Arya Tangkas Kori Agung

Om AWIGHNAMASTU NAMOSIDDHAM, Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.

 
Refrensi Pasek Tangkas
Untuk menambah Referensi tentang Arya Tangkas Kori Agung, Silsilah Pasek Tangkas, Babad Pasek Tangkas, Perthi Sentana Pasek Tangkas, Wangsa Pasek Tangkas, Soroh Pasek Tangkas, Pedharman Pasek Tangkas, Keluarga Pasek Tangkas, Cerita Pasek Tangkas. Saya mengharapkan sumbangsih saudara pengunjung untuk bisa berbagi mengenai informasi apapun yang berkaitan dengan Arya Tangkas Kori Agung seperti Kegiatan yang dilaksanakan oleh Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Pura Pedharman Arya Tangkas Kori Agung, Pura Paibon atau Sanggah Gede Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Keluarga Arya Tangkas Kori Agung dimanapun Berada Termasuk di Bali - Indonesia - Belahan Dunia Lainnya, sehingga kita sama - sama bisa berbagi, bisa berkenalan, maupun mengetahui lebih banyak tentang Arya Tangkas Kori Agung. Media ini dibuat bukan untuk mengkotak - kotakkan soroh atau sejenisnya tetapi murni hanya untuk mempermudah mencari Refrensi Arya Tangkas Kori Agung.
Dana Punia
Dana Punia Untuk Pura Pengayengan Tangkas di Karang Medain Lombok - Nusa Tenggara Barat


Punia Masuk Hari ini :

==================

Jumlah Punia hari ini Rp.

Jumlah Punia sebelumnya Rp.

==================

Jumlah Punia seluruhnya RP.

Bagi Umat Sedharma maupun Semetonan Prethisentana yang ingin beryadya silahkan menghubungi Ketua Panitia Karya. Semoga niat baik Umat Sedharma mendapatkan Waranugraha dari Ida Sanghyang Widhi – Tuhan Yang Maha Esa.

Rekening Dana Punia
Bank BNI Cab Mataram
No. Rekening. : 0123672349
Atas Nama : I Komang Rupadha (Panitia Karya)
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, ... Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.
Berbakti
Janji bagi yang Berbakti kepada Leluhur BERBAKTI kepada leluhur dalam rangka berbakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa.
Mantram Berbakti
Berbakti kepada Leluhur Abhivaadanasiilasya nityam vrdhopasevinah, Catvaari tasya vardhante kiirtiraayuryaso balam. (Sarasamuscaya 250) Maksudnya: Pahala bagi yang berbakti kepada leluhur ada empat yaitu: kirti, ayusa, bala, dan yasa. Kirti adalah kemasyuran, ayusa artinya umur panjang, bala artinya kekuatan hidup, dan yasa artinya berbuat jasa dalam kehidupan. Hal itu akan makin sempurna sebagai pahala berbakti pada leluhur.
Ongkara
"Ongkara", Panggilan Tuhan yang Pertama Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu?
Gayatri Mantram
Gayatri Mantram Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam. Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam Mahyam dattwa vrajata brahmalokam. Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.
Dotlahpis property
Image and video hosting by TinyPic
Yadnya Sesa, Jotan, Banten Pekidih
Jumat, 28 November 2008
Setiap keluarga Hindu, biasanya diwakili oleh ibu, setiap hari membuat banten kecil yang disebut banten pekidih atau jotan. Banten sederhana ini biasanya terdiri atas beberapa tanding (porsi) masing- masing dialasi selembar daun pisang, atau daun jepun (bunga kamboja), atau taledan kecil dari slepan / janur atau tangkih, berisi sejumput nasi, secuil garam dan sejumput lauk pauk yang dimasak (kecuali daging sapi atau daging babi). Banten tersebut kemudian disajikan ke beberapa tempat sesuai dengan kebiasaan keluarga.

Kebiasaan tersebut dilakukan setelah memasak, sebelum ada yang makan. Tujuannya adalah sebagai pernyataan rasa terimakasih ke hadapan yang Hyang Widhi. Juga dibantenkan kepada segala isi dunia / gumatat- gumitit agar tidak mencampuri urusan kehidupan.

Yadnya Çesa, dilaksanakan tiap hari, biasanya pada pagi atau siang hari, dan di senja hari. Sesajen disiapkan setelah menanak nasi, berupa masing-masing banten pekidih atau jotan sesuap nasi lengkap dengan lauk pauknya serba mungil, jumlahnya menurut keperluan. Diberikan kebebasan dalam menentukan berapa jumlah jotan, dapat berbeda bergantung kepada arti yang kita berikan kepada letak persembahannya, namun yang wajib ada tiga (3) sedangkan yang lain diambilkan dari yang paling lazim. Yang wajib adalah segehan untuk dipersembahkan di halaman merajan, di halaman rumah, dan di penunggu karang atau pintu utama. Selebihnya biasanya untuk di dapur, tempat penyimpanan air, tempat penyimpanan beras, dan sebagainya.
Yang di halarnan (natar) sanggah pemerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari.
Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari dan yang di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. Adapun yang lain-lain adalah ditiap-tiap bangunan rumah, sumur, di dapur, di lumbung, diapit lawang, di sanggah natar, di Jero Luh

Alat perlengkapan lainnya. yang patut dibawa ialah, air dan dupa harum. Waktu penyelenggaraan segehan yang akan dihaturkan, terlebih dahulu harus dituangkan (disuguhkan) air sedikit, lalu dengan perantaraan asap dupa harum segehan itu dipersilakan (dihayapkan) untuk mohon keselamatan, kernudian barulah segehan itu masing-masing 1 porsi (tanding) diletakkan di tempat haturan.

Untuk sore harinya yaitu Sandhya-kala, segahan dihaturkan kepada Sang Bhuta Kala dan Durgha Bucari yaitu di natar sanggah, rumah serta pintu keluar pekarangan.

Ucapannya :
di natar sanggah Ratu Sang Bhuta Bucari, manusanira angaturaken segehan.
di natar rumah Ratu Sang Kala Bucari, manusanira angaturaken segahan.
di muka pintu keluar pekarangan Ratu Sang Durgha Bucari manusanira angaturaken segehan.

Menurut kepercayaan, kita baru boleh makan setelah melakukan Yadnya Cesa. Yadnya tersebut kita lakukan demi keselamatan dan ketentraman kita sekeluarga.

Melaksanakan Yadnya Cesa wajib didasari pikiran yang suci bersih dan tulus ikhlas. Mungkin di tempat-tempat lain terdapat cara yang berbeda-beda sesuai dengan desa- kala- patra, tetapi tujuannya sama, yaitu untuk keselamatan dan ketentraman hidup kita sehari-harinya.

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 06.35   0 comments
Kajeng Keliwon
Kajeng Keliwon datang setiap 15 hari sekali. Upacara dan upakara-upakara yang wajîb dilakukan pada hari Kajeng Keliwon ini, hampir sama dengan upacara dan upakara keliwon yang dilakukan pada hari Keliwon.

Hanya saja segehan-segehannya bertambah dengan nasi-nasi kepel lima warna, yaitu: merah, putih, hitam, kuning, brumbun

Tetabuhannya adalah tuak/ arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. Semuanya itu dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Durgha Dewi. Di bawah / di tanah dihaturkan segehan, dipersembahkan kepada Sang Butha Bucari, Sang Kala Bucari, dan Sang Durgha Bucari.

Segehan ini dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.

Mengenai waktu penyajiannya bisa dilakukan tiap hari, atau hari- hari tertentu sesuai kebiasaan dan rerainan. Bahan utamanya adalah nasi berwarna beberapa kepal. Yang umum segehan: putih dan kuning. Tetapi ada juga segehan putih dan putih, putih - hitam, putih - merah, merah - merah, hitam - hitam, kuning - kuning. Ada pula yang yang panca warna: peletakannya sebagai berikut:
hitam di utara, putih di timur, merah di selatan, kuning di barat, brumbun di tengah.

Hari Keliwon dalam panca wara datang tiap-tiap lima hari sekali. Pada tiap-tiap hari Keliwon, bersemadilah Sang Hyang Çiwa. Umat Hindu di Bali harus menyucikan cita (budhi) dengan metirtha gocara. Dilaksanakan dengan cara menghaturkan canang serta wangi-wangian di sanggah dan di atas tempat tidur. Selanjutnya dihaturkan canang reresik wangi-wangian di Parhyangan dan di Kahyangan. Yadnya ini ditujukan ke hadapan Sang Hyang Ciwa, yaitu ke hadapan Ida Sang Widhi Wasa, kemudian di natar sanggah/ pemerajan, di natar rumah dan menghadap pintu gerbang pekarangan, dihaturkan segehan beberapa nasi kepel (sesuap nasi) lauknya bawang jahe. Tiap set segehan itu terdiri dari 2 kepel dan disuguhkan 3 set (tanding).

  1. Di natar sanggah/pemerajan kepada Sang Bhuta Bucari
  2. Di natar rumah kepada Sang Kala Bucari.
  3. Di hadapan pintu gerbang pekarangan kepada Sang Durgha Bucari.
Dari Sang Tiga Bucari itu kita memohon, agar memberi keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga kita, serta memperoleh kesempurnaan hidup dan kebahagiaan.Setelah selesai menghaturkan upacara-upacara itu, lalu bersembahyang kehadapan Dewa Bhatara, terutama kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, mohon keselamatan dunia dan segala isinya.
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 05.51   1 comments
Otonan
Selasa, 18 November 2008
Upacara otononan mengkuti siklus Sapta Wara dan Panca Wara serta siklus pawukon. Sapta Wara berumur tujuh hari terdiri dari (Radite, Soma, Anggara, Buda, Wrespati, Sukra, Saniscara) dan sama dengan perhitungan Kalender Masehi namun mempunyai nama yang berbeda. Panca Wara berumur lima hari yang terdiri dari Umanis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Sedangkan pawukon berjumlah 30 wuku dan masing-masing wuku itu berumur 7 hari. Jadi satu wuku datang setiap 210 hari sekali.

Perhitungan otonan, sama halnya dengan perhitungan Galungan, Kuningan, Saraswati Tumpek dan hari raya lainnya, yaitu setiap 210 hari sekali. Misalnya, Buda Pahing Landep. Sapta wara = Budha, Panca Wara = Pahing, Wuku = Landep. Budha Pahing Landep ini datangnya pasti setiap 210 hari sekali. Masih ingat pelajaran KPK jaman SD dulu kan? Nah begitulah perhitungannya. Hari-hari penting Hindu yang berdasarkan wewaran dan pawukon**) juga seperti itu perhitungannya.***)

Di samping perhitungan hari Raya berdasarkan wewaran dan pawukon, ada juga perhitungan hari raya berdasarkan Sasih. Perhitungan berdasarkan sasih ini biasanya memakai patokan bulan purnama dan bulan mati. (Tileming Sasih ke… atau Purnamaning sasih ke…) Satu sasih berumur 30 hari yang terdiri satu kali purnama dan satu kali tilem.

Masih ada beberapa lagi cara dan siklus perhitungan hari yang dipakai masyarakat Bali. Namun secara umum yang dipakai adalah perhitungan berdasarkan sasih dan pwukon di atas.

Nah, sekarang kebayang kan kenapa saya bisa ulang tahun 3 kali dalam setahun? Dua kali otonan dan 1 kali ulang tahun Masehi.

Catatan:

*) mungkin setiap desa mempunyai cara merayakan dan tradisi berbeda mengenai otonan ini, tetapi secara umum masyarakat Bali mengenal konsep otonan ini.

**)wewaran berasal dari kata wara dan pawukon berasal dari kata wuku

**) silakan berkunjung ke situs BabadBali.com untuk lebih banyak tentang wewaran dan pawukon ini.


Selamat Kepada Keluarga Besar Ketut Arya di Banjar Gunung Rata Desa Getakan Banjarangkan Klungkung yang telah merayakan hari Otonan Anak ke dua, Otonan yang ke 3, semoga tetap sehat,Panjang umur dan berguna untuk agama, keluarga , dan masyarakat.
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 03.05   0 comments
Karya Agung di Pura Kental Gumi
Jumat, 14 November 2008
Pura Agung Kentel Gumi yang terletak di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat Bali sungsungan umat Hindu sebagai sthana Ida Sang Hyang Reka Mas, Purana Pura Agung Kentel Gumi, pemberian nama Kentel Gumi bermakna simbolis sebagai pengeka jagat, sebagai tempat terpilih yang ditetapkan oleh Mpu Kuturan diyakini mengawali pembangunan parhyangan Pura Panjang (batu madeg) yang hingga kini dikenal dengan nama Ratu Pancer Jagat. Upaya tersebut dilanjutkan dengan membangun palinggih Catur Muka sebagai lambang Brahma, manifestasi Ida sang Hyang Widhi sebagai pencipta alam semesta (ngareka bhuana) yang bergelar Sang Hyang Reka Bhuwana. Pada masa berikutnya, dinasti Sri Kresna Kepakisan melanjutkan upaya Mpu Kuturan dengan membangun palinggih Meru Tumpang Solas sebagai Sthana Sang Hyang Reka Bhuwana.

Perihal keberadaan Pura Agung Kentel Gumi, dalam lontar Raja Purana Batur yang dikeluarkan oleh raja Bali Dalem Watu Renggong tersurat sebagai berikut :

“….Makamiwahukertining kahyangan, ngaturang amiduka ring bharata guru ring Tampurhyang, ring dalem ring Tolangkir, ring puseh ring Kentel Gumi, Ika maka bhatara triguna penegeng ring Bali, yan titik samangke wong desa angaturang abeseka ngayu-ayu, amargiang pengaci-aci ring bhatara triguna ….”

Artinya
“…lagipula tatacara melaksanakan upacara di kahyangan dengan mempersembahkan upakara pamiduka kehadapan Bhatara Guru di Tampurhyang Batur, di Pura Dalem Besakih dan di Pura Puseh Kentel Gumi, ketiga itulah sebagai Bhatara triguna pamikukuh pulau Bali. Apabila taaat seperti itu semua penduduka desa melakukan upacara persembahyangan upacara kehadapan Bhatara Tri Guna…”

Lebih lanjut, raja Purana Batur antara lain menyebutkan:”…. Kacaulah negara itu apabila penguasa kurang melaksanakan persembahan di Pura Besakih, di pura Tampurhyang Batur dan pura Kentel Gumi yang berarti tidak ingat pada Bhatara Tri Guna …..”

Uraian Raja Purana Batur tersebut mempertegas status Pura Kentel Gumi merupakan satu kesatuan dengan Pura Kentel Gumi merupakan satu kesatuan dengan Pura Batur dan Pura Besakih sebagai Tri Guna Pura atau Kahyangan Tiga Jagat Bali, tempat untuk nunas kedegdegan jagat. Berikut terlampir susunan acara Karya Agung di Pura Kental Gumi Klungkung.

EED KARYA RING PURA AGUNG KENTEL GUMI – 2008

NO

Rahina/ Tanggal

Jam

Upacara

1

Wraspati Umanis Dungulan, Kamis 21 Agustus 2008

08.00

- Matur ring Kahyangan Jagat Bali

- Ngaturang Pamiut ring Sang Hyang Tri Guna Pura

2

Sukra Paing Dungulan Jumat 22 Agustus 2008

08.00

Nyukat Genah Tawur

3

Redite Wage Kuningan Minggu 24 Agustus 2008

08.00

Nanceb Tetaring lan wewangnan tyosan

4

Saniscara Wage Medangsia Sabtu 13 September 2008

07.00

- Nuwur Tirta

- Ngingsah

5

Redite Kliwon Pujut Minggu 14 September 2008

10.00

- Ngawit Nyuci,Ngingdsah, Negtegang

- Pengalang, Ngunggahang Sunari

- Caru Rsi Gana

6

Saniscara Kliwon Krulut Sabtu 04 Oktober 2008

10.00

Mamineh Empehan lan Mekarya Paduparka

7

Redite Paing Matal Minggu 26 Oktober 2008

08.00

Ngajum Pedagingan

8

Anggara Wage Matal Selasa 28 Oktober 2008

09.00

Mapepada Tawur Balik Sumpah Agung

9

Buda Kliwon Matal Rabu 29 Oktober 2008

10.00

- Tawur balik sumpah agung

- Mlaspas agung, mendem pedagingan karya pangingkup masupati pralingga lan Purana

10

Sukra Paing Matal, 31 Oktober 2008

Redite Wage Uye, 2 November 2008

07.00

Nuwur Tirta Kahyangan Jagat Bali, Semeru lan Rinjani

11

Saniscara Kliwon Uye, Sabtu 8 November 2008

09.00

- Mepepada Tawur Labuh Gentuh

- Nedunang Ida Betare

12

Redite Umanis Menail, Selasa 11 November 2008

08.00

- Melasti ring segara Klotok

- Ngaturang pakelem

- Tawur Labuh Gentuh

- Memasar ring Bancingah Agung lan pemedek Ida Betara

13

Anggara Pon Menail, Selasa 11 November 2008

09.00

Meapepada Karya lan Memben

14

Buda Wage Menail, Rabu, 12 November 2008

10.00

Puncak karya : Tawur Panca Bali Krama, Penyegjeg jagat Manca Desa Ngaturang karya Pangebek, Pangenteg, Paselang, Pedanan saha ngaturang Pangusabhan

15

Wrespati Kliwon Menail, Kamis 13 November 2008

10.00

- Melayagin

- Penganyar Kab.Buleleng

16

Sukra Umanis Menail, Jumat 14 Nopember 2008

10.00

- Nyuyukin

- Penganyar Kab. Jembrana

17

Saniscara Paing Menail, Sabtu 15 November 2008

10.00

- Ngelemekin

- Penganyar Kab. Tabanan

18

Redite Pon Prangbakat, Minggu 16 November 2008

10.00

Penganyar Kab. Badung

19

Soma Wage Prangbakat, Senin 17 November 2008

10.00

Penganyar Kota Denpasar

20

Anggara Kliwon Prangbakat, Selasa 18 November 2008

10.00

Penganyar Kab. Gianyar

21

Buda Umanis Prangbakat, Rabu 19 November 2008

10.00

Nyenuk, makebat daun, mangun ayu rsi bhojana

22

Wrespasti Paing Prangbakat, Kamis 20 November 2008

10.00

Penganyar Kab. Bangli

23

Sukra Pon Prangbakat, Jumat 21 November 2008

10.00

Penganyar Kab. Klungkung

24

Saniscara Wage Prangbakat, Sabtu 22 November 2008

10.00

Penganyar Kab. Karangasem

25

Redite Kliwon Bala, Minggu 23 November 2008

10.00

Penganyar Kec. Nusa Penida

26

Soma Umanis Bala, Senin 24 November 2008

10.00

Penganyar Kec. Dawan

27

Anggara Paing Bala, Selasa 25 November 2008

10.00

Penganyar Kec. Klungkung

28

Buda Pon Bala, Rabu, 26 November 2008

10.00

Penganyar Kec. Banjarangkan

29

Wrespasti Wage Bala, Kamis 27 November 2008

10.00

- Mejauman, penyineban, mendem bagia

- Pulekerti lan mralina wewangunan

30

Soma Pon Ugu, Senin 1 Desember 2008

10.00

Maajar-ajar (Nyegara Gunung) ring Pura Goa Lawah


Upacara Melasti Rangkaian Karya Agung di Pura Kental Gumi Sudah dilaksanakan Pada Tanggal 9 November 2008, Berikut Petikannya Sumber "Bali Post"

'Melasti' Batara Kentel Gumi ke Watu KlotokSERANGKAIAN Karya Agung Mamungkah, Tawur Panca Walikrama, Panyejeg Jagat, Manca Desa, Ngeneng Linggih lan Pengusaba Kahyangan Jagat Pura Agung Kentel Gumi, Buda Wage Menail (Rabu (12/11)-red), dilaksanakan melasti ngaturang pakelem, tawur labuh gentuh, nangluk merana, memasar, mendak ida betara. Melasti dilaksanakan di segara Watu Klotok, Minggu (9/11) kemarin.

Ribuan umat tumpah ruah mengikuti prosesi melasti. Umat menyemut mencapai panjang dua kilometer, berjalan kaki menempuh jarak sekitar 10 kilomter dari Pura Kentel Gumi ke timur, perempatan Tusan, Semagung, Koripan, Umasalakan, Perempatan Sidayu ke By-pass lalu Watu Klotok. Katuran pamendak, makobok, lalu puncak acara di Pura Watu Klotok.

Selama proses upacara yang dipuput tujuh sulinggih yakni Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Geria Aan, Ida Pedanda Gde Ketut Keniten dari Geria Dawan Kelod, Ida Pedanda Gde Putra Yoga dari Geria Tunjuk Tabanan, Ida Pedanda Gde Bajing, Ida Pedanda Gede Putra Dwijasandi (Geria Kemenuh Lili Gundi Buleleng), Ida Pedanda Putra Wiraga (Geria Gde Darma Kemenuh Mendoyo) dan Ida Pedanda Gde Jelantik Karang, banyak pemedek yang kerauhan.

Menurut Ketua Seksi Upakara Dewa Ketut Soma, pelaksanaan melasti bertujuan membersihkan/melukat pretima, sarana upakara sebelum puncak karya dilaksanakan. Bersamaan dengan itu, di masing-masing merajan dan pura puseh agar menghaturkan pejati, canang sari dan pesucian guna membersihkan diri dari semua leteh yang menodai kesucian alam. Bagi krama subak, menghaturkan upakara di pura subak masing-masing berupa pejati asoroh dan canangsari sebagai upacara nangluk merana agar petani terhindar dari serangan hama, tikus maupun belalang (balang sangit).
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 18.32   0 comments
Hari Raya Tumpek Kandang
Kamis, 13 November 2008
Tumpek Kandang adalah tumpek yang jatuh pada hari Saniscara Kliwon Uye, Tumpek Kandang disebut juga Tumpek Wewalungan / Oton Wewalungan atau Tumpek Kandang, yaitu hari selamatan binatang-binatang piaraan (binatang yang dikandangkan) atau binatang ternak (wewalungan).

Untuk bebanten selamatan bagi binatang tersebut berbeda-beda menurut macam / golongan binatang-binatang itu antara lain:

  • Untuk bebanten selamatan bagi sapi, kerbau, gajah, kuda, dan yang semacamnya dibuatkan bebanten: tumpeng tetebasan, panyeneng, sesayut dan canang raka.

  • Untuk selamatan bagi babi dan sejenisnya: Tumpeng-canang raka, penyeneng, ketipatbelayag.

    dan
  • Untuk bebanten sebangsa unggas, seperti: ayarn, itik, burung, angsa dan lain-lainnya dibuatkan bebanten berupa bermacam-macarn ketupat sesuai dengan nama atau unggas itu dilengkapi dengan penyeneng, tetebus dan kembang payas.
Di sanggah / merajan dilakukan pemujaan, pengastawa Sang Rare Angon yaitu dewanya ternak dengan persembahan (hayapan / widhi-widhana) berupa suci, peras, daksina, penyeneng, canang lenga wangi, burat wangi dan pesucian.
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 00.10   0 comments
Penyadur

Name: Arya Tangkas Kori Agung
Home: Br. Gunung Rata, Getakan, Klungkung, Bali, Indonesia
About Me: Perthi Sentana Arya Tangkas Kori Agung
See my complete profile
Artikel Hindu
Arsip Bulanan
Situs Pendukung
Link Exchange

Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

Rarisang Mapunia
© 2006 Arya Tangkas Kori Agung .All rights reserved. Pasek Tangkas