Arya Tangkas Kori Agung

Om AWIGHNAMASTU NAMOSIDDHAM, Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.

 
Refrensi Pasek Tangkas
Untuk menambah Referensi tentang Arya Tangkas Kori Agung, Silsilah Pasek Tangkas, Babad Pasek Tangkas, Perthi Sentana Pasek Tangkas, Wangsa Pasek Tangkas, Soroh Pasek Tangkas, Pedharman Pasek Tangkas, Keluarga Pasek Tangkas, Cerita Pasek Tangkas. Saya mengharapkan sumbangsih saudara pengunjung untuk bisa berbagi mengenai informasi apapun yang berkaitan dengan Arya Tangkas Kori Agung seperti Kegiatan yang dilaksanakan oleh Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Pura Pedharman Arya Tangkas Kori Agung, Pura Paibon atau Sanggah Gede Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Keluarga Arya Tangkas Kori Agung dimanapun Berada Termasuk di Bali - Indonesia - Belahan Dunia Lainnya, sehingga kita sama - sama bisa berbagi, bisa berkenalan, maupun mengetahui lebih banyak tentang Arya Tangkas Kori Agung. Media ini dibuat bukan untuk mengkotak - kotakkan soroh atau sejenisnya tetapi murni hanya untuk mempermudah mencari Refrensi Arya Tangkas Kori Agung.
Dana Punia
Dana Punia Untuk Pura Pengayengan Tangkas di Karang Medain Lombok - Nusa Tenggara Barat


Punia Masuk Hari ini :

==================

Jumlah Punia hari ini Rp.

Jumlah Punia sebelumnya Rp.

==================

Jumlah Punia seluruhnya RP.

Bagi Umat Sedharma maupun Semetonan Prethisentana yang ingin beryadya silahkan menghubungi Ketua Panitia Karya. Semoga niat baik Umat Sedharma mendapatkan Waranugraha dari Ida Sanghyang Widhi – Tuhan Yang Maha Esa.

Rekening Dana Punia
Bank BNI Cab Mataram
No. Rekening. : 0123672349
Atas Nama : I Komang Rupadha (Panitia Karya)
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, ... Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.
Berbakti
Janji bagi yang Berbakti kepada Leluhur BERBAKTI kepada leluhur dalam rangka berbakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa.
Mantram Berbakti
Berbakti kepada Leluhur Abhivaadanasiilasya nityam vrdhopasevinah, Catvaari tasya vardhante kiirtiraayuryaso balam. (Sarasamuscaya 250) Maksudnya: Pahala bagi yang berbakti kepada leluhur ada empat yaitu: kirti, ayusa, bala, dan yasa. Kirti adalah kemasyuran, ayusa artinya umur panjang, bala artinya kekuatan hidup, dan yasa artinya berbuat jasa dalam kehidupan. Hal itu akan makin sempurna sebagai pahala berbakti pada leluhur.
Ongkara
"Ongkara", Panggilan Tuhan yang Pertama Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu?
Gayatri Mantram
Gayatri Mantram Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam. Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam Mahyam dattwa vrajata brahmalokam. Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.
Dotlahpis property
Image and video hosting by TinyPic
Perayaan Tumpek Krulut Pemujaan Bunyi-bunyian Menuju Harmonisasi Alam
Jumat, 27 November 2009
Sebulan setelah Tumpek Kuningan, umat Hindu di Bali mengenal rerahinan Tumpek Krulut. Tumpek Krulut kali ini jatuh pada hari Sabtu 28 Nopember 2009. Apa makna yang bisa dipetik dari rerahinanTumpek Krulut ini ?

DOSEN IHDN Denpasar Ketut Wiana mengatakan Tumpek Krulut merupakan hari kasih sayang. Kasih sayang itu diwujudkan dalam bentuk keindahan, dalam hal ini suara gamelan. Yang dipuja dalam Tumpek Krulut adalah Ida Sanghyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Semara Ratih. Karena itu banten yang dihaturkan adalah sesayut lulut asih.

Hal yang sama dikatakan Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN IGN Sudiana. Tumpek Krulut itu berasal dari kata lulut yang artinya hati menyatu dengan keindahan (sundaram) sehingga pikiran menjadi damai. Dalam konteks itu, kita sesungguhnya perlu seni hiburan untuk menyeimbangkan hidup.

Sementara dosen FS Unud I.B. Jelantik mengatakan, pada Tumpek Krulut, umat meyakini Tuhan dalam prabawa-nya sebagai Siwanataraja turun ke bumi untuk menarikan 36 tatwa dalam rangka menyejahterakan buana agung dan buana alit. Untuk mengiringi tarian itu, umat memainkan gamelan atau gong. Di Kota Denpasar, sejak beberapa tahun lalu, ada prosesi pemaknaan Tumpek Krulut dengan menampilkan beragam kesenian, tari dan tabuh. Pada Tumpek Krulut, seluruh perangkat gong dibunyikan untuk menciptakan santha rasa atau rasa damai. Dengan adanya rasa kedamaian, diharapkan tercipta kesejahteraan lahir dan batin.

Pengamat budaya dan agama Ida Bagus Agastia mengatakan di Bali konsep suara itu penting, sehingga ada istilah wija aksara suci. Dari situ muncul peradaban suara sehingga dikenal genta, sunari, pinekan, kulkul dan berbagai jenis gamelan berbahan kerawang, besi maupun bambu. Selain peradaban suara, di Bali juga dikenal peradaban warna dan rasa. Sementara ritual Tumpek Krulut, berkaitan dengan peradaban suara dalam hal ini gamelan atau gong. Berkaitan dengan suara, griengan suara kumbang juga menjadi perhatian para kawi pada zaman lampau yakni pada sasih Kapat yang dikenal dengan tradisi Ngapat. Purnama Kapat dijadikan kesempatan yang baik untuk nyastra, menulis dan mendiskusikan karya-karya indah. Para pujangga biasanya pergi ke pantai dan gunung untuk menangkap keindahan alam, menyimak kicauan burung, deburan ombak, mengamati indahnya kelopak bunga, mendengar griengan suara kumbang dan sebagainya. Itu semua ditangkap kemudian dituangkan dalam bentuk karya sastra.

Sementara itu, Kabag Humas Kota Denpasar Erwin Suryadarma Sena mengatakan setiap Tumpek Krulut Pemkot Denpasar merayakan rerahinan Tumpek Krulut yang dipusatkan di Lapangan Puputan Badung. Perayaan ini sebagai bentuk revitalisasi spirit Tumpek Krulut. Kata Erwin, makna pemujaan Tumpek Krulut tidak lain adalah mendalami spirit tetabuhan yang melahirkan keteduhan dan kekuatan. Nada dan bunyi memiliki kekuatan supranatural yang luar biasa, bahkan diyakini merupakan kekuatan yang utama. Dalam konteks pemujaan keharmonisan alam bisa dicapai dengan membangkitkan kekuatan Siwa agar bergerak. Kreasi gerak Siwa karena alunan nada ini dikenal Siwanataraja. Secara filsafat pemujaan bunyi-bunyian saat Tumpek Krulut mengandung makna pengendalian Tri Guna (satwam, rajas, dan tamas) serta Tri Marga yakni dharma, artha dan kama.

Bila dipahami lebih jauh alunan nada-nada merupakan proses menuju harmonisasi alam. Guna mewujudkan harmonisasi alam ini perlu dilakukan perenungan dan memohon kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Siwa.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 20.07   0 comments
Siwa Siddhanta di Bali
Ajaran Agama Hindu yang dianut sebagai warisan nenek moyang di Bali adalah ajaran Siwa Siddhanta yang kadang - kadang juga disebut Sridanta.
Siddhanta artinya akhir dari sesuatu yang telah dicapai, yang maksudnya adalah sebuah kesimpulan dari ajaran yang sudah mapan. Ajaran ini merupakan hasil dari akulturasi dari banyak ajaran Agama Hindu. Didalamnya kita temukan ajaran Weda, Upanisad, Dharmasastra, Darsana (terutama Samkya Yoga), Purana dan Tantra. Ajaran dari sumber - sumber tersebut berpadu dalam ajaran Tattwa yang menjadi jiwa atau intisari Agama Hindu di Bali.

Dalam realisasinya, tata pelaksanaan kehidupan umat beragama di Bali juga menampakkan perpaduan dari unsur - unsur kepercayaan nenek moyang. Wariga, Rerainan (hari raya) dan Upakara sebagian besarnya merupakan warisan nenek moyang. Warisan ini telah demikian berpadu serasi dengan ajaran Agama Hindu sehingga merupakan sebuah satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dengan demikian, Agama Hindu di Bali mempunyai sifat yang khas sesuai dengan kebutuhan rohani orang Bali dari jaman dahulu hingga sekarang. Di masa sekarang ini, warisan Agama yang adhiluhung tersebut perlu kita jaga, rawat dan menyempurnakan pemahaman kita sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan jiwa keagamaan umatnya.

Sumber - Sumber Ajaran
Walaupun sumber - sumber ajaran Agama Hindu di Bali berasal dari kitab - kitab berbahasa Sansekerta, namun sumber - sumber tua yang kita warisi kebanyakan ditulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa sansekerta dan Bahasa Jawa Kuno. Kitab yang di tulis dalam bahasa Sansekerta umumnya adalah kitab Puja, namun bahasa Sansekerta yang digunakan adalah bahasa Sansekerta kepulauan khas Indonesia yang sedikit berbeda denga bahasa Sansekerta versi India. Sedangkan kitab - kitab yang ditulis dalam bahsa jawa kuno antara lain Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana, Wrhaspati tatwa dan Sarasamuscaya. Kitab Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana dan Wrhaspati Tattwa adalah kitab - kitab yang Tattwa yang mengajarkan Siwa Tattwa yang mana juga kitab - kitab ini menjadi unsur dari isi Puja. Sedangkan Sarasamuscaya adalah kitab yang mengajarkan susila, etika dan tingkah laku.
Disamping itu juga terdapat banyak lontar - lontar indik yang menjadi rujukan pelaksanaan kehidupan umat beragama dan bermasyarakat di Bali seperti lontar Wariga, lontar tentang pertanian, pertukangan, organisasi sosial dan yang lainnya. Disamping itu juga terdapat kitab - kitab Itihasa dan gubahan - gubahan yang berasal dari purana, seperti Parwa ( kisah Maha Bharata), Kanda (Ramayana) dan juga kekawin - kekawin yang menjadi alat pendidikan dan pedoman dalam bertingkah laku bagi masyarakat. Itihasa dan juga purana juga menjadi sumber dalam kehidupan berkesenian di Bali terutama kesenian yang masuk kategori Wali atau sakral, seperti wayang, topeng, calonarang dan yang lainnya, yang mana pementasan kesenian tersebut umumnya mengangakat tema cerita yang berasala dari Itihasa, purana atau kekawin. Tidak semua pelaksanaan kehidupan beragama di Bali yang dapat dirujuk kedalam sumber - sumber ajaran sastra agama, yang dikarenakan Agama Hindu di Bali begitu menyatu dengan Budaya, adat, seni dan segala aspek kehidupan orang Bali, sehingga banyak warisan budaya para leluhur orang Bali yang tetap diwariskan turun - temurun dan menjadi satu keatuan denga Agama Hindu di Bali.

Pokok - Pokok Ajaran
Ajaran Siwa Siddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama yaitu Tattwa, Susila dan Upacara keagamaan. Tatwa atau filosofi yang mendasarinya adalah ajaran Siwa Tattwa. Di dalan Siwa Tattwa, Sang Hyang Widhi adalah Ida Bhatara Siwa. Dalam lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Siwa adalah Esa yang bermanifestasi beraneka menjadi Bhatara - Bhatari.
Sa eko bhagavan sarvah
Siwa karana karanam
Aneko viditah sarwah
Catur vidhasya karanam

Ekatwanekatwa swalaksana bhatara ekatwa ngaranya
Kahidup makalaksana siwatattwa
Tunggal tan rwatiga kahidep nira
Mangekalaksana siwa karana juga tan paphrabeda
Aneka ngaranya kahidup Bhataramakalaksana caturdha.
Caturdha ngaranya laksananiram stuhla suksma sunya.
Artinya :
Sifat Bhatara eka dan aneka. Eka artinya ia dibayangkan bersifat Siwa Tattwa, ia hanya esa tidak dibayangkan dua atau tiga. ia bersifat Esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya Bhatara bersifat Caturdha. Caturdha adalah sifatnya, sthula, suksma dan sunia.

Sumber - sumber lain yang menyatakan Dia yang Eka dalam Beraneka juga kita temukan dalam banyak mantra - mantra, diantaranya adalah :
Om namah Sivaya sarvaya
Dewa-devaya vai namah
Rudraya Bhuvanesaya
Siwa rupaya vai namah
Artinya :
Sembah bhakti dan hormat kepada Siwa, kepada Sarwa
Sembah bhakti dan hormat kepada dewa dewanya
Kepada Rudra raja alam semesta
Sembah hormat kepada dia yang rupanya manis

Twam Sivas twam Mahadewa
Isvara Paramesvara
Brahma Visnuca Rudrasca
Purusah Prakhrtis tatha
Artinya :
Engkau adalah Siwa Mahadewa
Iswara, Parameswara
Brahma, Wisnu dan Rudra
Dan juga sebagai Purusa dan Prakerti

Tvam kalas tvam yamomrtyur
varunas tvam kverakah
Indrah Suryah Sasangkasca
Graha naksatra tarakah
Artinya :
Engkau adalah Kala, Yama dan Mrtyu
Engkau adalah Varuna, Kubera
Indra, Surya dan Bulan
Planet, naksatra dan bintang - bintang

Prthivi salilam tvam hi
Tvam Agnir vayur eva ca
Akasam tvam palam sunyam
Sakhalam niskalam tatha
Artinya :
Engkau adalah Bumu, Air
dan juga Api
Angkasa dan alam sunia tertinggi
Juga yang berwujud dan tak berwujud

Dengan contoh - contoh ini menunjukkan bahwa semua Bhatara - Bhatari itu adalah Bhatara Siwa sendiri. Bhatara - Bhatari itulah yang dipuja sebagai Ista Dewata. Banyaknya Ista Dewata yang dipuja akan berkaitan dengan banyaknya Pura dan Pelinggih, Pengastawa, Rerainan dan Banten. Ista Dewata adalah Bhatara Siwa yang aktif sebagai Sada Siwa, sedangkan Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa bersifat tidak aktif atau sering disebut Sunia.
Dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara yang paling mendominasi pemujaan yang ada di Bali. Konsep penciptaan, pemeliharaan dan pemrelina menunjukkan Bhatara Siwa sebagai apa yang sering disebut Sang Hyang Sangkan paraning Numadi, yaitu asal dan kembalinya semua yang ada dan tidak ada di jagat raya ini.
salah satu yang menarik dari keberadaan Bhatara Siwa, ialah Beliau berada dimana - mana, di seluruh penjuru mata angin dan di pengider - ider. Di timur Ia adalah Iswara, di tenggara Ia adalah Mahesora, di selatan Ia adalah Brahma, di barat daya Ia adalah Rudra, di barat Ia adalah Mahadewa, di barat laut Ia adalah Sangkara, di utara Ia adalah Wisnu, di timur laut Ia adalah Sambhu dan ditengah Ia adalah Siwa. Sebagai Sang Hyang kala, di timur Ia adalah kala Petak (putih), di selatan Ia adalah Kala Bang (merah), di barat ia adalah Kala Gading (Kuning), di utara Ia adalah Kala Ireng (hitam) dan ditengah Ia adalah kala mancawarna.
Selain ajaran ke-Tuhanan, ajaran Siwa Siddhanta juga memuat beberapa ajaran diantaranya ajaran tentang Atma yang sesungguhnya berasal dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-Nya juga, ajaran Karma Phala yang berkaitan dengan Punarbawa atau siklus reinkarnasi, ajaran pelepasan yang berkaitan tentang Yoda dan Samadhi. Terdapat pula ajaran tata susila yang erat hubungannya dengan ajaran Karma Phala. Tumpuan dari ajaran tata susila itu adalah Tria Kaya Parisuddha yaitu Kayika Parisuddha (berbuat yang benar), Wacika Parisuddha (berbicara yang benar) dan Manacika Parisuddha (berfikir yang benar).

Siwa Siddhanta Dalam Pelaksanaan Kehidupan Beragama di Bali
Ada relasi antara manusia dengan Tuhan. Relasi ini diwujudkan dalam bentuk bakti sebagai wujud Prawrtti Marga. Tuhan dipuja sebagai saksi agung akan semua perbuatan manusia di dunia. Tuhan yang memberikan berkah dan hukuman kepada semua mahluk. Di Bali, bhakti kepada Tuhan direalisasikan dalam berbagai bentuk. Untuk orang kebanyakan, bhakti diwujudkan dengan sembahyang yang diiringi dengan upakara. Upakara artinya pelayanan dengan ramah diwujudkan dengan banten. Upakara termasuk Yajna atau persembahan suci. Baik sembahyang maupun persembahan Yajna memerlukan tempat pemujaan. Pemangku, Balian Sonteng dan Sulinggih mengantarkan persembahan umat kepada Tuhan dengan saa, mantra dan puja. Padewasan dan rerainan memengang peranan penting, yang mana pada semua ini ajaran sradha kepada Tuhan akan selalu tampak terwujud.
Demikian juga misalnya saat Bhatara Siwa sebagai Dewata Nawa Sanga diwujudkan dalam banten caru, belia disimbulkan pada banten Bagia Pula Kerti, beliau dipuja pada puja Asta Mahabhaya, Nawa Ratna dan pada kidung belia dipuja pada kidung Aji Kembang. Bhatara Siwa sebagai Panca Dewata dipuja dalam berbagai Puja, Mantra dan saa, ditulis dalam aksara pada rerajahan dan juga disimbulkan pada alat upacara serta aspek kehidupan beragama lainnya.
Tempat - tempat pemujaan menunjukkan tempat memuja Bhatara Siwa dalam manifestasi beliau. Belia dipuja sebagai Siwa Raditya di Padmasana, dipuja sebagai Tri Murti di sanggah, paibon, Kahyanga Desa dan kahyangan jagat. Pemujaan Tuhan pada berbagai tempat sebagai Ista Dewata sesuai dengan ajaran Tuhan berada dimana - mana. Demikinalah orang Bali menyembah Tuhan disemua tempat, di Pura Dalem, Pura Desa, Pura Puseh, Bale Agung, Pempatan Agung, Peteula, Setra, Segara, Gunung, Sawah, Dapur dan sebagainya. Disamping itu diberbagai tempat Tuhan dipuja sebagai Dewa yang "Ngiyangin" atau yang memberkati daerah pada berbagai aspek kehidupan, seperti Dewa Pasar, Peternakan, Kekayaan, Kesehatan, Kesenian, Ilmu Pengetahuan dan sebagainya.
Dengan demikian hampir tidak ada aspek kehidupan orang Bali yang lepas dari Agama Hindu. Dalam pemujaan ini Tuhan dipuja sebagai Ista Dewata, Dewa yang dimohon kehadirannya pada pemujaannya, sehingga yang dipuja bukanlah Tuhan yang absolut sebagai Brahman dalam Upanisad atau Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa, namun Tuhan yang bersifat pribadi yang menjadi junjungan yang disembah oleh penyembahnya. Ista Dewata ini dipandang sebagai tamu yang dimohon kehadirannya oleh hambanya pada waktu dipuja untuk menyaksikan sembah bakti umatnya. Oleh karena itu Tuhan dipuja sebagai "Hyang" dari aspek - aspek kehidupan yang rasa kehadiran-Nya sangat dihayati oleh hambanya sama seperti penghayatan umat terhadapa aspek kehidupan tersebut. Pemujaan dilakuakn dalam suasana, tempat cara dan bahan yang paling tepat dan paling dihayati oleh para pemuja-Nya. Terdapat persembahan Banten, pakaian, hiasan yang semuanya dipersembahkan dengan begitu serasi dengan penghayatan, perasaan dan cita rasa dari penyembah-Nya sehingga penghayatan menyusup kedalam lubuk hati yang terdalam. Apapun yang dipersembahkan, maka itu adalah sesuatu yang terbaik menurut para penyembah-Nya. Akibat dari semua itu adalah adanya variasai dan pelaksanaan hidup beragama di Bali.
Namun inti dari prinsip ajaran agama Hindu adalah sama, yaitu Tuhan yang ada dimana - mana sama dengan Tuhan Yang Maha Esa yang menampakkan diri dalam berbagai wujud dan pandangan penyembah-Nya, yang abstrak dihayati melalui bentuk.

sumber : Kalender Pasraman Yogadhiparamaguhya 2009, susunan IBG Budayoga, S Ag, Msi

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 07.16   0 comments
Pasrama Yogadhiparamaguhya Bali
Pendidikan Agama Hindu di sekolah - sekolah (pendidikan formal) hanya dapat memahami ajaran Agama dari ranah Kognitif (intelaktual), sedangkan di dalam pendidikan non formal akan bisa memahami ajaran Agama Hindu dari ranah afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Hindu di bidang kerohanian maka perlu peranan pendidikan baik formal maupun informal prlu ditigkatkan.
Pasrama Yogadhiparamaguhya Bali (YPB), merupakan pasraman keagamaan khusunya Agama Hindu yang bergerak di bidang pendidikan luar sekolah dalam rangka pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap mental, dan keterampilan guna tercapai keharmonisan dan peningkatan kehidupan spiritual dalam masyarakat menuju Ajeg Agama Hindu di Bali.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Ida Pedanda Gede Made Gunung mendirikan mendirikan Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali pada tanggal 1 Januari 2004 dengan akte notaris Yayasan No.55 tertanggal 25 Agustus 2005. Pendirian Pasraman juga didasari atas keperihatinan Beliau terhadap masa depan budaya, seni, adat istiadat dan Agama Hindu Bali.

Visi Pasraman
Terwujudnya Sumber Daya Manusia Hindu yang memiliki ketahanan moral yang kuat, mampu melestarikan dan mengembangkan warisan leluhur baik adat istiadat, budaya, tatakrama, seni berdasarkan Tri Kaya Parisudha dan dengan berwawasan Tri Hita Karana.

Misi Pasraman
  1. Menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan ketrampilan serta keahlian yang bermanfaat bagi kehidupan sehari - hari di bawah payung Dharma san sesanti Bhineka Tunggal Ika
  2. Menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan menuju kehidupan wanaprasta dan biksuka (sanyasin)
  3. Menunjang pendidikan formal dan informal, sehingga sinergi dari adanya dari adanya pendidikan formal, informal dan nonformal diharapkan dapat menyeimbangkan kecerdasan Intelektual (IQ), kecerdasan Emosional (EQ) dan kecerdsan Spiritual (SQ)
  4. Menyediakan sarana dan prasarana serta lingkungan yang kondusif untuk menghasilkan sisya yang memiliki jati diri (identitas) keHinduan dan berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsa
  5. Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak sehingga program pendidikan dan pelatihan yang diselanggarakan lebih berdaya guna dan dapat diimplementasikan dan kehidupan.
  6. Membudayakan peri kehidupan yang selalu hormat dan berbakti kepada catur guru dan melaksanakan Tri Hita karana dalam kehidupan nyata
  7. Menumbuhkembangkan seni tradisional, adat dan budaya luhur masyarakat Bali.
Tujuan Pasraman
  1. Mendalami ajaran agama Hindu, memahami Budaya, adat, susila dan tata krama Bali.
  2. meningkatkan sumber daya manusia Hindu Bali
  3. Melestarikan dan mengembangkan warisan leluhur
  4. Menjadikan manusia yang bermoral dan berguna bagi bangsa dan negara

Tutor atau Pengajar
Tutor utama adalah Ida Pedanda Gede Made Gunung beserta Ida Pedanda yang lain, para dosen dan staff pengajar yang mengabdikan diri terhadap agama dan leluhur menuju ajeg Bali dan ajeg Hindu Bali

Pelajaran Yang Diberikan

1. Agama Hindu
2. Tata Susila / Tatakrama
3. Bahasa dan Aksara Bali
4. Sejarah dan Kebudayaan Bali
5. Seni tari dan seni tabuh
6. Gegitan
7. Upakara dan Upacara Yadnya
8. Bahasa Inggis
9. Meditas
10. Kepemangkuan (Khusus bagi sisya Pemangku)
11. Tatwa


Sarana dan Prasarana

1. Sarana dan prasarana yang dimiliki Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali antara lain :
2. Pasraman dengan luas 58 are
3. Pura / Padmasana
4. Gedong / Rumah Adat Bali
5. Wantilan tempat belajar
6. Wantilan tempalan melaksanakan latihan / belajar meditasi
7. Ruang khusus berlatih yoga
8. Rumah pemondokan bagi calon Diksita / Sulinggih
9. Dapur dan kamar mandi /WC
10. Peralatan sound system
11. Beberapa jenis tanaman bunga upakara, tanaman langka upakara, dll
12. Perpustakaan.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 07.09   0 comments
Gemuruh Debu Lenyapkan Kesucian
Kesetiaan matahari menyinari bumi tidak pernah surut-surut, mudah-mudahan matahari tidak bosan menyaksikan tingkah laku manusia layaknya penuh kegelapan, walaupun saban hari diberikan sinar agar mereka dapat melihat dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah. Namun manusia tak kuasa menahan derasnya seretan arus dan gelombang neraka. Kapankah mereka akan sadar akan hal itu? Awan gelap menyelimuti pikiran, menutup mata bathin, hatipun tak dapat menyuarakan kesucian. Ibu Pertiwi sangat sabar menopang dan menyangga mahluk aneh yang bertubuh manusia berperilaku binatang. Mereka bergerak, makan, minum, buang air diatas bumi dan tak pernah mau membayangkan kesabaran Ibu Pertiwi. Naga Basuki, Naga Taksaka dan Bedawang Anala kelihatanya amat marah, karena sangat tidak sudi punggungnya diinjak-injak oleh manusia cemer (kotor). Suatu saat beliau akan marah dan menyemburkan bisanya. Benawang Anala saat marah dapat menggemparkan bumi melalui gempa dan letusan gunung berapi. Naga Basuki saat murka meyemburkan air sehingga terjadi banjir, tanah longsor, erosi dan abrasi. Naga Taksaka saat jengkel akan menghembuskan udara tercemar, membuat sulit untuk bernafas, memunculkan gelombang tsunami. Andaikata semua itu terjadi, apa yang bisa kita lakukan. Sekarang gejala-gejala mengarah kesana tampaknya semakin jelas. Sepertinya gemuruh debu akan melenyapkan kesucian.
Semoga masih ada secercah sinar yang bisa digunakan sebagai pedoman menggapai jendela kebahagiaan, guna meloloskan diri dari cengkeraman kuku jaman kali. Diperasaan Pedanda tergambar bahwa para Dewata telah meninggalkan alam ini untuk kembali ke sorga. Karena para Dewa sangat tidak senang tempat berstana beliau dirongrong dan mau dikuasai oleh para Bhutakala. Saat seperti sekarang ini hampir semua Bhutakala mendapatkan tempat, menggantikan stana para Dewa. Tempat yang paling utama yang diperebutkan oleh para Dewa dan Bhutakala adalah hati manusia. Apabila hati manusia dikuasai oleh Bhutakala, maka perilaku manusia itu sendiri akan cenderung mengkuti sifat-sifat Bhutakala. Jadi alam akan dipenuhi oleh para Bhutakala dan jadilah dia alam neraka. Sekarang telah banyak bermunculan perilaku yang aneh-aneh, yang sesungguhnya tidak patut dilakukan karena bertentangan dengan ajaran agama dan bisa merugikan pihak lain, namun justru perilaku seperti itu yang menjadi kegemaran dijaman sekarang ini.
Dijaman lampau sangat jarang orang senang mabuk-mabukan, karena mabuk itu sangat merugikan diri sendiri dan masyarakat, disamping bertentangan dengan ajaran agama. Sekarang mabuk itu menjadi pilihan utama, sebab kalau tidak ikut mabuk dianggap ketinggalan jaman. Anggapan seperti itu benar adanya, karena mereka yang tidak ikut mabuk memang ketinggalan jaman edan, bukan ketinggalan jaman Dharma. Jika mereka takut ketinggalan jaman edan, itu berarti mereka lebih senang masuk jaman edan yang merupakan jamannya Bhutakala, dan secara pelan-pelan dunia ini akan menjadi neraka. Kalau itu memang kehendak manusia, jaman kali itu akan lebih cepat datangnya. Sebab perubahan jaman itu mutlak disebabkan oleh faktor manusia. Cepat atau lambat datangnya yuga itu tergantung dari pekembangan prilaku manusia.
Selain mabuk yang menjadi kegemaran para Bhutakala dan juga disenangi manusia, ada lagi kegemaran yang lebih berbahaya bagi dirinya sendiri dan masa depan bangsa, yaitu mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Semua itu kegemaran yang memperlancar jalan menuju neraka, dan mempercepat proses penghacuran alam beserta isinya. Sebab sifat dasar Bhutakala adalah menghancurkan ciptaan Sang Hyang Widhi. Apakah kita mau semua keindahan dan kebahagiaan akan lenyap begitu saja?. Diambil dari buku "Suara Hati Seorang Pedanda" Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 07.01   0 comments
Rerainan Hindu pada bulan November 2009
Senin, 23 November 2009
Rerainan Hindu pada bulan November 2009

Purnama Sasih kalima senin 2 November 2009
Rerainan purnama jatuh setiap 30 hari sekali. Pada hari ini seluruh pura - pura di Bali biasanya ramai oleh umat yang melakukan persembahyangan. Pada rerainan Purnama beryogalah Sang Hyang Candra (bulan) yang merupakan hari penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra. Rerainan Purnama merupakan sebuah momentum guna mengintrospeksi diri, bersujut dihadapan Tuhan dan kembali kepada keseimbangan (Rwa Bhineda) sekala dan niskala. Disamping itu pada rerainan Purnama vibrasi suci akan terpancar dari sinar rembulan sehingga sangat baik untuk melaksanakan yoga samadhi. Pada hari ini umat melakukan persembahyangan dimulai dari merajan / kemulan masing - masing, merajan dadia, Pura Kahyangan Tiga dan jika memungkinkan sangat baik untuk melakukan Tirta Yatra.

Anggara kasih Medangsia Selasa 3 November 2009
Anggara Kliwon adalah rerainan yang datang setiap pertemuan Saptawara Anggara dengan Pancarawa Kliwon. Pada rerainan ini Sang Hyang Ayu dan Sang Hyang Rudra beryoga melimpahkan anugrah beliau. Pada hari ini umat menghaturkan canang dan melakukan persembahyangan memohon wara nugraha beliau agar menglebur segala keletehan / kekotoran dunia.

kajeng Kliwon uwudan Minggu 8 November 2009
Rerainan kajeng kliwon datangnya setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon Uwudan adalah Kajeng Kliwon yang jatuh pada Pangelong atau periode hingga 15 hari setelah Purnama. Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Rerainan kajeng kliwon dipercaya sebagai hari yang keramat. Pada hari kajeng kliwon umat menghaturkan segehan yang dihaturkan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah segehan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Dhurga Bucari.

Tilem Sasih Kalima Selasa 17 November 2009
Rerainan tilem merupakan pemujaan Sang Hyang Surya, tilem juga merupakan rerainan penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra, yang mempunyai makna sama dengan rerainan Purnama. Pada waktu Candra Graha (gerhana bulan) maka dilakukanlah pemujaan Candra Sthawa / Soma Sthawa, dan pada waktu Surya Graha (gerhana matahari) dilakukan pemujaan Surya Cakra Bhuwana Sthawa.

Buda Kliwon Pahang atau Buda Kliwon Pegat Uwakan Rabu 18 November 2009
Rerainan Buda Kliwon datang setiap pertemuan Pancawara Kliwon dengan Saptawara Buda dan nama belakangnya disesuaikan dengan nama wuku dimana pertemuan itu terjadi, misalnya jika terjadi pada wuku Sinta maka disebut buda klion sinta, jika pada wuku gumbreg disebut buda klion gumbreg dan selanjutnya. Pada rerainan Buda Klion umat hindu melakukan persembahyangan dan mengahturkan canang lengawangi buratwangi, yang dipersembahkan di merajan / kemulan Rong tiga dan juga di plangkliran, ditujukan kepada Sang Hyang Sri Nini. Pada malam harinya umat Hindu mengheningkan seluruh pikiran, dengan tujuan memohon kerahayuan dan kadirgayusan. Buda kliwon pahang juga disebut dengan Buda Kliwon Pegat Uwakan yang menandai berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan yang ditandai dengan mencabut penjor di muka rumah.

Kajeng Kliwon Enyitan Senin 23 November 2009
Rerainan kajeng kliwon datangnya setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon Nyitan adalah Kajeng Kliwon yang jatuh pada Pananggal atau periode hingga 15 hari setelah Tilem. Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Rerainan kajeng kliwon dipercaya sebagai hari yang keramat. Pada hari kajeng kliwon umat menghaturkan segehan yang dihaturkan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah segehan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Dhurga Bucari.

Tumpek Krulut Sabtu 28 November 2009
Tumpek Klurut diperingati sebagai bentuk ucapan puji syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berupa bunyi - bunyian (gambelan). pada hari ini umat menghaturkan sembah bhakti dan pemujaan dalam manifestasi beliau sebagai Sang Hyang Iswara dan memhon berkah semoga seni gambelan dapat selalu bertuah dan bermakna sehingga bisa menjadi sarana penuntun umat guna mencapai keseimbangan dan ketentraman.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 05.50   0 comments
Uang dan Keadilan
Adhaarmika naroyo hi yasya caapya nrtam dhanam Himsaaratasca yo nityam nehaa
sau sukhamedate
(Manawa Dharmasastra IV.170)

Artinya: Hidup penuh dosa apabila mengumpulkan kekayaan dengan cara yang tidak sah. Orang hidupnya selalu gembira bila dapat dapat menyakiti orang lain. Orang yang demikian itu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya di dunia ini maupun di dunia lain.
---

PADA zaman Kali ini banyak oknum pejabat tidak menggunakan jabatannya untuk melayani rakyat. Padahal, rakyat memberikan mereka hidup dengan berbagai fasilitas hidup yang umumnya melebihi kebutuhan hidupnya yang wajar. Meskipun sudah demikian berlebihan, jabatan yang diberikan itu disalahgunakan juga untuk memperkaya diri.

Pejabat penegak hukum pun banyak juga yang menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri. Orang yang berperkara itu kan sudah susah, dibuat susah lagi oleh oknum-oknum yang menyalahgunakan jabatannya mencari kekayaan. Dari cara-cara seperti itulah rakyat jadi menderita. Mereka takut berperkara untuk mencari kebenaran dan keadilan kalau tak punya uang. Mereka pun menjadi frustrasi kalau berurusan dengan birokrasi pemerintahan, apalagi mereka tidak memegang segepok uang.

Uang yang tidak syah inilah yang banyak beredar sebagai penyebab derita masyarakat. Proses uang yang tidak syah itu menimbulkan berbagai pihak menderita kecemasan. Cemas itu sumber derita bagi mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses munculnya uang yang tidak sah itu.

Dalam kitab Brahma Purana dijelaskan bahwa sarira (badan) yang diberikan oleh Tuhan ini adalah sarana untuk mendapatkan empat tujuan hidup. Empat tujuan hidup itu adalah dharma, artha, kama dan moksha. Dalam kitab itu disebut, artha menjadi salah satu tujuan hidup di dunia ini. Istilah artha (bahasa Sansekerta) berarti "tujuan". Makanya ada istilah parama artha yang artinya tujuan mulia.

Dalam perkembangan berikutnya, kata artha juga berarti segala sesuatu yang memperlancar tercapainya tujuan. Karena itu, uang dan harta benda lainnya juga disebut artha karena uang dan harta benda itu adalah sebagai sarana untuk memperlancar tercapainya tujuan. Mencari uang itu bukanlah sebagai tujuan tertinggi namun sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup.

Mencari uang itu hendaknya sebagai bermain bola. Pemain bola yang baik adalah pemain yang rajin dan gigih mengejar bola. Setelah didapatkan, bola itu diarahkan kepada gawang lawan atau diarahkan kepada kawan agar bola itu diarahkan ke gawang lawan. Mencari bola dan menendang bola dalam permainan sepak bola ada aturan-aturan yang wajib ditaati oleh para pemain.

Demikianlah sesungguhnya dalam hidup, mencari uang itu dapat diumpamakan sebagai bermain bola. Gigihlah berusaha mencari uang asalkan sesuai dengan dharma. Namun begitu, jika dapat uang, gunakanlah uang itu untuk memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan dharma dan juga harus ada yang di-danapunia-kan. Semakin lancar peredaran uang itu, makin baiklah fungsi uang itu memberikan kesejahteraan secara adil. Ibarat bola tadi, makin ramai beredar bola itu di lapangan permainan, makin baiklah permainan bola itu. Asal, peredaran bola itu sesuai dengan aturan main bola.

Demikian juga kalau ada orang mengumpulkan uang itu dengan cara yang tidak sah, ibarat seorang pemain memegang sendiri bola itu terus-terusan. Jadinya, permainan bola menjadi terhenti. Demikianlah kalau ada pihak yang mengumpulkan uang dengan cara yang tidak sah. Tidak mendistribusikan uang itu secara adil dapat menimbulkan kemelaratan orang lain. Ini sama dengan membuat macetnya fungsi uang untuk membangun kesejahteraan yang adil.

Dalam ekonomi industri dewasa ini banyak terjadi kemiskinan struktural. Dalam suatu usaha bersama banyak terjadi ketidak-adilan dalam mendistribusikan hasil usaha tersebut. Banyak orang kaya karena hasil memeras tenaga orang lain, bahkan memeras hak-hak rakyat seperti rusaknya lingkungan alam dan lingkungan sosial budaya. Sistem hukum untuk menegakkan kebenaran dan keadilan pun menjadi kacau, banyak uang yang tidak sah beredar di sementara para penegak hukum. Setelah rusak mereka pun pergi mencari tempat baru untuk mengeruk keuntungan yang sama.

Orang yang menumpuk kekayaan seperti itu tidak akan pernah mendapatkan hati yang bahagia dalam hidupnya di dunia ini dan di dunia lain. Yang lebih parah lagi, rakyat banyak juga menjadi menderita tidak dapat kebenaran dan keadilan karena ulah sementara oknum pejabat yang cari uang tidak sah seperti itu.

Demikian juga ada orang yang demikian bahagia kalau dapat menyakiti hati orang lain. Menurut ahli ilmu jiwa Prof Dr Zakiah Darazat, ada orang yang demikian gembira melihat orang lain menderita dan sedih melihat orang lain bahagia. Orang yang demikian itu menderita penyakit gangguan mental. Penyakit gangguan mental seperti itu banyak diderita oleh masyarakat modern. Hal ini disebabkan kehidupan yang dirubung oleh materialisme dan hedonisme. Hal ini akan menyebabkan orang kehilangan integritas diri. Hidup pun makin individualistis.

Nafsu distinski makin kuat menguasai pikirannya untuk mendapatkan perhatian dari lingkungannya. Nafsu distinksi adalah suatu dorongan agar mendapatkan pengakuan lebih dari yang lain. Pengakuan yang seperti itu sangat sulit didapatkan dalam kehidupan sosial yang individualitis seperti ini. Dari sinilah muncul perilaku menyakiti hati orang lain karena kalajengking iri dan kedengkian menguasai diri orang yang tidak kuat daya tahan rohaninya.

Namun, kalau rasa cinta kasih dengan sesama mengalir dalam diri (prema wahini), orang akan sangat bahagia melihat orang lain hidup bahagia dan sukses. Ia pun tidak perlu menyesali diri kalau belum hidup sukses. Hal itu merupakan kemahakuasaan Tuhan mengatur umatnya sesuai dengan Karma dari masing-masing umatnya.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 03.00   0 comments
Pengalaman adalah Sumber Pengetahuan
Dari pengalaman manusia mendapatkan pengetahuan, dari pengetahuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan.Justify Full

Manusia adalah makhluk yang suka bertanya, karena didorong oleh rasa ingin tahunya. Apa saja yang dilihat, didengar, dialami, manusia ingin mendapat keterangan tentang itu. Setelah mendapat keterangan, ia merasa puas. Hal ini trjadi karena manusia mempunyai kemampuan untuk mengerti. Setiap orang mengerti akan apa yang diketahuinya, dan mengerti pula bahwa ia tidak tahu yang tidak diketahuinya. Segala apa yang diketahui orang disebut pengetahuan.

Pengetahuan dapat dimiliki orang dengan beberapa cara. Ada pengetahuan yang didapat dengan mendengarkan cerita-cerita orang lain, yang mungkin orang itupun mendapatkannya dari orang lain pula. Pengetahuan yang kebanyakan tidak dapat dipercaya kebenarannya karena seringkali tanpa bukti-bukti yang nyata. Banyak pula pengetahuan itu didapat orang karena pengalaman. Pengetahuan didapatkan dari pengalaman-pengalaman sendiri atau orang lain. Pengetahuan yang didapat dari pengalaman sendiri memang berdasarkan kepada kenyataan yang pasti, namun kebenarannya bergantung kepada benar atau kelirunya penglihatan kita. Orang yang mengetahui sesuatu atas dasar pengalaman menjadikan pengalamannya itu sebagai pedoman. Orang yang biasa memikirkan sesuatu yang dilihatnya, tidak puas dengan kenyataan itu saja. Ia ingin mendapatkan keterangan tentang bagaimana dan mengapa bisa demikian. Orang terpelajar yang berpikir teratur akan menerangkan bagaimana dan mengapa bisa demikian.

Dari orang-orang terpelajar, seseorang mendapatkan pengetahuan berdasarkan keterangan yang logis, berdasarkan hubungan sebab akibat. Orang akan mengusahakan agar pengetahuannya itu sesuai dengan hal yang diketahuinya. Dengan demikian pengetahuan itu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran. Untuk mencapai tujuan itu orang memakai metode dan sistem tertentu. Pengetahuan yang menuntut kebenaran dengan dasar yang bermetode dan bersistem disebut ilmu. Di dalam ilmu terdapat susunan pengertian yang teratur. Sebenarnya susunan pengertian yang teratur itu sudah dimiliki orang sejak jaman dahulu. Buktinya, nenek moyang kita telah menggolong-golongkan benda-benda dan masalah-masalah yang dijumpai dalam hidupnya. Benda-benda dan masalah-masalah itu diberi nama untuk membedakan satu dengan yang lain. Dengan demikian orang mempunyai susunan pengertian yang teratur akan sesuatu dengan menggolong-golongkan atau mengelompokannya. Misalnya, orang mempunyai pengertian tentang benda mati dan makhluk hidup, mengelompokkan makhluk hidup menjadi manusia, binatang dan tumbuhan. Mempunyai pengertian tumbuh-tumbuhan mana yang termasuk bangsa rumput, palma dan lain-lain, binatang yang mana termasuk binatang yang hidup di darat dan yang hidup di air.

Ilmu memandang secara terpilah-pilah terhadap benda-benda dan masalah-masalah yang menjadi obyeknya. Dengan cara itu orang akan lebih mudah mendapatkan pengertian yang teratur tentang sesuatu dari suatu segi pandangan tertentu. Misalnya manusia itu dapat ditinjau dari banyak segi segi ilmu, walaupun obyeknya itu-itu juga. Bila ditinjau dari kerja alat-alat tubuhnya, maka bidang itu adalah bidang biologi. Bila orang mempelajari manusia dari caranya hidup dan bergaul dalam hubungannya dengan kelompok lain, itu adalah bidang sosiologi. Sikap hatinya, perubahan-perubahan jiwanya menjadi studi phsikologi. Dari contoh di atas, ternyata ada dua atau tiga ilmu yang berobyek satu. Adanya dua atau tiga ilmu itu karena adanya dua atau tiga sudut pandang yang berbeda. Lain sudut pandangnya lain pula jenis ilmunya. Jadi, yang menentukan macam ilmu itu bukan bahan atau bidang penyelidikannya, tetapi sudut pandangnya. Lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu disebut obyek material, sedangkan sudut tertentu yang menentukan macam ilmu itu disebut obyek forma. Makin lama makin bertambah pula jenis ilmu itu. Masing-masing ilmu disusun dengan teratur dan hanya berkisar di dalam ruang lingkupnya saja. Masalah-masalah yang bukan menjadi ruang lingkupnya diserahkan kepada ilmu yang lain. Misalnya tentang peraturan-peraturan yang mengatur orang dalam hubungannya dengan orang lain tidak akan dibicarakan dalam biologi, karena hal itu bukan menjadi ruang lingkupnya. Demikianlah ilmu juga memakai disiplin, sehingga dikenal dengan adanya disiplin ilmu. Jaman dahulu jenis ilmu yang dikenal orang hanya sedikit, tetapi jaman sekarang jumlahnya sangat banyak dan terus bertambah. Beberapa jenis ilmu itu seperti: Ilmu Bahasa, Ilmu Hayat, Ilmu Matematika, Ilmu Fisika, Ilmu Kimia, Ilmu Sejarah, Ilmu Bumi, Ilmu Hukum, Ilmu Politik, Sosiologi, anthropologi, Ilmu Ekonomi, dan lain-lain. Masing-masing ilmu memiliki bagian-bagian ilmunya lagi. Semoga masing-masing disiplin ilmu yang dimiliki dapat diabdikan untuk kedamaian, sebagai wujud bhakti kepada Tuhan. Apalah artinya ilmu yang tinggi jika itu tidak menuntunnya pada pemujaan kepada Tuhan sebagai sumber dari segala sumber ilmu itu sendiri. sumber SRADDHA

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 02.47   0 comments
Kata - Kata Bhagawadgita
Selasa, 17 November 2009
Seseorang yang tidak membenci atau bernafsu (menginginkan segala sesuatu) adalah seorang sanyasi yang konstan. Karena seorang yang telah lepas dari dvandas (dua rasa yang saling berlawanan), akan cepat lepas dari keterikatan duniawi, oh Arjuna!

Penjelasannya :
Kedua rasa atau sifat ini adalah musuh-musuh besar seorang manusia. Seorang karma-yogi tidak akan mengacuhkan kedua-duanya lagi dan memasrahkan semua yang dialaminya kepada KehendakNya semata, dan sekiranya ini dilakukan penuh kesadaran dan dengan jiwa yang tulus maka ia pun terlepaslah dari keterikatan karma-karmanya. Seorang sanyasi yang konstan, adalah seorang yang tidak pernah menginginkan sesuatu ataupun tidak bernafsu akan sesuatu, dan sifatnya ini konstan, jadi terus-menerus ia akan berpikir dan bertindak demikian karena sudah menjadi itikadnya yang tegas dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini timbul dari kesadarannya yang tinggi. Hidupnya adalah suatu hal yang netral, semua suka dan duka, untung dan rugi sama saja harkat atau artinya, dan baginya semua ini selalu datang dan pergi tidak pernah abadi, jadi ia selalu tidak acuh lagi kepada dua sifat yang berlawanan ini. Dengan begitu lepaslah ia dari semua ilusi duniawi ini karena memang ia secara sadar tidak mau terikat olehnya, walaupun sebenarnya ia tinggal dan bekerja di dunia ini yang penuh dengan segala aktivitas yang tak kunjung habis-habisnya.

2. Hanya anak-anak, dan bukan orang-orang bijaksana, yang mengatakan bahwa ajaran Sankhya dan ajaran yoga sebagai dua hal yang berbeda. Seseorang yang telah mapan dalam salah satu ajaran ini mendapatkan imbalan dari kedua-duanya.

3.. Tingkat tertinggi yang dicapai oleh para penganut Sankhya juga dicapai oleh penganut ajaran Yoga. Barangsiapa melihat (menyadari) bahwa ajaran Sankhya dan Yoga adalah satu benar-benar melihat dengan mata yang terang.

Penjelasannya:
Ilmu pengetahuan yang sejati dan aksi atau tindakan tanpa pamrih sebenarnya bagi Sang Kreshna adalah dua hal yang sama saja arti dan maknanya, dan lebih dari itu satu saja tujuannya, yaitu Yang Maha Esa. Ambillah salah satu jalan yang berkenan di hati dan sesuai dengan keinginan pribadi kita yang tulus, dan berjalanlah di jalan tersebut dengan tulus dan pada suatu saat nanti kita akan mendapati bahwa ujung jalan ternyata berakhir pada titik yang sama. Kedua penganut masing-masing jalan yang nampak berbeda ini pada hakikatnya sama-sama bebas dari nafsu-nafsu duniawi ini dengan segala ikatan-ikatan dan ilusi-ilusinya.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01.11   0 comments
Kemurahan Hati
Jumat, 13 November 2009
Murah hati, suka menolong, dermawan, diwahyukan Tuhan untuk dipedomani oleh umat manusia. Berbagai benda atau pengetahuan dapat didermakan, mulai dari yang paling murah, misalnya memberikan minum air putih bagi yang kehausan, memberikan makanan kepada yang kelaparan, memberikan beasiswa kepada siswa atau mahasiswa berprestasi tapi tidak mempunyai dana, itu adalah langkah nyata untuk melakukan sadhana, mempraktekkan kedermawanan.

Kemurahan hati adalah wujud dari dharma, yakni berupa pemberian atau dana punia. Swami Vivekananda menyatakan ada 3 hal yang patut didermakan, yaitu:
  1. DHARMADANA berupa memberikan pendidikan budi pekerti yang luhur untuk merealisasikan ajaran agama.
  2. VIDYADANA berupa memberikan pengetahuan.
  3. ARTHADANA berupa memberikan materi yang dibutuhkan
Dari ketiga macam derma atau dana punia tersebut DHARMADANA menempati kedudukan yang tertinggi kemudian VIDYADANA dan terakhir ARTHADANA yang semuanya dilakukan dgn tulus ikhlas.

SATAHASTA SAMA HARA, SAHASRAHASTA SAM KIRA (Atharvaveda III.24.5) ... Wahai umat manusia, perolehlah kekayaan dengan seratus tanganmu dan dermakanlah dalam kemurahan hati dengan seribu tanganmu.

INDRA KSUDHYADBHYO VAYA ASUTIM DAH (Rgveda I.104.7) ... Wahai para pemimpin dengan murah hati sediakanlah makanan dan air untuk orang-orang kelaparan.

Agung Adnyani:
Bagaiman halnya jk bantuan yg kita berikan kpd org yg membutuhkan justru akan menciptakan ketergantungan yang terus-menerus, bukannya kemandirian. Dan mohon dijelaskan, apa tujuan yang sebenarnya dibalik sadhana memperaktekkan kedermawanan itu ? Terimakasih sebelumnya.
Mangku Suro:
ARTHADANA (bantuan materi) sebaiknya disertai dengan VIDYADANA sehingga si penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperoleh artha sendiri, dan DHARMADANA sehingga si penerima menyadari bahwa memberi jauh lebih mulia daripada menerima dan tumbuh tekad untuk tidak selamanya bergantung dalam hal artha pada orang lain, bila perlu karena bantuan seseorang dia bisa bangkit. Baca Selengkapnya dari kemiskinan artha menjadi orang sukses, kemudian berbalik dengan seribu tangannya melaksanakan dana punia. Mempraktekkan kedermawanan untuk menguji diri sendiri dan berlatih untuk melepaskan diri kita dari belenggu duniawi kira-kira kita begitu maksud Tuhan mewahyukan kedermawanan ini.

Agung Adnyani:
Apakah memang kita hidup didunia ini hanya melaksanakan takdir kita (karma) ? Apakah bisa kita keluar dari lingkaran karma ? Dan apa yang sebaiknya kita lakukan agar kita bisa mengingat kembali akan jati diri kita ?
Mangku Suro:
Terimalah karma kita apa adanya sehingga tdk tumbuh tunas karma yang baru, itu akan membebaskan kita dari lingkaran karma. Agar kita bisa menemukan jati diri kita sebaiknya (bahkan harus) meninggalkan ikatan dari semua yang tidak sejati.

Agung Adnyani:
Apa saja yang termasuk ikatan tidak sejati itu ? Dalam kenyataannya sering kita menemukan kesulitan dalam memperktekan ide - ide tersebut dikarenakan keterkondisian kita. Adakah sadhana unt menghapus keterkondisian tersebut ?
Mangku Suro:
Selain Atman tidak ada yg sejati. Sebelum ditanya, "Berarti Tuhan tidak sejati?" ... Brahman Atman Aikyam ... Mempraktekkan ide - ide tersebut memang sangat sulit, bahkan Bhagawan Wararuci mengakui betapa sulitnya mencapai Kesadaran Tertinggi seperti yg disampaikan pada penutup Kitab Sarasamuccaya. Untuk menghapus keterkondisian tersebut, cobalah ikuti tuntunan sadhana: astangga yoga.

Agung Adnyani:
Untuk Astangga Yoga terutama Dyana Yoga dan Yoga Samadhi, apakah bisa dilakukan tanpa bimbingan ?
Mangku Suro:
Sulit. Jangankan tahapan 7 dan 8, tahapan 1 dan 2 saja kita memerlukan bimbingan untuk mendapatkan pemahaman yang benar. Awali dengan poin 1 tahap 1: Anrsangsya: berlatihlah mengendalikan piranti ahamkara yang kita miliki, menahan ego kita, tidak mementingkan diri sendiri, tidak memandang rendah orang lain, dan banyak lagi implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Agung Adnyani:
Jika sulit dilakukan, kemana kita (yang ingin belajar) mencari bimbingan tersebut. Apakah bimbingan harus dilakukan face to face ?
Mangku Suro
Yang penting ada kontinuitas komunikasi dengan pembimbing. Catat setiap perkembangan yang kita alami lalu konsultasikan.

Adijaya Ketut:
Swastyastu Jro, Bagaimana menyeimbangkan "tanggungjawab saat ini" terutama karena kemelekatan cinta kasih kita terhadap sentana dengan pencarian kita yang pada saatnya nanti akan harus meninggalkan kemelekatan itu.
Mangku Suro:
Orang Jawa bilang, "Manungsa mung sadrema nindakake wajib." Lakukanlah semuanya sebagai sebuah kewajiban tanpa tendensi keinginan (nafsu). Serahkan hasilnya sepenuhnya kepada Tuhan. Terimalah hasilnya apa adanya. sumber SRADDHA

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 06.13   0 comments
Tujuan Akhir Hidup Keduniawian
Senin, 09 November 2009
Tujuan akhir hidup di atas bumi adalah untuk menyadari Jati Diri, pencapaian yang sangat sulit, melalui sadhana yang ajeg tanpa kenal putus asa. Dalam samadhi, setiap jiwa menemukan Ketuhanannya, Realitas Absolut, Tuhan yang kekal, Sang Pribadi yang ada di luar waktu, bentuk dan ruang.

Realisasi atman adalah realisasi Brahman, dapat dicapai melalui renunsiasi; penolakan atau penyangkalan terhadap semua yang maya. Dunia beserta isinya disebut "mayapada" karena sifatnya yang maya. Penyangkalan tidak berarti meninggalkannya secara fisik, tetapi melepaskan diri dari keterikatan padanya dengan terus bermeditasi pada apa yang menjadi tujuan akhir dan membakar benih-benih karma yang masih bertunas. Ini adalah pintu gerbang menuju moksha, pembebasan dari punarbhawa. Atman berada di luar perkiraan pikiran, di luar perasaan yang alami, di luar aksi atau pergerakan bahkan bagian tertinggi dari kesadaran pikiran. Atman jauh lebih halus daripada sebuah inti atom, lebih sukar dipahami daripada ruang hampa, lebih mendalam daripada pikiran dan perasaan. Ini realitas terakhir diri kita, Kebenaran terdalam yang dicari-cari semua pencari Brahman. Ini adalah suatu yang paling berharga untuk diperjuangkan. Ini perjuangan bernilai tinggi yang dijalani dengan susah payah untuk membawa pikiran di bawah perintah kehendak. Setelah Atman disadari, pikiran terlihat sebagai sesuatu yang maya, dan begitulah sesungguhnya. Karena Kesadaran Atman harus dialami di dalam tubuh fisik, putaran jiwa kembali lagi dan lagi ke dalam badan jasmani untuk menari bersama Brahman, hidup bersama Brahman dan akhirnya manunggal dengan Brahman, menyatu dalam keesaan-Nya. Ya, Atman kita sebenarnya adalah Brahman. Seperti yang digambarkan di dalam Veda, bahwa manunggalnya Atman dan Brahman bagaikan air dituangkan ke dalam air, susu dituangkan ke dalam susu, api disulutkan ke dalam api, udara dihembuskan ke dalam udara, menjadi satu tanpa diferensiasi, jiwa individual dan Jiwa Tertinggi manunggal. sumber mangku suro
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 07.04   0 comments
Moksha
Kamis, 05 November 2009
MOKSHA -Kebebasan Paripurna, Keselamatan atau Pembebasan-ialah purushaartha keempat sekaligus terakhir DARI empat pilar yang menyangga struktur kehidupan kita. Tiga yang pertama telah dibahas sebelumnya, Dharma atau Kebajikan, Artha atau Kekayaan dan Kama atau Keinginan.

Lazimnya, moksha diartikan sebagai "kebebasan dari siklus kehidupan dan kelahiran." Banyak pembicaraan, diskusi dan penelitian ilmiah pada subjek kehidupan setelah kematian, kehidupan setelah kehidupan, pengalaman dekat kematian, reinkarnasi dan seterusnya. Kendati demikian, moksha tetaplah sebuah misteri, karena ini bersinggungan dengan sebuah situasi di balik kehidupan dan di balik kematian. Dan yang paling penting, siapa dapat menjamin bahwa Anda tak akan terlahir kembali setelah anda mati "kali ini"?

Moksha setelah atau melampaui kematian ialah sebuah pikiran yang menghibur. Buddha menyebutnya Nirwana, satu dan hal yang sama. Teolog Buddhis, kendati demikian, membela diri, "Tidak, mereka tidak sama." Baiklah kalau anda ingin mendirikan agama baru, maka Anda harus menciptakan seperangkat doktrin dan dogma yang baru pula. Oleh sebab itu, saya bisa memahami keberatan mereka atas kesamaan nirwana dengan moksha.

Sebuah cawan terisi air terkosongkan di tengah lautan. Buddha memperhatikan cawan yang kosong dan berkata, "Lihatlah, airnya hilang. Nirwana, ini berakhir, selesai, terlaksana."

Orang lain yang memperhatikan lautan mengatakan, "Air di dalam cawan telah bersatu dengan lautan. Persatuan Agung. Inilah saatnya merayakan Pertemuan Paripurna - wow, moksha!"

Kejadiannya sama; penjelasan kitalah yang berbeda. Tapi, sekali lagi, itu sekadar penjelasan, pikiran, hipotesis, wacana. Sebagai salah satu purusahartha, moksha - nirwana, pembebasan, keselamatan, surga, atau dengan istilah apapun Anda menyebutnya - mesti berada di dalam hidup kita. Ia mesti terkait dengan kehidupan, dan tak hanya dengan kehidupan setelah kematian saja.

Dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam apa yang disebut "waktu sesungguhnya," moksha dapat diterjemahkan sebagai kebebasan. Saya teringat sebuah puisi yang indah, ditulis oleh Rabindranath Tagore (1861-1941).

"Di mana pikiran tak terikat rasa takut dan kepala berdiri tegak

Di mana pengetahuan begitu bebas

Di mana dunia tak lagi terpecah-pecah ke dalam kepingan-kepingan

oleh sekat-sekat sempit buatan sendiri

Di mana kata-kata keluar dari kedalaman kebenaran

Di mana upaya tak kenal lelah membentangkan lengannya menuju kesempurnaan

Di mana aliran jernih penalaran tak tersesat di jalannya

Memasuki gurun pasir yang menjemukan dan kebiasaan yang mematikan

Di mana pikiran dibimbing maju oleh-Nya

Memasuki pikiran dan tindakan yang terus meluas

Ke dalam surga kebebasan semacam itu, oh Bapa, biarkan negaraku terus terjaga..."

Tiada pemahaman yang lebih baik tentang moksha dalam kehidupan kita sehari-hari selain seperti yang diuraikan oleh puisi hebat di atas.

Moksha dalam hidup ialah kebebasan berpikir, berekspresi, berkreasi, bergerak dan mengikuti apa yang dikatakan hatimu.

"Dimana pikiran tak terikat rasa takut dan kepala berdiri tegak" - mokhsa pertama dan utama ialah bebas dari rasa takut. Ketakutan melemahkan jiwa kita. Ketakutan membunuh jiwa kita. Ketakutan ialah penghalang bagi mekarnya potensi manusia. Ketakutan itu anti-jiwa.

"Kepala berdiri tegak" dalam bait ini mengacu pada situasi tanpa rasa takut. Ini bukan karena arogan dan egois. Ini merupakan ekspresi jiwa lewat badan kita - jiwa yang selalu bergerak membumbung ke atas, mencoba meraih kemungkinan lapisan kesadaran yang tertinggi.

"Di mana pengetahuan bebas," tak dimanipulasi oleh pemerintah, oleh masyarakat, oleh institusi agama atau lembaga buatan manusia lainnya. Segera setelah seorang anak lahir, kita diberi identitas, bahkan faktanya seperangkat identitas, sosial dan juga agama.

Pangeran Charles lahir sebagai manusia, sama seperti anda dan saya. Kendati demikian, kita berbeda lokasi kelahirannya. Dia lahir di istana; kita lahir di luar istana. Karena alasan itu, ia disebut "pangeran" sejak lahirnya. Bayi Charles tak paham arti gelar yang diberikan padanya, atau implikasinya. Karena gelar itu dipaksakan atasnya tanpa kemauannya.

Lalu mulailah latihannya sebagai seorang pangeran. Pengetahuan, ilmu dan seni dikemas baik secara khusus untuknya. Pihak kerajaan memutuskan apa yang sesuai dan yang tidak bagi seorang pangeran.

Tapi tidakkah anda berpikir situasi kita lebih baik? Charles ialah korban pihak kerajaan dan masyarakat kerajaan. Kita ialah para korban dari para miskin dan masyarakat miskin. Kita semua ialah korban dari sistem-sistem buatan manusia.

"Di mana dunia belum terpecah-belah ke dalam kepingan-kepingan oleh sekat-sekat sempit buatan sendiri" - semua sistem buatan manusia, dogma, doktrin, dan kredo menciptakan batasan-batasan. Tagore menyebutnya "sekat sempit buatan sendiri." Itu tak konkret, tapi sekat mental dan emosional.

"Di mana kata-kata keluar dari kedalaman kebenaran" - kata-kata dan perbuatan kita diatur oleh pikiran, benak kita. Jika pikiran kita tak bebas, kata-kata kita tak bisa menjadi benar. Karena butuh jiwa yang berani dan bebas untuk menjadi benar. Menjadi benar ialah mengambil resiko. Juga, jika pikiran kita tak bebas, kita tak bisa bertindak dengan bebas. Kita tak bisa bergerak dengan bebas.

"Di mana upaya tanpa lelah membentangkan lengannya menuju kesempurnaan" - orang bebas ialah orang yang berupaya mencapai kesempurnaan. Karena alasan inilah para sultan, emir, raja dan pejabat yang berkuasa tak tertarik pada kesempurnaan kita.

"Di mana aliran bening nalar tak tersesat dalam jalannya memasuki gurun pasir yang menjemukan dan kebiasaan yang mematikan - penalaran bersebrangan dengan perbudakan." Nalar itu anti manipulasi. Nalar ialah untuk berkembang, untuk membuka diri, untuk belajar lebih dan mengetahui lebih. Nalar tak membiarkan status quo. Penalaran sangat sangatlah dinamis, senantiasa berubah, bertransformasi dan menyempurnakan.

Inilah sebabnya kenapa pejabat, lembaga, politisi tanpa prinsip dan korporasi tanpa kesadaran selalu mencoba untuk memburu lembaga penalaran di dalam diri kita. Inilah sebabnya dogma dan doktrin dibuat. Inilah kenapa ritual dipaksakan. Kita dipaksa untuk membentuk kebiasaan yang menguntungkan sistem.

Kurang atau lebih, setiap dari kita telah menjadi korban sistem dan kemapanan. Lebih cepat kita menyadari ini, lebih baik.

"Di mana pikiran dibimbing maju oleh nya memasuki pikiran dan tindakan yang meluas terus" - Tagore dilahirkan sebagai "subjek" atau "warga jajahan" Inggris. Negaranya tidak merdeka; masih dijajah oleh Inggris. Tapi dalam jiwanya ia manusia bebas. Dalam ruh, ia membumbung tinggi, terbang melintasi lapisan tertinggi di atas langit.

"Di dalam surga kebebasan itu, oh Bapa, biarkan negaraku terjaga" - bangsa-bangsa menjadi merdeka dan sekali lagi diperbudak oleh korporasi rakus dan politisi korup. Oleh sebab itu, adalah penting, dan mendesak bila terlebih dahulu manusia menjadi bebas - bebas dalam pikiran, dalam hati, dalam jiwa, dalam roh.

Manusia mesti menjadi bebas terlebih dahulu. Ia harus belajar mengapresiasi kebebasan. Hanya dengan demikian, dan hanya setelahnya, ia dapat menghargai, menjaga dan merawat kemerdekaan bangsanya.

Ada istilah yang indah dalam bahasa Sansekerta, Jeewan Mukta - Seseorang Yang Bebas dalam Hidup. Ini, yang kemudian, menjadi benih bagi moksha, atau kebebasan sampurna setelah kehidupan.

Demikianlah purushartha - empat pilar yang menopang struktur kehidupan kita. (*)

* Penulis adalah aktivis spiritual, dan telah menulis lebih dari 130 buku. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatannya di Bali, silahkan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595 atau 8477490, atau kunjungi www.aumkar.org , www.anandkrishna.org (Tulisan ini pertama kali dimuat di The Bali Times, diterjemahkan oleh Nugroho Angkasa).

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01.18   0 comments
Berpasrah Diri Tidak Berarti Bermalas-malasan
Senin, 02 November 2009
Bagi umat hindu yang ada di jenjang hidup Grhasta Asrama, Karma Yoga lebih mendominasi. Kerja keras dan tidak malas merupakan kewajiban dan kebajikan yang patut dilakukan. Tuhan hanya menyayangi mereka yang suka bekerja keras dan memiliki ketekunan, bukan mereka yang malas, dan bukan mereka yang menyepelekan segala sesuatu. Orang yang suka bekerja keras dan memiliki ketekunan akan mencapai keberhasilan. Hal ini sangat relevan dengan perkembangan dunia modern.

Siapa saja yang tekun bekerja, tekun belajar, berdisiplin dan memiliki kualitas SRADDHA yang mantap akan sukses dalam berbagai aspek kehidupan. Demikian pula orang yang tidak mengenal lelah, tidak cepat putus asa akan memperoleh kecukupan lahir dan batin. Tuhan selalu menolong orang yang suka bekerja keras.

KURVAM EVEHA KARMANI JIJIVISET SATAM SAMAH. EVAM TVAYI NANYATHETO-ASTI NA KARMA LIPYATE NARE (Yajurveda XI.2) ... Orang seharusnya suka hidup di dunia ini dengan melakukan kerja keras selama seratus tahun. Tidak ada cara yang lain bagi keselamatan seseorang. Suatu tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak memihak, menjauhkan pelaku dari keterikatan.

ICCHANTI DEVAH SUNVANTAM NA SVAPNAYA SPRHAYANTI. YANTI PRAMADAM ATANDRAH (Atharvaveda XX.18.3) ... Para Dewa menyukai orang-orang yang bekerja keras. Para Dewa tidak menyukai orang-orang yang bermalas-malasan. Orang-orang yang selalu waspada mencapai kebahagiaan yang agung.

ASMANVATI RIYATE SAM RABHADHVAM UTTISHATA PRA TARATA SAKHAYAH. ATRA JAHAMA YE ASAN ASEVAH SIVAN VAYAM UTTAREMABHI VAJAN (Rgveda X.53.8) ... Ya para sahabat, dunia yang penuh dosa dan kesedihan sedang lewat bagaikan sebuah sungai, alirannya yang dihalangi oleh batu-batu besar yang berat. Tekunlah, bangkit dan seberangilah, tinggalkanlah pengikut yang tak berbudi. Seberangilah sungai kehidupan ini untuk pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran.

MA SREDHATA SOMINO DAKSATA MAHE KRNUDHVAM RAYA ATUJE. TARANIR IJ JAYATI KSETI PUSYATI NA DEVASAH KAVATNAVE (Rgveda VII.32.9) ... Wahai orang-orang yang berpikiran mulia, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras untuk mencapai tujuan-tujuan yang mulia. Bekerjalah dengan tekun untuk memperoleh kecukupan hidup. Orang yang bersemangat dan tekun akan berhasil, hidup menikmati kemakmuran. Para Dewa tidak pernah menolong orang yang bermalas-malasan.

ATANDRASO AVRKA ASRAMISTHAH (Rgveda IV.4.12) ... Hanya orang-orang yang giat, tulus hati dan tak kenal lelah berhasil dalam kehidupan.

NASUSVER APIR NA SAKHA NA JAMIH (Rgveda IV.25.6) ... Tuhan bukanlah sahabat, kerabat atau sanak saudara dari orang yang malas.
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 04.56   0 comments
Penyadur

Name: Arya Tangkas Kori Agung
Home: Br. Gunung Rata, Getakan, Klungkung, Bali, Indonesia
About Me: Perthi Sentana Arya Tangkas Kori Agung
See my complete profile
Artikel Hindu
Arsip Bulanan
Situs Pendukung
Link Exchange

Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

Rarisang Mapunia
© 2006 Arya Tangkas Kori Agung .All rights reserved. Pasek Tangkas