Arya Tangkas Kori Agung

Om AWIGHNAMASTU NAMOSIDDHAM, Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.

 
Refrensi Pasek Tangkas
Untuk menambah Referensi tentang Arya Tangkas Kori Agung, Silsilah Pasek Tangkas, Babad Pasek Tangkas, Perthi Sentana Pasek Tangkas, Wangsa Pasek Tangkas, Soroh Pasek Tangkas, Pedharman Pasek Tangkas, Keluarga Pasek Tangkas, Cerita Pasek Tangkas. Saya mengharapkan sumbangsih saudara pengunjung untuk bisa berbagi mengenai informasi apapun yang berkaitan dengan Arya Tangkas Kori Agung seperti Kegiatan yang dilaksanakan oleh Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Pura Pedharman Arya Tangkas Kori Agung, Pura Paibon atau Sanggah Gede Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Keluarga Arya Tangkas Kori Agung dimanapun Berada Termasuk di Bali - Indonesia - Belahan Dunia Lainnya, sehingga kita sama - sama bisa berbagi, bisa berkenalan, maupun mengetahui lebih banyak tentang Arya Tangkas Kori Agung. Media ini dibuat bukan untuk mengkotak - kotakkan soroh atau sejenisnya tetapi murni hanya untuk mempermudah mencari Refrensi Arya Tangkas Kori Agung.
Dana Punia
Dana Punia Untuk Pura Pengayengan Tangkas di Karang Medain Lombok - Nusa Tenggara Barat


Punia Masuk Hari ini :

==================

Jumlah Punia hari ini Rp.

Jumlah Punia sebelumnya Rp.

==================

Jumlah Punia seluruhnya RP.

Bagi Umat Sedharma maupun Semetonan Prethisentana yang ingin beryadya silahkan menghubungi Ketua Panitia Karya. Semoga niat baik Umat Sedharma mendapatkan Waranugraha dari Ida Sanghyang Widhi – Tuhan Yang Maha Esa.

Rekening Dana Punia
Bank BNI Cab Mataram
No. Rekening. : 0123672349
Atas Nama : I Komang Rupadha (Panitia Karya)
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, ... Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.
Berbakti
Janji bagi yang Berbakti kepada Leluhur BERBAKTI kepada leluhur dalam rangka berbakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa.
Mantram Berbakti
Berbakti kepada Leluhur Abhivaadanasiilasya nityam vrdhopasevinah, Catvaari tasya vardhante kiirtiraayuryaso balam. (Sarasamuscaya 250) Maksudnya: Pahala bagi yang berbakti kepada leluhur ada empat yaitu: kirti, ayusa, bala, dan yasa. Kirti adalah kemasyuran, ayusa artinya umur panjang, bala artinya kekuatan hidup, dan yasa artinya berbuat jasa dalam kehidupan. Hal itu akan makin sempurna sebagai pahala berbakti pada leluhur.
Ongkara
"Ongkara", Panggilan Tuhan yang Pertama Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu?
Gayatri Mantram
Gayatri Mantram Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam. Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam Mahyam dattwa vrajata brahmalokam. Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.
Dotlahpis property
Image and video hosting by TinyPic
Besakih Dibangun 3.000 Tahun Sebelum Masehi
Senin, 30 Maret 2009
Baru saja Pura Agung Besakih menjadi pusat perhatian dunia. Sebab, di pura terbesar di Bali ini Rabu (25/3) digelar upacara Panca Bali Krama yang digelar 10 tahun sekali.

Pada zaman Kerajaan Waturenggong, untuk pertama kalinya di pura ini diselenggarakan upacara agung Ekadasa Rudra --pelaksanaannya sekali dalam 100 tahun -- atas petunjuk sang yajamana, Dang Hyang Nirartha. Lalu kapan Pura Agung Besakih didirikan?

SEJARAWAN Unud Dr. AA Bagus Wirawan mengatakan, dilihat dari bukti-bukti sejarah atau arkeologi, Pura Besakih diperkirakan sudah ada pada zaman prasejarah. Kapan didirikan, tidak bisa dijawab dengan pasti. Tetapi berdasarkan sumber yang lain, pura ini diperkirakan dibangun pada saat kedatangan Rsi Markendya ke Bali -- beliau menanam pancadatu di sana. 'Namun jika dilihat dari bukti arkeologi, mengacu pada peninggalan yang ada -- monumen berundak-undak -- pura ini dibangun pada zaman batu, yakni sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi,' ujar AA Wirawan, Senin (30/3) kemarin.

Selanjutnya pura ini dilengkapi dengan pelinggih Meru dan sebagainya. Itu terjadi pada saat Mpu Kuturan datang ke Bali. Pura Agung Besakih kemudian menjadi kahyangan jagat sekitar abad ke-14 atau sekitar tahun 1380 Sesudah Masehi pada zaman Raja Bali Dalem Ketut Ngulesir atau Semara Kepakisan yang berpusat di Gelgel. Sedangkan Pura-pura Padharman dibangun sejak abad ke-17 atau sekitar tahun 1686 Sesudah Masehi.

Purnama Kadasa

Pengurus Parisada Pusat Prof. Dr. Made Titib mengatakan, upacara Batara Turun Kabeh atau dikenal sebutan Usaba Waisaka berlangsung rutin setiap setahun sekali, tepatnya pada Purnama Kadasa. Upacara Batara Turun Kabeh memiliki arti penting bagi umat Hindu. Pada saat upacara itu Ida Batara 'diturunkan' (katedunang) di Pura Pesamuan Agung Besakih. Di situ ada upacara mapeselang. Batara-Batari setelah madeg menjadi Smara-Ratih yang didahului dengan upacara jejiwa, menyatu menjadi Siwa-Guru. Hyang Siwa-Guru ini kemudian kalinggihang di sanggar agung. Prosesi ritual munggah ke sanggar agung itu malantaran kebo matanduk emas. Di sanggar agung itulah Ida Batara disembah atau dipuja, kemudian umat nunas tirta amertha dan manik galih (beras yang tidak patah-patah). Manik galih itu kemudian dibawa pulang ke rumah masing-masing, ditempatkan di pulu (tempat menyimpan beras).

Hal senada dikatakan pengamat agama Ketut Wiana. Upacara Batara Turun Kabeh bermakna bahwa segala manifestasi Tuhan memberikan waranugraha kepada umat sesuai dengan fungsi dan profesinya. Dengan demikian semua profesi dan fungsi umat dapat bersinergi atas karunia Tuhan. Sinergi itu dapat berdaya guna memecahkan segala masalah kehidupan individual dan sosial.

Prof. Titib menambahkan, upacara Batara Turun Kabeh ini merupakan tradisi ritual keagamaan yang sudah lama. Kapan pertama kali dilaksanakan, Prof. Titib yang dosen IHDN Denpasar ini tidak tahu persis. Tetapi, Batara Turun Kabeh ini diperkirakan ada sejak Bali bersentuhan dengan India Timur dan India Selatan. (08)
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.56   1 comments
Renungan Nyepi Menyepikan Gejolak Indria
Selasa, 24 Maret 2009
Setelah hari ini, Rabu (25/3), umat melaksanakan Tawur Agung Kesanga (yang dikenal dengan ritual Pangrupukan), Kamis (26/3) besok umat Hindu merayakan hari raya Nyepi tahun Saka 1931. Apa sesungguhnya hakikat Nyepi?

DALAM perayaan Nyepi umat melaksanakan catur brata panyepian yakni amati geni (tak menyalakan api), amati karya (tidak beraktivitas/tak bekerja), amati lelungan (tak bepergian) dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Guru Besar IHDN Denpasar Prof. Ketut Subagiasta mengatakan hakikat Nyepi sesungguhnya adalah sunia ring sejeroning redaya (mengheningkan hati) nyujur nirmala (mencapai kesucian).

Dalam suasana sepi itulah umat melakukan konsentrasi menuju kesucian atau anyekung jnana sudha nirmala.
'Dalam suasana sepi atau sipeng itulah umat berenung mulat sarira, guna ngicalang atau menghilangkan tri mala -- tiga keburukan -- yang bersumber dari pikiran, perkataan dan perbuatan,' kata Subagiasta.

Dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar Wayan Budiutama mengatakan, berbeda dengan perayaan tahun baru masehi, tahun baru saka dirayakan oleh umat Hindu dengan suasana sepi atau hening (nyepi). 'Agak berbeda dengan perayaan tahun baru masehi, tahun baru saka lebih bersifat kontemplasi atau mulatsarira,' ujarnya.

Dalam konteks itu umat melakukan introspeksi atas segala kekurangan tahun sebelumnya. Kemudian melangkah ke depan mulai dengan kosong (dalam arti bersih), sehingga dapat melihat dengan jernih berbagai problem kehidupan dan lebih mampu mengendalikan hasrat yang bergerak cepat. Dengan demikian kita mampu menangkap makna kehidupan yang sesungguhnya.

Senada dengan Budiutama, Subagiasta mengatakan Nyepi sesungguhnya dalam rangka membangkitkan spiritual. Karena itu tahun baru saka 'dirayakan' dengan suasana sepi. Dalam suasana sepilah, spiritual itu bisa dibangkitkan.
Pengamat agama Ketut Wiana mengatakan nyepi dalam konteks perayaan hari raya Nyepi, bermaksud 'menyepikan' gejolak indria. 'Nafsu indria harus patuh pada kendali kesadaran budi. Dengan demikian hidup mampu menjalankan kesucian atman dan selalu ada pada jalan dharma,' ujar Wiana.

Lanjut Wiana yang pengurus Parisada Pusat ini, hidup harus sepi dari dari kebodohan, kebohongan, egoisme, permusuhan, kekerasan, korupsi dan sejenisnya. Jika itu bisa disepikan, maka hidup aman dan sejahtera akan muncul. (lun)
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 19.45   1 comments
Hari Ini Rabu 25 Maret 2009, Puncak Karya Panca Bali Krama
Upacara mapedada wewalungan (hewan untuk upakara tawur) digelar Selasa (24/3) kemarin di Pura Penataran Agung Besakih. Prosesi dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 13.00. Usai prosesi mapepada, wewalungan itu disembelih dan diolah menjadi upakara tawur terkait puncak Karya Panca Bali Krama (PBK) pada tilem kesanga Rabu (25/3) hari ini.

Upacara mapepada wewalungan di Pura Penataran Agung Besakih di-puput Ida Pedanda Gde Made Gianyar dari Geria Budakeling, Karangasem dibantu sejumlah tapini di antaranya Ida Pedanda Istri Mas dari Geria Budakeling. Ida Pedanda Istri Mas yang telah berusia lebih dari 100 tahun tetap semangat memberi petunjuk pangayah lainnya. Prosesi mapepada wewalungan dimulai dengan menghias hewan yang bakal dipakai sarana caru (tawur) itu. Hewan-hewan seperti sejumlah kerbau, sapi (godel), kambing, menjangan, kijang, anjing bangbungkem, kucit butuan diberi kalung atau selempot dari kain merah, kuning atau hitam. Hewan yang besar seperti sapi, kerbau juga dikenakan karuista (ikat kepala dari alang-alang). Bersama hewan berkaki empat itu juga disertakan puluhan penyu, angsa, itik, ratusan ayam manca warna (lima warna).

Hewan caru ini juga diperciki tirta pabersihan, lantas dituntun mapepada (berjalan) mengitari ke arah kiri (mresamya), palebahan Pura Penataran Agung Besakih sebanyak tiga kali. Prosesi iring-iringan mapepada terdepan seluruh senjata Dewata Nawa Sanga seperti Gada, Nagapasa, Padma, Angkus dan Trisula serta kekober. Berikutnya di-pundut pajenengan Ida Ratu Bagus Pande berbentuk pedang.

Usai mengitari palebahan Pura Penataran tiga kali, iring-iringan yang diikuti baleganjur itu kembali masuk ke Penataran di depan bale pawedaan. (bud)
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 19.30   1 comments
'Melasti', Menghanyutkan Kekotoran Alam Semesta
Jumat, 20 Maret 2009
Serangkaian upacara Panca Bali Krama dan Betara Turun Kabeh di Pura Besakih digelar upacara melasti ke Segara Watu Klotok, Klungkung mulai Sabtu (21/3) hari ini. Apa sesungguhnya makna melasti? Dosen IHDN Denpasar I Ketut Wiana mengatakan dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan 'Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata, anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana.' Maksudnya, melasti meningkatkan bakti kepada para dewata manifestasi Tuhan, agar diberi kekuatan untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa atau kekotoran diri dan kerusakan alam semesta.

Sedangkan tujuan melasti seperti yang tersurat dalam lontar Sundarigama adalah ngamet sarining amertha kamandalu ring telenging segara--mengambil sari-sari kehidupan yang disebut tirtha kamandalu (air sumber kehidupan) di tengah samudera.

Kata Wiana, 'Ngiring prawatek dewata' dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala itu mengandung makna bahwa ciri utama orang beragama adalah berbakti kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widi). Dalam konteks itu, umat diharapkan mampu menguatkan daya spiritual untuk menajamkan kecerdasan intelektual. Hal itu dijadikan dasar untuk menguatkan kepekaan emosional dan melahirkan kepedulian sosial. Anganyutaken laraning jagat artinya, dengan kuatnya srada dan bakti kepada Tuhan, kepedulian sosial umat bisa meningkat. Anganyutaken papa klesa maksudnya agar umat termotivasi untuk mengatasi lima kekotoran individu yang disebut panca klesa--awidya, asmita, raga, dwesa dan abhiniwesa.

Sedangkan anganyutaken letuhing bhuwana maksudnya melalui ritual melasti umat diharapkan termotivasi untuk menghilangkan kebisaan buruk merusak sumber daya alam. Jika kebiasaan buruk ini terus dibiarkan, alam akan rusak (letuhing bhuwana) yang pada gilirannya manusia akan menderita.

Ketua Parisada Bali Dr. IGN Sudiana mengatakan melasti berasal dari kata lasti yang artinya menuju air. Dalam konteks prosesi melasti, umat bisa mendatangi segara (laut), danau dan campuan (pertemuan dua buah sungai).

Tujuannya, nunas tirta amertha dan menghanyutkan kekotoran dunia. Kata Sudiana yang dosen IHDN Denpasar, melasti ngarania ngiring prewatekan pralingga Ida Batara ke telengin samudera angamet tirta amerta (tirta sanjiwani), anganyutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana.' Artinya, umat ngiring Ida Batara ke segara mengambil Tirta Amerta dan menghanyutkan segala penderitaan umat, segala sesuatu yang menyebabkan dunia atau alam semesta ini kotor. Tirtha yang telah diambil itu kemudian digunakan dalam upacara Panca Bali Krama.

Lanjut Sudiana, secara simbolik sesungguhnya umat diingatkan untuk selalu membenahi diri supaya menjadi lebih baik, dengan menghilangkan atau menghanyutkan perilaku atau sifat-sifat buruk yang melekat dalam diri. Jadi, dalam konteks Panca Bali Krama, umat diingatkan melakukan introspeksi diri--misalnya, selama kurun waktu 10 tahun ke belakang, sudahkah ada perbaikan-perbaikan dalam diri? Demikian pula selama kurun waktu itu, sudahkan umat menjaga atau memperlakukan alam semesta ini dengan baik? Melalui introspeksi seperti itu diharapkan ke depan muncul perbaikan-perbaikan perilaku, sehingga terjadi keharmonisan. Pun, melalui upacara pemahayu jagat ini diharapkan keharmonisan alam beserta isinya tetap terjaga. (08)
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.22   1 comments
Pralingga Ida Batara 'Kalinggihang' di Pesamuan
Pralingga dan pratima Ida Batara, Jumat (20/3) kemarin sekitar pukul 16.00 wita katuur dan katedunang serta kairing malinggih di balai pesamuan di belakang Padma Tiga Pura Penataran Agung Besakih. Prosesi nedunang pralingga Ida Batara ini dihadiri ratusan umat, terutama dari kalangan pejabat dan mantan pejabat.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika serta istri Nyonya Ayu Pastika, mantan Gubernur Bali Dewa Made Beratha tampak hadir, selain Sekprov Bali Nyoman Yasa serta sejumlah pejabat bupati selaku pangempon pura seperti Bupati Gianyar Cokorda Ardhana Sukawati, Bupati Klungkung Wayan Candra, Bupati Karangasem Wayan Geredeg, serta pejabat lainnya. Prosesi ini berjalan lancar, karena cuaca cerah, sementara sebelumnya sempat turun hujan lebat.

Hampir di tiap palebahan pura di kompleks Pura Besakih digelar persembahyangan. Puluhan warga keturunan Tionghoa juga menggelar persembahyangan di Pura Ratu Bagus Subandar yang terletak di pojok timur atas Pura Penataran Agung. Sementara ratusan wisatawan domestik dan asing memanfaatkan momen penting sepuluh tahunan itu untuk melihat dan mengabadikan prosesi itu.

Setelah semua pralingga tedun di mana Sabtu (21/3) sekitar pukul 10.00 pagi ini bakal kairing mamargi melasti ke Pura Segara Watu Klotok, Klungkung. Iring-iringan pamelastian ini diperkirakan mencapai lima kilometer.

Guna melancarkan pamargin Ida Batara melasti, operasi ribuan truk galian C pada hari itu distop sementara. Sedangkan warga pengguna jalan raya di jalur pamargi melasti Ida Batara diminta yasa kerti-nya guna menghindari kemacetan dengan mengambil jalan jurusan lainnya di samping tertib berlalu lintas. (013)
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 19.52   1 comments
Maturan Ke Pura Besakih
Senin, 09 Maret 2009
Susunan Sembahyang atau Maturan ke Pura Besakih, Sejumlah Pura Kahyangan jagat berada di wilayah Kabupaten Karangasem. Salah satunya yang sudah tak asing lagi bagi umat Hindu di Bali adalah Pura Besakih. Pura Besakih sebagai purwa rajya (sentral), hendaknya semua pihak menjaga kesuciannya. Jika kesucian pura di kaki barat Gunung Agung itu terjaga maka akan tetap memancarkan vibrasi kesucian kepada Bali dan umatnya. Bagaimana sejarah Pura Besakih? Pura-pura apa saja yang ada di areal pura terbesar di Bali itu ?

Pengamat agama Drs. IBG Agastia pernah mengatakan terkait masa lalu keberadaan Pura Besakih banyak terdapat legenda, serta mitologi lisan maupun tertulis. Sastra sejarah seperti babad, usana dan purana cukup banyak, baik menjadi koleksi pribadi terkait keluarga tertentu yang memiliki pedharman, sementara yang menyangkut Besakih secara keseluruhan adalah Raja Purana Besakih.
Agastia dalam sebuah tulisannya mengatakan, Rsi Markandeya disebut-sebut sebagai orang suci pertama kali menanam panca datu sebagai dasar Pura Besakih. Pura ini memiliki perjalanan panjang, pada perkembangannya kini menjadi pusat bagi masyarakat Bali.

Cerita pengabdian penuh bakti Sang Kulputih, seorang tukang sapuh di Besakih, bisa kita baca dalam lontar Sangkulpinge. Namun, kata Agastia, yang lebih memiliki nilai sejarah adalah usaha-usaha Mpu Kuturan yang kemudian dikenal sebagai pendiri Pura Sad kahyangan di Bali. Berikutnya, Mpu Bharadah yang merupakan saudara kandung Mpu Kuturan -- pandita Kerajaan Airlangga -- melanjutkan kembali penataan Pura Besakih. ''Sebuah prasasti yang dinamai Mpu Bharadah yang disimpan di Pura Batu Madeg Besakih, memuat tahun Saka 929 (1007 M), rupanya merupakan masa kedatangan Mpu Bharadah di Besakih,'' tulis Agastia yang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali ini.

Berikutnya kehadiran Dang Hyang Nirartha (Dang Hyang Dwijendra) sebagai pandita Kerajaan Gelgel zaman Raja Dalem Waturenggong -- sangat besar peranannya dalam menata kembali kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Termasuk kemudian menata kembali Pura Besakih dan tata upacaranya. Dang Hyang Dwijendra pernah menyarankan Raja Waturenggong untuk menggelar upacara Eka Dasa Rudra di Besakih, sekalian dengan runtutan upacaranya sebagaimana kini kita warisi.

Agastia mengatakan, bila mengikuti langsung pelaksanaan upacara besar di Besakih seperti Eka Dasa Rudra (tiap 100 tahun) atau tawur sepuluh tahunan Panca Walikrama, barulah kita bisa mengetahui secara simbolis Besakih adalah madyaning bhuwana (sentralnya dunia). Merupakan tempat pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dengan manifestasinya (kekuatannya) yang menguasai semua penjuru dunia, yakni Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambhu. Ini sesuai dengan konsep pengider-ider bhuwana. ''Dari sini pula umat Hindu memohon kerahayuan bhuwana, keselamatan seluruh jagat,'' tandas Agastia.

Sementara itu, menurut IBM Dharma Palguna, Pura Besakih adalah gugusan 86 buah pura. Kompleks Pura Besakih terdiri atas 18 buah pura umum, 4 pura Catur Lawa, 11 pura pedharman, 6 pura non-pedharman, 29 pura dadia, 7 pura berkaitan dengan pura dadia dan 11 pura lainnya.

Perlu Perhatian Pusat

Namun, banyak pihak menilai perhatian untuk daerah satu-satunya yang tertinggal di Bali itu belum cukup. Sebagai daerah di mana di wilayahnya banyak terdapat pura besar, menjadi tanggung jawab warga Karangasem untuk menjaganya baik dari secara niskala (kesuciannya) maupun skala (keamanan dari rongrongan orang tak bertanggung jawab).
IBG Agastia saat melakukan pertemuan beberapa waktu lalu dengan sejumlah tokoh masyarakat di Karangasem mengatakan, pemerintah pusat mesti memberikan perhatian lebih kepada keberadaan Pura Besakih. Soalnya, pura itu menjadi milik umat Hindu di seluruh Indonesia. Sama halnya rumah ibadah besar yang bisa menjadi lambang bagi eksistensi umat beragama lainnya. Perhatian menyangkut penataan ke depan dan dana pemeliharaannya yang tentu tak kecil, mesti dianggarkan dalam APBN.
Agastia mengatakan, Besakih menjadi kiblat dan pemersatu umat di Bali. Karena kebesarannya -- dan kini telah memiliki daya tarik wisata -- menjadi tantangan untuk menjaga kesuciannya. Hal itu terutama perlu diwaspadai dari oknum tertentu yang tidak berkepentingan.

Agastia menunjuk salah satu sorotan masyarakat tentang banyaknya anjing liar di kompleks pura yang tak sedap dipandang mata, seperti terkena penyakit kudis dan penyebab kesan kotor. Tanpa banyak ikut memberikan perhatian, namun cuma melihat sesaat, sorotan itu memang bisa benar.

Namun jika diperhatikan, keberadaan anjing di Pura Besakih, kata Agastia, sama halnya dengan keberadaan komunitas kera di sejumlah pura seperti di Pura Uluwatu, Alas Kedaton, Sangeh atau di Air Sanih, Buleleng. Menurutnya, jika diperhatikan dengan seksama dan perasaan spiritual maka anjing yang biasa berada di kompleks Pura Besakih terlihat berbeda dengan yang berada di rumah-rumah penduduk. Keberadaan anjing di areal Pura Besakih itu bisa dipandang sebagai penjaga pura, pada saat manusia luput dari penjagaan 24 jam dan sampai hal yang terkecil.

Dikatakannya, jika sudah menyadari tak sedap melihat anjing yang terkena penyakit kudis, menjadi kewajiban untuk memberikan perhatian. Misalnya, dalam periode tertentu melakukan kerja sosial memberikan pengobatan kepada anjing-anjing itu.

Kesadaran
Usai bersembahyang, kata dosen STKIP Agama Hindu Amlapura Drs. IP Arnawa, S.Ag., M.Si., pemedek hendaknya dengan kesadaran bakti tak meninggalkan begitu saja sisa sarana persembahyangan yang sudah tak terpakai sebagai sampah berserakan. Namun, mesti ngaturang ayah melakukan pembersihan dengan membawa sampah itu ke tempat semestinya. ''Bukankah ngaturang ayah menjaga dan melakukan kebersihan merupakan salah satu wujud bakti kepada Tuhan?'' ujar Arnawa.

Arnawa mengatakan, terkait dengan penataan, mesti selalu berpedoman pada Raja Purana Besakih. Sebab, di sana akan tertuang tata nilai dan filosofinya. Berbagai karya pujawali, menyangkut upakara bebantenan juga terkandung. ''Jadi tak cukup sembahyang cuma dengan sarana canang sari, dupa dan tirta semata,'' ujar Arnawa yang juga Ketua Peradah Karangasem ini.
Menurutnya, Pura Besakih sebagai purwa rajya (sentral), hendaknya semua pihak menjaga kesuciannya. Soalnya, jika kesucian pura di kaki barat Gunung Agung itu terjaga, maka akan tetap memancarkan vibrasi kesucian kepada Bali dan umatnya. * gde budana

Persembahyangan Dimulai dari Pura Manik Mas

SEMBAHYANG
ke Pura Besakih ada tata caranya. Selain dari semula niat berangkat sembahyang mesti didasarkan atas kesucian lahir dan batin, sebaiknya dimulai dari Pura Manik Mas.

Tujuannya, kata Klian Desa Pakraman Besakih I Wayan Gunatra, Senin (19/12) kemarin, agar tercapai pendakian spiritual. Namun, kata Gunatra kini telah banyak berubah di Besakih. Terutama jalan untuk bisa mencapai Pura-pura di kompleks Pura terbesar di Bali itu kian banyak--bisa dari arah barat (Desa Pempatan) atau dari selatan (Menanga) atau dari timur (lewat Desa Batusesa).

Keadaan itu kerap menjadikan pamedek sering tak lagi menjalankan ketentuan atau kelaziman. Sebenarnya, itu tak salah. Namun dari segi etika pendakian spiritual, ada kekurangan kesempurnaan. ''Kalau ingin lebih sempurna dan khidmat dalam pendakian spiritual, sebaiknya tiap kali sembahyang ke Besakih dimulai dari Pura Manik Mas,'' ujar Gunatra.

Dulu saat masih zaman kerajaan raja-raja di Bali pun, yang hendak sembahyang ke pura itu selalu berhenti dan menambatkan kudanya sebelum Pura Manik Mas. Lalu raja diikuti keluarga atau pengiringnya berjalan kaki sembahyang dari Pura Manik Mas, seterusnya ke atas.
Usai mohon sembahyang dengan tujuan mohon izin (anugraha) tangkil di Pura Manik Mas, barulah ke pura pedarman. Berikutnya sesuai tujuan penangkilan, apakah ke pura yang termasuk catur loka pala (empat pura yang memiliki palebahan besar mengelilingi Pura Penataran Agung). Catur loka pala itu, yakni Pura Kiduling Kreteg, Pura Batu Madeg, Pura Gelap dan Pura Ulun Kulkul. ''Kalau pun tak sempat, seperti alasan sedikit waktu, usai sembahyang di Pura Pedarman bisa langsung ke Penataran Agung. Soalnya, Pura Penataran Agung merupakan sentral,'' papar Gunatra.

Gunatra mengatakan diperlukan kesadaran semua pihak untuk ikut menjaga kesucian Pura Besakih. Terlebih Besakih menjadi Pura yang mempunyai daya tarik wisata dunia. Dengan dibukanya banyak jalan dan pintu masuk guna mempermudah akses menuju pura, ternyata kemudian menimbulkan tantangan tersendiri untuk melakukan pengamanan--juga terkait menjaga kesuciannya.

Gunatra mengatakan selama ini pihaknya sudah menyampaikan himbauan kepada krama Besakih, para pecalang serta yang terkait agar menjaga kesucian Pura dan citra Bali. Hal itu terutama terkait masih adanya sorotan tentang ulah oknum pramuwisata--diduga yang liar--memperlakukan pengunjung dengan cara tak profesional. ''Pramuwisata khusus lokal di kompleks Pura Besakih telah memiliki wadah, sudah dilengkapi kartu identitas dan beberapakali mengikuti diklat,'' ujar Gunatra. (bud)
sumber : balipost
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.43   0 comments
Ramalan Bintang Berlaku 8 Maret sampai 14 Maret 2009
Minggu, 08 Maret 2009
Ramalan Bintang Berlaku 8 Maret sampai 14 Maret 2009
Sumber : Bali Post

CAPRICORN
Konflik yang terjadi hanya karena salah paham. Harap sabar, tenang dan saling merenungkan. Beda pendapat itu boleh-boleh saja, tetapi harus bisa disatukan atau dicari solusinya, demi tujuan yang menguntungkan. Keluarga masih sejahtera. Apa yang diinginkan terpenuhi.

Asmara: Sedang terbuai alunan cinta kasih yang membara. Harus bisa mengendalikan nafsu.


AQUARIUS
Dilihat dari luarnya memang menyenangkan, tidak terjadi apa-apa. Tetapi kalau melihat di dalamnya, ternyata banyak masalah dan penderitaan. Banyak tanggungan yang harus diselesaikan, sedangkan rezeki Anda kurang lancar. Dalamnya laut bisa diduga, isi hati siapa tahu? Keluarga pun pandai menyimpan rahasia.

Asmara: Jangan ikut campur urusan orang lain, bisa jadi penyakit. Lebih baik buat istirahat.


PISCES
Gelombang pasang surut mewarnai perjalanan hidup. Keuangan juga tidak stabil. Oleh sebab itu, jangan royal atau janji-janji. Kalau tidak ditepati, bisa malu dan menghambat karier Anda. Kebutuhan mendadak juga masih terjadi, harap hemat. Keluarga juga jangan dimanja, menyebabkan pemborosan.

Asmara: Masih saling menjajaki, oleh sebab itu jangan serius atau memberi jawaban.


ARIES
Ide-ide baru bisa dilaksanakan, jangan bimbang dan ragu. Keluarkan segenap kemampuan yang ada untuk mengejar kemajuan dan keuntungan. Di mana saja harus bisa memanfaatkan waktu dan menunjukkan kalau Anda mampu. Dengan keluarga juga jangan egois, minta dituruti dan menang sendiri.

Asmara: Jangan sok jadi pahlawan, ukur keadaan Anda sendiri. Jangan main sandiwara.


TAURUS
Asal tekun dan berjuang terus menerus, didampingi berbuat kebaikan, melalui jalur yang lurus dan benar, tidak melanggar hukum maupun aturan agama, maka karmanya Anda akan mendapat pertolongan dari Hyang Maha Kuasa. Tetaplah optimis. Situasi keluarga juga masih menyenangkan meskipun hanya makan tempe tahu.

Asmara: Sungguh mengharukan dan dirindukan. Kesederhanaan Anda memang menawan.


GEMINI
Kini saatnya meluangkan waktu untuk istirahat sejenak, sambil mengadakan evaluasi dan introspeksi. Jangan suka memaksakan diri, sebab bisa jatuh sakit. Satu per satu tugas-tugas diselesaikan agar tidak terforsir. Pikiran yang tenang dan pasrah serta rajin sembahyang. Masalah keluarga membutuhkan waktu, harap sabar.

Asmara: Pikiran sedang kalut, tidak bisa tidur, tak enak makan. Harus curhat.


CANCER
Cobalah untuk menengok ke belakang, meneliti ulang, mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan. Masa pahit jangan terulang kembali. Kemudian segeralah bangkit dengan penuh semangat untuk berjuang lebih gigih demi mencapai tujuan, cita-cita luhur, membahagiakan keluarga. Mintalah pendapat keluarga Anda.

Asmara: Tali cinta yang sudah terjalin lama, jangan sampai terputus begitu saja.


LEO
Minggu ini banyak lapangan usaha yang terbuka, apa salahnya Anda mencoba untuk cari tambahan hasil. Jangan malu dan jangan gengsi, asal halal tentu banyak yang simpati. Rencana-rencana baru hendaknya diperhitungkan masak-masak, jangan setengah-setengah. Bila perlu keluarga diajak berunding supaya kalau nantinya ada apa-apa, tidak disalahkan.

Asmara: Gunakan kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi kalau tidak sekarang.


VIRGO
Mantapkan pendirian, teruskan apa yang sudah dilaksanakan, ketekunan dan kesabaran Anda sedang diperhatikan. Bintang Penolong masih menyertai Anda, jadi jangan khawatir. Maju terus pantang mundur sebelum berhasil. Keluarga masih mendukung dan bisa diajak kerja sama.

Asmara: Semua yang Anda khawatirkan bisa diatasi, berkat bantuan sahabat karib.


LIBRA
Kali ini memerlukan kecerdikan dan kebijaksanaan. Oleh sebab itu tidak boleh tegang. Diam sejenak, berdoa semoga diberi kemudahan, kelancaran dan kesuksesan. Banyak objek yang ditawarkan kepada Anda, tapi jangan serakah. Kebutuhan keluarga juga harus dicukupi, jangan ditunda-tunda.

Asmara: Kabut hitam menyelimuti perjalanan cinta kasih. Sedialah payung sebelum kehujanan. Siap mental.


SCORPIO
Berhasil dan tidaknya perjuangan Anda, tergantung dari cara dan sikap serta tutur kata. Oleh sebab itu, hati-hati dan selalu ingat sopan santun dan kode etik. Kendalikan emosi untuk meraih prestasi. Menghadapi kemelut dalam keluarga harus dengan kepala dingin supaya disegani.

Asmara: Perlu kebijaksanaan, tidak memaksa dan tidak dikekang.


SAGITARIUS
Kehidupan makin mapan, rezeki lancar dan bisa mengembangkan sayap. Kalau ada rezeki lebih, jangan lupa beramal atau menolong orang-orang yang membutuhkan. Hindari angkara murka, sombong dan takabur. Selalu bersyukur dan sembahyang. Keluarga merasa senang sebab keinginannya terpenuhi.

Asmara: Perlu ketegasan, agar konsentrasi Anda tidak bercabang. Karier harus didahulukan.
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 19.05   0 comments
Nasib atau Karma
DALAM kehidupan ini, kadang-kadang kita mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Masalah tersebut seakan-akan membawa Anda pada titik yang terendah dalam hidup ini. Masalah muncul silih berganti, bagaikan gelombang yang tidak pernah ada habisnya. Hidup terasa berada di jalan buntu atau di jalan yang tidak ada ujungnya, bagaikan sumur tanpa dasar. Hal seperti ini tentu pernah Anda alami.

Ketika berada dalam badai kehidupan, banyak orang yang tidak bisa menerima kondisi yang terjadi. Mereka menyalahkan orang lain. Dalam doa pun, mereka menyalahkan makhluk lain yang tidak terlihat. Atau mereka mengeluhkan sebagai nasib yang harus dijalani. Umat Buddha berkilah dengan mengatakan sebagai kamma buruk yang harus diterima dalam hidup ini.

Dengarkan kawan-kawan Anda atau siapa saja yang Anda temui. Setiap orang mempunyai masalah hidupnya masing-masing. Beberapa masalah bisa mereka terima setelah beberapa lama. Beberapa yang lainnya tetap tidak bisa diterima dengan lapang dada. Mengapa hal ini harus terjadi pada diri saya? Mengapa tidak pada orang lain, pada musuh saya? Sejumlah pertanyaan bermunculan tanpa ada jawabannya.

Hidup penuh dengan warna-warni. Ada senang dan susah, tawa dan tangis, untung dan rugi, pujian dan makian, bahagia dan sedih, serta yang lainnya. Apapun warna kehidupan yang sedang Anda jalani, tidak lepas dari apa yang Anda lakukan dalam kehidupan ini. Kalau Anda percaya dengan kehidupan sebelumnya, warna-warni tersebut mungkin merupakan bagian dari kehidupan Anda sebelumnya yang muncul pada saat ini karena kondisinya tepat.

Coba Anda berhenti sejenak dan renungkan apa yang telah terjadi dalam hidup Anda. Apa yang terjadi pada saat ini dan apa yang Anda miliki tidak lepas dari perbuatan yang kita lakukan beberapa saat yang lalu, beberapa jam yang lalu, hari, minggu, bulan, atau beberapa tahun yang lalu. Juga tidak lepas dari akibat-akibat dari kamma masa lalu. Semuanya berakumulasi sehingga mengkondisikan Anda yang sekarang.

Inilah sebuah hukum yang universal, sebuah rangkaian sebab akibat yang saling berhubungan. Sebab yang satu akan menimbulkan akibat, membuat Anda melakukan perbuatan baru, akibat baru, dan seterusnya tanpa henti. Hidup hanyalah rangkaian sebab dan akibat yang terus menerus.

Kalau pada saat ini Anda menghadapi masalah, coba berhenti sejenak dan renungkan apa yang telah terjadi sebelumnya, apa yang telah Anda lakukan, apa yang telah Anda putuskan. Dalam hidup ini, tidak ada sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Semua pasti ada sebabnya dan akan menghasilkan akibat. Kita hanya melihat akibat yang buruk tanpa pernah menyadari bahwa perbuatan buruk kita sendiri yang telah menimbulkan akibat.

Ketika akibat buruk tiba, banyak orang yang mengatakan sebagai nasib; sesuatu yang sudah tidak bisa diubah lagi. Ada pula yang mengatakan sebagai kamma buruk dari masa lalu, yang harus diterima dan dijalani dalam hidup ini. Nasib dan kamma buruk seakan-akan menjadi kambing hitam atas segala permasalahan yang ada dalam hidup Anda. Akibatnya, hidup terasa bagaikan jalan tanpa ujung, jalan buntu, atau sumur tanpa dasar.

Masalah yang ada bukanlah nasib yang tidak bisa ubah. Masalah Anda juga bukan sepenuhnya dari kamma buruk di masa silam. Apapun yang terjadi dalam hidup ini merupakan perpaduan dari banyak faktor, yang menjadi satu sehingga kondisinya tepat, yang akhirnya muncul dalam kehidupan ini. Anda sendiri yang mengkondisikan, secara langsung maupun tidak langsung. Anda sendiri yang membuatnya berbuah sehingga dia muncul dalam hidup ini.

Oleh karena itu, berhentilah sejenak dan lihatlah apa yang telah Anda lakukan dalam hidup ini; baik atau buruk. Kondisi baik akan menghasilkan akibat yang baik. Demikian pula sebaliknya, kondisi buruk akan menghasilkan akibat yang buruk. Kita sendiri yang menciptakan kondisinya dan kita sendiri yang akan mendapatkan hasilnya.

Kondisikan yang terbaik untuk hidup Anda. Ketika semuanya sudah dikondisikan dengan baik namun hal yang buruk tetap terjadi, mau tidak mau, kita harus menerima dengan lapang dada. Mungkin ini merupakan bagian yang harus terjadi dalam hidup ini. Pada titik ini, barulah kita mengatakan sebagai nasib atau kamma buruk yang sedang berbuah.
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 18.56   0 comments
Rangkaian Panca Bali Krama "Nyukat Genah" di Besakih
Jumat, 06 Maret 2009
Setelah Nuwasen dan Nunas Tirta Pangandeg lan Pamarisudha 25 Februari 2009, rangkaian Karya Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Besakih berlanjut dengan pelaksanaan upacara Nyukat Genah di Bencingah Agung Besakih, Jumat (6/3) kemarin. Upacara ini di-puput Ida Pedanda Gde Putra Tembau dari Geria Aan, Klungkung.

Nyukat Genah merupakan upacara untuk memetakan tempat sanggar tawang yang nantinya dibangun di lokasi upacara. Ada lima sanggar tawang yakni ditempatkan pada empat arah (timur, barat, utara dan selatan) serta di tengah-tengah. 'Secara keseluruhan, pemetaan mesti dilakukan berdasarkan sukat (ukuran) Wiku Manggala. Termasuk padanan juga mesti sesuai petunjuk Wiku Manggala,' ungkap pemangku yang juga Ketua Seksi Upakara Panitia Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Pura Besakih, Gusti Mangku Jana.

Nyukat Genah diikuti sejumlah pemangku, panitia dan krama. Beragam bebantenan melengkapi pelaksanaan upacara, di antaranya suci upasaksi, peras santun dan pacaruan sebagai simbol pembersihan sekaligus pamarisudha lokasi upacara.

Memohon agar upacara berlangsung lancar. Nyukat Genah diawali dari sudut bagian timur, selanjutnya ke arah barat dan keliling di semua sudut. Termasuk penentuan titik tengah. Menggunakan benang dan meteran serta membubuhkan garis dengan menggunakan kapur untuk memperjelas batas-batas yang sudah ditentukan. 'Setelah Nyukat Genah, kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan beberapa bangunan upacara. Seperti sanggar tawang, panggungan, pawedan dan lainnya,' tandas Mangku Jana.

Bangunan-bangunan itu sudah harus tuntas hingga terhias Rabu (18/3) mendatang. Sebab, Jumat (20/3) dua hari berikutnya, dilanjutkan dengan panedunan Ida Batara kabeh.

Di pihak lain, masyarakat secara individu, berkelompok ataupun lembaga terus berdatangan ngaturang ayah di Pura Besakih. Laki-laki membantu pekerjaan ngawit nancebang bangunan. Ada juga ngayah membuat perlengkapan upakara. Sedangkan perempuan membuat beragam jajanan. Meski hujan mengguyur sejak tengah hari, kesibukan pangayah tak terhenti.

Di antara yang ngayah tersebut, tampak rombongan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali bergabung dengan rombongan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar. Rombongan yang dikoordinir Kasi Pidsus Kejari Denpasar Ridwan Kadir dan Kasi Pidum Wayan Suwila serta diikuti langsung Kajari Denpasar I.B. Gede Siwananda, terlebih dahulu singgah di Pasraman Besakih untuk menyerahkan bantuan berupa 200 buah baju kaos putih, 80 buah sapu lidi bertangkai dan kantung plastik (kantung sampah). Bantuan diserahkan kepada Bendesa Adat Besakih yang juga Ketua Panitia Wayan Gunatra.

'Ini merupakan inisiatif pegawai. Mereka sukarela menghimpun dana untuk dibelikan bantuan yang disumbangkan,' tandas IB Siwananda. Ngayah bersama dan penyerahan bantuan diharapkan dapat meringankan tugas panitia. Sekaligus bentuk rasa memiliki. 'Bukan hanya pegawai beragama Hindu, di luar umat Hindu juga ikut serta,' tambahnya. (kmb20)
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 18.21   0 comments
Rangkaian Karya Panca Bali Krama di Pura Besakih
Kamis, 05 Maret 2009
Puncak Karya, 'Nunas' Nasi TawurPADA puncak Karya Panca Bali Krama, Rabu (25/3), seluruh krama/umat Hindu patut ikut menyukseskan pelaksanaan karya tersebut dan yasa kerti yang dilaksanakan adalah:Nunas Tirta dan Nasi Tawur. Utusan/perwakilan desa pakraman/kecamatan agar datang ke Pura Besakih sekitar pukul 10.00 wita dengan membawa sujang untuk tempat Tirta Tawur serta daksina pejati dan perlengkapan persembahyangan, guna mohon Nasi Tawur dan Tirta Tawur untuk disebarkan dan dipercikkan di wilayah masing-masing.

Masing-masing wilayah juga melaksanakan Pacaruan/Tawur Kasanga sebagaimana biasa, waktu pelaksanaan diatur sbb: Di tingkat provinsi dan kota/kabupaten dilaksanakan pada siang hari pukul 12.00 wita. Di tingkat desa dan banjar dilaksanakan pada sore hari pukul 18.00 wita, tingkat pacaruan/tawur sebagaimana biasa, sesuai dengan dresta setempat.

Sementara upacara di parhyangan; untuk Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina, Pura Keluarga (Kawitan/Dadia/Panti/Paibon/sejenisnya) mengaturkan Daksina Pejati, Sodan Putih Kuning, Canang Sari dan Canang Yasa beserta kelengkapannya, turut ngertiang kerahayuan jagat.

Adapun di rumah tangga: di Palinggih Kemulan (Rong 3) mengaturkan Daksina Pejati, Canang Sari, Soda Putih Kuning dan Tipat Kelanan. Di halaman/natar sanggah/merajan mengaturkan Segehan Manca Warna maiwak Bawang Jahe. Di halaman rumah mengaturkan Segehan Manca Warna maulam Bawang Jahe. Di halaman luar/jaba lebuh mendirikan Sanggah Cucuk, ditanam sebelah kanan pintu rumah, banten munggah di Sanggah Cucuk yakni Peras Panyeneng, Tumpeng Adanan, maulam ati magoreng miwah taluh madadar, Sulang agancet madaging tuak dan arak. Di bawah Sanggah Cucuk mengaturkan: Segehan Manca Warna 9 tanding, ulam-nya olahan Ayam Brumbun, lengkap dengan tetabuhan, diaturkan kepada Sang Butha Raja dan Sang Kala Raja. Segehan Cacahan 108, ulam-nya jejeron matah, disertai Segehan Agung I tanding, tetabuhan tuak, arak, berem, air, diaturkan kepada Sang Bhuta Bala dan Kala Bala. Segehan Sapunjung, iwak babi ingolah lembat asem.

Sementara itu untuk upakara Daksina Pejati di Palinggih Parhyangan dan Palinggih Rong 3, nyejer hingga panyineban upacara Panca Bali Krama dan setiap harinya mengaturkan Canang Sari, ngertiang karya, nunas kerahayuan jagat. (kmb)
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 19.36   0 comments
Rangkaian Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Besakih Tahun 2009
Selasa, 03 Maret 2009
Melasti melalui 28 Desa PakramanSERANGKAIAN Karya Agung Panca Bali Krama dan Batara Turun Kabeh di Besakih digelar prosesi melasti ke Segara Watu Klotok, Klungkung. Bendesa Pakraman Besakih Wayan Gunantra mengatakan, dalam rangka pelaksanaan upacara melasti panitia sudah menggelar rapat Sabtu (28/2) lalu dengan 28 bendesa pakraman yang wilayahnya dilalui prosesi melasti Ida Batara. Dalam rapat itu disepakati antara lain, pertama, prosesi pamelastian (pamundutan Ida Batara) menggunakan sistem timbal-tinimbal (estafet). Kedua, desa pakraman yang daerahnya dilalui prosesi melasti, menjamin keamanan dan ketertiban demi suksesnya upacara tersebut.

Ketiga, masing-masing desa pakraman itu wajib mengerahkan sekitar 270 orang krama untuk ngayah mamundut upacara/uparengga dan jempana palinggih Ida Batara, di samping menyiapkan pecalang serta prajuru desa. Keempat, sepanjang rute yang dilalui disepakati bersih dari atribut parpol dan caleg. Paling tidak tiga hari sebelum Ida Batara melasti, atribut parpol/caleg sudah diturunkan. Kata Gunantra, semua palawatan Ida Batara di Pura Besakih dan Pura Padharman kairing melasti.
Sementara rapat panitia karya dengan prajuru Pura Padharman di Besakih baru akan dilangsungkan Rabu (4/3) ini.

Jadi, rapatnya berjenjang. Pada saat itu, tentu akan diinformasikan soal pamelastian, termasuk palawatan Ida Batara Padharman yang akan kairing melasti.

Enam Bagian

Sementara itu iring-iringan pamelastian terdiri atas enam 'kelompok' atau bagian. Bagian pertama atau terdepan terdiri atas satu unit kendaraan PJR untuk mengatur lalu lintas, satu unit mobil penerangan yang bertugas untuk memberikan informasi/penerangan, satu unit mobil bak terbuka yang memuat tirta pamarisudha -- untuk membersihkan rute pamargi dan satu unit kendaraan yang membawa wangsuhpadan Ida Batara. Bagian atau kelompok kedua terdiri atas 40 orang pamundut upacara/uparengga seperti umbul-umbul, lelontek, cendekan, mamas, bandrangan, payung pagut, pasepan, sekarura, dll. Bagian ketiga terdiri atas para pamundut jempana Ida Batara Catur Lawa yakni Ida Batara Ratu Pande, Ida Batara Ratu Pasek, Ida Batara Ratu Dukuh dan Ida Batara Ratu Penyarikan. Bagian keempat adalah pamudut 19 jempana Ida Batara Luhuring Ambal-ambal dan Soring Ambal-ambal. Bagian atau kelompok kelima adalah pamundut 13 jempana Ida Batara Padharman. Kelompok terakhir adalah tetamburan seperti bleganjur dan para pengiring.

Lanjut Gunantra, rute yang dilalui mencapai puluhan kilometer, melewati 28 desa pakraman di Kabupaten Karangasem dan Klungkung. Ida Batara kairing dari Besakih menuju Segara Watu Klotok. Kembali dari segara, Ida Batara kairing masandekan di Pura Penataran Agung Klungkung dan Pura Tebola Karangasem, selanjutnya pada 23 Februari Ida Batara kairing kembali ke Pura Besakih.
Lalu apa makna melasti? Ketua Parisada Bali Dr. IGN Sudiana mengatakan, dalam Lontar Sundarigama disebutkan melasti adalah ngiring para Dewata anganyutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana, angamit tirta amerta. Artinya, umat ngiring Ida Batara ke segara, menghanyutkan segala penderitaan umat, segala sesuatu yang menyebabkan dunia atau alam semesta ini kotor, kemudian mengambil Tirta Amerta di tengah samudera. Tirta tersebut kemudian dipakai saat Karya Agung Panca Bali Krama -- menyucikan alam semesta (pemahayu jagat).
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 05.36   0 comments
Penyadur

Name: Arya Tangkas Kori Agung
Home: Br. Gunung Rata, Getakan, Klungkung, Bali, Indonesia
About Me: Perthi Sentana Arya Tangkas Kori Agung
See my complete profile
Artikel Hindu
Arsip Bulanan
Situs Pendukung
Link Exchange

Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

Rarisang Mapunia
© 2006 Arya Tangkas Kori Agung .All rights reserved. Pasek Tangkas