnya RP.

Bagi Umat Sedharma maupun Semetonan Prethisentana yang ingin beryadya silahkan menghubungi Ketua Panitia Karya. Semoga niat baik Umat Sedharma mendapatkan Waranugraha dari Ida Sanghyang Widhi – Tuhan Yang Maha Esa.

Rekening Dana Punia
Bank BNI Cab Mataram
No. Rekening. : 0123672349
Atas Nama : I Komang Rupadha (Panitia Karya)
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, ... Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.
Berbakti
Janji bagi yang Berbakti kepada Leluhur BERBAKTI kepada leluhur dalam rangka berbakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa.
Mantram Berbakti
Berbakti kepada Leluhur Abhivaadanasiilasya nityam vrdhopasevinah, Catvaari tasya vardhante kiirtiraayuryaso balam. (Sarasamuscaya 250) Maksudnya: Pahala bagi yang berbakti kepada leluhur ada empat yaitu: kirti, ayusa, bala, dan yasa. Kirti adalah kemasyuran, ayusa artinya umur panjang, bala artinya kekuatan hidup, dan yasa artinya berbuat jasa dalam kehidupan. Hal itu akan makin sempurna sebagai pahala berbakti pada leluhur.
Ongkara
"Ongkara", Panggilan Tuhan yang Pertama Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu?
Gayatri Mantram
Gayatri Mantram Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam. Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam Mahyam dattwa vrajata brahmalokam. Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.
Dotlahpis property
Image and video hosting by TinyPic
Sanghyang Jaran
Sabtu, 24 November 2007
Sanghyang Jaran sebagai salah satu bentuk penyampaian rasa syukur kepada Sanghyang Jaran Gading. Tarian ritual ini biasanya dimainkan pada hari-hari tertentu bersamaan dengan upacara di pura setempat, namun tarian yang mengandung nilai-nilai tradisi tinggi bagi masyarakat setempat tersebut saat ini sudah mulai jarang dimainkan.

BILA sudah sampai nadi, dalam Sanghyang Jaran, tahap selanjutnya adalah menyanyikan lagu "Dewa Bagus". Liriknya lagunya, "dewa bagus dong ambil kudane mangkin/ kuda sampun mecancang/ mecangcang di kepuh randu". Jika lagu ini sudah berkumandang, penari yang sudah kerauhan akan berjingkrak-jingkrak mendekati kubangan bara api yang telah disiapkan. Begitu sanghyang menerjang api dan menendang ke sana ke mari, koor lagu kian bersemangat mengumandangkan, "kebo jambul bangun lemah galang kangin/ ngetok tangluk magrobogan ngetok tangluk magrobogan/ makekekes makekipu". Sementara itu koor kecak yang dicelotehkan puluhan pria ikut memberi semangat kepada Sanghyang Jaran.

Sebuah lagu yang berjudul "Tut Pekatik Cangcang" dinyanyikan berikutnya agar sanghyang tidak lagi mengamuk dan berhenti bermain api. Kuda-kudaan yang terbuat dari rotan, kayu atau kulit sapi -- biasanya disakralkan -- kemudian dikenakan kepada penari. Sanghyang Jaran memekik girang dan menari bebas seirama dengan lagu koor wanita dan ritme koor kecak para partisipan pria. Sepanjang lagu dan kecak dikemandangkan, penari sanghyang akan terus bergerak yang kadang-kadang jauh di luar arena pentas, seolah-olah mengejar atau mengusir sesuatu. Biasanya para penonton mengikuti dari belakang.

Pementasan Sanghyang Jaran cukup menegangkan. Api yang ditendang-tendang penari sanghyang dan berloncatan kian ke mari sering membuat penonton waswas dan takut. Penonton yang kedapatan sedang merokok akan dikejar Sanghyang Jaran, rokoknya ditepis dan diinjak-injak hingga apinya tak menyala lagi. Jarang ada penonton yang berani menunjukkan api bila ngiring Sanghyang Jaran.

Upacara terakhir pada kesenian Sanghyang Jaran adalah ngaluwur yaitu ritual mengembalikan roh suci sanghyang ke alam asalnya. Tahap ini juga masih diiringi dengan lagu-lagu dan jalinan suara kecak. Setelah mendapat percikan tirta (air suci), penari sanghyang segera sadar dan merasakan tubuhnya letih. Ia kembali menjadi dirinya sendiri, orang biasa. Keberingasan dan kelincahannya seketika sirna.


posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 00.05   0 comments
Barong Landung
Jumat, 23 November 2007
Barong Landung atau Ratu Gede adalah satu wujud susuhunan yg berwujud manusia tinggi mencapai 3 meter. Barong Landung tidak sama dengan barong ket yg sudah dikomersialisasikan. Barong Landung lebih sakral dan diyakini kekuatannya sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan umat. Barong Landung banyak dijumpai disekitar Bali Selatan, spt Badung, Denpasar, Gianyar, Tabanan. Di Sanur, ada 3 banjar yg memiliki barong ini. Karena tidak komersial, yah ga ada pertunjukan utk turisnya.

Story of Barong Landung dimulai saat abad VI dimana Raja Bali saat itu adalah Sri Jaya Kesunu yg memiliki seorang istri dan anak Mayadenawa. Raja Jaya Kesunu memiliki beberapa orang penasehat kerajaan diantaranya adalah Empu Liem sbg penasehat spiritual dan satu lagi orang chinese sebagai penasehat ekonomi. Satu hari, permaisuri wafat yg mengakibatkan Jaya Kesunu sangat sedih hatinya. Beliau murung terus dan kerajaan jadi terbengkalai. Akhirnya Mayadenawa dinobatkan sebagai Raja Bali menggantikan ayahnya Jaya Kesunu. Untuk menghilangkan kesedihan Jaya Kesunu, penasehat kemudian benisiatif menjodohkan salah seorang putri saudagar cina bernama Kang Che We sbg istri kedua Jaya Kesunu. Melihat kecantikan Kang Che We, Jaya Kesunu pun jatuh hati dan menikahinya. Sejak itu Jaya Kesunu kembali terlihat gembira dan ceria. Tapi apa lacur, keinginan Jaya Kesunu utk mendapat anak dari Kang Che We tidak terkabul karena sang putri Kang mandul.

Karena cintanya pada Putri Kang, Jaya Kesunu memerintahkan Empu Liem membuat satu tarian sbg lambang dari dirinya dgn putri Kang. Oleh Mpu Liem, dibuatkanlah 2 patung besar yg bisa ditarikan menyerupai bentuk manusia. Yg satu berwajah laki-laki dengan karakter wajah lokal berwarna hitam sbg lambang dari Jaya Kesunu. Satu lagi adalah perempuan berwajah putih dgn muka cemberut tapi memancarkan sinar keibuan sbg lambang putri Kang. Keduanya kemudian disebut Barong Landung (landung=tinggi). Sampai sekarang, karakter barong landung adalah sama, yg laki2 hitam dan yg perempuan putih. Ini adalah bukti bahwa pernah terjadi perkawinan antara raja Bali dgn putri China. Kalau sekarang ada orang Bali menikah dgn yg keturunan China itu wajar.
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 23.51   0 comments
Tumpek Landep
Saniscara Kliwon Wuku Landep seperti biasa umat Hindu merayakan Tumpek Landep. Apa sesungguhnya makna Tumpek Landep?

Pada rerahinan Tumpek Landep, yang dipuja umat adalah Dewa Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai penguasa makhluk hidup. Beliau memberi anugerah kepada umat manusia dengan simbol keris atau senjata. Karena itu, pada Tumpek Landep umat Hindu memuja Tuhan karena telah memberi anugerah berupa senjata kehidupan. Selain senjata -- keris, tombak, pada Tumpek Landep umat umumnya mengupakarai berbagai senjata kehidupan seperti kendaraan, komputer dan sebagainya.

Di balik itu, kata Ketua Parisada Bali IGN Sudiana, sesungguhnya mengandung makna landeping idep -- pikiran seruncing atau setajam keris. Artinya, dalam menghadapi tantangan hidup, umat manusia mesti memiliki ketajaman pikiran dan semangat kerja yang tinggi. Tanpa itu, umat manusia akan mudah menyerah menghadapi segala tantangan. ''Era sekarang yang kompleks persoalan, tidak boleh dihadapi dengan kebodohan. Karena itu, kualitas SDM mesti terus ditingkatkan agar mampu eksis menghadapi era global,'' ujar dosen IHDN Denpasar ini.

Kata Sudiana, keris sering dijadikan lambang kewibawaan. Dalam konteks mendapatkan ''kewibaan'', hidup ini mesti dilakoni dengan perilaku yang baik dan semangat yang tinggi. Dengan demikian, hidup akan lebih bermakna. Agar bisa bermakna, pikiran mesti terus ditajamkan -- setajam keris -- dengan tidak henti-hentinya mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, SDM Hindu semakin berkualitas dan memiliki daya saing dalam menghadapi persaingan global. ''Kita tidak boleh berhenti berkarya. Usaha dan kerja keras penting ditumbuhkan agar mampu eksis dalam kehidupan,'' ujarnya.

Sementara dalam konteks berkesenian, Tumpek Landep ternyata memiliki makna penting bagi seniman. Bahkan, ada anggapan saat Tumpek Landep adalah hari berkesenian bagi para seniman di Bali. Dosen ISI Denpasar Nyoman Catra pernah mengatakan, pada Tumpek Landep para seniman umumnya mengadakan upacara khusus untuk mendatangkan taksu bagi dirinya dalam melakoni kesenian. Tumpek Landep erat sekali hubungannya dengan taksu.

Dalam perayaan Tumpek Landep, para seniman lebih memantapkan diri melakukan penajaman melalui persembahyangan dan meditasi. Dengan mengosongkan pikiran untuk memuja Tuhan diharapkan muncul inspirasi dan spirit baru. Sebagai bentuk ritual memuja Dewa Kesenian dalam Tumpek Landep, para seniman biasanya mengupacarai atribut tari seperti gelungan, keris, tombak dan lain-lain. (lun)

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 23.21   0 comments
Mohon Kesembuhan
Doa untuk mohon kesembuhan dll. adalah Gayatri Mantram atau lebih tegas lagi VAIDIKA GAYATRI:

OM BHUR BHUVAH SVAH;
OM TAT SAVITUR VARENYAM,
BHARGO DEVASYA DHIMAHI,
DHIYO YO NAH PRACODAYAT.

Ucapkanlah mantram ini berulang-ulang sebanyak-banyaknya kalau bisa sampai 108 kali, dan paling baik jika dibantu sebuah ganitri atau japa mala (tasbih) di mana setiap mengucapkan satu bait maka satu biji ganitri ditarik kedalam ke arah kita.

Cara menggunakan ganitri adalah: Terdiri dari 108 biji atau 54 atau 27, bisa dibeli di toko-kios souvenir di Tampaksiring, Goa Gajah, dll. atau buat sendiri dari bahan: buah ganitri, atau kayu cendana, atau batu permata (mutiara, akik, dll) menurut kemampuan anda.

Pegang dengan tangan kanan, di mana telunjuk lurus keatas, dan ibu jari serta jari tengah memegang lingkaran ganitri, ibu jari menarik biji ganitri satu persatu setiap selesai mengucapkan satu bait Gayatri Mantram. Jari manis dan kelingking ditekuk. Sikap duduk atau berdiri atau berbaring yang relax saja. Pikiran konsentrasi pada kebesaran Hyang Widhi.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 21.30   0 comments
Dasa Mala
DASA MALA. Dasa artinya sepuluh; mala artinya keburukan. Jadi dasa mala adalah sepuluh keburukan.

Menurut Upanisad, dasa mala adalah sepuluh sifat-sifat manusia yang buruk dan yang patut dihindari dalam upaya menumbuh kembangkan kesucian dan keluhuran budi, yaitu:




1

tandri

malas

2

kleda

suka menunda-nunda

3

teja

pikiran gelap

4

kulina

sombong,suka menghina/ menyakiti hati orang

5

kuhaka

keras kepala

6

metraya

sombong dan berbohong/ melebih-lebihkan

7

megata

kejam

8

ragastri

suka berzina

9

bhaksa bhuwana

suka membuat orang lain melarat

10

kimburu

senang menipu



















Selanjutnya masih ada kelompok-kelompok sifat negatif lainnya misalnya Sad ripu, Sapta timira, Tri mala, Sad atatayi, dll.

SAD RIPU adalah enam musuh yang ada dalam diri setiap manusia perlu diwaspadai dan dikendalikan: Kama (nafsu), Lobha (rakus), Kroda (marah), Mada (tidak sadar), Moha (sombong/ angkuh), Matsarya (cemburu, dengki, irihati).

SAPTA TIMIRA: Surupa (sombong karena cantik/ ganteng), Dana (sombong karena kaya), Guna (sombong karena pandai), Kulina (sombong, suka menghina/ menyakiti hati orang), Yowana (sombong karena remaja), Kasuran (sombong karena menang), Sura (mabuk/ tidak sadarkan diri karena makanan/ minuman yang berlebihan).

SAPTA TIMIRA

1

Surupa

sombong karena cantik/ ganteng

2

Dana

sombong karena kaya

3

Guna

sombong karena pandai

4

Kulina

sombong, suka menghina/ menyakiti hati orang

5

Yowana

sombong karena remaja

6

Kasuran

sombong karena menang

7

Sura

mabuk/ tidak sadarkan diri karena makanan/ minuman yang berlebihan


TRI MALA: Kasmala (perbuatan hina/ kotor), Mada dan Moha (lihat di atas).

SAD ATATAYI: enam perbuatan kejam: Agnida (membakar milik orang lain), Wisada (meracuni orang), Atharwa (praktik ilmu hitam), Sastragna (mengamuk/ merampok), Drati karana (memperkosa atau merendahkan derajat orang lain), Raja pisuna (memfitnah).

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 21.08   0 comments
Catur Ashrama
Catur Ashrama adalah tahapan kehidupan yang ideal, disusun sesuai dengan pertumbuhan phisik, mental dan intelegensi manusia rata-rata. Namun tidak berarti bahwa proses belajar-mengajar terhenti di masa Grhastha, Vanaprastha dan Bhiksuka.

Mengenai pawiwahan, dalam sejarah juga ditemukan Pendeta yang sudah sanyasin menikah lagi (Danghyang Nirartha) dan di Manawa Dharmasastra Buku III (Tritiyo dhyayah) pasal 28 juga membolehkan seorang Pendeta yang setelah memimpin upacara menerima anak gadis (untuk dikawini) yang dihaturkan oleh sang Yajamana, Pawiwahan ini dinamakan Daiwa Wiwaha.

Dalam ephos Maha Barata dikisahkan Bhagawan Abyasa diminta oleh Ibunya Dewi Satyawati (didukung oleh Bisma) untuk mengawini janda Wicitrawirya yaitu Dewi Ambika dan Dewi Ambalika demi kelanjutan Hastina Pura karena selama ini kedua janda itu tidak sempat punya anak. Dari perkawinan semalam dengan Dewi Ambika lahirlah Dastarastra (kemudian menurunkan Korawa) dan dari Dewi Ambalika lahirlah Pandu (kemudian menurunkan Pandawa). Selanjutnya dengan seorang dayang Bhagawan Abyasa mempunyai putra bernama Widura. Jadi benar pendapat anda, bahwa unsur "desa-kala-patra" menjadi pertimbangan dalam Catur Ashrama.

Catur Purusharta adalah ambeg parama artha dalam kehidupan sehari-hari, tidak dalam tahapan yang dibatasi waktu.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 21.01   0 comments
Tri Hita Karana
Latar belakang historis.
  1. Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.

  2. Pengertian.
    Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara:
    1. Manusia dengan Tuhannya.
    2. Manusia dengan alam lingkungannya.
    3. Manusia dengan sesamanya.

  3. Unsur- unsur Tri Hita Karana.
    1. Unsur- unsur Tri Hita Karana ini meliputi:
      1. Sanghyang Jagatkarana.
      2. Bhuana.
      3. Manusia
    2. Unsur- unsur Tri Hita Karana itu terdapat dalam kitab suci Bagawad Gita (III.10), berbunyi sebagai berikut:

    Bagawad Gita (III.10)

    Artinya :

    Sahayajnah prajah sristwa pura waca prajapatih anena prasawisya dhiwan esa wo'stiwistah kamadhuk

    Pada jaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda: dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.

Dalam sloka Bhagavad-Gita tersebut ada nampak tiga unsur yang saling beryadnya untuk mendapatkan yaitu terdiri dari:
Prajapati = Tuhan Yang Maha Esa
Praja = Manusia

Penerapan Tri Hita Karana.
  1. Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu sebagai berikut
    1. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa yadnya.
    2. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta yadnya.
    3. Hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra, Resi, Manusia Yadnya.

  2. Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan:

1

Parhyangan

Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat

Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga

Di tingkat keluarga berupa pemerajan
atau sanggah

2

Pelemahan

Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali

Di tingkat desa adat meliputi "asengken" bale agung

Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan

3

Pawongan

Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali

Untuk di desa adat meliputi krama desa adat

Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga

Nilai Budaya.
Dengan menerapkan Tri Hita Karana secara mantap, kreatif dan dinamis akan terwujudlah kehidupan harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang astiti bakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.39   1 comments
Banten Bengu

Banten Bengu (upakara/ sajen yang busuk) jelas dilarang dalam Lontar Yadnya Prakerti, di mana disebutkan bahwa banten yang sudah dihaturkan kepada Hyang Widhi atau leluhur oleh para Sulinggih hendaknya dimakan oleh para Bhakta sebagai "lungsuran" atau dalam istilah Weda disebut sebagai "Prasadham".


Oleh karena itu tinggal mengatur caranya bagaimana agar banten tidak bengu (busuk) misalnya:

  1. Banten dikerjakan hari itu juga oleh banyak tukang banten, dibagi-bagi menurut keahliannya masing-masing pada jam yang ditentukan, berapa lama membuatnya sehingga jadwal ngaturin bisa tepat waktu.

  2. Jika menggunakan daging, juga diatur kapan memasaknya dan agar benar-benar matang.

  3. Banten yang sudah dihaturkan segera di "lungsur" untuk dibagikan kepada para Bhakta dimakan sebagai berkat.

  4. Jika Odalan berlangsung beberapa hari, tiap hari harus ada banten "anyar" (baru) yang masih segar, sedangkan sisa-sisa banten kemarin sudah dimakan atau dibuang (yang tidak bisa dimakan seperti batang pisang, janur, dll).

  5. Menggoreng sesuatu agar dengan minyak yang baik agar tidak "piing".

  6. Buah-buahan dan janur pilih yang awet misalnya buah nenas, sawo, mangga, pisang dan janur dari daun rontal.

Masih banyak lagi kiat yang lain silahkan kembangkan sendiri. Jika anda menemukan banten bengu (jangan heran di Besakih sering ada banten bengu misalnya sate gayah yang tingginya 10 meter terbuat dari lemak babi sudah dipajang ditempatnya ya kehujanan keanginan selama Bethara nyejer bisa 42 hari). Nah itu ulah manusia yang tidak tahu makna banten. Jadi yang salah "The Singer" bukan "The Song". Rekan-rekan sedharma jangan cepat kecewa dengan Bali. Bali itu indah hanya manusianya yang kurang mengerti. Para Sulinggih mestinya menjelaskan hal ini kepada semeton sedharma.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.34   0 comments
Banten
Banten disebut juga Bali, Bhakti atau Upakara, mempunyai 5 fungsi:

1 Sebagai niyasa (simbol) Hyang Widhi/ Dewa/ Bhatara-Bhatari
2 Sebagai sarana penyucian
3 Sebagai sarana penyaksian (saksi) untuk acara tertentu
4 Sebagai ayaban (aturan/ persembahan, cetusan rasa bhakti)
5 Sebagai tataban (prasadam/ berkah yang kemudian disantap setelah ngelungsur ayaban)

Besar/ kecilnya volume banten tergantung dari kemampuan riil kita. Maka disediakan sembilan alternatif volume banten sebagai berikut: mula-mula dibagi dalam 3 kelompok: alit, madya, ageng. Kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 3 sub kelompok, misalnya: aliting alit, madyaning alit, utamaning alit, dst.

Jadi tidak benar untuk setiap upacara diharuskan dengan volume banten besar (tentunya dengan biaya tinggi). Banten adalah bagian dari upacara, dan upacara adalah salah satu wujud yadnya. Selanjutnya yadnya dilakukan karena ada Rnam (hutang manusia kepada Widhi, Rsi dan Pitra). Maka yadnya yang baik adalah yang "satwika". Unsur-unsur satwika antara lain bahwa upacara dilaksanakan berdasarkan hati suci yang tulus ikhlas.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.15   0 comments
Tirta Pengentas
Tirta Pengentas pada upacara Pitra Yadnya, gunanya memberi petunjuk arah tujuan roh atau atma yaitu Sunia Loka. Dibuat oleh Pandita/ Sulinggih yang memimpin upacara atau lazim disebut yang "ngentas atma". di samping tirta pengentas, ada tirta panembak yaitu tirta yang gunanya membebaskan halangan-halangan dalam perjalanan atma, misalnya gangguan-gangguan dari roh gentayangan.

Mahluk gaib di Bali dikenal dengan nama BHUTA. Menurut Lontar Kala Tattwa, Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Bhatara Siwa, mempunyai "putra" bernama Bhatara Kala. Bhatara Kala juga bermanifestasi sebagai Bhuta, yang bertugas mengontrol manusia di bumi. Manusia perlu diawasi karena kemampuan "idep" (daya pikir)-nya luar biasa. Jika tidak diawasi dunia bisa hancur karena ulah manusia. Karena itu Bhuta juga dinamakan Bhuta-Kala. Selain itu bhuta-kala juga bertugas menguji keyakinan dan kebulatan tekad manusia dalam meyadnya. Ia menggoda manusia yang ingin mendekatkan diri kepada Hyang Widhi. Di test dulu apa benar-benar mau berbhakti. Bhuta-kala bisa berwujud godaan menggiurkan, bisa yang menakutkan atau membahayakan. Seperti contoh berita ngaben berdarah di Ketewel (?), saya menduga itu godaan Bhuta-Kala kepada kelompok warga, sehingga rupanya mereka kalah pada godaan yang bersumber dari kata-kata, sampai terjadi peristiwa yang memilukan itu.

Atma (roh manusia yang mati) yang masih terikat oleh belenggu Panca Mahabhuta (badan kasar) dan Panca Tanmatra (pengaruh indria), ada dalam situasi "Neraka". Bila lebih dari setahun tidak di-"aben" maka tulang belulangnya dikuasai Bhuta Cuil yang gentayangan mencari preti sentana menimbulkan mala petaka dengan tujuan mengingatkan preti sentana untuk mengurus/ membebaskan roh leluhurnya dengan upacara Pitra Yadnya. (Sumber: Lontar Yama Purana Tattwa).

Kematian yang baik adalah seperti kematian Panca Pandawa. Dimulai dari kematian Nakula-Sadewa (analogy kaki), disusul kematian Bimasena (analogy tenaga), disusul Arjuna (analogy sinar mata) dan terakhir Yudistira (analogy atma meninggalkan badan melalui siwadwara / ubun-ubun). Artinya orang yang mati secara baik, kematiannya mulai dari kaki yang lumpuh, tenaga/ energy panas badan yang hilang (makanya terasa dingin), sinar mata yang hilang (tidak cemerlang) dan terakhir detak jantung hilang karena atma sebagai motor penggerak sudah pergi. Orang yang mati karena kecelakaan atau bunuh diri prosedur kematiannya tidak seperti itu. Semua terjadi seketika. Itu sebabnya dinamakan "salah pati" atau "ngulah pati". Oleh karena itu rohnya perlu disadarkan bahwa "dia" sudah tidak punya badan lagi, dengan upacara "ngulapin". Bila tidak demikian inilah menjadi roh gentayangan, ke sana ke mari mengira masih punya badan / tubuh.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.09   0 comments
Tiga Bulanan dan Otonan
Upacara tiga bulanan dan otonan sebaiknya dilaksanakan tepat pada harinya, yaitu: untuk tiga bulan, pada hari ke 105 setelah kelahiran. Upacara otonan pertama setelah berumur 6 bulan kalender Bali: 6x35 hari = 210 hari setelah kelahiran. Ketika berusia 105 hari organ tubuh bayi sudah sempurna dalam arti panca indranya sudah aktif, peredaran darah dan pencernaannya sudah normal. Aktifnya panca indra membawa dampak positif dan negatif pada kesucian atman (roh). Tujuan upacara tiga bulanan adalah:
  1. Menyiapkan anak untuk waspada akan pengaruh-pengaruh panca indria.

  2. Mengucapkan terima kasih kepada kekuatan-kekuatan Hyang Widhi yang telah menjaga bayi sejak dalam kandungan sampai lahir yaitu: a. Nyama Bajang, dan b. Kandapat.

  3. Bayi sudah menjadi "manusia" dan boleh diberi nama dan kakinya boleh menginjak tanah.

Jika belum diupacarai tiga bulanan, ia masih "cuntaka" yaitu belum suci. Namun demikian, karena berada jauh di rantau dan juga tidak ada yang bisa membuat upacara pada hari yang tepat, maka ketika pulang ke Bali semua anak-anak diupacarai sekaligus. Ini namanya "pengecualian" lebih baik terlambat dari pada tidak. Upacaranya boleh massal hanya saja "banten peras tataban" masing-masing anak satu. Demikian juga dengan otonan pertama, atau otonan rutin yang dilaksanakan setiap 6 bulan Bali.

Urutan upacara dan symbol (Niyasa) yang digunakan :

  1. Ayah dan ibu bayi mebeakala dengan tujuan menghilangkan cuntaka karena melahirkan.
  2. Nyama bajang dan kandapat "diundang" untuk dihaturi sesajen sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat bayi sejak dalam kandungan sampai lahir dengan selamat. Tattwa yang sebenarnya adalah syukuran kehadapan Hyang Widhi atas kelahiran bayi.
  3. Si Bayi natab banten bajang colong artinya menerima lungsuran (prasadam) dari "kakaknya" yaitu kandapat (plasenta: ari-ari, getih, lamas, yeh-nyom)
  4. Si Bayi "mepetik" (potong rambut, terus digundul, menghilangkan rambut "kotor" yang dibawa sejak lahir).
  5. Si Bayi "mapag rare" (disambut kelahirannya) di Sanggah pamerajan, memberi nama, dan menginjakkan kaki pertama kali di tanah didepan Kemulan.
  6. Si Bayi menerima lungsuran (prasadam) Hyang Kumara yaitu manifestasi Hyang Widhi yang menjaga bayi.
  7. Si Bayi "mejaya-jaya" dari Sulinggih, yaitu disucikan oleh Pendeta.

Symbol (niyasa) yang digunakan dalam upacara Tiga Bulanan:

  • Regek yaitu anyaman 108 helai daun kelapa gading berbentuk manusia, sebagai symbol Nyama Bajang;
  • Papah yaitu pangkal batang daun kelapa gading sebagai symbol ari-ari,
  • Pusuh yaitu jantung pisang sebagai symbol getih (darah),
  • Batu sebagai symbol yeh-nyom,
  • Blego sebagai symbol lamas,
  • ayam sebagai symbol atma,
  • sebuah periuk tanah yang pecah sebagai symbol kandungan yang sudah melahirkan bayi,
  • lesung batu sebagai symbol kekuatan Wisnu,
  • pane symbol Windu (Hyang Widhi),
  • air dalam pane symbol akasa,
  • tangga dari tebu kuning sepanjang satu hasta diberi palit (anak tangga) tiga buah dari kayu dapdap symbol Smara-Ratih (Hyang Widhi yang memberi panugrahan kepada suami-istri).

Upacara otonan lebih sederhana dari tiga bulanan, karena tujuannya mengucapkan syukur kepada Hyang Widhi atas karunia berupa panjang umur, serta mohon keselamatan dan kesejahteraan.

Yang diragukan oleh ortu anda, mungkin masalah tirta dari Sanggah Pamerajan ketika upacaranya di Jakarta. Jika upacara di Jakarta sudah seperti di atas, atau mendekati seperti itu, sudah cukup. Nanti di Bali dibuatkan tataban di Sanggah pamerajan yang dinamakan upacara "mapinton" yaitu memperkenalkan dan melaporkan kelahiran si bayi kepada roh leluhur yang distanakan di Sanggah Pamerajan. Namun jika ortu berkeras juga mau mengadakan upacara tiga bulanan dan otonan, sebaiknya turuti saja, karena beliau mungkin ingin mencurahkan kasih sayangnya kepada cucunya. Nah dengan demikian anda kan juga berbhakti kepada ortu dan membuat beliau senang, asal saja biayanya terjangkau.


posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.05   0 comments
Satyam, Siwam, Sundaram
Rabu, 21 November 2007
Dharmawacana Satyam, Siwam, Sundaram untuk menuju Moksartham Jagadhita ini terbagi-bagi menjadi 26 bagian sesuai tanggal pengirimannya, silakan diikuti secara seksama. Bagi yang ingin mencetak secara utuh, disediakan versi tayang (htm) dan versi downloadnya (txt dan zip)

0

Catur Pramana

9

Karma dan punarbhava

18

Vanaprastha

1

Cetana, Acetana

10

Moksa

19

Kesempurnaan hidup

2

Bhakti Marga

11

Yoga Marga

20

Bhiksuka

3

Karma Marga

12

Asana, Pranayama

21

Pandita

4

Jnana Marga

13

Dharana, Dhyana

22

Sistacara, Sadacara

5

Brahman

14

Samadhi

23

Sad Tatayi, Sad Ripu

6

Atman

15

Catur Purushaarta

24

Sad Ripu

7

Maya

16

Catur Ashrama

25

Trikaya Parisudha

8

Penciptaan

17

Grhastha

26

Sadguna



Buka versi utuh (htm)
Download versi text (txt)
Download versi ringkas (zip)
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01.25   0 comments
Surga Neraka
Berikut ini kutipan dari buku: Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, Cudamani, Yayasan Dharma Sarathi, Jakarta 1990.: Intisari Upanisad: Sorga dan Neraka bukan suatu tempat dan bukan pula suatu bentuk yang pasti melainkan suatu "state of mind" yaitu keadaan pikiran bahagia atau menderita. Kalau pikiran dalam keadaan senang dan bahagia maka itulah sorga sebaliknya bila pikiran sedih dan menderita itulah neraka.

Ukuran senang dan menderita adalah relatip, misalnya ketika hidup pikiran ingin berbuat amoral kemudian tercapai maka manusia puas dan senang; apakah ini juga dinamakan sorga? Mungkin dari sini ada istilah pelesetan "sorga duniawi". Sebaliknya ada orang yang ingin menegakkan dharma kemudian ia mendapat tantangan bahkan cemohan sehingga ia sedih, apakah ini juga dikatakan neraka?. Pikiran ada semasa manusia hidup maupun sesudah mati. Roh manusia semasa hidup dibungkus oleh pikiran (sukma sarira) dan tubuh (stula sarira). Pikiran membuat tubuh beraktivitas dan hasil aktivitas itu mempengaruhi roh. Pada manusia yang mati stula sarira hancur (karena ditanam maupun di bakar) namun sukma sarira tidak. Roh yang dibungkus pikiran lepas bagaikan udara yang dibungkus kembungan.

Begitulah keadaannya, misalnya bila semasa hidup pikiran senang berbuat amoral dapat dengan mudah menggerakkan tubuh berbuat amoral sehingga memuaskan pikiran, maka ketika sudah mati pikiran inipun ingin tetap berbuat amoral tetapi tidak ada tubuh yang bisa diperintah beraktivitas maka dalam keadaan demikian pikiran menderita; itulah yang disebut neraka. Roh yang tiada lain adalah atman selalu berusaha menyatu dengan Brahman (Hyang Widhi) yang suci. Penyatuan ini bisa terjadi bila roh terlepas dari ikatan pikiran keduniawian. Bila hal itu terjadi (ibarat udara dalam kembungan yang menyatu dengan udara bebas) yang disebut sebagai "amoring acintya" atau MOKSA, tercapailah sorga. Di alam sorga tiada lagi kesusahan, sehingga disebut "sukha tanpawali duhkha" Sebaliknya bila roh masih dibungkus kuat oleh pikiran keduniawian atau disebut sebagai masih terikat (belum bebas) maka penyatuan atman dengan brahman tidak terjadi. Dalam keadaan ini atman akan menjelma kembali (reinkarnasi) berulang-ulang.

Selanjutnya pengertian Moksa menurut Radhakrishnan: Moksa literally means release, from bondage to the sensuous and the individual, the narrow and the finite. It is the result of self-enlargement and freedom. Jadi moksa adalah kelepasan dari ikatan panca indra, pikiran, dan kepicikan. Moksa merupakan pahala dari kebesaran jiwa dan kebebasan. Tentang moksa atau manunggalnya atman dengan Brahman menurut kitab-kitab Upanisad dapat dicapai dalam kehidupan ataupun setelah meninggal dunia. Moksa yang dicapai semasa hidup dinamakan Jivam Mukta sedangkan moksa yang dicapai setelah meninggal disebut Videha Mukta. Manusia yang sudah mencapai Jivam Mukta bila meninggal dunia pasti mencapai Videha Mukta. Hal ini lebih tegas disebutkan dalam Mundaka Upanisad III.2.6: Vedanta vignanasu niscitarthah, samnyasa yogad yatayah sudha sattvah, te Brahmalokesu paranta kale, paramrtah parimucyanti sarve. Artinya: para siswa yang telah menyucikan sifat/ pribadinya dengan penuh disiplin melaksanakan yoga dan yang telah menemukan tempat berlindung dalam Tuhan (Hyang Widhi), yang telah sepenuhnya mempelajari kitab-kitab Vedanta yang melenyapkan kegelapan, mencapai Brahman karena telah melepas seluruh ikatan; dan pada mereka tidak ada kelahiran kembali.

KESIMPULAN: Moksa adalah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati adalah sorga yang sebenarnya. Moksa dapat dicapai dengan upaya yang tekun melaksanakan catur marga, yaitu: .....................(bersambung)

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01.22   0 comments
Sesana Pemangku
Pemangku adalah tapakan Widhi artinya dia adalah orang yang ditunjuk menjadi "pelayan" utama dalam Dewa Yadnya khususnya di Pura atau Sanggah Pamerajan di mana dia bertugas. Oleh karena itu dia wajib menjaga kesucian lahir/ bathin. Dalam agama Hindu ada disebutkan tentang "cuntaka" yaitu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu, antara lain menyangkut masalah kematian. Tirta pengentas adalah tirta yang dibuat khusus oleh Pandita/ Sulinggih bagi roh orang mati yang gunanya menunjukkan arah/ sasaran perjalanan roh/ atma ke alam sunia. Oleh karena itu maka tirta pengentas adalah objek "cuntaka" karena merupakan sarana bagi orang mati, sama dengan pepaga, dan alat-alat pebersihan jenazah lainnya, kecuali kajang kawitan. Kajang kawitan bukan objek cuntaka karena kajang Kawitan adalah sarana "pelinggihan" atau "penugrahan" Ida Bethara Kawitan atas upacara Pitra Yadnya damuh sentana-nya.

Oleh karena itu Pemangku tidak boleh membawa tirta pengentas apalagi "nyuun" atau "kaungkulin" oleh orang lain yang membawa tirta pengentas.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01.18   0 comments
Sesangi
Sesangi juga disebut "bebeligan" artinya tergelincir, maksudnya keliru. Disebut juga "saud atur" artinya salah ucapan, maksudnya juga keliru. Keliru yang bagaimana? Keliru dalam menjalin hubungan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Kasih sayang kepada Hyang Widhi disebut BHAKTI. Cara kita ber-bhakti yang benar adalah dengan meresapi dan menjalani kehidupan sesuai dengan aturan-Nya. Perhatikanlah Mantram Gayatri, Puja Trisandya, Kramaning sembah. Tidak ada satu kata pun yang berbentuk sesangi. Inti segala doa adalah semoga Hyang Widhi yang Maha Kuasa memberikan petunjuk kepada kita di jalan Dharma, serta mohon pengampunan atas pelanggaran-pelanggaran Trikaya parisudha. Dengan mesesangi, secara tidak sadar anda mengungkung atman kepada kondisi keterikatan. Di sinilah letak kekeliruannya. Mestinya segala aktivitas didorong atau dimotivasi oleh niat melaksanakan Dharma sebaik-baiknya, tanpa memikirkan atau menghayalkan hasilnya.

Ingat catur purusha artha: DHARMA, ARTHA, KAMA, MOKSA. Dharma hendaknya dilaksanakan terlebih dahulu, karena dengan Dharma Hyang Widhi akan melimpahkan karunia-Nya berupa Artha, kemudian dengan Artha manusia bisa memenuhi Kama (kebutuhan hidup: sandang, pangan, papan, dll). Ketiga unsur itu yang dapat mengantarkan manusia ke alam Moksa. Jadi singkatnya, dengan mesesangi anda terperosok dalam motivasi: RESULT ORIENTED, bukan PROCESS ORIENTED. Untuk lebih mendalami hal ini baca serial saya: Satyam, Siwam, Sundaram, yang kini sudah sampai mengulas tentang Moksa (lanjutan ke-10).

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01.14   0 comments
Mantra Orang Sakit
1. Doa/ Mantra bagi yang sakit: OM VATA A VATU BHESAJAM, SAMBHU MAYOBHU NO HRDE, PRA NA AYUMSI TARISAT (dari Rgveda X.186.1, artinya: Ya Hyang Widhi semoga Hyang Vayu menghembuskan angin sejuk, Vayu yang memberikan kesehatan dan kesejahteraan, semoga Ia memberikan umur panjang)

2. Doa/ Mantra bagi yang sekarat: OM BHUR BHUVAH SVAH; OM TAT SAVITUR VARENYAM, BHARGO DEVASYA DHIMAHI, DHIYO YO NAH PRACODAYAT, SRIM (dari Sadhana Gayatri, artinya: Oh Ibu Devata, Gayatri-Laksmi, paduka berkenan dengan bhakti hamba, paduka akan memberkahi kesehatan, kedamaian dan keinginan hamba, sembah sujud hamba. Pengucapan mantra ini dengan meditasi dan dibantu tasbih, diulang-ulang kalau bisa 108 kali)

3. Doa/ Mantra bagi yang baru meninggal dunia: OM VAYUR ANILAM AMRTAM, ATHEDAM BHASMANTAM SARIRAM, OM KRATO SMARA KLIBE SMARA KRTAM SMARA (dari Yayurveda XL 15 artinya: Ya Hyang Widhi, penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat vijaksara suci OM, semoga ia mengingat Engkau Yang Mahakuasa dan kekal abadi, ingat pula kepada karmanya. Semoga ia mengetahui bahwa atma adalah abadi dan badan ini akhirnya akan hancur menjadi abu)

3. Doa/ Mantra pada upacara Pitra Yadnya yaitu waktu nyekah: OM DEWA PITARA SARWA PARIWARA GUNA SWAHA, HARSAYAH SAWA PUJANAM PRASIDANTU SUKA KRTAM, OM A-TA-SA-BA-I, OM WA-SI-NA-NA-YA MANG ANG UNG, MOKSHANTU, SWARGANTU, SUNIYANTU, ANG KSAMA SAMPURNA YA NAMAH SWAHA (dari Lontar Yama Purana Tattwa, artinya: Oh Hyang Widhi, yang menguasai roh leluhur kami, hamba memuja-Mu agar segala sesuatunya berjalan baik, semoga roh leluhur kami mencapai kebebasan, kedamaian, ketenangan, dan kesempurnaan).

PENJELASANNYA SBB.: Ketika mendengar atau mengunjungi yang sakit, kita mohon kepada Hyang Widhi agar ia cepat sembuh. Ketika mendengar atau mengunjungi yang sekarat, tetap kita mohon kepada-Nya agar diberikan mukzizat ia sembuh/ hidup. Namun bila ia pada akhirnya meninggal dunia, maka kitapun mohon kepada-Nya agar roh/ atmannya pergi dengan tenang menuju kepada Hyang Widhi. Ketika dilaksanakan upacara Pitra Yadnya barulah kita mohon agar rohnya mencapai kebebasan, kedamaian ketenangan, dan kesempurnaan. Kebebasan artinya roh terlepas dari ikatan Panca Mahabutha (tubuh) melalui prosesi Ngaben, ketenangan artinya roh terlepas dari ikatan Panca Tanmatra (kenikmatan panca indria ketika masih hidup) melalui prosesi Nyekah, dan kesempurnaan artinya atman/ roh bersatu dengan Brahman/ Hyang Widhi (amoring acintya). Jadi bila belum diupacarai Pitra Yadnya doa/ mantra itu kurang tepat diucapkan karena roh/ atman masih terikat.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01.11   0 comments
Suddhi Wadani
SEJAK KAPANKAH KITA MENJADI HINDU?

Om Swastiastu,

Pertanyaan di atas sangat bagus, karena kebanyakan kita tidak memikirkannya, lalu kita sudah mendapatkan diri kita sebagai pemeluk Hindu. Ini yang memang dilahirkan dari ayah dan ibu Hindu. Bagi mereka yang tadinya beragama lain kemudian menjadi Hindu tentulah saat bersejarah itu ada patokannya yaitu segera setelah ia mengucapkan kata-kata suci yang disebut Suddhi Wadani. Kata-kata suci itu tiada lain pernyataan dan pengakuan bahwa Tuhan itu Hyang Widhi dengan berbagai bentuk manifestasinya. Suddhi Wadani kemudian dibuatkan dokumen yang disyahkan PHDI.

Bagi kita yang memang ayah dan ibu kita Hindu, patokan menjadi Hindu adalah segera setelah pertemuan "kama bang" dan "kama petak" yaitu pembuahan sel telur ibu oleh sperma bapak. Acuan sastra tentang hal ini adalah: 1) Manawa Dharmasastra Buku III (Tritiyo dhyayah) mengatur tentang tata cara perkawinan, tujuan perkawinan dan etika dalam hidup berkeluarga. Anak dari hasil perkawinan Hindu disebut "Putra" terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu "Put" artinya Neraka, dan "Ra" artinya menyelamatkan. Jadi salah satu tujuan perkawinan adalah mendapatkan keturunan yang nantinya berbhakti kepada orang tua, sehingga orang tuanya dikemudian hari mencapai moksartham jagadhita. Oleh karena itu pawiwahan juga disebut sebagai "Dharma sampati" 2) Putra, adalah karunia Hyang Widhi tercipta sejak pertemuan sel telur (kama bang) dengan sperma (kama petak) di saat mana kekuatan-kekuatan Hyang Widhi menyertai, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Dalam Lontar "Tutur Panus Karma" kekuatan Hyang Widhi yang tidak berwujud disebut "Nyama Bajang" jumlahnya 108 dengan berbagai nama, sedangkan yang berwujud disebut "Kanda Pat" yaitu: ari-ari, getih, lamas dan yeh nyom. Begitu ibu tidak haid pada waktunya karena hamil muda, maka embrio sudah terbentuk lengkap dengan kanda pat masing-masing bernama: Karen (calon ari-ari), Bra (calon lamas), Angdian (calon getih) dan Lembana (calon yeh nyom).

KESIMPULAN: 1) Kita menjadi Hindu karena ayah dan ibu menikah (wiwaha) menurut agama Hindu dengan pengetian bahwa syahnya pawiwahan Hindu dengan tri saksi yaitu: Bhuta saksi, Dewa saksi, dan Manusa saksi. 2) Kita menjadi Hindu sejak Hyang Widhi merestui atman ber-reinkarnasi menjadi manusia dimulai sejak bertemunya kama bang dan kama petak dalam kandungan ibu.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01.00   0 comments
Nyapu Leger
NYAPU LEGER juga berasal dari Bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang berarti: nyapu = menghilangkan; leger = lingkaran kelahiran. Arti lengkapnya: menghilangkan lingkaran kelahiran.

Berdasarkan kitab suci Siwa Tattwa dinyatakan bahwa mereka yang lahir pada Wuku Wayang mempunyai peluang untuk keluar dari "samsara" yaitu kelahiran yang berulang-ulang. Untuk itu maka ia harus bersujud kehadapan Siwa menerima anugrah itu, melalui manifestasi-Nya: Bhatara Kala.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 00.58   0 comments
Rangkaian Piodalan
MEMENDAK. Memendak artinya mohon kehadiran. Yang dimaksud dalam uraian ini adalah memendak Ida Bethara (Ista Dewata) yang akan distanakan di bangunan-bangunan pelinggih. Upacara memendak dapat dilakukan setempat (di area Pura/ Sanggah Pamerajan) atau di "Catus Patha" (perempatan Desa). Prosedur memendak adalah dengan sarana (upakara) berupa:

1

Pelinggihan Ida Bethara (symbol) berupa "pretima" (patung) atau "daksina lingga" (sejenis banten daksina)

2

Banten secukupnya antara lain: pengulapan/ pengambean, pejati, segehan agung.


Cara memendak adalah dengan menghadap ke Timur, Selatan, Barat, dan Utara, dengan tujuan memohon penugrahan Dewa Iswara, Brahma, Mahadewa dan Wisnu untuk mengijinkan kita menstanakan Ida Bethara di dalam symbol niyasa berupa patung atau daksina lingga itu.

MESUCIAN. Mesucian artinya menjauhkan roh-roh yang tidak diinginkan, agar tidak mengganggu kesucian niyasa Pelinggihan Ida Bethara. Mesucian dapat dilakukan setempat (di area Pura/Sanggah pamerajan) atau di sumber mata air.

NGELINGGIHANG. Upacara ngelinggihang didahului dengan menanam "Pangenteg Gumi" yaitu sebuah gentong tanah yang di dalamnya berisi banten: suci, panca datu, pala gantung (buah-buahan), pala bungkah (umbi-umbian), orti pala kerti, dan uang logam sebanyak 700 keping. Pangenteg gumi itu ditanam di belakang bangunan Padmasana.

Setelah selesai memendak, mesucian dan menanam pangenteg gumi, maka niyasa itu distanakan di pelinggih yang sudah disediakan.

Seterusnya dihaturkanlah persembahan atau upakara untuk keperluan Ngenteg Linggih dan juga aturan/ bhakti dari para pemedek (para bhakta yang hadir pada upacara itu).

PEMUSPAAN. Persembahyangan bersama dilanjutkan dengan nunas tirta wangsuh pada, bija, dll.

PENYINEBAN. Ida Bethara yang distanakan dapat "nyejer" artinya terus menerus dipuja selama 3, 7, 11, 42 hari, tergantung keinginan dan kemampuan para bhakta. Jika tidak ada keperluan lain, maka penyineban dapat dilakukan segera setelah upacara persembahyangan selesai, atau sore harinya, atau keesokan harinya.

Tata cara "nyineb" dimulai dengan menghaturkan banten "sidakarya", kemudian persembahyangan, dan seterusnya niyasa Ida Bethara disimpan di tempat yang aman. Jika menggunakan daksina lingga, tetap dibiarkan di pelinggih.

Setelah itu hiasan-hiasan Pura/ Sanggah pamerajan dibuka dan kotoran-kotoran berupa sisa-sisa banten dibersihkan.


posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 00.48   0 comments
Penyadur

Name: Arya Tangkas Kori Agung
Home: Br. Gunung Rata, Getakan, Klungkung, Bali, Indonesia
About Me: Perthi Sentana Arya Tangkas Kori Agung
See my complete profile
Artikel Hindu
Arsip Bulanan
Situs Pendukung
Link Exchange

Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

Rarisang Mapunia
© 2006 Arya Tangkas Kori Agung .All rights reserved. Pasek Tangkas