<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428</id><updated>2012-01-26T09:12:39.312-08:00</updated><category term='Upacara Danu Kertih di Batur'/><category term='Memasuki Kesadaran Atman'/><category term='Makna Upacara Labuh Gentuh'/><category term='Pengertian  Penyajaan  Penampahan dan Rahinan'/><category term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><category term='Makna Galungan dan makna penjor'/><category term='Kemurahan Hati'/><category term='Rahasia Mebrata'/><category term='Hari Ulihan'/><category term='Dunia Ini Tidak Abadi'/><category term='Pengalaman adalah Sumber Pengetahuan'/><category term='Uang dan Keadilan'/><category term='Butha Kala'/><category term='Kekekalan Hukum Karma'/><category term='Sanggah Pamerajan'/><category term='Filosofi Ngaturang Ayah Orang Bali'/><category term='Manfaat Upacara Megedong - gedongan atau Tujuh Bulanan'/><category term='Kejujuran Pedagang'/><category term='Kata - Kata Bhagawadgita'/><category term='Kancing Gumi di Pura Kedampal Karangasem Bali'/><category term='Bertapa Untuk Mengendalikan Pikiran'/><category term='Mule Keto Orang Balihttp://www.blogger.com/img/blank.gif'/><category term='Siwa Siddhanta di Bali'/><category term='Moksha'/><category term='Gemuruh Debu Lenyapkan Kesucian'/><category term='Perayaan Tumpek Krulut Pemujaan Bunyi-bunyian Menuju Harmonisasi Alam'/><category term='ASTA KOSALA dan ASTA BUMI'/><category term='Memaknai Galungan dengan Konteks Kekinian 14 Oktober 2009'/><category term='Upacara Nangunan Sanghyang jaran di Merajan Br. Bun Denpasar'/><category term='Pasrama Yogadhiparamaguhya  Bali'/><category term='Rerainan Hindu pada bulan November 2009'/><category term='Memuliakan Air sebagai Sumber Kehidupan'/><title type='text'>Arya Tangkas Kori Agung</title><subtitle type='html'>Om AWIGHNAMASTU NAMOSIDDHAM,

Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>528</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-1392476908295129246</id><published>2012-01-21T19:56:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T20:01:43.859-08:00</updated><title type='text'>Ramalan Tahun Naga Air 2012</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-j8gQJVxMdLk/TxuJtUpilTI/AAAAAAAACf4/_PmYjf_e7_8/s1600/Tahun%2BNaga%2BAir%2B2012.jpg"&gt;&lt;img style="text-align: justify;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 204px; height: 131px; " src="http://1.bp.blogspot.com/-j8gQJVxMdLk/TxuJtUpilTI/AAAAAAAACf4/_PmYjf_e7_8/s320/Tahun%2BNaga%2BAir%2B2012.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700301165097555250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 2012 ini merupakan Tahun Naga atau lebih tepatnya Tahun Naga Air. Menurut perhitungan kalender LUNAR (Yin Li atau Imlek), awal tahun jatuh pada 23 Januari 2012, tetapi berdasarkan kalender HSIA, awal tahun akan jatuh pada tanggal 4 Februari 2012. Perhitungan menurut kalender bulan menjadi tradisi dan senantiasa dirayakan, sedangkan perhitungan berdasarkan Hsia tidak banyak diketahui orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang ingin mengetahui apakah tahun mendatang akan memberikan keberuntungan bagi dirinya atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus diketahui lebih dahulu, bahwa dalam astrologi Cina terdapat lima unsur (elemen), yaitu logam, air, kayu, api, dan tanah. Teori ini dipakai untuk menjelaskan mengapa seseorang akan lebih beruntung dari orang lain secara lebih terperinci.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu dalam perhitungan Capjie Shio (12 Horoskop), seringkali perhitungan tersebut dibuat sederhana saja. Jadi, langsung disimpulkan shio mana yang baik peruntungannya dan shio mana yang kurang baik peruntungannya di tahun tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena Naga itu hap (cocok) dengan shio Monyet, Tikus, dan Ayam, maka banyak orang mengatakan ketiga shio itulah yang mempunyai keberuntungan besar. Di lain pihak, Naga Chiong besar dengan shio Anjing mendatangkan perpisahan (bisa dengan nyawa, kesehatan, harta atau dengan pasangan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Naga Chiong kecil dengan shio Kelinci mendatangkan pengkhianatan dan sakit hati. Sementara Naga Chiong kecil  dengan shio Naga akan mendatangkan saling hukum, atau membuat keputusan yang salah kemudian menyesali. Oleh karena itu, kedua orang yang memiliki ketiga horoskop itu dikatakan akan mengalami kemalangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja perhitungan seperti itu terlalu sempit. Perhitungan seperti itu sebenarnya terlalu menggeneralisasi fenomena yang terjadi, sehingga kebenarannya memiliki probabilitas yang rendah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun Naga kali ini merupakan Tahun Naga Air (Ren Chen). Berdasarkan teori, Naga mempunyai kandungan elemen Tanah, Kayu, dan Air. Sesungguhnya Naga adalah "gudangnya air".  Karena yang dibawa oleh Naga di tahun 2012 ini adalah Naga Air, maka air akan melimpah besar sekali. Jika diibaratkan, tahun 2012 ini seperti bendungan yang jebol dan air melimpah keluar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peruntungan Berdasarkan Waktu Lahir&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada seorang-pun yang pernah melihat naga. Dalam berbagai gambaran, orang-orang menceritakan makhluk seperti naga, tetapi tidak pernah melihat secara utuh. Ada yang hanya melihat ekornya dan ada yang hanya melihat kepalanya. Oleh karena itu tahun Naga selalu diartikan sebagai  tahun misterius; sulit menebak apa yang bakal terjadi di tahun ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu bagaimana caranya kita mengetahui tahun 2012 (Naga Air) ini membawa keberuntungan atau tidak? Unsur-unsur yang dimiliki seseorang, tergantung pada saat kelahirannya. Dengan mengetahui tanggal lahir, kita bisa memprediksi unsur-unsur apa dari ke lima elemen itu yang paling menonjol di diri kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut ini kami memberikan pedomannya: dengan melimpahnya air pada tahun 2012 ini, maka mereka yang paling beruntung adalah orang yang memerlukan elemen air. Sebaliknya, mereka yang kurang beruntung adalah orang yang sudah memiliki banyak air dan tambahan air, karena hal itu menyebabkan keberuntungan menjauh darinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, sekarang bagaimana cara mengetahui apakah kita membutuhkan air atau tidak? Pertama, dari shio (tahun lahir). Mereka yang berunsur api atau kandungannya, yaitu ber-shio Ular, Kuda, Kambing, dan Macan akan lebih diuntungkan. Sebaliknya yang memiliki kandungan air, yaitu shio Babi, Tikus, dan Naga. Sementara itu, shio lain bisa dikatakan netral.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, dari bulan lahir. Mereka yang dilahirkan pada bulan/musim Semi (Maret dan April) dan bulan/musim Panas (Mei, Juni, dan Juli) lebih beruntung, karena memerlukan air untuk mengimbanginya. Sedangkan mereka yang dilahirkan pada musim dimana banyak unsur air, yaitu November, Desember, dan Januari, dianggap kurang beruntung karena sudah memiliki banyak unsur air. Tahun 2012 yang berlimpah air ini menjadi tahun yang banyak halangan. Sementara itu, perhitungan berdasarkan hari/tanggal lahir agak sulit dikemukakan di sini, karena harus dikonversikan ke kalender Imlek/Hsia terlebih dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, dari jam lahir. Mereka yang dilahirkan pada pagi dan siang hari memiliki unsur Kayu dan Api yang banyak. Oleh karena itu, tahun 2012 yang mengandung banyak unsur air, akan menjadi berkah dan rezeki. Sebaliknya, mereka yang lahir pada malam hari, antara jam 21:00 hingga 03:00 dini hari memiliki banyak unsur  air, sehingga tahun ini kurang beruntung bagi mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengetahui aturan di atas, maka dengan cepat kita bisa menghitung, apakah kita beruntung atau kurang beruntung menghadapi tahun Naga Air ini. Sebagai contoh, apakah seseorang yang lahir pada tanggal 9 Februari 1969 jam 12:00 akan beruntung?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawabannya sebagai berikut:  tahun 1969 adalah tahun Ayam (menurut Kalender Hsia) dan tahun Monyet (menurut Kalender Imlek). Baik Ayam atau Monyet adalah shio yang hap (serasi) dengan Naga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari tahun lahir ini, sudah pasti ada faktor keberuntungan yang memihak kepada dirinya. Bulan Februari adalah dimulainya musim Semi, dimana unsur Kayu sangat dominan. Karena Kayu memerlukan Air untuk tumbuh, maka orang yang lahir pada musim Semi akan memiliki peruntungan yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, lahir pada siang hari jam 12:00, ketika matahari sedang panas-panasnya, membuat orang ini sangat memerlukan Air, untuk mengimbangi Api yang dimiliki dalam jam lahirnya itu. Maka jawabannya, dia akan beruntung di tahun Naga Air ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang Anda bisa mengerti, bahwa perhitungan keberuntungan itu tidak hanya melihat horoskop (tahun lahir) atau shio-nya saja. Semua elemen yang ada di dalam data lahir seseorang mempunyai faktor yang harus diperhitungkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat menyambut Tahun Naga Air. Sumber Mauro Rahardjo dan Lelyana Rahardjo.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-1392476908295129246?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/1392476908295129246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=1392476908295129246' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1392476908295129246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1392476908295129246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2012/01/ramalan-tahun-naga-air-2012.html' title='Ramalan Tahun Naga Air 2012'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-j8gQJVxMdLk/TxuJtUpilTI/AAAAAAAACf4/_PmYjf_e7_8/s72-c/Tahun%2BNaga%2BAir%2B2012.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-2009868616343004774</id><published>2011-11-18T19:32:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T19:38:58.844-08:00</updated><title type='text'>Saraswati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-4cAy2-HcWm4/TsckvSpMDwI/AAAAAAAACfs/1kpZoIbyfMg/s1600/Saraswati.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-4cAy2-HcWm4/TsckvSpMDwI/AAAAAAAACfs/1kpZoIbyfMg/s320/Saraswati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676546250200846082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini Sabtu, 19 Nopember 2011 umat Hindu di Bali merayakan Hari Saraswati atau Hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati dengan arti harfiah hari suci Saraswati adalah hari ulang tahun bagi ilmu pengetahuan atau Hari Diturunnya ilmu pengetahuan oleh Sang Hyang Widdhi. Perayaan Hari Saraswati ini jatuh setiap Saniscara Umanis Wuku Watugunung .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Ia tampak berpakaian dengan dominasi warna putih, terkesan sopan, menunjukan bahwa pengetahuan suci akan membawa para pelajar pada kesahajaan. Saraswati dapat digambarkan duduk atau berdiri diatas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan wahana atau kendaraan suci darinya, yang mana semua itu merupakan simbol dari kebenaran sejati. Selain itu, dalam penggambaran sering juga terlukis burung merak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing-masing lengan tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Lontar (buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi, dan ilmu sejati.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Genitri (tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Damaru (kendang kecil).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Angsa merupakan simbol yang sangat populer yang berkaitan erat dengan Saraswati sebagai wahana (kendaraan suci). Angsa juga melambangkan penguasaan atas Wiweka (daya nalar) dan Wairagya yang sempurna, memiliki kemampuan memilah susu di antara lumpur, memilah antara yang baik dan yang buruk. Angsa berenang di air tanpa membasahi bulu-bulunya, yang memiliki makna filosofi, bahwa seseorang yang bijaksana dalam menjalani kehidupan layaknya orang biasa tanpa terbawa arus keduniawian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain angsa, juga sering terdapat merak dalam penggambaran Dewi Saraswati, yang mana adalah simbol dari kesombongan, kebanggaan semu, sebab merak sesekali waktu mengembangkan bulu-bulunya yang indah namun bukan keindahan yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi Penggambaran Dewi Sarasswati:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Dewi simbol Kecantikan , bahwa ilmu Pengetahuan itu indah, cantik, menarik, dan lemah lembut dan mulia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alat musik simbol, bahwa ilmu Pengetahuan itu seni budaya yang agung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Genetri simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu tak terbatas dan kekal abadi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pustaka suci simbol, bahwa itu sumber ilmu pengetahuan yang suci.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teretai simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan kesucian Hyang Widhi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Angsa adalah simbol kebijaksanaan, Angsa bisa membedakan antara yang baik dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Etika Pada Saat Hari Saraswati Puja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka-pustaka (Kitab Suci), lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pemujaan Saraswati dilakukan sebelum tengah hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebelum perayaan Saraswati, tidak diperkenankan membaca atau menulis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati tidak diperkenankan membaca dan menulis selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam mempelajari segala pangaweruh selalu dilandasi dengan hati Astiti kepada Hyang Saraswati, termasuk dalam hal merawat perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puja Saraswati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om, Brahma Putri Maha Dewi,&lt;br /&gt;Brahmanya Brahma wandini,&lt;br /&gt;Saraswati sayajanam, praja naya Saraswati.&lt;br /&gt;Om, Saraswati dipata ya namah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Saraswati namastubhyam&lt;br /&gt;Varade kama rupini&lt;br /&gt;Siddharambha karisyami&lt;br /&gt;Siddhir bhawantu me sada&lt;br /&gt;Stuti &amp;amp; Stava 839.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Hyang Widhi, Sakti-Mu selaku Maha Dewi dari Brahma,&lt;br /&gt;Pancaran Pradana dari Brahma.&lt;br /&gt;Saraswati, Dewi kemampuan berpikir, Saraswati tiada tara kebijaksanaanNya&lt;br /&gt;AUM, Dewi Saraswati hamba menyembah-Mu.&lt;br /&gt;Aum, Saraswati sebagai pemberi Anugrah, dalam bentuk yang didambakan&lt;br /&gt;Semogalah atas segala dharma yang hamba lakukan sukses selalu atas karunia-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om Hyang Widdhi , Engkau adalah Ibu Kami , Anugrahilah kami ilmu kebijaksanaan, Atas anugrah-Mu semoga Ilmu menjadikan kami hidup berbahagia, Smasta Loka sukino bawantu, semoga semua mahkluk berbahagia“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah cara umat Hindu menghormati anugrah Tuhan yang berupa Ilmu pengetahuan suci dan ilmu pengetahuan material serta kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-2009868616343004774?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/2009868616343004774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=2009868616343004774' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/2009868616343004774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/2009868616343004774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/11/saraswati.html' title='Saraswati'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4cAy2-HcWm4/TsckvSpMDwI/AAAAAAAACfs/1kpZoIbyfMg/s72-c/Saraswati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-2228249452230746860</id><published>2011-09-25T01:08:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T01:13:13.602-07:00</updated><title type='text'>Desa Pakraman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-L13J90t2yt0/Tn7if_SXGFI/AAAAAAAACfY/O7j6eriEOEg/s1600/Desa%2BPakraman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-L13J90t2yt0/Tn7if_SXGFI/AAAAAAAACfY/O7j6eriEOEg/s320/Desa%2BPakraman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656207221216188498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jagat pratistathaa Brahma, Wisnu palayito bhawet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudra sangharake loke, jagat sthawara janggamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bhuwana Kosa, VII.27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Tuhan saat menciptakan disebut Dewa Brahma, saat memelihara dan melindungi ciptaan-Nya disebut Dewa Wisnu dan saat mengakhiri keberadaan ciptaan-Nya disebut Dewa Rudra. Demikianlah manusia dan semua makhluk hidup ciptaan-Nya tercipta, terpelihara dan kembali pada asalnya, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan pada abad ke-11 Masehi Mpu Kuturan menganjurkan pendirian Kahyangan Tiga di desa pakraman. Tentunya ada tujuan mulia mengapa Beliau menganjurkan pendirian tiga tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Dalam Lontar Mpu Kuturan juga dinyatakan bahwa desa pakraman itu dibangun berdasarkan petunjuk pustaka suci (manut linging Sang Hyang Aji) oleh Sang Catur Varna. Ini artinya desa pakraman itu adalah unit sosial religius Hinduistis. Lembaga sosial umat Hindu yang disebut desa pakraman itu didirikan untuk mengamalkan ajaran Hindu agar sampai mentradisi. Hal ini sangat sesuai dengan pernyataan Sarasamuscaya 260 yang menyatakan dengan istilah Weda abyasa yang maksudnya membiasakan mengamalkan ajaran suci Weda. Pentradisian Weda itu menurut Manawa Dharmasastra I.89 sampai mengantarkan kebiasaan hidup yang kuat menuntun umatnya mencapai kehidupan yang raksanam dan dhanam. Artinya hidup yang aman dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat desa pakraman mengupayakan kehidupan bersama dengan program-program yang aktual dan kontekstual. Dengan program itu, tahap demi tahap kehidupan bersama yang aman (raksanam) dan sejahtera (dhanam) akan semakin terwujud. Hal inilah yang seyogianya menjadi fokus desa pakraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini adalah suatu proses dari utpati, sthiti dan pralina. Tiga proses ini disebut Tri Kona. Dalam pustaka Bhuwana Kosa.IV. 33 ada dinyatakan: ''Tuhanlah yang menciptakan seluruh alam dengan segala isinya. Tuhan sebagai perwujudan utpati, sthiti dan pralina (tercipta, terpelihara dan tiada). Ini artinya semua makhluk ciptaan Tuhan tidak akan pernah tidak melalui ketiga proses itu. Tuhan pun turun menjadi Tri Murti untuk menuntun umatnya agar sukses menjalankan proses hidup dengan hukum Tri Kona. Hakikat hidup adalah menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan, memelihara sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan meniadakan sesuatu yang sepatutnya ditiadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat agar sukses menjalankan proses hidup utpati, sthiti dan pralina. Menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan, pujalah Tuhan sebagai Dewa Brahma. Memelihara segala sesuatu dalam hidup ini tidaklah mudah. Untuk mendapat kekuatan rokhani dalam memelihara dan melindungi itu pujalah Tuhan sebagai Dewa Wisnu. Untuk meniadakan sesuatu yang sepatutnya ditiadakan pujalah Tuhan sebagai Dewa Siwa atau Iswara. Inilah tujuan pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini artinya hakikat desa pakraman adalah sebagai lembaga umat Hindu untuk mengamalkan ajaran Tri Kona. Ajaran Tri Kona itu untuk menciptakan iklim hidup masyarakat yang dinamis dan kreatif positif. Utpati artinya hidup ini hendaknya kreatif menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan di desa pakraman. Sthiti artinya desa pakraman hendaknya kreatif untuk memelihara dan melindungi segala sesuatu yang semestinya dilindungi. Demikian juga dalam hal meniadakan sesuatu yang sudah usang dan tidak relevan dengan dharma wajib ditiadakan agar proses menuju cita-cita mulia Agama Hindu terwujud. Ini artinya mengamalkan ajaran Tri Kona di desa pakraman ini agar hidup ini senatiasa dinamis menuju hidup yang ananda yaitu bahagia lahir batin. Isi Weda adalah sanatana dharma kebenaran yang kekal abadi. Tetapi penerapannya harus nutana artinya dinamis selalu diremajakan sesuai dengan kebutuhan zaman dalam mengamalkan dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamalkan ajaran Tri Kona di desa pakraman dengan pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga bukan sekadar ada perubahan dan dinamika. Perubahan itu harus ke arah yang lebih baik, benar dan wajar. Apalagi dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan dalam diri manusia ada Citta Aiswarya sebagai salah satu unsur Catur Budhi yang senantisa mendorong manusia berniat baik meningkatkan diri ke arah yang semakin baik, benar dan mulia. Sifat-sifat inilah yang senantiasa didorong dalam masyarakat oleh desa pakraman sehingga menumbuhkan umat yang sehat, sabar dan ulet dalam menghadapi dinamika hidup untuk mencapai perubahan ke arah positif. Agar perubahan itu senantiasa mengarah yang positip maka umat harus dididik untuk menguasai Tri Gunanya. Peras ngarania prasida Tri Guna Sakti. Artinya sukses itu dicapai dengan menguatkan Tri Guna yaitu Sattwam, Rajah dan Tamah. Untuk mengedalikan Tri Guna ini Tuhan turun menjadi Tri Murti. Menurut pustaka Matsya Purana 53. Sloka 68 dan 69 ada dinyatakan bahwa Brahma, Wisnu dan Siwa adalah Guna Awatara. Artinya Tuhan menuntun umatnya yang bhakti mengendalikan Tri Gunanya. Melindungi sifat Sattwam Tuhan di puja sebagai Dewa Wisnu. Untuk mengendalikan Guna Rajah Tuhan dipuja sebagai Dewa Brahma. Sedangkan untuk mengendalikan Guna Tamas Tuhan dipuja sebagai Dewa Siwa. Tri Guna ini akan kuat mendukung kesucian Atman menyinari hidup manusia apabila Tri Guna itu berada di bawah kendali kecerdasan intelektual, kesadaran budhi dan kesucian Atman. Pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di samping untuk menuntun umat mengamalkan ajaran Tri Kona juga untuk menuntun umat mengendalikan Tri Guna. Untuk membangun Tri Guna yang sakti sesungguhnya Desa Pakraman dapat membuat program-program yang aktual dan kontektual menuju Desa Pakraman yang aman dan sejahtera. Wrehaspati Tattwa 21 menyatakan bahwa: Kalau alam pikiran (Citta) itu kuat dan seimbang dipengaruhi oleh Guna Sattwam dan Guna Rajah maka Guna Sattwam itu membuat orang berkehendak baik sedangkan Guna Rajah membuat orang nyata berbuat baik. Karena itu Tri Guna yang komposisinya ideal itu akan dapat membuat orang jadi sukses dalam hidupnya. Demikianlah latar belakang tattwa keberadaan desa pakraman di Bali yang oleh ahli Belanda disebut desa adat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-2228249452230746860?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/2228249452230746860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=2228249452230746860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/2228249452230746860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/2228249452230746860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/09/desa-pakraman.html' title='Desa Pakraman'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-L13J90t2yt0/Tn7if_SXGFI/AAAAAAAACfY/O7j6eriEOEg/s72-c/Desa%2BPakraman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-31150153124448472</id><published>2011-09-19T05:48:00.000-07:00</published><updated>2011-09-19T05:50:45.624-07:00</updated><title type='text'>Rangda Ratunya Leak Dalam Mitologi Bali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-XDl61kd-eL4/Tnc6iXoTYHI/AAAAAAAACfQ/DY0CgwOR9x4/s1600/Rangda%2Bratunya%2Bleak%2Bdalam%2Bmitologi%2BBali.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 205px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-XDl61kd-eL4/Tnc6iXoTYHI/AAAAAAAACfQ/DY0CgwOR9x4/s320/Rangda%2Bratunya%2Bleak%2Bdalam%2Bmitologi%2BBali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654052219319967858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rangda merupakan RATUnya LEAK dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan penganut sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda. Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu  Waisya, Ksatria, Brahmana. Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah Rangda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan selanjutnya, istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang 'aeng' (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak). Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos Rangda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan bahwa kemungkinan besar Rangda berasal dari ratu Mahendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad yang ke-11. Ia diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. Menurut legenda, ia membalas dendam dengan membunuh setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Erlangga. Kemudian ia digantikan oleh seseorang yang bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangda sangatlah penting bagi mitologi Bali. Pertempurannya melawan Barong atau melawan Erlangga sering ditampilkan dalam sendratari. Sendratari ini sangatlah populer dan merupakan warisan penting dalam tradisi Bali. Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku-kuku panjang, lidah yang menjulur panjang, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki taring-taring yang panjang dan tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis Rangda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengidentifikasi jenis-jenis Rangda yang berkembang di Bali amat sulit. Hal ini mengingat wujud Rangda pada umumnya adalah sama. Memang dalam cerita Calonarang ada wujud Rangda yang lain seperti Rarung, Celuluk, namun itu adalah antek-antek dari Si Calonarang dan kedudukannya lebih banyak dalam cerita-cerita bukan disakralkan. Untuk membedakan wujud Rangda adalah dengan melihat bentuk mukanya (prerai), yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyinga : Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan (munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeleme : Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar (lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raksasa : Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-31150153124448472?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/31150153124448472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=31150153124448472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/31150153124448472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/31150153124448472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/09/rangda-ratunya-leak-dalam-mitologi-bali.html' title='Rangda Ratunya Leak Dalam Mitologi Bali'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-XDl61kd-eL4/Tnc6iXoTYHI/AAAAAAAACfQ/DY0CgwOR9x4/s72-c/Rangda%2Bratunya%2Bleak%2Bdalam%2Bmitologi%2BBali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-2684732138132761780</id><published>2011-07-25T05:04:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T05:07:55.829-07:00</updated><title type='text'>Penyucian Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-aqPh7BpMbVM/Ti1ceGGt13I/AAAAAAAACfI/7aR9qXYw3oE/s1600/Penyucian%2BIlmu%2BPengetahuan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 290px; height: 231px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-aqPh7BpMbVM/Ti1ceGGt13I/AAAAAAAACfI/7aR9qXYw3oE/s320/Penyucian%2BIlmu%2BPengetahuan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633260381014972274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Na hi jnyanena sadrisam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pavitram iha vidyate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tat svayam yogasam siddhah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaalena’mani vindati (Bhagavad Gita IV.38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Tidak ada sesuatu di dunia ini yang dapat menyamai kesucian ilmu pengetahuan (jnana). Mereka yang sempurna dalam yoga akan memenuhi dirinya sendiri dalam jiwanya pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Tuhan menurunkan ilmu pengetahuan untuk menuntun umat manusia agar mengetahui, mengerti dan memahami dirinya dan alam semesta tempat manusia mengembangkan kehidupanya. Hidup yang baik adalah selalu berada pada jalan dharma. Dharmo raksati raksatah. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VIII.15. Artinya siapapun yang melindungi dharma dia akan dilindungi oleh dharma. Bagaimana agar manusia dapat melindungi dharma. Pertama dan paling utama adalah menguatkan keyakinan bahwa Tuhan itu maha adil dan maha pelindung. Karena itu lakukanlah sradha dan bhakti pada Tuhan setulus-tulusnya. Selanjutnya kuatkan kesadaran budhi menguasai kecerdasan intelektual. Pahami bahwa Tuhan juga menyemaikan citta atau idep yaitu alam pikiran pada diri setiap manusia. Manusia seharusnya mendayagunakan citta itu agar memiliki kesadaran ilmu untuk dengan cerdas melindungi dharma. Penguasaan ilmu itu maha penting dalam menegakkan dharma. Menegakkan dharma tanpa ilmu, akan mubazir. Karena itu carilah ilmu itu sepanjang zaman. Canakya Nitisastra V.15 juga menyatakan: ''Vidya mitram pravaasesu'' yang artinya sahabat yang paling dekat adalah ilmu atau vidya, apalagi di negeri orang. Demikian juga Kekawin Nitisastra II.5 menyatakan: ''Norana mitra mangelewihane wara guna maruhur.'' Artinya, tidak ada sahabat yang melebihi ilmu pengetahuan yang luhur. Dalam Canakya Nitisastra IV.15 ada dinyatakan ''Anabhyaase visam sastram.'' Maksudnya, ilmu pengetahuan atau sastra yang tidak diamalkan akan menjadi racun. Selanjutnya Canakya Nitisastra V.8 menyatakan, ''Abhyaasaad dhaaryate vidya'' yang artinya peliharalah ilmu pengetahuan dengan cara mempraktikan dengan membiasakannya dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu dalam Bhagawad Gita IV.33 dinyatakan: Sreyan dravya-mayad yajnaj, jnyana yajnyah paramtapa. Artinya, ilmu pengetahuan merupakan yadnya yang lebih utama dibandingkan beryadnya dengan harta benda. Di India ada upacara Vijaya Dasami atau upacara untuk mengingatkan umat manusia untuk memenangkan dharma. Sedangkan di Nusantara, terutama di Bali umat Hindu memiliki Hari Raya Galungan. Kata Vijaya dalam bahasa Sansekerta dan Galungan dalam bahasa Jawa Kuna artinya sama yaitu menang. Vijaya Dasami di India dirayakan berdasarkan Tahun Surya pada bulan April dan Oktober. Sedangkan Galungan di Nusantara dirayakan berdasarkan tahun wuku yaitu pada saat Wuku Dungulan. Kata Dungulan dalam bahasa Jawa Kuno juga tidak jauh beda artinya dengan Galungan. Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan sebagai berikut: ''Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan, patitis ikang jnyana sandhi galang apadang mariakena byaparaning idep.'' Maksudnya, Rebo Kliwon Wuku Dungulan namanya Galungan untuk mengarahkan semua ilmu agar terpadu oleh para jnyanin (ilmuwan) untuk bersinergi agar membuat cerahnya hati masyarakat (galang apadang) untuk menghilangkan kegelapan hati (byaparaning oidep). Nampaknya konsep Sastra Suci Weda yang dinyatakan di atas diimplementasikan dalam perayaan Galungan sangat nyambung dengan arahan yang tertera dalam Lontar Sunarigama. Bahkan dalam Lontar Sunarigama ada dinyatakan juga merayakan Embang Sugi sebagai berikut: ''Embang Sugi anyekung jnyana nirmalakene.'' Ini artinya jnyana yang dipadukan itu untuk dibersihkan dari berbagai mala atau kekotoran agar benar-benar dapat mencapai nirmala untuk mencerahkan alam kejiwaan umat. Jnyana yang dipadukan untuk mencapai nirmala artinya jnyana itu benar-benar diaplikasikan dengan murni terpadu untuk mengangkat harkat dan martabat umat sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Karena ilmu dapat membuat orang mabuk maka muncullah teks tentang Embang Sugi dalam Sunarigama. Ini artinya perayaan Galungan dan juga hari raya Hindu mengandung nilai-nilai universal dalam kemasan budaya lokal Bali atau Nusantara. Kalau nilai-nilai suci Hindu tentang pengelolaan ilmu tersebut dievaluasi setiap merayakan Galungan maka jumlah ilmuwan mabuk kepintaran dan oknum pejabat mabuk kekuasaan dapat semakin dikurangi. Kalau ilmuwan mabuk dan pejabat mabuk itu artinya ilmu masih mengotori sementara manusia. Bukan salahnya ilmu tetapi manusia yang punya ilmu itulah yang belum bisa mendayagunakan ilmu itu untuk mengelola hidupnya. Kalau para ilmuwan dan pejabat tidak mabuk maka mereka akan benar-benar mengurus peningkatan harkat dan martabat rakyat untuk hidup aman, adil dan makmur lahir batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsep pengelolaan ilmu dan ilmuwan menjadi suci, dapat dijadikan acuan dalam mengamati perayaan Galung kini dan seterusnya. Hari Raya Galungan mengingatkan umat Hindu agar menjadikan hari itu momen untuk mengevaluasi upaya memelihara dan menerapkan ilmu agar terus berkembang dan teruji kemampuannya untuk digunakan menegakkan dharma. Karena, kalau ilmu tidak diterapkan akan menjadi racun. Setiap merayakan Galungan marilah kita amati kembali, sudahkan kita rayakan Galungan itu sesuai dengan tattwa yang ada dalam pustakanya. Boleh saja kita rayakan semeriah mungkin, tetapi jangan sampai menyimpang dari makna perayaan itu untuk memenangkan kehidupan berdasarkan dharma. Inti perayaan Galungan itu menghaturkan banten Tumpeng Galungan sebagai banten pokok. Tumpeng Galungan itu melambangkan keadaan bhuwana Agung ini sebagai wadah kehidupan yang aman damai dan sejahtera berdasarkan dharma. Keadaan bhuwana agung wadah kehidupan semua makhluk yang demikian itulah yang harus kita terus wujudkan dengan dasar memadukan penerapan ilmu pengetahuan. Tentunya akan menjadi mubazir kalau perayaan Galungan demikian meriahnya sedangkan alam semakin rusak dan kebersamaan sosial semakin merenggang dan ilmu semakin tidak digunakan dalam mengatasi berbagai persoalan. Jangan gunakan emosi yang bergejolak dan otot yang kekar mengatasi persoalan hidup di bumi ini. Analisalah dengan ilmu atau jnyana semua persoalan hidup di bumi ini. Hindari merayakan Galungan hanya untuk berhura-hura. Apalagi boros, karena boros tenaga, waktu, uang dan makanan sangat dilarang agama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-2684732138132761780?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/2684732138132761780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=2684732138132761780' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/2684732138132761780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/2684732138132761780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/07/penyucian-ilmu-pengetahuan.html' title='Penyucian Ilmu Pengetahuan'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-aqPh7BpMbVM/Ti1ceGGt13I/AAAAAAAACfI/7aR9qXYw3oE/s72-c/Penyucian%2BIlmu%2BPengetahuan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-6225898197793013717</id><published>2011-05-31T04:24:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T04:26:40.879-07:00</updated><title type='text'>Bila Manusia Merusak Alam Tak Beda dengan Hewan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Y5CG0KQkahU/TeTQMz3LQmI/AAAAAAAACe8/yPfrh7FW76s/s1600/Alam%2BBali.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 254px; height: 169px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Y5CG0KQkahU/TeTQMz3LQmI/AAAAAAAACe8/yPfrh7FW76s/s320/Alam%2BBali.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612839954109121122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bhutahita ikang ulaha, apanikang wwang lumaku, alungguh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atangi, maturu kuneng, ndatan, pakapaiang bhutahita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tan hana pahiningprawrtitininglawan ulahingpasu. (Sarasamuscaya 139)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Berbuatlah untuk kesejahteraan alam (bhutahita), walaupun  kita berjalan, duduk, bangun, tidur, tetapi tidak dipergunakan untuk  menyejahterakan alam tidak bedanya kita dengan hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BHAGAWAD Gita III.10 menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dan alam  berdasarkan yadnya. Tuhan sebagai Brahman menjadi jiwanya alam dan  menjadi Atman sebagai jiwanya manusia. Alam badan jasmaninya Tuhan  merupakan sumber hidup dan penghidupan manusia. Rgveda I.12.16.  menyatakan ada tujuh lapisan bumi dan Tuhan berstana di semua lapisan  bumi tersebut. Dengan demikian terciptalah gerak dan perubahan-perubahan  di tujuh lapisan bumi. Dari keterangan Mantra Rgveda ini dapat dipahami  bahwa di setiap unsur alam ada kemahakuasaan Tuhan hadir di dalamnya.  Karena itu merusak setiap unsur alam berarti manusia merusak badan Tuhan  sendiri. Karena itu, Swami Satya Narayana menyatakan dalam pustaka  Anandadayi bahwa kejahatan yang paling jahat di dunia ini adalah merusak  unsur-unsur alam yang disebut Panca Maha Bhuta. Tuhan hadir di setiap  unsur alam, menyebabkan unsur alam berproses dan berfungsi memberikan  manfaat dalam menunjang kehidupan ciptaan Tuhan lainnya seperti manusia.  Proses setiap unsur alam itu berdasarkan hukum alam yang disebut Rta  ciptaan Tuhan. Misalnya air pasti mengalir menurun dan api pasti  berkobar ke atas. Air bertemu tanah pasti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.  Setiap flora dan fauna pasti memiliki fungsinya masing-masing. Berbagai  jenis tumbuhan misalnya ada yang mengandung karbohidrat, vitamin,  protein, krorofil dan berbagai zat berguna lainnya. Hal itu terjadi  karena ada kuasa Tuhan di dalam semua usur alam itu. Karena itu, manusia  wajib menjaga kehidupan unsur-unsur alam tersebuyt dengan kasih, bijak  dan cerdas sebagai wujud bakti pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan unsur alam jangan sampai melanggar eksistensi alam  di luar  hukum Rta yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Manusia dalam segala  tindak-tanduknya harus selalu berusaha menyejahterakan semua unsur alam.  Dengan sejahteranya semua unsur alam maka hal itulah sebagai dasar bagi  manusia untuk mengembangkan hidup sejahtera. Oleh karena itu,  Sarasamuscaya 135 menekankan agar melakukan upaya menyejahtrakan alam  (bhuta hita) terlebih dahulu. Karena alam yang sejahtera itu sebagai  dasar membangun hidup sejahtera bagi manusia. Kalau alam tidak sejahtera  jangan harap manusia bisa hidup sejahtera. Manusia membutuhkkan udara  yang tidak tercemar sebagai sumber oksigeen, air yang tidak tercemar dan  tumbuh-tumbuhan yang murni sebagai bahan makanan utama bagi manusia.  Alam selalu akan menjadi sumber kesejahteraan hidup manusia apabila  manusia selalu juga menjaga kesejahteraan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diberikan sabda, bayu dan idep melebihi hewan dan  tumbuh-tumbuhan. Kelebihan ini menyebabkan manusia disebut makhluk hidup  yang paling utama di bumi ini. Karena itu manusia seyogianya  menggunakan idep-nya mengendalikan bayu dan sabda-nya dalam dinamika  hidupnya. Idep itulah yang semestinya diekspresikan oleh manusia sebagai  bukti kelebihannya. Demikian pula hubungannya dengan Tuhan dan alam  badanya Tuhan, seyogianya menggunakan bayu dan sabda yang dikendalikan  oleh idep. Tanpa idep tentunya manusia sama saja dengan hewan, terutama  hubungannya dengan Tuhan dan alam. Kalau manusia hanya menggunakan bayu  dan sabda dalam mengolah alam akan seperti hewan hanya mementingkan  kenikmatan diri sendiri. Seperti kera makan buah yang sudah ranum tidak  pernah memikirkan bagaimana memelihara pohon buah itu agar senantiasa  menghasilkan buah sebaik mungkin. Tenaga yang dimiliki dan kemampuan  untuk bicara harus senantiasa digunakan dengan kendali idep. Idep itu  adalah kecerdasan yang meliputi kecerdasan spiritual, kecerdasan  intelektual dan kecerdasan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, alam dewasa ini semakin terpuruk, bencana alam bertubi-tubi  terjadi di seluruh dunia. Terjadi banjiir di mana-mana saat musim hujan  dan kekeringan saat musim kemarau. Konon menurut ahli kehutanan hal itu  terjadi karena lemahnya fungsi hutan. Hutan banyak digundul oleh ulah  manusia yang mengeksploitasi hutan demi keuntungan yang sempit. Salah  satu fungsi hutan adalah meresap air di musim hujan dan mengalirkan air  di musim kemarau. Fungsi hutan untuk meresap dan mengalirkan air inilah  yang menurun karena penebangan hutan yang sangat liar. Di samping hutan  yang sudah rusak juga polusi udara sudah makin parah, tumbuh-tumbuhan  bahan makanan dan obat-obatan makin tercemar. Kuantitas dan kualitas air  makin menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Emil Salim menyatakan sudah terjadi sepuluh jenis kerusakan di  kulit bumi ini yang dimulai dari puluhan tahun yang lalu. Ini terjadi,  menurut Emil Salim, karena bergesernya orientasi gaya hidup manusia dari  hidup berdasarkan kebutuhan, bergeser menjadi gaya hidup berdasarkan  dorongan hawa nafsu. Nafsu itu ibarat api makin dikasi minyak akan makin  berkobar. Nafsu makin dipenuhi akan makin bergejolak minta dipuaskan  terus. Orientasi hidup berdasarkan gejolak hawa nafsu inilah yang  mengeksploitasi alam berlebihan yang menyebabkan daya dukung alam makin  tak mampu mendukung pemenuhan keinginan umat manusia. Di samping itu  hidup berdasarkan dorongan hawa nafsu itu menyebabkan munculnya  kesenjangan ekonomi yang makin tajam antara si kaya dengan si miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan alam yang makin rusak ini salah penyebab utamanya karena  kecerdasan intelektual dan emosional terlalu hebat melampui kecerdasan  spiritual dalam mengelola alam. Kalau kita hubungkan dengan  Sarasamuscaya 139 yang dikutip di atas maka manusia masih setara dengan  hewan dalam memperlakukan alam. Bahkan mungkin lebih buruk karena  merusak alam dengan kecerdasan intelektual tanpa landasan kecerdasan  spiritual. Semoga kita semakin sadar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-6225898197793013717?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/6225898197793013717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=6225898197793013717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/6225898197793013717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/6225898197793013717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/05/bila-manusia-merusak-alam-tak-beda.html' title='Bila Manusia Merusak Alam Tak Beda dengan Hewan'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Y5CG0KQkahU/TeTQMz3LQmI/AAAAAAAACe8/yPfrh7FW76s/s72-c/Alam%2BBali.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-5430088713237935399</id><published>2011-05-31T04:15:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T04:18:54.160-07:00</updated><title type='text'>Tuhan Turun Ber AVATARA  Melindungi Ciptaan-Nya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-d2ethKhzh3s/TeTOjrzXCJI/AAAAAAAACe0/9YkD54GNXkc/s1600/Awatara%2BWisnu.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 188px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-d2ethKhzh3s/TeTOjrzXCJI/AAAAAAAACe0/9YkD54GNXkc/s320/Awatara%2BWisnu.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612838148059367570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Satvikesu puraanesu, mahaatmyam adhikam Hareh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raajasesu ca maahaatmyam adhikam Brahma no viduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadvadagnesca maahaatmyam taamasesu Sivasya ca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samkiirnesu Sarasvatyaah pitranaam ca nigayate. (Matsya Puraana.53.68-69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Menurut Purana yang dipuja untuk menjaga Guna Satvika adalah Deva Visnu. Untuk menjaga Guna Rajah adalah Deva Brahma dan untuk menjaga Guna Taamas pujalah Agni sebagai Deva Siva. Pujalah Devi Sarasvati untuk Pitra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Agama Hindu ada ajaran bahwa Tuhan Yang Mahaesa itu beravatara. Dalam Bhagawad Gita IV.7 dan 8 dinyatakan bahwa Tuhan akan turun menjelma ke bumi bila adharma menguasai dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Tuhan menjelma ke bumi pada setiap zaman (yuga) adalah untuk melindungi orang-orang baik (saadhuunaam) dan memusnahkan orang-orang jahat (duskrtaam). Dalam Sloka Bhagawad Gita ini tidak digunakan istilah Avatara tetapi ''Srjami aham'' artinya Tuhan menciptakan diri-Nya sendiri. Kata Avatara dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata ''ava'' artinya turun dan ''tara'' artinya menyeberangi. Dengan demikian Tuhan beravatara artinya Tuhan turun berada pada ciptaan-Nya. Seperti yang dinyatakan dalam Matsya Purana di atas bahwa Tuhan turun menjadi Tri Murti yaitu Brahma, Visnu dan Siva sebagai Guna Avatara. Tujuan Tuhan menjadi Guna Avatara adalah untuk menuntun umat manusia mengendalikan Tri Gunanya agar manusia tidak dibelenggu oleh Tri Guna. Bhagawad Gita XIV.5 mengingatkan bahwa Satvam, Rajah dan Tamah adalah Tri Guna yang muncul dari Prakerti dan dapat mengikat manusia di bumi ini. Karena itu Tri Guna itu harus dikendalikan agar tidak membelenggu sang diri di bumi ini. Kalau Tri Guna itu dikendalikan maka dapat menjadi media untuk membantu meningkatkan kualitas rohani Sang Diri. Dalam Lontar Tattwa Jnyana dinyatakan bahwa kalau Citta dikuasi oleh Guna Sattwam dan Rajah maka Guna Sattwam mendorong orang berniat baik dan Guna Rajah mendorong orang berbuat baik, pahalanya sorga. Untuk mencapai hal itu kendalikan Tri Guna dengan memuja Tuhan sebagai Guna Avatara. Di samping Guna Avatara Tuhan juga turun sebagai Purusa Avatara, Manwantara Avatara, Yuga Avatara, Lila Avatara, Amsa Avatara dan Sakti Avesa Avatara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purusa Avatara adalah Tuhan turun sebagai jiwa agung dari Tri Loka ini. Purusa artinya jiwa. Purusa Avatara adalah Parama Siwa sebagai jiwa agung Swah Loka, Sadha Siwa sebagai jiwa agung Bhuwah Loka dan Siwa sebagai jiwa agung Bhur Loka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manwantara Avatara adalah Tuhan turun untuk menjadi Manu Avatara pada setiap Manwantara. Brahma Purana menyatakan bahwa satu hari Brahman selama 14 (empat belas) Manwantara. Setiap Manwantara lamanya 71 (tujuh puluh satu) Maha Yuga. Satu Maha Yuga lamanya empat zaman yaitu Kerta, Treta, Dwapara dan kali Yuga. Satu Maha Yuga lamanya 4.320.000 tahun manusia. Dewasa ini alam berada pada Manwantara ke tujuh dari empat belas Manwantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuga Awatara adalah Tuhan beravatara juga di setiap Yuga. Matsya Purana menyatakan zaman Kerta Yuga Tuhan menjelma sebagai Dewa Brahma, Treta Yuga sebagai Ravi, pada zaman Dwapara Yugasebagai Wisnu dan pada zaman kali sebagai Maheswara. Ada juga Ganesa Purana menyatakan bahwa Dewa Ganesa menjelma pada zaman Kerta sebagai Mahotkata Vinayaka, zaman Treta sebagai Sri Mayures, zaman Dwapara sebagai Sri Gajaanana dan jaman Kali sebagai Sri Dhumraketu. Dalam buku Anandadayi dinyatakan zaman Kerta Tuhan turun sebagai Narayana dan manusia tidak punya musuh karena ada dalam lindungan dharma sepenuhnya. Zaman Treta sebagai Sri Rama dan manusia sudah mulai ada musuh seperti Sri Rama musuhnya di Alengka. Zaman Dwapara sebagai Sri Krisna, musuh manusia sudah dalam keluarga, seperti Pandawa musuhnya Korawa sepupunya sendiri. Sedangkan Zaman Kali sebagai Sahasra nama atau ribuan nama. Musuh manusia Zaman Kali sudah masuk ke dalam lubuk hati setiap orang. Zaman Treta, Sri Rama menggunakan senjata Kodanda sebagai pemusnah manusia jahat. Zaman Dwapara, Sri Krisna menggunakan senjata Sudharsana Cakra memunahkan manusia jahat. Zaman tidak mungkin menggunakan kekerasan dengan pembunuhan menegakan dharma. Karena sebagain terbesar manusia kemasukan adharma dalam hati sanubarinya. Senjata yang pantas dipakai menurut Swami Satya Narayana adalah senjata kasih sayang (Prema Vahini ) yang disemaikan ke dalam lubuk hati sanubari setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lila Avatara artinya Tuhan turun menjelma tidak seperti manusia biasa. Manusia biasa menjelma untuk diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Kalau Avatara menjelma untuk melindungi dharma dan orang-orang baik. Kalaupun dia kena hukum-hukum alam seperti bisa sakit sedih, bisa tua dan juga bisa meninggal itu sebagai Lila atau bercanda saja bagi Avatara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amsa Avatara artinya Tuhan menjelma tidak penuh seperti Purna Avatara. Adanya orang-orang istimewa baik kecerdasannya maupun kesuciannya sampai memiliki kharisma yang luar biasa dan menjadi contoh dan idola dunia. Lahirnya para pemimpin yang hebat dan sukses dalam berbagai bidang kehidupan sebagai Amsa Awatara. Ada Resi atau pandita ada juga para ilmuwan penemu berbagai bidang keilmuan yang amat berguna bagi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakti Avesa Avatara adalah adanya berbagai kekuatan yang lebih dari biasanya pada berbagai ciptaan Tuhan. Adanya tumbuh-tumbuhan tertentu yang memiliki keistimewaan seperti jadi bahan obat-obatan, ada kayu atau daun yang memiliki khasiat kesucian. Demikian juga ada hewan yang disebut hewan suci, ada juga batu-batu mulia dengan memiliki vibrasi yang luar biasa. Sakti Avesa Avatara sebagai penjelmaan Tuhan untuk tujuan khusus yang bersifat temporer. Seperti Dewa Wisnu juga pernah menjelma sebagai Nara Singa khusus menjelma untuk memusnahkan Hiranyakasipu Raja Raksasa yang mengaku dirinya Tuhan. Tidak ada Tuhan selain dirinya. Kecongkakan Raja Raksasa ini karena dapat anugrah Dewa Brahma. Akhirnya terbunuh juga oleh Nara Singa Avatara Dewa Wisnu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Tuhan akan senantiasa beravatara melindungi ciptaanya yang senantiasa berusaha dan memujanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-5430088713237935399?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/5430088713237935399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=5430088713237935399' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5430088713237935399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5430088713237935399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/05/tuhan-turun-ber-avatara-melindungi.html' title='Tuhan Turun Ber AVATARA  Melindungi Ciptaan-Nya'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-d2ethKhzh3s/TeTOjrzXCJI/AAAAAAAACe0/9YkD54GNXkc/s72-c/Awatara%2BWisnu.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-1730468831093312904</id><published>2011-04-27T18:33:00.000-07:00</published><updated>2011-04-27T18:34:29.456-07:00</updated><title type='text'>Mantra Saraswati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-eywprE8pbu0/TbjEGzW7pBI/AAAAAAAACes/4EDa0sKXGpw/s1600/Saraswati.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 154px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eywprE8pbu0/TbjEGzW7pBI/AAAAAAAACes/4EDa0sKXGpw/s320/Saraswati.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600441757779862546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mantra Saraswati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om, Brahma Putri Maha Dewi,&lt;br /&gt;Brahmanya Brahma wandini,&lt;br /&gt;Saraswati sayajanam, praja naya Saraswati.&lt;br /&gt;Om, Saraswati dipata ya namah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Saraswati namastubhyam&lt;br /&gt;Varade kama rupini&lt;br /&gt;Siddharambha karisyami&lt;br /&gt;Siddhir bhawantu me sada&lt;br /&gt;Stuti &amp;amp; Stava 839.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Hyang Widhi, Sakti-Mu selaku Maha Dewi dari Brahma,&lt;br /&gt;Pancaran Pradana dari Brahma.&lt;br /&gt;Saraswati, Dewi kemampuan berpikir, Saraswati tiada tara kebijaksanaanNya&lt;br /&gt;AUM, Dewi Saraswati hamba menyembah-Mu.&lt;br /&gt;Aum, Saraswati sebagai pemberi Anugrah, dalam bentuk yang didambakan&lt;br /&gt;Semogalah atas segala dharma yang hamba lakukan sukses selalu atas karunia-Mu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-1730468831093312904?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/1730468831093312904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=1730468831093312904' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1730468831093312904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1730468831093312904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/04/mantra-saraswati.html' title='Mantra Saraswati'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-eywprE8pbu0/TbjEGzW7pBI/AAAAAAAACes/4EDa0sKXGpw/s72-c/Saraswati.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-6282141082107439456</id><published>2011-04-27T18:28:00.001-07:00</published><updated>2011-04-27T18:29:27.999-07:00</updated><title type='text'>Hari Raya Saraswati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ZRx0zxWBFOU/TbjC4E5_joI/AAAAAAAACek/5FJEz20eenQ/s1600/Hari%2BRaya%2BSaraswati.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 190px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZRx0zxWBFOU/TbjC4E5_joI/AAAAAAAACek/5FJEz20eenQ/s320/Hari%2BRaya%2BSaraswati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600440405280657026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam waktu dekat ini, tepatnya Sabtu 23 April 2011 umat hindu akan merayakan Hari Raya Saraswati. Saraswati adalah nama Dewi yaitu Sakti Dewa Brahma (dalam konteks ini, sakti berarti istri). Dewi Saraswati diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsi-Nya sebagai dewi ilmu pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali disebutkan "Hyang Hyangning Pangewruh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di India umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat memegang: wina (alat musik), kropak (pustaka), ganitri (japa mala) dan bunga teratai. Dewi Saraswati dilukiskan berada di atas angsa dan di sebe-lahnya ada burung merak. Dewi Saraswati oleh umat di India dipuja dalam wujud Murti Puja. Umat Hindu di Indonesia memuja Dewi Saraswati dalam wujud hari raya atau rerahinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Umanis Watugunung. Besoknya, yaitu hari Minggu Paing wuku Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu hari yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Perayaan Saraswati berarti mengambil dua wuku yaitu wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan wuku Sinta (wuku yang pertama). Hal ini mengandung makna untuk mengingatkan kepada manusia untuk menopang hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Sang Hyang Saraswati. Karena itulah ilmu penge-tahuan pada akhirnya adalah untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Sabtu wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut Saraswati, dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. Upacara ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya pada hari Radite (Minggu) Paing wuku Sinta dilangsungkan upacara Banyu Pinaruh. Kata Banyu Pinaruh artinya air ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan yakni menghaturkan laban nasi pradnyam air kumkuman dan loloh (jamu) sad rasa (mengandung enam rasa). Pada puncak upacara, semua sarana upacara itu diminum dan dimakan. Upacara lalu ditutup dengan matirtha. Upacara ini penuh makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi dan Mitologi&lt;br /&gt;Upacara dan upakara dalam agama Hindu pada hakikatnya mengandung makna filosofis sebagai penjabaran dari ajaran agama Hindu. Secara etimologi, kata Saraswati berasal dari Bahasa Sansekerta yakni dari kata Saras yang berarti "sesuatu yang mengalir" atau "ucapan". Kata Wati artinya memiliki. Jadi kata Saraswati secara etimologis berarti sesuatu yang mengalir atau makna dari ucapan. Ilmu pengetahuan itu sifatnya mengalir terus-menerus tiada henti-hentinya ibarat sumur yang airnya tiada pernah habis mes-kipun tiap hari ditimba untuk memberikan hidup pada umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan, Saraswati juga berarti makna ucapan atau kata yang bermakna. Kata atau ucapan akan memberikan makna apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah yang akan menjadi dasar orang untuk menjadi manusia yang bijaksana. Kebijaksanaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan atau ananda. Kehidupan yang bahagia itulah yang akan mengantarkan atma kembali luluh dengan Brahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upacara atau hari raya Saraswati, bagi umat Hindu di Indonesia, upacara dihaturkan dalam tumpukan lontar-lontar atau buku-buku keagamaan dan sastra termasuk pula buku-buku ilmu pengetahuan lainnya. Bagi umat Hindu di Indonesia aksara yang merupakan lambang itulah sebagai stana Dewi Saraswati. Aksara dalam buku atau lontar adalah rangkaian huruf yang membangun ilmu pengetahuan aparawidya maupun parawidya. Aparawidya adalah ilmu pengetahuan tentang ciptaan Tuhan seperti Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Parawidya adalah ilmu pengetahuan tentang sang pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu di Indonesia - juga di Bali - tidak ada pelinggih khusus untuk memuja Saraswati yang di Bali diberi nama lengkap Ida Sang Hyang Aji Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar atau patung Dewi Saraswati yang dikenal di Indonesia berasal dari India. Dewi Saraswati ada digambarkan duduk dan ada pula versi yang berdiri di atas angsa dan bunga padma. Ada juga yang berdiri di atas bunga padma, sedangkan angsa dan burung meraknya ada di sebelah menyebelah dengan Dewi Saraswati. Tentang perbedaan versi tadi bukanlah masalah dan memang tidak perlu dipersoalkan. Yang terpenting dari penggambaran Dewi Saraswati itu adalah makna filosofi yang ada di dalam simbol gambar tadi. Dewi yang cantik dan berwibawa menggambarkan bahwa ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang amat menarik dan mengagumkan. Kecantikan Dewi Saraswati bukanlah kemolekan yang dapat merangsang munculnya nafsu birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan Dewi Saraswati adalah kecantikan yang penuh wibawa. Memang orang yang berilmu itu akan menimbulkan daya tarik yang luar biasa. Karena itu dalam Kakawin Niti Sastra ada disebutkan bahwa orang yang tanpa ilmu pengetahun, amat tidak menarik biarpun yang bersangkutan muda usia, sifatnya bagus dan keturunan bangsawan. Orang yang demikian ibarat bunga merah menyala tetapi tanpa bau harum sama sekali. Sedangkan cakepan atau daun lontar yang dibawa Dewi Saraswati merupakan lambang ilmu pengetahuan. Sedangkan genitri adalah lambang bahwa ilmu pengetahuan itu tiada habis-habisnya. Genitri juga lambang atau alat untuk melakukan japa. Ber-japa yaitu aktivitas spiritual untuk menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Ini pula berarti, menuntut ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ini berarti pula, ilmu pengetahuan yang mengajarkan menjauhi Tuhan adalah ilmu yang sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wina yaitu sejenis alat musik, yang di Bali disebut rebab. Suaranya amat merdu dan melankolis. Ini melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung keindahan atau estetika yang amat tinggi. Bunga padma adalah lambang Bhuana Agung stana Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti ilmu pengetahuan yang suci itu memiliki Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Teratai juga merupakan lambang kesucian sebagai hakikat ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angsa adalah jenis binatang unggas yang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu tidak suka berkelahi dan suka hidup harmonis. Angsa juga memiliki kemampuan memilih makanan. Meskipun makanan itu bercampur dengan air kotor tetapi yang masuk ke perutnya adalah hanya makanan yang baik saja, sedangkan air yang kotor keluar dengan sendirinya. Demikianlah, orang yang telah dapat menguasai ilmu pengetahuan, kebijaksanaan mereka memiliki kemampuan wiweka. Wiweka artinya suatu kemampuan untuk membeda-bedakan yang baik dengan yang jelek dan yang benar dengan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga Padma atau bunga teratai adalah bunga yang melambangkan alam semesta dengan delapan penjuru mata anginnya (asta dala) sebagai stana Tuhan. Burung merak adalah lambang kewibawaan. Orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang akan mendapatkan kewibawaan. Sehubungan dengan ini, Swami Sakuntala Jagatnatha dalam buku Introduction of Hinduisme menjelaskan bahwa ilmu yang dapat dimiliki oleh seseorang akan menyebabkan orang-orang itu menjadi egois atau sombong. Karena itu ilmu itu harus diserahkan pada Dewi Saraswati sehingga pemiliknya menjadi penuh wibawa karena egoisme atau kesombongan itu telah disingkirkan oleh kesucian dari Dewi Saraswati. Ilmu pengetahuan adalah untuk memberi pelayanan kepada manusia dan alam serta untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam upakara yang disebut Banten Saraswati salah satu unsurnya ada disebut jajan Saraswati. Jajan ini dibuat dari tepung beras berwarna putih dan berisi lukisan dua ekor binatang cecak. Mata cecak itu dibuat dari injin (beras hitam) dan di sebelahnya ada telur cecak. Dalam banten Saraswati itu mempunyai arti yang cukup dalam. Menurut para ahli Antropologi, bangsa-bangsa Austronesia memiliki kepercayaan bahwa binatang melata seperti cecak diyakini memiliki kekuatan dan kepekaan pada getaran-getaran spiritual. Jajan Saraswati yang berisi gambar cecak memberi pelajaran bahwa ilmu pengetahuan itu jangan hanya berfungsi mengembangkan kekuatan ratio atau pikiran saja, tetapi harus mampu mendorong manusia untuk memiliki kepekaan intuisi sehingga dapat menangkap getaran-getaran rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lontar Saraswati juga memakai daun beringin. Daun beringin adalah lambang kelanggengan atau keabadian serta pengayoman. Ini berarti ilmu pengetahuan itu bermaksud mengantarkan kepada kehidupan yang kekal abadi. Ilmu pengetahuan juga berarti pengayoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Dewi Saraswati ada cerita menarik yang terdapat dalam Utara Kanda bagian dari epos Ramayana. Dalam cerita tersebut dikisahkan Dewi Saraswati bersemayam secara gaib di lidah Kumbakarna sehingga dunia terhindar dari kekacauan. Alkisah Resi Waisrawa beristri Dewi Kaikaisi. Pasangan Resi ini berputra empat orang, tiga orang laki dan seorang perempuan. Putra sang resi yang pertama bernama Dasa Muka (Rahwana), kedua Kumbakarna, ketiga bernama Dewi Surpanaka dan yang terkecil bernama Gunawan Wibhisana. Sang Resi menugaskan putra laki-lakinya supaya bertapa di gunung Gokarna. Ketiga putra Resi Waisrawa itu kemudian membangun tempat pertapaan yang terpisah-pisah di gunung Gokarna. Bertahun-tahun mereka bertapa dengan teguh dan tekunnya. Karena ketekunannya itu, lalu Dewa Brahma berkenan memberikan anugrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama Dewa Brahma mendatangi Rahwana. Dewa Brahma menanyakan tentang apa yang diharapkan dalam tapanya ini. Rahwama mengajukan permohonan dapat kiranya Dewa Brahma menganugrahkan kekuasaan di seluruh dunia. Semua dewa, gandarwa, manusia dan seluruh makhluk di dunia ini tunduk padanya. Permohonan Rahwana ini dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Dewa Brahma menuju pertapaan Gunawan Wibhisana dan menyatakan pula akan memberikan anugrah atas tapanya. Gunawan Wibhisana menyampaikan permohonannya dapat kiranya Dewa Brahma memberikan anugrah berupa kesehatan dan ketenangan rohani, memiliki sifat-sifat utama dan taat melakukan pemujaan kepada Tuhan. Dewa Brahma mengabulkan permohonan Wibhisana. Begitu Dewa Brahma akan beranjak menuju pertapaan Kumbakarna para dewa berdatang sembah kepada Dewa Brahma. Para dewa memohon agar Dewa Brahma tidak menganugrahkan permohonan Kumbakarna. Pasalnya, Kumbakarna berbadan raksasa yang maha hebat. Kalau ia punya kesaktian, sungguh sangat membahayakan keselamatan manusia di dunia. Meskipun ada permohonan para dewa itu, Dewa Brahma bertekad memberikan anugrah. Sebab, jika tidak, Brahma merasa berlaku tidak adil kepada ketiga putra Resi Waisrawa. Apalagi Kumbakarna juga melakukan tapa yang tekun sehingga layak mendapat anugrah. Namun untuk memenuhi permohonan para dewa itu, Dewa Brahma punya akal. Istri atau saktinya yaitu Dewi Saraswati diutus supaya berstana di lidah Kumbakarna dan bertugas untuk membuat lidahnya salah ucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Dewa Brahma datang memberikan anugrah pada Kumbakarna. Kumbakarna memohon anugrah yakni agar selama hidupnya selalu senang. Karena itu ia semestinya mengucapkan "suka sada". Namun akibat Saraswati membelokkan lidah Kumbakarna, ucapan yang terlontar dari mulut raksasa tinggi besar itu adalah "supta sada" yang artinya selalu tidur. Suka artinya senang dan supta artinya tidur. Andaikata Kumbakarna mendapatkan anugrah hidup bersenang-senang, maka besar kemungkinannya ia selalu meng-humbar hawa nafsu. Raksasa yang menghumbar hawa nafsu tentu akan dapat mengacaukan kehidupan di dunia. Demikianlah peranan Dewi Saraswati, dengan kata-kata yang tersaring dalam lidah dapat menyelamatkan dunia dari kekacauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kesusastraan Weda, Saraswati adalah nama sungai yang disebut Dewa Nadi artinya sungainya para dewa. Sungai Saraswati terletak di selatan daerah Brahmawarta atau Kuruksetra. Di sebelah utara Kuruksetra ada sungai bernama sungai Dasdwati. Kedua sungai itu diyakini berasal dari Indraloka. Karena itulah disebut Dewa Nadi. Keterangan ini juga diuraikan dalam Manawa Dharmasastra II,17. Karena itulah sungai Saraswati amat dihormati dalam puja mantra agama Hindu seperti dalam mantra Sapta Tirtha atau Sapta Gangga uang menyebutkan tujuh sungai utama di India. Tujuh sungai itu yaitu sungai Gangga, Saraswati, Shindu, Wipasa, Kausiki, Yamuna dan Serayu. Dalam mantram Surya Sewana, Saraswati dipuja pula dalam Catur Resi yaitu Sarwa Dewa, Sapta Resi, Sapta Pitara dan Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Saraswati diyakini pula sebagai pemelihara kitab suci Weda. Hal ini diceritakan dalam Salya Parwa sebagai berikut. Di lembah sungai Saraswati, terdapat tujuh resi ahli Weda yaitu Resi Gautama, Bharadwaja, Wiswamitra, Yamadageni, Resi Wasistha, Kasiyapa dan Atri. Ketika musim kemarau datang, keadaan di lembah sungai Saraswati itu kering. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahan makanan pun menjadi sulit didapat. Karena keadaan alam yang gersang seperti itu, Sapta Resi itupun pindah ke tempat lain. Sedangkan putra Dewi Saraswati yang bernama Saraswata masih setia bertempat tinggal di lembah sungai Saraswati. Karena kesetiaannya tinggal di tempat itu, Saraswata mendapat perlindungan dari ibunya. Saraswata tetap mendapat bahan makanan dari lembah sungai itu. Para Resi yang meninggalkan lembah sungai Saraswati, lambat laun tidak tahan pada keadaan yang dialaminya. Karena di tempatnya yang baru, mereka sulit juga mengubah nasib. Lagi pula para resi tadi telah lupa pada isi Weda. Padahal, memahami Weda merupakan suatu kewajiban yang mutlak sebagai identitas seorang resi. Gelar resinya akan tanpa makna kalau sampai lupa pada isi Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu menyebabkan sang Sapta Resi kembali ke lembah sungai Saraswati. Di lembah sungai Saraswati itulah para resi mohon kesediaan Dewi Saraswati membangkitkan kesadarannya untuk kembali dapat memahami isi Weda yang merupakan tugas pokoknya. Dewi Saraswati memberi anugrah apabila para resi bersedia menjadi siswanya. Para resi bertanya, apakah patut orang yang lebih tua berguru pada yang muda karena Dewi Saraswati masih sangat muda. Terhadap pertanyaan ini, Dewi Saraswati menjelaskan, seorang guru kerohanian tidaklah tergantung pada umurnya, kekayaannya, kebangsawanannya. Seorang guru kerohanian patut dilihat dari kemampuannya menguasai dan menyampaikan isi Weda. Kedewasaan spiritual Wedalah yang menjadi patokan utama. Penjelasan itu yang menyebabkan semua resi tetap berguru pada Dewi Saraswati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, datang lagi enam puluh ribu orang menghadap Dewi Saraswati agar diterima sebagai murid karena ingin mendalami lautan rohani Weda. Lewat para resi dan siswa tadi, Dewi Saraswati mengidupkan dan menyebarkan isi Veda ke seluruh pelosok dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitologi Dewi Saraswati dijelaskan pula dalam kitab Aiterya Brahmana. Dikisahkan seorang pendeta bernama Resi Kawasa keturunan Sudra Wangsa. Pada suatu hari, sang resi memimpin suatu upacara yajña. Karena resi itu keturunan Sudra Wangsa, maka sang resi dilarang memimpin upacara oleh pendeta dari Wangsa Brahmana. Sang resi Kawasa diusir dan dibuang ke padang pasir dengan tujuan agar ia mati di tengah-tengah padang pasir yang gersang itu. Setelah ia berada di tengah-tengah padang pasir, Resi Kawasa tetap melakukan pemujaan kepada Tuhan. Karena khusuknya pemujaan, turunlah Dewi Saraswati dengan penuh kasih sayang. Resi Kawasa pun diajarkan Weda mantra lengkap dengan Stuti dan Stotranya. Karena ketekunannya, semua pelajaran dari Dewi Saraswati dapat dikuasainya dengan baik. Kesucian dan kemampuan Resi Kawasa akhirnya jauh meningkat dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Saraswati menganggap, kemampuan Resi Kawasa sudah luar biasa. Sang resi pun diizinkan kembali ke tempatnya oleh Dewi Saraswati. Setelah ia sampai di tempatnya semula, pendeta dari Wangsa Brahmana itu amat kagum atas keberhasilan Resi Kawasa. Resi Kawasa memang mampu menujukkan kemahirannya tentang Weda baik teori maupun praktek kehidupan sehari-hari berupa tingkah laku yang bersusila tinggi. Akibat keutamaannya itu, Resi Kawasa diakui semua umat dan semua resi sebagai brahmana pendeta sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kekuasaan Dewi Saraswati akan dapat memberikan peningkatan kesucian dan kehormatan kepada mereka yang memujanya dengan sungguh-sunguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Hari Raya Saraswati Tentang bunga padma yang di Bali disebut bunga tunjung dipegang oleh salah satu tangan patung atau gambar Dewi Saraswati adalah memiliki lambang-lambang tersendiri. Di dalam Kakawin Saraswati disebutkan, bunga padma putih yang sedang kembang merupakan lambang jantung di Bhuana Alit. Padma merah ada dalam hati, padma biru ada dalam empedu. Budi suci sebagai aliran sungai Sindhu selalu meyakini kesuburan bunga-bunga padma yang berwarna-warni itu. Kecakapan bagaikan aliran sungai Narmada. Kemurnian hatiku sebagai sungai Gangga. Dewi Saraswati berstana di lidah dan Dewi Irawati berstana di mata. Demikianlah tujuan pemujaan Dewi Saraswati. Kalau tujuan pemujaan Dewi Saraswati dapat tercapai maka terhindarlah kita dari godaan penyakit, kelakuan jahat dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perumpamaan itu adalah suatu metoda seni sastra agama untuk mendatang kehalusan budi. Agama mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan memudahkan hidup, sedangkan seni menghaluskan hidup. Karena itulah, memuja Tuhan Yang Maha Esa menurut pandangan Hindu juga menggunakan aspek seni. Pemujaan kepada Dewi Saraswati tiada lain adalah memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam aspeknya sebagai sumber ilmu pengetahuan suci Weda. Menggapai kesucian Weda hendaknya juga melalui seni budaya yang indah. Khususnya yang didasarkan oleh keindahan seni itulah yang akan dapat dijadikan dasar untuk mencapai kesucian Sang Hyang Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Saraswati merupakan manifestasi Hyang Widhi sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan, Kekuatan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya ini dilambangkan dengan seorang Dewi, Dewi membawa alat musik, Genitri,, Pustaka suci, Teratai, serta duduk di atas angsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dewi simbol, bahwa ilmu Pengetahuan itu indah, cantik, menarik, dan lemah lembut dan mulia&lt;br /&gt;2. Alat musik simbol, bahwa ilmu Pengetahuan itu seni budaya yang agung&lt;br /&gt;3. Genetri simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu tak terbatas dan kekal abadi&lt;br /&gt;4. Pustaka suci simbol, bahwa itu sumber ilmu pengetahuan yang suci&lt;br /&gt;5. Teretai simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan kesucian Hyang Widhi&lt;br /&gt;6. Anga adalah simbol kebijaksanaan, Angsa bisa membedakan antara yang baik dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-6282141082107439456?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/6282141082107439456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=6282141082107439456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/6282141082107439456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/6282141082107439456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/04/hari-raya-saraswati.html' title='Hari Raya Saraswati'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ZRx0zxWBFOU/TbjC4E5_joI/AAAAAAAACek/5FJEz20eenQ/s72-c/Hari%2BRaya%2BSaraswati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-8014775913642558975</id><published>2011-04-15T21:18:00.001-07:00</published><updated>2011-04-15T21:21:57.142-07:00</updated><title type='text'>Weda Wakya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-fo1EQFmevcA/TakZS0feV-I/AAAAAAAACec/hJlTgXS5tIU/s1600/Weda.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 174px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-fo1EQFmevcA/TakZS0feV-I/AAAAAAAACec/hJlTgXS5tIU/s320/Weda.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596031823103547362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ya atmada balada yasya visva&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;upasate prasisam yasya devah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yasya chaya-amrtam yasya mrtyuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kasmani devaya havisa vidhema.(Rgveda.X.121.2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Tuhan Yang Mahaesa memberikan kekuatan spiritual (rohani) dan fisikal (jasmaniah). Semua sinar sucinya yang disebut Deva berfungsi atas kehendak Tuhan. Kasih-Nya adalah keabadian, menjauhi kasihnya adalah kematian. Kami semuanya menghaturkan sembah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat beragama adalah sraddha dan bhakti kepada Tuhan. Mempercayai dan berbakti kepada Tuhan bukan berhenti pada percaya dan bhakti dengan sikap yang pasif. Tuhan itu menurut keyakinan Hindu adalah maha ada, mahaesa, maha kuasa, maha pengasih dan banyak sekali keagungan Tuhan yang tidak dapat dijangkau oleh kemampuan manusia yang serba terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai keagungan dan kemahakuasaan Tuhan itu dalam ajaran Hindu disebut Deva yang jumlahnya tak terhingga. Deva artinya sinar suci Tuhan yang senantiasa menuntun ciptaan-Nya semakin meningkat menuju ke arah yang benar, baik, suci dan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang hidup di dunia sekala ini mengalami proses dari lahir, hidup dan akhirnya kembali ke dunia niskala. Di dunia sekala manusia mengharapkan hidupnya bahagia yaitu aman damai dan sejahtera. Sedangkan di alam niskala diharapkan mencapai sorga, terus moksha sebagai tujuan tertinggi. Manusia hidup di dunia sekala ini diberikan jiwa dan raga atau purusa dan pradana oleh Tuhan. Untuk mencapai hidup bahagia itu manusia harus berusaha menyeimbangkan proses purusa dan pradananya secara terpadu. Tuhan juga menjadi Dewa dan Dewi untuk menuntun keseimbangan pertumbuhan rohani dan jasmani manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntunan dinamika rohani dan jasmani itu dinyatakan dalam Mantra Rgveda dalam kutipan di atas. Umat yang mampu mendayagunakan pemujaannya pada Tuhan dengan sungguh-sungguh akan berhasil mendapatkan kekuatan spiritual dari kasih Tuhan. Pemujaan Tuhan sebagai Dewa dan Dewi seyogianya dimaknai dengan membangun dinamika rohani yang tenang dinamis mengarahkan atau menjiwai kehidupan duniawi. Dengan demikan akan terjadi proses kehidupan fisik yang semakin sehat dan bugar. Kehidupan fisik yang sehat dan bugar itu sebagai modal dasar untuk membangun kehidupan yang aman damai (raksanam) dan sejahtra (dhanam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan sebagai objek Yang Maha Suci itu dipuja untuk mendapatkan daya spiritual untuk mendukung dinamika intelektual dan kepekaan emosional agar senantiasa berada pada jalan dharma. Demikianlah seyogianya pemujaan Tuhan dimaknai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memuja Tuhan hanya karena tradisi ikut-ikutan, pemujaan seperti itu lambat laun akan dirasakan sebagai beban yang memberatkan hidup. Apalagi bhakti atau pemujaan Tuhan itu disertai dengan ritual wajib tanpa dasar sastra agama Hindu yang jelas akan banyak menimbulkan berbagai persoalan. Hal itu umumnya dibuat oleh sementara pihak yang kebetulan punya pengaruh dan wewenang tradisional atau pengaruh politik dan ekonomi dalam masyarakat serta tidak dibekali pengetahuan sastra agama yang memadai. Hal inilah banyak menimbulkan berbagai kesenjangan kehidupan beragama Hindu. Kesenjangan antara konsep agama dalam sastra suci dengan pelaksanaanya masih banyak yang berlawanan. Seperti upacara dan upakara yadnya. Kata ''upacara'' dalam bahasa Sansekerta artinya mendekat. Kata ''upakara'' dalam bahasa Sansekerta artinya melayani dan kata ''yadnya'' artinya ikhlas berkorban demi tujuan suci. Ini artinya dengan upacara upakara yadnya kita merasa semakin mendekatkan diri pada Tuhan dalam wujud bhakti, mendekatkan diri pada sesama dalam wujud pengabdian atau punia dan mendekatkan diri pada alam lingkungan (sarwa prani) dengan wujud kasih. Karena itu makna ''banten'' menurut Lontar Yadnya Prakerti: ''Sehananing bebanten pinaka ragan ta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka Anda Bhuwana''. Artinya, semua banten artinya lambang diri manusia itu sendiri, lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang alam (bhuwana). Ini artinya banten sebagai simbol sakral dalam agama Hindu seharusnya dimaknai untuk mendekatkan diri pada Tuhan dalam wujud bhakti, pada sesama manusia dalam wujud punia atau pengabdian yang tulus dan mendekatkan diri pada ''sarwa prani'' dalam wujud asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamalan beragama dalam wujud bhakti pada Tuhan harus dapat dibuktikan dengan semakin lestarinya alam lingkungan. Lingkungan yang lestari itu dalam Sarasamuscaya 135 dinyatakan dengan istilah bhuta hita. Agar alam itu lestari lakukanlah bhuta yadnya. Konsep bhuta yadnya dalam Lontar Agastia Parwa sebagai berikut: ''Bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh.'' Artinya, bhuta yadnya adalah mengembalikan kelestarian alam itu dengan menyayangi tumbuh-tumbuhan. Konsep bhuta yadnya ini sudah diimplementasikan dalam berbagai kegiatan beragama Hindu dalam wujud ritual sakral yang bersifat niskala. Namun wujud sekala-nya masih belum banyak dilakukan. Karena itu pada musim hujan terjadi kebanjiran dan pada musim kemarau kekeringan. Ini artinya hutan kurang berfungsi sebaimana mestinya. Semestinya upacara bhuta yadnya itu diwujudkan secara niskala dan sekala. Wujud niskala-nya dengan ritual sakral untuk menguatkan daya spiritual. Sedangkan wujud sekala-nya dengan mendayagunakan daya spiritual untuk diaktualkan dalam langkah nyata yang kontektual menjaga kelestarian tanaman hutan dan tumbuh-tumbuhan lainya sehingga kehidupan manusia menjadi serasi dengan alam yang bersih dan hijau. Tetapi nyatanya upacara Bhuta Yadnya amat semarak di lain pihak pegerusakan hutan juga semarak. Usaha-usaha penghijauan di berbagai tempat memang ada dilakukan tetapi belum banyak dilakukan dalam rangka pengamalan agama atau Bhuta Yadnya. Artinya semaraknya Bhuta Yadnya belum seimbang dengan upaya melestarikan lingkungan dengan diawali dengan meningkatkan kwantitas dan kwalitas tananman hutan dan tumbuh-tumbuhan lainya sebagai wujud bhakti pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-8014775913642558975?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/8014775913642558975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=8014775913642558975' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8014775913642558975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8014775913642558975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/04/weda-wakya.html' title='Weda Wakya'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-fo1EQFmevcA/TakZS0feV-I/AAAAAAAACec/hJlTgXS5tIU/s72-c/Weda.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-3364552172645507262</id><published>2011-04-02T21:49:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T21:51:04.333-07:00</updated><title type='text'>Menyuap - Berjudi -  Menipu Wajib Dihukum</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-owB3qrzyuhA/TZf8pj4dhXI/AAAAAAAACeU/oTtaIGhWL2M/s1600/Judi%2BSabung%2BAyam.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 237px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-owB3qrzyuhA/TZf8pj4dhXI/AAAAAAAACeU/oTtaIGhWL2M/s320/Judi%2BSabung%2BAyam.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591215253340652914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Utkocakaascanpadhikaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wancakah kitawastatha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manggalaadesa wrttasca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bhadraasceksanikaih saha. (Manawa Dharmasastra,IX,258)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah sebagai kejahatan mereka yang menerima suap, menipu, penjudi, mengajarkan upacara suci dengan munafik dan berpura-pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat yang bertentangan dengan dharma seperti menerima suap, menipu, berjudi apalagi mengajarkan upacara suci dengan munafik dan berpura-pura seperti dinyatakan dalam kutipan di atas tergolong kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Manawa Dharmasastra IX.263 kejahatan itu amat sulit dikendalikan kecuali dikenakan hukuman yang keras tetapi tetap adil. Perilaku yang dinyatakan sebagai kejahatan yang sulit dikendalikan itu termasuk mengajarkan upacara suci tetapi munafik dan berpura-pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku yang demikian adalah suatu kejahatan. Perbuatan yang bertentangan dengan dharma itu umumnya menurut anggapan umum sepertinya bukan suatu kejahatan. Penjual barang yang palsu, memberikan uang oknum birokrat saat rakyat berurusan, berjudi dan lainnya itu banyak pihak yang merasakan tidak suatu tindakan kejahatan. Yang paling dirasakan bukan sebagai kejahatan adalah mengajarkan upacara agama yang suci itu dengan cara munafik dan berpura-pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melangsungkan upacara yadnya memang wajib dicermati dengan seksama, karena itu tergolong persembahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Manawa Dharmasastra III.97 ada dinyatakan bahwa persembahan yang dilakukan oleh orang yang tidak paham akan peraturannya adalah sia-sia. Ini artinya kalau ada umat yg tidak tahu akan suatu arti dan makna suatu persembahan dapat dituntun oleh mereka yang tahu dengan baik. Kalau menuntun umat melangsungkan upacara yadnya dengan baik dan benar tentunya akan memberikan pahala mulia. Dalam hal inilah kalau penuntun itu munafik pura-pura paham tentang persembahan yang baik, tetapi sesungguhnya mereka tidak paham. Perilaku inilah sebagai kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini semakin banyak umat Hindu di Bali mengeluhkan besarnya biaya upacara yadnya. Mereka sulit sekali menghindar karena mereka tidak paham mengapa biayanya begitu besar. Tentunya dalam hal ini tidak mudah membuktikan adanya kemunafikan dan prilaku berpura-pura itu secara sekala. Kalau ada kemunafikan dan keberpura-puraan yang sulit dibuktikan secara sekala, tetapi akan berakibat pada upacara tersebut secara niskala. Upacara persembahan itu akan sia-sia tak memberi manfaat spiritual bahkan dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra III.97 itu tidak ada bedanya dengan abu belaka. Untuk menanggapi keluhan sementara pihak tentang besarnya biaya upacara yadnya, perlu direnungkan kembali prioritas beragama yang dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra I.86 yang menyatakan prirotas beragama zaman Kali ini adalah dana punia bukan upacara yadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi upacara yadnya yang boros waktu, tenaga, dana maupun boros flora fauna sebagai bahan upakaranya. Kalau dana punia itu diarahkan pada pendidikan membangun suputra amatlah mulia. Karena Slokantara 2 menyatakan mendidik seorang suputra jauh lebih mulia dari seratus kali upacara yadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan beragama Hindu dalam tradisi Bali bejudi saat ada upacara yadnya seperti sudah demikian mentradisi. Padahal menurut berbagai ketentuan susastra Hindu berjudi itu amat dilarang bahkan dinyatakan sebagai suatu kejahatan Apa latar belakang pada zaman dahulu setiap ada upacara yadnya umumnya ada judian. Apa mungkin berjudi saat upacara yadnya di areal jaba tengah Pura sebagai suatu metode untuk menuntun umat agar meninggalkan kebiasaan berjudi itu hilang atas panggilan nuraninya sendiri. Dengan adanya bandingan kegiatan rohani di Pura dan judi di jaba tengah atau jaba sisi. Dengan demikian umat dengan suka rela meninggalkan judi setelah terpanggil oleh kegiatan rohani di jeroan Pura. Tetapi kenyataan dewasa ini sudah tidak sesuai, karena nyatanya berjudi itu terus dilangsungkan dan tidak begitu surut. Untuk tidak mengotori kegiatan upacara yadnya di Pura sebaiknya judi dalam segala bentuknya ditiadakan. Demikian juga kebiasaan menipu sepertinya saat berkembangnya industrialisasi dalam berbagai aspek kehidupan mereka yang memiliki niat nipu sepertinya mendapat peluang empuk. Mereka menipu dengan menggunakan perkembangan industrialisasi .Ada yang menipu masyarakat dengan menjual makanan yang diisi zat kimia berbahaya. Hal itu dilakukan demi keuntungan yang berlipat lipat. Ada juga yang menipu dengan mempermainkan timbangan suatu barang dagangan demi keuntungan. Penipuan juga dilakukan dengan menipu kemasan barang dagangan. Barang dagangan dengan kemasan yang antara label luar dan isi dalamnya tidak sesuai. Inipun menipu pembeli demi keuntungan pribadi. Ada sayuran yang kelihatannya hijau mulus karena disemprot pembasmi hama berisi lem prekat. Dengan lem itu pembasmi hama itu akan tetap lengket di sayur meskipun sudah dicuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sementara oknum birokrat akan berkerja cepat kalau sudah menerima suap. Oknum yang bertugas dalam suatu birokrasi sudah mendapat gaji sebagaimana mestinya. Kalaupun ada suatu biaya yang harus dipungut dari masyarakat yang berurusan itupun sudah ada ketentuan oleh institusi birokrasi bersangkutan.Tugas oknum yang berada di birokrasi tersebut adalah melayani masyarakat yang berurusan dengan birokrasi di institusi bersangkutan. Tidak banyak oknum yang bertugas di birokrasi itu yang memiliki komitmen sebagai pelayan masyarakat. Yang sering terjadi adalah masih banyak oknum birokrat yang mau bekerja kalau sudah diberi suap oleh masyarakat yang berurusan. Secara ekonomi masyarakat mendapat beban ekonomi dan juga ada beban psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak punya koneksi pribadi di jajaran birokrasi mereka sulit mendapat pelayanan prima kalau tidak mau memberi suap pada oknum birokrat. Dengan tradisi suap baru mendapat pelayanan, hal ini menimbulkan beban ekonomi dan beban psikologis. Sebagai contoh dalam proses mensertifikatkan tanah warisan benar-benar amat sulit dalam pratiknya. Penerima suap seperti inilah yang harus dihukum berat oleh negara.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-3364552172645507262?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/3364552172645507262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=3364552172645507262' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/3364552172645507262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/3364552172645507262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/04/menyuap-berjudi-menipu-wajib-dihukum.html' title='Menyuap - Berjudi -  Menipu Wajib Dihukum'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-owB3qrzyuhA/TZf8pj4dhXI/AAAAAAAACeU/oTtaIGhWL2M/s72-c/Judi%2BSabung%2BAyam.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-5274659859053341419</id><published>2011-03-19T19:49:00.000-07:00</published><updated>2011-03-19T19:59:52.593-07:00</updated><title type='text'>Membalas Budi Orang Tua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Ihf8ku4tFzI/TYVthzRbnfI/AAAAAAAACeM/e5xvPM-cNIY/s1600/Nenek%2BBali.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 231px; height: 181px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ihf8ku4tFzI/TYVthzRbnfI/AAAAAAAACeM/e5xvPM-cNIY/s320/Nenek%2BBali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5585991340289400306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Peranan orangtua tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita di dunia ini. Tanpa keterlibatan orangtua entah apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Di usia dewasa kita menyadari betapa banyak hal yang telah dilakukan oleh para orangtua kepada anak-anaknya. Semuanya dilakukan dengan penuh perhatian, penuh kasih sayang dan penuh pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala pengorbanan, perhatian, dan kasih sayang orangtua tidak pernah bisa dihitung. Secara materi kita bisa menghitung berapa banyak biaya yang telah kita habiskan dalam kehidupan ini, sejak kecil hingga dewasa, sejak masih di dalam kandungan hingga bisa mandiri sebagai orang yang berpenghasilan secara ekonomi. Dengan pendapatan yang kita peroleh, jumlahnya mungkin bisa terpenuhi namun masih banyak kondisi dan situasi yang tidak bisa dihitung secara nominal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu kesempatan, seperti yang tercatat dalam Anggutara Nikaya, Buddha menyampaikan bahwa ada dua orang yang tidak pernah bisa dibalas budinya di dunia ini. Kedua orang tersebut adalah ayah dan ibu kita masing-masing--kedua orangtua kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan tersebut Buddha berpesan: ''Walaupun seseorang memanggul ibunya di satu bahu dan ayahnya di bahu lainnya, dan saat melakukannya ia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan jika ia melayani dengan mengusapi mereka dengan minyak balsam, memijit, memandikan, dan menguruti kaki dan tangan mereka, dan seandainya mereka membuang air besar di situ sekali pun, belumlah cukup yang dilakukannya terhadap orangtuanya dan belum membalas budi mereka. Kedati pun seseorang menempatkan orangtuanya sebagai raja dan penguasa agung atas bumi yang begitu kaya dengan ketujuh hartanya, belumlah cukup yang dilakukannya dan ia belum membalas bumi mereka. Mengapa? Orangtua sungguh berjasa terhadap anak-anaknya; mereka membesarkannya, memberi makan dan menunjukkan dunia kepadanya.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara untuk membalas budi atas kebajikan dan kebaikan yang telah dilakukan oleh orangtua kita? Sang Buddha juga memberikan tips yang sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan. ''Seseorang yang mendorong orangtuanya yang tidak percaya, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam keyakinan; seseorang yang mendorong orangtuanya yang tidak bermoral, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam disiplin moral; seseorang yang mendorong orangtuanya yang kikir, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kedermawanan; seseorang yang mendorong orangtuanya yang gelap batin, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kebijaksanaan--orang seperti ini, para bhikkhu, telah melakukan cukup untuk orangtuanya. Ia membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi mereka atas apa yang telah mereka lakukan.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang telah ditunjukkan oleh Buddha Gotama sebenarnya cara yang mudah dan ringan untuk bisa membalas budi orang tua. Anda mungkin tidak bisa melakukan sendiri. Kadang-kadang ada orangtua yang tidak bisa diberikan nasihat atau saran oleh anak-anaknya. Orangtua tetap menganggap anaknya --walaupun sang anak sudah dewasa--sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Ada orangtua yang tidak mau digurui oleh anaknya, merasa anaknya lebih sombong dan memerintah orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara bijak bagi anak-anak adalah mengajak orangtuanya untuk datang ke vihara. Luangkan waktu seminggu sekali untuk menjemput orangtua (bila tidak tinggal serumah) dan mengajaknya pergi ke vihara. Ajak mereka untuk bersama-sama membaca paritta dan artinya. Bukan kita yang mengajari orangtua namun dengan membaca dan mendengarkan sendiri ajaran yang ada dalam partta suci maupun ceramah Dhamma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajak orangtua kita untuk melakukan kebaikan dalam hidup ini dengan menjalankan sila--latihan kemoralan. Dalam kebaktian yang dihadiri bhikkhu, akan berlangsung tuntunan pancasila. Kita juga mengajaknya berbuat baik dengan berdana atau melakukan kebajikan lainnya setiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada kesempatan, arahkan orangtua untuk melatih diri dengan mengikuti latihan meditasi secara intensif. Latihan meditasi akan memberikan manfaat bagi kebahagiaan di hari tua. Pikirannya menjadi tambah tenang, tidak gelisah dan kuatir dalam menghadapi usia tua dengan segala permasalahan yang mungkin muncul. Badannya akan bertambah sehat karena pengaruh pikiran yang tenang. Mereka akan bisa menghadapi hidup lebih tenang dan bahagia di usia senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dilakukan hanyalah sebuah langkah kecil dalam kehidupan ini. Memberikan perhatian kepada orangtua kita dengan mengajak mereka ke vihara dan bersama-sama berbuat baik. Kita memberikan yang terbaik dalam hidupnya dan sekaligus berbuat baik untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada salahnya anda mencoba ketika orangtua kita masih bersama dengan mereka. Lakukan langkah kecil ini. Mudah-mudahan Anda belum terlambat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-5274659859053341419?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/5274659859053341419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=5274659859053341419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5274659859053341419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5274659859053341419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/03/membalas-budi-orang-tua.html' title='Membalas Budi Orang Tua'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ihf8ku4tFzI/TYVthzRbnfI/AAAAAAAACeM/e5xvPM-cNIY/s72-c/Nenek%2BBali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-1270973923063800059</id><published>2011-03-03T17:07:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T17:11:58.041-08:00</updated><title type='text'>Mengajarkan Anak Puasa Saat Nyepi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-SyuHi5d_UQU/TXA8TwJjWQI/AAAAAAAACeE/b8Hh63G1oJ4/s1600/Mengajarkan%2BAnak%2BPuasa%2BSaat%2BNyepi.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 257px; height: 196px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-SyuHi5d_UQU/TXA8TwJjWQI/AAAAAAAACeE/b8Hh63G1oJ4/s320/Mengajarkan%2BAnak%2BPuasa%2BSaat%2BNyepi.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580026248352192770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PERAYAAN hari suci Nyepi pada hakikatnya pengendalian diri yang terjabar dalam Catur Brata Panyepian yakni amati gni, amati lelungaan, amati lelanguan dan amati karya -- tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bersenang-senang dan tidak bekerja. Apalagi ada kecenderungan dalam menyikapi hari raya termasuk Nyepi seringkali dijadikan ajang untuk ekspresi yang justru bertentangan dengan ajaran agama. Misalnya, perilaku bersenang-senang, berjudi dan mabuk-mabukan. Dalam kaitan itu adakah hal-hal khusus harus diperankan perempuan untuk ''mengamankan'' pelaksanaan Nyepi secara ritual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat agama Hindu yang juga dosen STAHN Denpasar Made Budiasih menilai berhasil tidaknya perayaan Catur Brata Panyepian secara ideal juga tidak terlepas dari peran serta para ibu-ibu rumah tangga umat Hindu. Namun, sebetulnya yang paling menentukan adalah pribadi masing-masing. Nyepi sebagaimana hakikatnya, adalah pengendalian diri pengendalian hawa nafsu. Untuk bisa mengendalikan diri perlu latihan dan usaha yang jelas, misalnya dengan meditasi atau kegiatan yang berhubungan dengan spritual. Artinya, anak-anak kecil yang belum siap menjalankan Catur Brata Panyepian secara sempurna tidak mesti dipaksakan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicontohkan tindakan yang mengarah kepada disiplin anak adalah puasa. Tetapi paling tidak pada saat Nyepi orangtua bisa menjabarkan hal itu lewat wejangan-wejangan yakni dengan cara memberikan saran kepada anak-anak supaya tidak asyik bermain-main, pergi keluar rumah dan membuat kegaduhan. Tindakan itu, merupakan upaya para wanita untuk memperkenalkan dan memahami hakikat Nyepi kepada anak-anak. Dari situ diharapkan ke depan seiring dengan peningkatan usia, pemahaman anak-anak tentang makna hari suci agama makin meningkat pula. Dengan makin memahami hakikat Nyepi diharapkan anak-anak akan melakukan ajaran agama itu dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Budiasih, mempersiapkan menu masakan bagi anak-anak yang belum mampu melakukan puasa masih bisa. Namun, alangkah idealnya jika dalam keluarga semuanya siap berpuasa. Tentu, para ibu rumah tangga tidak mesti sibuk-sibuk membuat masakan, kecuali untuk kepentingan berbuka puasa sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, sesuai dengan hakikat Nyepi, umat diharapkan bisa memaknainya, sehingga secara perlahan ada perubahan dalam diri masing-masing, terutama dalam pengendalian diri sendiri dan ikut mengendalikan keluarga, agar tidak ribut di hari H-nya. ''Tidak saja saat Nyepi tetapi berkelanjutan. Oleh karena itu, ritual Nyepi mesti dijadikan tonggak untuk merefleksi, introspeksi dan mawas diri agar ke depan bisa lebih berkualitas,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen STAHN Denpasar Ni Putu Winanti mengatakan, menentukan terlaksana tidaknya Catur Brata Panyepian secara ideal. Namun dalam memberikan pemahaman tentang hakikat Nyepi kepada penerus umat Hindu (anak-anak), menurut Winanti, perlu waktu dan proses. Ibu-ibu tidak bisa memaksakan demikian rupa kepada anak-anak untuk melakukan puasa saat Nyepi. Tetapi, paling tidak ibu-ibu telah berupaya secara bertahap untuk memberikan pemahaman hakikat Nyepi kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Winanti, agar umat dapat melakukan catur brata secara baik, idealnya harus dimulai sejak dini. Artinya, anak-anak sejak kecil sudah mulai diperkenalkan nilai-nilai yang terkandung dalam perayaan hari raya tersebut. Begitu pula lembaga tertinggi agama Hindu sebetulnya sangat berperan dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parisada mestinya bisa turun ke desa-desa untuk memberikan dharma wacana mengenai pemaknaan hari raya Nyepi, minimal menjelang parayaan hari suci tersebut. Pemberi dharma wacana ini jangan hanya pada istansi formal saja, tetapi langsung menyentuh kepentingan umat yang berada di tingkat bawah masuk ke desa-desa. Dengan demikian, masyarakat memiliki bekal dan dasar dalam menyikapi hari raya Tahun Baru Saka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, kunci keberhasilan dalam melaksanakan Catur Brata Panyepian sepenuhnya berada di tangan pribadi masing-masing. Oleh karena itu, dari diri sendirilah memulai sehingga diikuti oleh keluarga, anak-anak dan pada akhirnya akan ditiru oleh tetangga di lingkungan masing-masing. ''Orangtua -- bapak dan ibu -- mesti bisa memberi contoh kepada anak-anaknya. Orangtualah yang memulai dan memberi contoh baik,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal wanita menyiapkan menu masakan buat keluarga saat Nyepi, katanya, sebetulnya disesuaikan dengan keperluan anggota keluarga yang tidak mampu melakukan puasa. Tetapi sebetulnya menu masakan itu sudah disederhanakan dari nasi kukus dengan lauk-pauk yang beragam ke hal yang sangat sederhana seperti ketupat dengan lauknya yang hanya kacang-saurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, toh menu yang dibuat itu untuk anggota keluarga yang tidak mampu berpuasa. Jadi, sebetulnya dalam agama tidak ada pemaksaan harus ini, harus itu. Semuanya berdasarkan kemampuan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-1270973923063800059?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/1270973923063800059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=1270973923063800059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1270973923063800059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1270973923063800059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/03/mengajarkan-anak-puasa-saat-nyepi.html' title='Mengajarkan Anak Puasa Saat Nyepi'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-SyuHi5d_UQU/TXA8TwJjWQI/AAAAAAAACeE/b8Hh63G1oJ4/s72-c/Mengajarkan%2BAnak%2BPuasa%2BSaat%2BNyepi.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-402988233586557315</id><published>2011-03-03T17:03:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T17:05:35.058-08:00</updated><title type='text'>Melalui Melasti Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-iU9uAmOQlBo/TXA6xdt079I/AAAAAAAACd8/rkPRDBQqfLc/s1600/Melasti.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 259px; height: 194px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-iU9uAmOQlBo/TXA6xdt079I/AAAAAAAACd8/rkPRDBQqfLc/s320/Melasti.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580024559776886738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana. (Lontar Sang Hyang Aji Swamandala)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Melasti meningkatkan sradha dan bhakti kepada para Dewa (sinar suci Tuhan Yang Mahaesa) untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa dan kerusakan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENURUT petikan Lontar Sang Hyang Aji Swamandala, prosesi upacara melasti dalam kemasan budaya lokal tradisi Hindu di Bali itu mengandung nilai yang amat universal. Dalam lontar tersebut melasti memotivasi umat Hindu agar meningkatkan sraddha dan bhaktinya kepada Tuhan untuk menguatkan daya spiritual agar dengan cerdas dan penuh rasa kasih sayang meningkatkan kepeduliannya pada nasib sesama atau ''anganyut laraning jagat'' (sosial care). Untuk membangun kepedulian sosial itu terlebih dahulu hilangkan kekotoran batin dalam diri yang disebut papa klesa dalam diri. Papa klesa artinya kekotoran diri yang dapat membawa manusia menderita lahir batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Taiteria Upanisad, klesa atau kekotoran batin itu ada lima yaitu Avidya, Asmita, Raga, Dwesa dan Abhiniwesa. Lima klesa itu adalah kegelapan, egoisme, pengumbaran nafsu, kebencian dan rasa takut. Lima kekotoran batin inilah yang diingatkan dalam upacara melasti untuk dihanyutkan dengan daya spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya spiritual itu dibangkitkan melalui prosesi melasti. Dengan hanyutnya lima kekotoran itu eksistensi Catur Citta akan muncul. Catur Citta itu menurut Wrehaspati Tattwa ada empat yaitu Dharma, Jnyana, Wairagia dan Aiswarya. Catur Citta itulah yang akan menjadi kekuatan spiritual untuk melakukan kepedullian sosial (anganyutaken laraning jagat) dan menjaga kelestarian lingkungan alam (anganyutaken letuhing bhuwana). Empat hal itulah yang diingatkan oleh upacara melasti agar senantiasa dilakukan oleh umat Hindu dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan demikian barulah dapat menikmati hidup sebagai tujuan utama melasti seperti dinyatakan dalam Lontar Sunarigama yaitu Amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara yang artinya mendapatkan sari-sari kehidupan di tengah samudra. Ini berarti setelah melakukan empat hal seperti dinyatakan dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala barulah kita secara benar atau sah memperoleh sari-sari kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samudra adalah simbul dari sumber sari kehidupan itu. Samudra dan gunung dalam tradisi Hindu di Bali disimbolkan sebagai lingga-yoni. Gunung sebagai lingga dan samudera atau segara adalah yoni-nya. Air Samudera menguap ke langit menjadi mendung. Mendung terkena terik sinar matahari. Mendung jatuh ke bumi menjadi hujan. Hujan ditampung oleh gunung dengan hutannya yang lebat. Hutan yang lebat itu akan menjadi sumber mata air. Air inilah sumber kehidupan semau makhluk hidup. Tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia tidak bisa hidup tanpa air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi melasti dari mengusung secara ritual berbagai pratima sakral dari berbagai pura tempat pemujaan pada Tuhan di lingkungan desa sebagai proses berbhakti pada Tuhan (ngiring prawatek Dewata) untuk menumbuhkan daya spiritual. Salah satu dari empat hal yang wajib dibangun dalam diri dalam ritual melasti itu adalah tumbuhnya kesadaran untuk peduli pada nasib sesama yang disebut anganyutaken laraning jagat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan yang semakin senjang ini aktivitas beragama harus mampu meningkatkan kesadaran untuk peduli pada nasib sesama. Hal ini seharusnya dimulai dari kalangan atas seperti para pejabat, pengusaha kaya dan mereka yang memperoleh nasib baik dalam hidupnya di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat hendaknya merasa malu hidup dengan fasilitas mewah dengan menggunakan uang rakyat. Seperti mobil dinas yang mewah, rumah jabatan yang mewah, dana plesiran dengan alasan studi banding, ruang kerja yang mewah dan sebagainya. Demikian juga para pengusaha hendaknya jangan berkolusi dengan penguasa dan ngemplang pajak sumber pemasukan negara. Satu saja yang diprioritaskan dari empat tujuan melasti itu maka akan amat berarti bagi tiga tujuan melasti yang lainnya seperti pembersihan diri dari lima klesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melasti juga untuk memotivasi secara spiritual membangun kepedulian pada pemeliharaan alam agar tetap subur. Dengan demikian akan terwujud kehidupan yang aman dan kesejahtraan yang adil. Sayang, upacara melasti itu umumnya masih mentok di tataran ritual dan tidak dilanjutkan dengan langkah nyata sebagaimana diamanatkan dalam teks pustaka tentang petunjuk melasti. Dengan demikian berbagai pihak ada yang merasakan kegiatan ritual keagamaan sebagai kewajiban ritual yang memberikan kemeriahan sosial sesaat. Melasti seyogianya diawali dengan bhakti pada Tuhan dan dilanjutkan dalam wujud yang lebih nyata berupa peduli pada nasib sesama. Kepedulian pada nasib sesama itu dari tahun ke tahun semestinya terus meningkat baik dari sudut substansinya menolong sesama baik dalam wujud fisik material yang disebut sarwa dhana maupun dalam wujud nonfisik seperti memberikan pendidikan, bantuan kesehatan, peningkatan wawasan menghadapi hidup, bimbingan rohani yang disebut abhaya daana dalam Sarasamuscaya. Apa yang disebut anganyutaken laraning jagat itu menyangkut berbagai aspek kehidupan sosial sampai masyarakat benar-benar tidak ada yang hidup menderita atau lara. Kalau saja salah satu amanat melasti untuk membangun kepedulian sosial, terus menerus dilaksanakan maka tidaklah akan ada 24.600 orang anak terlantar di Bali seperti diberitakan media lokal di Bali. Karena itu ke depan marilah apa yang diajarkan dalam pustaka tentang melasti tahap demi tahap kita jalankan dengan cara-cara yang cerdas, maka kehidupan di Bali akan semakin aman dan sejahtra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut tentang perbersihan diri dari Panca Klesa sebagai hal yang diamanat oleh ritual melasti kita benar-benar aplikasikan maka berbagai persoalan individual juga akan teratasi dimana umat akan semakin elegan menghadapi hiruk pikuknya kehidupan ini. Fisik dan mental umatpun akan semakin memiliki kualitas moral yang semakin luhur dan mental yang semakin tangguh.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-402988233586557315?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/402988233586557315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=402988233586557315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/402988233586557315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/402988233586557315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/03/melalui-melasti-kita-tingkatkan.html' title='Melalui Melasti Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-iU9uAmOQlBo/TXA6xdt079I/AAAAAAAACd8/rkPRDBQqfLc/s72-c/Melasti.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-5532932745199556575</id><published>2011-03-03T16:59:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T17:01:52.864-08:00</updated><title type='text'>Pemujaan Tri Murti untuk Kendalikan Tri Guna</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-70YzkSR0EVI/TXA56GyAfuI/AAAAAAAACd0/pY4A0uD_K5g/s1600/Tri%2BMurti.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 193px; height: 261px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-70YzkSR0EVI/TXA56GyAfuI/AAAAAAAACd0/pY4A0uD_K5g/s320/Tri%2BMurti.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580023608727600866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Barhma sreg jayate lokam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisnawe plaka stitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudra twe sangharas cewam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri Murti nama ewaca. (Bhuwana Kosa III. 76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lwir Bhatara Siwa Magawe jagat. Brahma rupa siran panrsti jagat, Wisnu rupa siran pangraksa jagat, Rudra rupa sira mralayaken rat, naham taawakta nira tiga bheda nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Bhatara Siwa saat menciptakan alam disebut Bhatara Brahma, saat memelihara atau melindungi alam disebut Bhatara Wisnu dan disebut Bhatara Rudra saat melebur alam ini. Beliau sesungguhnya esa, hanya sebutan-Nya yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan itu esa. Orang-orang suci (vipra) memberikan sebutan dengan berbagai nama (Om ekam sat vipra bahuda vadanti). Hindu yang Siwaistik menyebut Tuhan Yang Maha Esa itu Parama Siwa, Hindu Waisnawa menyebut-Nya Maha Wisnu atau Narayana, sedangkan Hindu Waisnawa Bhagawata menyebut Tuhan itu Sri Krisna. Hindu yang Siwaistik dalam menjiwai Swah Loka dan menjadi sumber segala disebut Parama Siwa. Sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa Bhur Loka disebut Siwa. Di Bhur Loka ini Siwa disebut Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, Rudra. Wisnu menjadi Krisna sebagai Awatara. Siwa sebagai Tuhan sumber segala-galanya dinyatakan dalam beberapa purana yang bercorak Siwa Purana. Ini artinya dalam paham Hindu Siwaistis, Sri Krisna itu Awatara Wisnu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hindu Waisnawa Bhagawata, Sri Krisna bukan Awatara tetapi sebagai Awatari yaitu sumber Awatara dan sumber segala-galanya. Sri Krisna sebagai sebutan Tuhan sumber segala-galanya dinyatakan dalam beberapa purana, seperti Bhagawata Purana, Brahma Vivarta Purana dan purana lainnya yang bercorak Waisnawa Bhagawata. Dalam Waisnawa Bhagawata menurut Prabhu Sundaram Siwa adalah seorang Waisnawa teladan kesayangan Sri Krisna. Dari 18 Maha Purana dibagi menjadi tiga kelompok. Satvika Purana menyatakan Maha Wisnulah sebagai sebutan Tuhan tertinggi. Rajasika Purana, Param Brahmalah sebagai sebutan Tuhan tertinggi, sedangkan dalam Tamasika Purana, Parama Siwa sebagai sebutah Tuhan tertinggi. Ketiga sebutan Tuhan itu juga memiliki ribuan sebutan atau disebut Sahasra Nama. Bagi umat yang meyakini salah satu nama dari ribuan sebutan nama Tuhan Yang Esa itu, yakinilah nama tersebut dengan sungguh-sungguh. Pujalah Tuhan dengan sungguh-sungguh dengan sebutan nama Tuhan yang paling diyakini itu. Yang patut dihindari adalah tidak merendahkan dan menyalahkan sebutan nama Tuhan yang tidak dipilih. Misalnya yang memilih sebutan nama Siwa jangan menyalahkan dan merendahkan mereka yang memilih nama Tuhan dengan sebutan Maha WIsnu atau Sri Krisna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga yang memilih nama Tuhan dengan sebutan Maha Wisnu, Narayana atau Sri Krisna jangan menyalahkan dan merendahkan mereka yang memilih nama Tuhan dengan sebutan Parama Siwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Matsya Purana 53, Sloka 68 dan 69 ada dinyatakan bahwa Dewa Wisnu adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai penuntun manusia mengendalikan guna sattwam. Dewa Brahma sebagai penuntun manusia mengendalikan guna rajah dan Dewa Siwa sebagai penuntun manusia mengendalikan guna tamas. Ini artinya pemuja Siwa bukan berarti memuja dan mengembangkan sifat-sifat tamasik, pemujaan Tuhan sebagai Siwa Rudra justru untuk mendapatkan kekuatan rohani mengendalikan, menguasai dan melepaskan diri dari guna tamas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bhagawad Gita XIV. 25 dinyatakan tri guna itu harus dilepaskan dengan istilah gunaatiita artinya menguasai tri guna. Hal ini amat sejalan dengan apa yang dinyatakan Pustaka Wrehaspati Tattwa 21 dan 22 bahwa kalau guna satwam dan rajah sama kuat menguasai pikiran (manah), maka guna satwam menyebabkan orang terdorong berniat baik dan guna rajah mendorong orang berbuat baik, maka orang tersebut akan mencapai sorga tetapi bukan moksha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hanya berniat baik saja dan tidak nyata berbuat baik tentunya mubazir jadinya. Kalau ketiga guna itu menguasai pikiran secara seimbang maka orang akan menjelma berulang-ulang ke dunia ini. Karena tujuan tertinggi adalah moksha karena itu tri guna itu harus dikendalikan saat brahmacari dan grhastha. Dikuasai saat wana prastha dan dilepaskan saat sudah mencapai sanyasin asrama. Hal ini menyebabkan setiap kelompok Hindu yang disebut sampradaya atau para ilmuwan sosial menyebutnya sekte umumnya memuja Tuhan sebagai Tri Murti. Tujuannya agar mampu mengendalikan, menguasai dan akhirnya melepaskan tri guna. Tri guna itu ibarat kuda kereta yang harus dikendalikan dengan tali kekang kuda oleh kusir kereta agar jalannya kereta menjadi lancar. Tetapi setelah sampai di tujuan, kuda dengan kereta dilepas. Demikianlah dapat dianalogikan keberadaan tri guna itu dalam hidup ini. Penonjolan salah satu dari pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti adalah sebagai kebebasan pilihan. Yang penting yang tidak dipilih jangan disalahkan dan direndahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swami Siwananda menyatakan agama Hindu menyajikan hidangan spiritual pada setiap orang sesuai dengan perkembangan rohaninya. Karena itu tidak ada pertentangan dalam perbedaan Hindu yang indah ini. Demikian Swami Siwananda menyatakan dalam bukunya yang berjudul ''All About Hinduism.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu amat sejalan dengan UUD 1945 yang menyatakan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk menganut agama dan beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Hal ini menyebabkan ada Penpres No: 1 1965 dan juga KUHP 156 A akan mengancam dengan hukuman maksimal lima tahun penjara bagi yang menodai kehidupan beragama, seperti melecehkan dan menyalahkan pemujaan suatu Ista Dewata tertentu. Misalnya ada melecehkan dan menyalahkan umat memuja Siwa, Wisnu atau Sri Kresna sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Pelecehan itu dapat digolongkan sebagai penodaan keyakinan beragama. Perilaku penodaan beragama dapat dikenakan sanksi hukum sesuai dengan ketentuan tersebut di atas. Karena itu janganlah saling mengganggu kemerdekaan umat beragama. Misalnya dengan saling menjelek-jelekan sistem yang tidak dianut. Berbagai berbedaan sistem kepercayaan dalam beragama itu adalah ciptaan Tuhan sebagaimana dinyatakan juga dalam Bhagawad Gita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-5532932745199556575?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/5532932745199556575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=5532932745199556575' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5532932745199556575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5532932745199556575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/03/pemujaan-tri-murti-untuk-kendalikan-tri.html' title='Pemujaan Tri Murti untuk Kendalikan Tri Guna'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-70YzkSR0EVI/TXA56GyAfuI/AAAAAAAACd0/pY4A0uD_K5g/s72-c/Tri%2BMurti.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-1382718099306724372</id><published>2011-03-03T16:50:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T16:54:55.715-08:00</updated><title type='text'>7 Perilaku Mengamalkan Dharma</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Ptwm7mINkCE/TXA4KTvrNxI/AAAAAAAACds/qIePx8mPtFY/s1600/Ajaran%2BDharma.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 192px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Ptwm7mINkCE/TXA4KTvrNxI/AAAAAAAACds/qIePx8mPtFY/s320/Ajaran%2BDharma.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580021688062129938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sila yadnya tapo daanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pravrajya bhiksu revaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yogascaapi savasena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhamasyeke vinirnayah. (Wrehaspati Tattwa 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Mewujudkan sila, yadnya, tapa, daana, prawrajya, bhiksu dan melakukan yoga, itulah rincian pengamalan dharma. Itu juga yang disebut jnyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti sari ajaran Agama Hindu adalah Sanatana Dharma yaitu kebenaran yang kekal abadi. Artinya, kebenaran yang berlaku sepanjang zaman. Cuma bentuknya nutana artinya terus dapat diremajakan atau diperbaharui pengamalannya sesuai dengan kebutuhan zaman akan kebenaran dharma yang kekal abadi itu. Dharma amat luas artinya. Dharma berarti kebenaran, kewajiban dan juga berarti kebajikan. Dalam Santi Parwa dinyatakan dharma berasal dari kata dharana yang artinya menyangga atau mengatur. Segala yang ada di dunia ini diatur berdasarkan dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar manusia dapat melakukan tujuh pengamalan dharma pertama-tama dharma diarahkan untuk membina diri sendiri (swaartha), kemudian dijadikan kekuatan untuk melayani hidup sesama (para artha). Semuanya itu sebagai wujud bhakti kepada Tuhan (parama artha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pustaka Wrehaspati Tattwa 25 di atas ada tujuh perilaku yang seyogyanya dilakukan sebagai wujud pengamalan dharma. Tujuh perilaku itu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sila ngaraning mangraksa acara rahayu. Artinya, sila namanya menjaga kebiasaan baik dan benar. Mengamalkan dharma menurut Sarasamuscaya 275 dengan cara membangun atau merealisasikan ajaran dharma sampai menjadi adat kebiasaan (mangabiasaken dharmasahana). Dalam kehidupan sehari-hari banyak godaan hidup yang akan dilalui oleh setiap orang. Cuma bentuknya yang berbeda-beda. Untuk menghadapi godaan itu berbagai kebiasaan baik harus terus dilakukan setiap hari dengan kebulatan tekad. Misalnya, sembahyang setiap hari, tidur tidak terlalu malam, bangun pagi tepat waktu, disiplin dalam hal makanan dan minuman, dan mengontrol dengan ketat pikiran, perkataan dan perilaku. Berbagai kebiasaan yang positif harus diupayakan terus dilakukan setiap saat. Meskipun hal ini tidak mudah menjaganya. Karena ajaran suci Weda itu harus diwujud dalam tradisi kehidupan seperti dinyatakan dalam Sarasamuscaya 260 dengan istilah ''Weda abyasa'' yang maksudnya ajaran Weda dijadikan kebiasaan hidup. Kalau sudah menjadi kebiasaan hidup yang kuat dan melembaga dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individual maupun dalam kehidupan sosial maka akan terbentuk tradisi kebudayaan Weda dalam kehidupan ini. Kalau sudah terbentuk tradisi kebudayan Weda maka tinggal memeliharanya dengan ajaran Tri Kona (Utpati, Stithi dan Pralina) dan penguasaan Tri Guna (Sattwam, Rajah, Tamas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yadnya ngaraning menghadakaken homa. Upacara Homa Yadnya juga disebut Upacara Agni Hotra atau Agni Homa. Upacara Homa Yadnya ini diajarkan dalam pustaka Rg Weda X.66.8 dan kitab Atharwa Weda XXVIII.6. Dalam pustaka suci itu dinyatakan bahwa Yadnya Agni Hotra tersebut sebagai Spatika Yadnya atau mutiaranya yadnya. Upacara Homa itu dilakukan oleh mereka yang hatinya mulia. Agni Hotra dapat menimbulkan kedamaian hati, dapat menggugah hati para pemimpin, untuk bekerja dengan baik, membina masyarakat dan tidak menyakiti hatinya serta memelihara binatang ternaknya dengan baik. Di Bali Upacara ini pernah mentradisi dari abad ke 11 Masehi. Meredup sekitar abad ke 17 M. Dewasa ini mulai dilakukan lagi oleh kelompok spiritual umat Hindu di Nusantara. Sudah semakin banyak umat Hindu yang merasakan manfaat spiritual dari upacara Homa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa: ngaraning umatinindryania. Maksud ajaran tapa adalah berupaya untuk terus menerus menguasai indria, agar dinamika indria dalam kendali pikiran. Dalam Sarasmuscaya disebut ''kahrtaning indria''. Menurut Bhagawad Gita III. 42 Indria ini harus dipelihara dengan sebaik-baiknya agar sehat dan berfungsi sempurna. Tetapi ekspresi indria itu harus terus berada dalam kendali pikiran. Pikiran berada dalam kesadaran budhi. Struktur diri yang demikian itulah akan dapat merealisasikan kesucian atman dalam perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daana: Ngaraning paweweh. Artinya, daana itu adalah membangun sifat yang suka memberi. Karena dalam Sarasamuscaya dinyatakan orang kaya itu adalah orang yang selalu menyisihkan penghasilannya untuk di-daanapunia-kan. Dalam Manawa Dharmasastra 186 dinyarakan prioritas beragama Hindu zaman Kali ini adalah berdaana punia. Daana punia untuk memajukan pendidikan amatlah mulia, karena dalam Slokantara 2, dinyatakan jauh lebih mulia mendidik seorang suputra daripada melakukan upacara yadnya seratus kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prawrajya: Ngaraning wiku ansaka. Maksudnya, menyebarkan secara terus menerus ajaran suci dharma ini oleh Wiku suci yang kompeten. Berbagai ajaran Agama Hindu dalam pustaka suci tidak dipahami secara benar, sehingga dalam praktiknya menjadi tidak sesuai dengan konsepnya menurut pustaka suci. Bahkan ada yang bertentangan dengan sumbernya yakni pustaka suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhiksu: Ngaraning diksa. Bhiksu namanya proses penyucian diri. Kata diksa dalam bahasa Sansekerta artinya suci. Bhiksu itu adlah tahapan hidup yang keempat yang juga disebut Sanyasin Asrama. Tahapan hidup sampai pada Bhiksuka dicapai melalui tahapan hidup Brahmacari, Grhasta dan Wanaprastha. Ini artinya orang mencapai hidup suci apa bisa sudah menyelesaikan swadharmanya dalam tiga tahapan hidup. Hal ini dikecualikan bagi yang menempuh hidup Sukla Brahmacari yang sepanjang hidupnya tidak menempuh tahapan hidup Grhasta Asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoga: Ngaraning magawe samadhi. Yoga ini ditujukan untuk hidup mewujudkan kejernihan pikiran. Dalam pustaka Yoga Patanjali I.1.sbb: Yogascitta vrtti nivodhah. Artinya: Yoga adalah pengendalian gelombang pikiran dalam alam pikiran. Untuk mencapai rohani yang jernih Yoga Patanjali mengajarkan agar kita melakukan delapan tahapan Yoga yaitu Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana dan puncaknya barulah Samadi atau kondisi rokhani suci yang tenang jernih. Demikianlah tujuh yang seyogianya dilakukan dalam mengamalkan Dharma atau Agama Hindu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-1382718099306724372?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/1382718099306724372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=1382718099306724372' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1382718099306724372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1382718099306724372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/03/7-perilaku-mengamalkan-dharma.html' title='7 Perilaku Mengamalkan Dharma'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Ptwm7mINkCE/TXA4KTvrNxI/AAAAAAAACds/qIePx8mPtFY/s72-c/Ajaran%2BDharma.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-5784021611935397465</id><published>2011-02-08T06:21:00.000-08:00</published><updated>2011-02-08T06:33:40.395-08:00</updated><title type='text'>Sosok Wanita Tua di Pura Geria Anyar Tanah Kilap</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TVFUNYu-BpI/AAAAAAAACdk/TSE4cZY20aM/s1600/Pura%2BGeria%2BAnyar%2BTanah%2BKilap.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 195px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TVFUNYu-BpI/AAAAAAAACdk/TSE4cZY20aM/s320/Pura%2BGeria%2BAnyar%2BTanah%2BKilap.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571326802988500626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di wilayah Banjar Gelogor Carik Desa Pakraman Pemogan Kecamatan Denpasar Selatan, terdapat Pura Geria Anyar Tanah Kilap, stana Ida Batara yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan Ratu Niyang Sakti. Di sebelah utara pura ini juga berdiri Pura Geria dan tak jauh dari lokasi Pura Geria Anyar Tanah Kilap terdapat Pura Candi Narmada Tanah Kilap.&lt;br /&gt;Disebut Tanah Kilap, karena di lokasi tersebut tanahnya dulu berwarna merah yang dikenal pula tanah ampo. Pura Geria Anyar Tanah Kilap berlokasi di tempat strategis-- pinggir jalan. Di sebelah utara tembok penyengker terdapat tempat pengayatan. Dari situlah, umat Hindu yang kebetulan lewat umumnya berhenti sejenak, menghaturkan canang atau sesajen, guna memohon keselamatan, kerahajengan kepada Ida Batara yang berstana di pura setempat.&lt;br /&gt;Umumnya, canang tersebut dilengkapi dengan rarapan sebatang rokok dan permen. Umat yang kebetulan lewat di jalan depan pura dan ingin melakukan persembahyangan, cukup mengeluarkan beberapa ribu rupiah untuk membeli canang. Sebab, pedagang canang selalu ada di sana. Jika umat tidak berpakaian adat ke pura, selendang pun disediakan oleh pedagang canang yang bisa dipinjam.&lt;br /&gt;Tak hanya di Pura Geria Anyar Tanah Kilap, umat juga menghaturkan canang di Pura Geria, di sebelah utara jalan. Piodalan di Pura Geria Anyar Tanah Kilap berlangsung setiap enam bulan sekali, tepatnya setiap Anggara Kasih Tambir yang pada bulan Februari 2011 ini jatuh pada Selasa (1/2) lusa.&lt;br /&gt;Penglingsir Pura Geria Anyar Tanah Kilap Wayan Cepog Suradnya, B.A. di rumahnya di Banjar Gelogor Carik mengatakan pura ini didirikan sekitar tahun 1962, sekitar tiga bulan setelah pesamuan agung Parisada Hindu Bali di Campuan, Ubud.&lt;br /&gt;Dalam wawancara tersebut, Cepog Suradnya juga sempat menyinggung bahwa Parisada Hindu Bali (sekarang PHDI) yang didirikan tahun 1959 itu (Ketua Umumnya Ida Pedanda Gde Wayahan Sidemen) pernah melakukan pesamuan di Campuan Ubud tahun 1962. Pesamuan agung itu menghasilkan dua keputusan di bidang dharma agama dan dharma negara. Salah satu keputusan bidang dharma agama antara lain; melakukan pembinaan umat Hindu, mendirikan lembaga pendidikan dan menata sarana- prasarana tempat suci atau pura.&lt;br /&gt;Diceritakan, pada sekitar waktu itu Dinas PU Kabupaten Badung juga berencana membangun jembatan di sebelah barat lokasi pura untuk menghubungkan jalan-jalan yang ada. Dalam pengerjaannya, pembangunan jembatan tersebut selalu gagal. Ada saja hambatan yang dihadapi. Suatu ketika, ada fenomena gaib. Ida Batara mengejawantahkan diri sebagai sosok wanita tua (anak lingsir meraga istri) di hadapan Kabag Bendungan Dinas PU saat itu. Sosok anak lingsir meraga istri tersebut kemudian mabawos, intinya kurang lebih sebagai berikut; Jika tidak dibuatkan 'rumah', kapan pun jembatan tersebut tidak akan jadi. Sosok wanita tua ini kini sering muncul di sekitar pura.&lt;br /&gt;Hal itu kemudian dibawa ke rapat pimpinan PU yang juga menghadiri unsur Parisada Hindu Bali, sehingga disepakati pembangunan pelinggih di timur lokasi jembatan. Pelinggih awal yang didirikan hanya berupa padmasari dan pemayasan, punia dari Dinas PU. Pelinggih itu berdiri di atas tanah yang awalnya setengah are, sekarang luasnya mencapai 17,8 are. Setelah didirikan pelinggih tersebut, jembatan yang dibangun Dinas PU itu bisa dikerjakan secara lancar.&lt;br /&gt;Seiring dengan perjalanan waktu, Pura Geria Anyar Tanah Kilap mengalami renovasi tahun 1992. Awalnya hanya Padmasari kemudian dilengkapi sejumlah pelinggih lainnya. Di pura tersebut selain terdapat pelinggih gedong stana Ida Batara Ratu Niyang Sakti, juga pelinggih stana Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirarta atau Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh, pelinggih Ida Batara Gde Mecaling atau Ida Batara Ratu Gde Sakti Dalem Peed, pelinggih Ida Batara Segara, Melanting dan sebagainya. Setelah direnovasi, Pura tersebut dilengkapi administrasinya.&lt;br /&gt;Sebagai pengemong pura adalah Banjar Gelogor Carik. Kedudukan Pura adalah Dang Kahyangan Geria Anyar Tanah Kilap, status tanah milik Pura Geria Anyar Tanah Kilap dengan luas keseluruhan 17,8 are. Dahulu, yang mapunia tanah Pura atas nama Wayan Cepog Suradnya, milik leluhurnya yang tercantum dalam pipil I Wayan Sarya. Sumber Balipost&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-5784021611935397465?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/5784021611935397465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=5784021611935397465' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5784021611935397465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5784021611935397465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/02/sosok-wanita-tua-di-pura-geria-anyar.html' title='Sosok Wanita Tua di Pura Geria Anyar Tanah Kilap'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TVFUNYu-BpI/AAAAAAAACdk/TSE4cZY20aM/s72-c/Pura%2BGeria%2BAnyar%2BTanah%2BKilap.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-6127901429595759452</id><published>2011-01-20T18:43:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T18:53:02.221-08:00</updated><title type='text'>Hindari Empat Hal Demi Kebaikan dan Kenyamanan Hidup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TTj06pcFoOI/AAAAAAAACdY/9Y2Uz-sgE-0/s1600/Hindari%2BEmpat%2BHal%2BDemi%2BKebaikan%2Bdan%2BKenyamanan%2BHidup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 263px; height: 196px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TTj06pcFoOI/AAAAAAAACdY/9Y2Uz-sgE-0/s320/Hindari%2BEmpat%2BHal%2BDemi%2BKebaikan%2Bdan%2BKenyamanan%2BHidup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564466628009500898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Artham dadyaanna caastsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunaan bruyaanna caatmanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aadadyaacca na saadhubhyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naasatpurusa maasrayayet. (Sarasamuscaya 185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Demi kenyaman hidup hindarilah empat hal yaitu jangan berdana punia pada orang jahat, jangan menceritakan kebajikan diri sendiri dengan berlebihan, jangan menerima dana punia dari orang yang tidak berbudi luhur, jangan mencari perlindungan pada orang yang licik dan jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANUSIA di samping sebagai mahluk individu juga mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia baru akan menampilkan ciri-ciri dirinya sebagai manusia apabila manusia itu berhubungan dengan sesama manusia lainnya. Ada kata-kata bijak menyatakan dalam sunyi bakat dilahirkan dalam dunia ramai munculah tabiat. Bagaimana sesungguhnya orang itu secara umum akan dapat dipahami bagaimana tabiatnya atau wataknya. Menurut ajaran Hindu gerak dan bentuk masyarakat itu ada dua yaitu Sat Sangga dan Dursangga. Sat Sangga itu adalah gerak dan bentuk kehidupan sosial yang mengarah pada tegaknya kebenaran Weda yang sebut ''Sat atau Satya''. Artinya kejujuran dan kebenaran yang dikandung oleh Weda sabda suci Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Dursangga pergaulan yang mengarah pada gerak sosial yang berlawanan dengan kebenaran dharma. Untuk mengembangkan kebaikan dan kenyamanan hidup orang tidak boleh bergaul sembarangan. Untuk menghindari pergaulan dursangga atau pergaulan kearah yang adharma menurut Sarasamuscaya 185 maka hindarilah berhubungan dalam empat hal yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Haywa tan maweh daana ring tan sajjana. Artinya janganlah berdana punia pada orang yang jahat atau tidak berbudi luhur. Kalau dana punia itu diberikan pada orang jahat maka dana punia itu akan dimanfaatkan untuk mengembangkan kejahatannya. Bahkan dalam Bhagawad Gita XVII.20 menyatakan bahwa dana punia yang berkualitas (satvika daana) adalah dana yang diberikan berdasarkan desa, kala dan paatra artinya diberikan sesuai dengan aturan setempat, pada waktu yang satvika kala dan diberikan pada orang yang tepat (pPaatra). Kata Paatra dalam kontek desa, kala dan paatra tidaklah berarti keadaan. Berbagai sastra Hindu menyatakan bahwa paatra itu adalah orang baik yang patut diberikan daana punia; Seperti Sarasmuscaya 181 dan 271 ada menyatakan: Paatra ngarania sang yogia wehana daana. Artinya: Patra namanya orang yang sepatutnya diberikan dana punia. Karena itu hindari sekali berdana. Sloka Bhagawad Gita selanjutnya adalah menyatakan adanya daana punia yang rajasika dan tamasika yang merupakan daana punia yang nilainya dengan kualinyas rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Haywa tan mucap guna ring awakta: Janganlah menyanjung-nyanjung kepandaian atau kebajikan diri sendiri didepan umum. Maksudnya hendaknya jangan menyombong-nyombongkan diri di depan umum. Swami Satya Narayana menyatakan untuk menurunkan sifat egoisme hendaknya dengan serius melihat kekurangan dan kelemahan diri sendiri dan tidak menonjol-nonjolkan kelebihan dan kebaikan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa ali disebut ''eda demen ngajum dewek''. Bangga sih boleh saja pada prestasi diri, tetapi cukup dibawa ke dalam hati saja. Umumnya orang yang suka menyanjung-nyanjung diri tidak disukai orang banyak. Karena dapat diasosiasikan merendahkan lawan bicara. Orang yang suka menyanjung diri sendiri menderita apa yang disebut godaan mental berpuas diri, karena menganggap diri sudah hebat dan berada diatas orang lain. Orang yang begini hidupnya sering kecewa kalau melihat orang lain dalam kenyataannya lebih hebat pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Haywa taananggap daana punia saking tan sadhu: Artinya jangan menerima daana punia dari orang yang tidak berbudi luhur. Orang yang tidak berbudi luhur ber-daana punia ada maunya. Daana punia yang diberikan dengan penuh dengan dikemudian harinya dan diberikan dengan kesal itu disebut dalam Bagawad Gita XVII.21 daana punia yang rajasika. Sedangkan Bhagawad Gita XVII,22 daana punia yang diberikan dengan bertentangan dengan desa, kala dan patra disebut daana punia yang tamasika. Ada calon pemimpin yang menyumbang ke suatu komunitas agar ia dipilih. Begitu ia kalah sumbangannya ditagih, hal ini jelas daana punia yang rajasika dan tamasika tanpa kualitas. Meskipun tidak ditagih money politics itu jelas daana punia yang tanpa kualitas. Karena itu amat tepatlah money politics itu dilarang oleh hukum negara di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kegiatan hidup terutama dalam birokrasi pemerintahan di Indonesia masih banyak daana punia yang melanggar etika moral agama dan hukum. Hasil judian seperti tajen di-daana punia-kan untuk bikin pura itu juga tergolong bukan daana punia yang baik yang kualitasnya amat rendah. Karena itu Sarasamuscaya 186 menyatakan janganlah sembarang memberikan daana punia. Bahkan anggaran negarapun di-daana punia-kan untuk menyukseskan kepentingan diri oknum penguasa dengan teknik sangat licin, sehingga sulit membuktikan secara hukum. Seperti dana bantuan sosial diberikan saat sang incumbent kembali jadi calon pemimpin di wilayahnya. Seperti ada bupati jadi calon untuk jabatan kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Haywa ta maraasraya ring tan sajjana: Janganlah mohon perlindungan pada orang yang berbudi tidak luhur/orang jahat. Berlindung pada orang jahat dapat dijadikan teman untuk membantu mengembangkan kejahatannya. Bahkan yang berlindung pada orang jahat itu dapat dijahati juga oleh orang jahat itu. Karena itu janganlah mencari perlindungan pada orang jahat. Yang sangat sulit dihindari adalah mereka yang bekerja sebagai bawahan dalam suatu instansi yang dipimpin oleh orang yang jahat. Dalam hal inilah bisa terjadi korupsi yang kolektif atau ada juga yang mengistilahkan korupsi berjamaah. Kalau tidak ikut korupsi karena atasan yang memberi contoh. Yang kadang-kadang aneh kita lihat atasan yang korupsi, bawahan yang kena hukum. Karena itu dalam penegakan hukum di Indonesia ada istilah tebang pilih. Dewasa ini banyak pihak tidak mau menghindari empat hal itu, karena itu keadaan negara dalam berbagai hal masih banyak yang carut marut. Seperti penegakan hukum, kesenjangan ekonomi atau terjadi kemiskinan struktural, birokrasi yang tidak melayani, masih banyak ada banyak pungutan liar dalam berbagai pelayanan publik dll. Hal inilah yang menjadi sumber tidak nyaman hidup di negara yang sudah hampir 66 tahun merdeka.Penulis&lt;br /&gt;I Ketut Wiana.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-6127901429595759452?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/6127901429595759452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=6127901429595759452' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/6127901429595759452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/6127901429595759452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/01/hindari-empat-hal-demi-kebaikan-dan.html' title='Hindari Empat Hal Demi Kebaikan dan Kenyamanan Hidup'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TTj06pcFoOI/AAAAAAAACdY/9Y2Uz-sgE-0/s72-c/Hindari%2BEmpat%2BHal%2BDemi%2BKebaikan%2Bdan%2BKenyamanan%2BHidup.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-3425616737250543459</id><published>2011-01-05T21:38:00.000-08:00</published><updated>2011-01-05T21:40:36.697-08:00</updated><title type='text'>Mengatasi Penderitaan dengan Jnana Bala</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TSVVuoAQvxI/AAAAAAAACdQ/yK7J-GVOT34/s1600/Mengatasi%2BPenderitaan%2Bdengan%2BJnana%2BBala.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 186px; height: 271px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TSVVuoAQvxI/AAAAAAAACdQ/yK7J-GVOT34/s320/Mengatasi%2BPenderitaan%2Bdengan%2BJnana%2BBala.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558943574559604498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Prajnya yaa maanasam duhkham hanyaacchariramausadhaih&lt;br /&gt;Etaddhi jnyana samarthayam na balaih samaatamiyaat. (Sarasamuscaya 501)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: pikiran yang penuh dengan ilmu kebijaksanaan (Prajnya) sebagai sarana yang paling andal untuk mengatasi penderitaan, sebaliknya tumbuh-tumbuhan bahan obat-obatan untuk mengatasi sakitnya badan. Ilmu kebijaksanaan itu disebut Jnyana Bala kekuatannya lebih utama dari Kaya Bala yaitu kekuatan badan jasmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia memiliki badan jasmani dan badan rohani sebagai jiwa. Perpaduan dua hal itulah menjadi pendukung berlangsungnya kehidupan manusia di bumi ini mencari kebahagiaan. Hasil penemuan iptek sudah demikian banyak memberikan berbagai kemudahan pada umat manusia memenuhi keinginannya. Dalam kenyataannya masih saja banyak umat manusia yang merasakan adanya berbagai penderitaan hidup di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakekatnya ada dua sumber penderitaan. Ada penderitaan struktural dan ada penderitaan kultural. Kebijaksanaan untuk publik oleh yang berwewenang yang menimbulkan penderitaan, itu dapat disebut penderitaan struktural. Idealnya kebijakan untuk publik itu demi kebaikan dan kebahagiaan semua orang. Namun demikian ada saja yang tercecer tak tersentuh dan tidak menikmati kebaikan dan kebahagiaan dari kebijakan untuk publik itu. Penderitaan kultural adalah penderitaan yang disebabkan oleh sikap budaya individu masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tertimpa penderitaan struktural itu kalau tidak memiliki kemam puan yang prima mengelola diri dapat menderita kekecewaan dan kedukaan yang mendalam. Penderitaan kultural juga demikian dapat menimbulkan tindakan merusak orang lain atau merusak diri sendiri seperti bunuh diri dan sejenisnya. Rasa kecewa dan duka mendalam dengan kebijakan publik kalau kurang waspada dapat ditunggangi oleh kepentingan politik sempit memunculkan keonaran yang dapat merugikan berbagai pihak. Hendaknya dihindari penggunaan kekuatan fisik yang di gerakan oleh luapan emosi yang meledak-ledak sebagai cara mengatasi ketidak puasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dapat merusak tatanan dan norma yang sudah baik. Untuk itu diperlukan peran serius para ilmuwan yang bijak untuk senantiasa bekerja terpadu menggunakan visi dan misinya sebagai ilmuwan mengatasi berbagai persoalan hidup bersama ini. Berbagai ketidakpuasan dan kekecewaan publik seyogianya diatasi dengan Jnyana Bala yaitu kekuatan para ilmuwan yang bekerja terpadu. Hal itulah yang dinyatakan dalam Sarasamuscaya 501 sebagai Jnyana Bala yang lebih utama dari pada mengatasi berbagai kedukaan dengan kekuatan badan jasmani yang disebut Kaya Bala. Apa lagi Kaya Bala itu lebih digerakkan oleh rasa kecewa dan ketidakpuasan belaka tanpa analisa Jnyana Bala. Kekuatan badan jasmani yang disebut Kaya Bala itu akan positif apa bila ditata untuk membangun fisik yang sehat, segar dan bugar dalam rangka mendukung Jnyana Bala mengekspresikan kearipan ilmu pengetahuan mencerahkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini ilmuwan sudah sedemikian banyak bertebaran dimana-mana, tetapi berbagai persoalan yang membuat penderitaan publik masih saja terjadi bahkan ada yang kuantitas dan kualitasnya terus meningkat. Para ilmuwan di samping jumlahnya semakin meningkat jenis keakhliannyapun juga semakin banyak. Dalam Kekawin Nitisastra,IV.19 ada menyatakan adanya tujuh hal yang menyebabkan orang mabuk yaitu: Surupa, Dhana, Guna, Kula Kulina, Yowana, Sura dan Kasuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang tidak mabuk karena tujuh hal itu dialah orang yang disebut merdeka (mahardika). Ini artinya tujuh hal itu wajib dicari yang penting jangan mabuk pada ke tujuh hal itu. Salah satu dari tujuh hal itu adalah guna atau ilmu pengetahuan. Mengapa para ilmuwan belum berhasil bekerja terpadu secara maksimal. Mungkin masih banyak ilmuwan yang mabuk atau kehilangan diri karena ilmunya itu. Kalau masih banyak ada ilmuwan mabuk tentunya sulit kerja terpadu mengatasi berbagai prilaku dan kebiasaan hidup yang menyimpang dalam masyarakat. Ilmuwan yang demikian itu ilmunya menjadi mubazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Canakya Nitisastra ada dinyatakan sbb: Anabhyase visam sastram. Artinya ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan memperbaiki prilaku dan kebiasaan hidup akan menjadi racun (visa). Negara hendaknya menetapkan kebijakan yang memposisikan fungsi ilmuwan untuk senantiasa bekerja saling terpadu memecahkan berbagai persoalan hidup di bumi ini. Dengan demikian kehidupan bersama di bumi ini menjadi semakin maningkat kearah yang semakin baik dan benar. Dalam Canakya Nitisaastra XII.11 dinyatakan: Satyam mata pita jnyanam. Artinya kebenaran (satya) adalah ibuku, ilmu pengetahuan yang disebut jnyana itu adalah ayahku. Selanjutnya Canakya Nitisastra XVII.12 ada menyatakan sbb: Jnyanena muktir na tu mandenena. Artinya: Pembebasan dari kesengsaraan hidup ini diperoleh dengan ilmu pengetahuan suci (jnyana) bukan dengan menghias badan. Canakya Nitisastra IV.5. menyatakan sbb: Ilmu pengetahuan ibarat kama-dhenu, setiap saat dapat memenuhi segala keinginan. Pada saat orang berada di negara lain ilmu pengetahuan bagaikan seorang ibu yang selalu memelihara kita. Orang bijaksana mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekayaan yang rahasia, harta tak kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Canakya Nitisastra tersebut demikian jelas dan tegas menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan yang disebut jnyana demikian utama sebagai teman hidup. Kalau hal itu menjadi kenyataan dalam masyarakat maka masyarakat akan terbebas dari berbagai penderitaan. Namun sampai saat ini masih banyak prilaku dan kebiasaan hidup yang belum sesuai dengan ilmu pengetahuan. Contoh sederhana saja. Masih banyak masyarakat yang memasak makanan dengan bungkusan plastik, Plastik yang dimasak itu menimbulkan zat berbahaya bagi kesehatan. Minum teh secara langsung setelah makan nasi. Hal ini akan menghalangi tubuh menyerap zat besi, protein dan vitamin kedalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalau minum teh setelah empat jam makan nasi maka teh itu berguna untuk menurunkan lemak negatif dalam makanan. Membuang limbah sabun detergen ke tanah dapat merusak humus tanah tsb. Sesungguhnya banyak sekali kebiasaan hidup kita yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Apalagi menyangkut soal ritual, kemanusiaan dan spiritual banyak sekali yang tidak sesuai dengan apa yang dinormakan dalam ilmu dalam pustaka acuannya. Gandi menyatakan: Ilmu tanpa kemanusiaan menimbulkan dosa sosial.Oleh I Ketut Wiana&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-3425616737250543459?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/3425616737250543459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=3425616737250543459' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/3425616737250543459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/3425616737250543459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/01/mengatasi-penderitaan-dengan-jnana-bala.html' title='Mengatasi Penderitaan dengan Jnana Bala'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TSVVuoAQvxI/AAAAAAAACdQ/yK7J-GVOT34/s72-c/Mengatasi%2BPenderitaan%2Bdengan%2BJnana%2BBala.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-8939779309764065936</id><published>2011-01-05T19:34:00.000-08:00</published><updated>2011-01-05T19:40:18.394-08:00</updated><title type='text'>Bhuta Yadnya Melestarikan Alam Bukan Pembantaian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TSU5ZVZE1JI/AAAAAAAACdI/kzYHfZ2LHh8/s1600/Bhuta%2BYadnya%2BMelestarikan%2BAlam%2BBukan%2BPembantaian.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TSU5ZVZE1JI/AAAAAAAACdI/kzYHfZ2LHh8/s320/Bhuta%2BYadnya%2BMelestarikan%2BAlam%2BBukan%2BPembantaian.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558912422460576914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh.&lt;br /&gt;Matangnyan prihen tikang bhuta hita, aywa tan maasih-ring sarwa prani... (kutipan Agastia Parwa dan Sarasamuscaya 135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Bhuta Yadnya namanya mengembalikan unsur-unsur alam itu dengan menghormati tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu usahakanlah kesejahteraan alam itu (Bhuta Hita) jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk hidup (sarwa prani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan kualitas dan memperluas pengamalan agama Hindu ada baiknya diadakan pengkajian ulang dan terus menerus agar pengamalan ajaran agama Hindu itu selalu dinamis dalam mengantarkan perkembangan zaman ke arah yang semakin baik dan benar sesuai dengan petunjuk sastra suci. Pengkajian itu bukan untuk mencari-cari kesalahan-kesalahan penerapan agama Hindu yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita sebelumnya. Dengan kondisi yang serba terbatas leluhur umat Hindu dimasa lampau sudah mewariskan tradisi beragama Hindu yang masih sangat baik dan masih banyak yang relevan dengan isi pustaka suci sabda Tuhan. Namun demikian dalam beberapa hal perlu ada penyempurnaan-penyempurnaan dalam beberapa aspeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weda itu memang ''sanatana dharma'' atau kebenaran yang kekal abadi. Tetapi penerapannya terus ''nutana'' artinya ada proses peremajaan agar dapat mengikuti dan mengarahkan perkembangan zaman ke arah yang semakin baik dan semakin benar sesuai dengan teksnya yang dinyatakan dalam pustaka suci. Karena yang disebut agama menurut Sarasamuscaya 181: Agama ngarania kawarah Sang Hyang Aji. Artinya: Agama namanya apa yang dinyatakan oleh kitab suci. Dalam Wrehaspati Tattwa 26 juta dinyatakan: Kawarah Sang Hyang Aji kaupapatian de Sang Guru Agama ngarania. Artinya: Apa yang dinyatakan dalam pustaka suci dan diajarkan oleh Pandita Guru itulah agama namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Bhuta Yadnya seperti dinyatakan dalam Agastia Parwa dan Bhuta Hita seperti dinyatakan dalam Sarasamuscaya 135 di atas tidak ada dinyatakan pelaksanaan Bhuta Yadnya dan Bhuta Hita dengan penyemblihan hewan. Justru yang ditekankan melakukan upaya untuk mensejahterakan alam itu yang disebut dengan istilah Bhuta Hita. Bhuta artinya unsur-unsur alam dan kata Hita artinya sejahtera. Bahkan ditekankan lagi agar mengasihi atau menyayangi semua makhluk hidup itu (sarwa prani) dalam Sarasamuscaya 135.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Agastia Parwa menekankan bahwa pelaksanaan Bhuta Yadnya itu mengembalikan kemurnian eksistensi unsur-unsur alam itu. Kata ''Bhuta'' dalam bahasa Sansekerta bukan berarti setan, jin atau iblis. Bhuta itu artinya unsur-unsur yang membentuk alam yang disebut dengan Panca Maha Bhuta (Pertiwi, Apah, Teja, Bayu dan Akasa). Lima unsur alam itulah yang wajib dijaga kemurnian eksistensinya sesuai dengan hukum Rta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rta adalah salah satu dari Sad Pertiwi Dharyante yaitu enam prilaku untuk mendukung kelestarian ibu pertiwi yang dinyatakan dalam Atharvaveda XII.1.1. Rta adalah hukum ciptaan Tuhan yang menata dinamika alam. Bhuta Yadnya sesungguhnya menjaga agar manusia senantiasa berbuat sesuai dengan hukum Rta tersebut agar alam senantiasa lestari. Ibu pertiwi akan goncang apabila Sad Petiwi Dharyante itu tidak dijadikan pedoman berprilaku di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka memaknai pengertian Bhuta Yadnya dan Bhuta Hita itu seyogianya umat Hindu mentradisikan pelaksanaan Bhuta Yadnya itu dengan melakukan langkah nyata mengembangkan kesuburan tanah, menjaga kebersihan sumber-sumber air seperti mata air, danau, sungai-sungai. Hal itu dapat dilakukan dengan melarang keras orang membuang berbagai limbah dan kotoran lainnya ke sumber-sumber air tersebut. Demikian juga harus ada berbagai upaya menjaga kesuburan tanah seperti kualitas humus tanah benar-benar dijaga dengan meminta analisa para akhli dibidang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan pengotoran udara dengan memberikan batas dengan teknologi modern agar bengkel mobil, pengguna mesin yang mengeluarkan asap atau gas buang mengelola asap yang ditimbulkan oleh mesin itu dikelola agar jangan terlalu tinggi pengotoran udara yang ditimbulkan. Penataan ruang seperti pemukiman yang bersih dan hijau dengan menguatkan terus menerus sosialisasikan hidup bersih dengan lingkungan yang hijau penuh pepohonan yang rindang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang pelestarian alam ini diwujudkan sebagai tradisi beragama Hindu dalam pelaksanaan Bhuta Yadnya. Tentunya dengan tidak usah mempertentangkan dengan tradisi Bhuta Yadnya yang telah ada. Bagi umat masih kuat keyakinannya melaksanakan Bhuta Yadnya seperti yang biasa berlangsung dewasa ini biarkan berjalan sebagai mana mestinya karena memang ada juga sumber acuannya dalam berbagai lontar tradisi beraama Hindu di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pelestarian alam sebagai wujud Bhuta Yadnya sebagai perluasan pengamalan Bhuta Yadnya dan Bhuta Hita sebagai mana ditetapkan dalam kutipan sastra agama Hindu tersebut di atas harus terus disosialisasikan sebagai pengamalan Bhuta Yadnya karena memang hal itu yang paling utama ditekankan dalam sastra agama. Dalam Manawa Dharmasastra V.40 ada dinyatakan bahwa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang digunakan dalam upacara agama dalam penjelmaannya yang akan datang akan meningkat dalam kualitas yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam Sloka tersebut tidak secara tegas penggunaan hewan itu harus disemblih. Di Bali pun sudah ada pandita yang mengizinkan saat ada upacara ''nyambleh'' hewan yang dijadikan sarana nyambleh seperti itik, ayam dan anak babi (kucit) tidak dipotong lehernya. Cukup saat upacara bulu kepala hewan itu dicabuti secara simbolis terus hewannya dilepas. Bahkan ada juga bhisama yang dapat mengganti hewan korban itu dengan simbol jajan cecalcalan. Hal ini juga dibenarkan karena ada acuannya dalam Manawa Dharmasastra. Sesungguhnya dalam pengamalan ajaran Hindu sudah disiapkan banyak pilihan mengamalkan agama Hindu yang terkenal fleksibel itu. Penulis I Ketut Wiana&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-8939779309764065936?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/8939779309764065936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=8939779309764065936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8939779309764065936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8939779309764065936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2011/01/bhuta-yadnya-melestarikan-alam-bukan.html' title='Bhuta Yadnya Melestarikan Alam Bukan Pembantaian'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TSU5ZVZE1JI/AAAAAAAACdI/kzYHfZ2LHh8/s72-c/Bhuta%2BYadnya%2BMelestarikan%2BAlam%2BBukan%2BPembantaian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-8230514507361517479</id><published>2010-12-17T16:58:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T17:09:33.904-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Ada Simbul Perang Dalam Merayakan Hari Raya Kuningan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TQwJk4m5IKI/AAAAAAAACcw/qrYktDY5ekw/s1600/Tamiang%2B-%2BSelamat%2BHari%2BRaya%2BGalungan%2BDan%2BKuningan%2B8%2Bdan%2B18%2BDesember%2B2010.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 188px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TQwJk4m5IKI/AAAAAAAACcw/qrYktDY5ekw/s320/Tamiang%2B-%2BSelamat%2BHari%2BRaya%2BGalungan%2BDan%2BKuningan%2B8%2Bdan%2B18%2BDesember%2B2010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551822969916432546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sabtu Kliwon 18 Desember 2010 Umat Hindu kembali merayakan hari raya Kuningan, setelah sepuluh hari lalu merayakan Galungan. Ada yang menarik saat perayaan Kuningan. Berbagai simbol perang ditampilkan seperti tamiang, ter dan endongan. Yang menarik lainnya adalah hari raya suci ini dirayakan sebelum tajeg surya, di bawah pukul 12.00. Apa yang bisa dimaknai dari perayaan Kuningan dalam konteks kekinian ?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perayaan Kuningan kita dapat melihat berbagai simbol perang ditempatkan di palinggih-palinggih, penjor, bangunan rumah, seperti tamiang, ter, endongan. Semua simbol dalam perayaan Kuningan itu penting dimaknai dalam kehidupan kekinian. Tamiang sebagai simbol pertahanan, mengandung makna bahwa umat hendaknya selalu meningkatkan ketahanan diri atau ketahanan spiritual dalam menghadapi tantangan hidup. Ter simbol senjata perjuangan, sedangkan endongan simbol logistik. Atribut-atribut itu dipasang sebagai pertanda bahwa umat bertekad selalu menang melawan ''musuh'', dengan memperkuat ketahanan diri, meningkatkan kecerdasan pikiran dan bekal hidup berupa ilmu pengetahuan. Dalam konteks kekinian, musuh-musuh itu adalah kegelapan, kebodohan, kemiskinan dan sebagainya. Termasuk sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita seperti rajas dan tamas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Penampahan Galungan, umat melenyapkan sifat-sifat tamas, dalam konteks sekala disimbolkan dengan menyembelih babi. ''Dengan berhasilnya umat memerangi sifat-sifat tamas, dunia menjadi penuh sinar (div). Pada saat itulah, selama sepuluh hari dimulai sejak Galungan hingga Kuningan, para dewa diyakini turun ke bumi memberikan anugerah kepada umatnya. Pada hari-hari penuh anugerah itulah semestinya umat selalu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa memohon perlindungan, tuntunan dan anugerah. Hari penuh anugerah itu puncaknya saat Kuningan, sebelum tajeg surya. Karena itu umat Hindu selalu merayakan Kuningan pagi hari dan selesai mengaturkan banten sebelum pukul 12.00. Sebab, sesuai dengan mitos agama, para dewa diyakini kembali lagi ke kahyangan setelah pukul 12.00,'' ujar Guru Besar Unhi Prof. Dr. I.B. Gunadha, M.Si.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tegas Prof. I.B. Gunadha, Kuningan itu merupakan puncak anugerah. Dalam konteks ini umat dituntun untuk selalu mencapai kesempurnaan hidup. Dengan memperkuat ketahanan diri atau ketahanan spiritual, yang diejawantahkan dalam simbol-simbol Kuningan, diharapkan umat mampu menghadapi tantangan hidup atau mengatasi problem hidup yang makin kompleks.&lt;br /&gt;Dikatakannya, saat Kuningan persembahan yang dipersembahkan serba kuning. Kuning merupakan simbol kesejahteraan dan keselamatan. ''Jadi, setelah menang melawan sifat-sifat tamas, umat diharapkan tidak lagi memelihara sifat-sifat pemalas. Setelah Kuningan ini, umat diharapkan bangkit menjadi insan-insan yang memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin, rajin, loyal dan selalu meningkatkan kualitas diri. Insan-insan demikianlah yang ideal menurut agama Hindu,'' kata Prof. Gunadha yang Direktur Program Pascasarjana Unhi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen IHDN Denpasar yang mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Kementerian Agama RI Dr. Wayan Suarjaya mengatakan makna di balik Kuningan sesungguhnya adalah agar umat mampu meningkatkan kemenangan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu dalam merayakan Kuningan orangtua kita menyarankan agar jangan sampai lewat pukul 12.00. Itu mengandung makna bahwa kemenangan dharma melawan adharma saat hari raya Galungan hendaknya selalu bisa ditingkatkan -- menanjak terus. Jadi, Kuningan itu merupakan puncak kemenangan. Karena itu pada hari raya Kuningan dipersembahkan nasi kuning sebagai simbol kesejahteraan.&lt;br /&gt;Kata Suarjaya, sesungguhnya ada tiga nilai filosofi yang bisa dimaknai dari perayaan Kuningan. Pertama, umat hendaknya terus merasa terpanggil untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bersyukur kepada-Nya, karena kita telah dianugerahi kerahayuan, kesejahteraan dan kemenangan melawan sifat-sifat adharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, umat hendaknya selalu ingat terhadap jasa-jasa leluhur atau para pahlawan bangsa. Peran atau jasa para leluhur dan para pahlawan kita sangatlah besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu pada hari raya Kuningan, umat selalu mengaturkan banten sodan kepada sang Pitara sebagai rasa hormat kepada leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengembangkan rasa cinta kasih kepada sesama. Kita adalah bersaudara, karenanya kita harus mampu hidup berdampingan secara rukun. Jangan karena perbedaan kita selalu berkonflik. Perbedaan ras, suku, agama adalah anugerah. Melalui perayaan Kuningan ini kita diharapkan bisa meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-8230514507361517479?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/8230514507361517479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=8230514507361517479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8230514507361517479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8230514507361517479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/12/mengapa-ada-simbul-perang-dalam.html' title='Mengapa Ada Simbul Perang Dalam Merayakan Hari Raya Kuningan'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TQwJk4m5IKI/AAAAAAAACcw/qrYktDY5ekw/s72-c/Tamiang%2B-%2BSelamat%2BHari%2BRaya%2BGalungan%2BDan%2BKuningan%2B8%2Bdan%2B18%2BDesember%2B2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-5654158969672461523</id><published>2010-12-06T22:40:00.000-08:00</published><updated>2010-12-06T22:50:40.555-08:00</updated><title type='text'>Renungan Galungan Rabu 8 Desember 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TP3ZHxNp8gI/AAAAAAAACco/BQEOjyyfupw/s1600/Selamat%2BHari%2BRaya%2BGalungan%2Bdan%2BKuningan%252C%2B8%2Bdan%2B18%2BDesember%2B2010.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 225px; height: 301px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TP3ZHxNp8gI/AAAAAAAACco/BQEOjyyfupw/s320/Selamat%2BHari%2BRaya%2BGalungan%2Bdan%2BKuningan%252C%2B8%2Bdan%2B18%2BDesember%2B2010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547829043483243010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak yang menilai bahwa realitas kehidupan masyarakat saat ini identik dengan materi, uang, harta-benda; segala sesuatu ditakar dan dihubungkan dengan materi. Ini dikatakan merupakan salah satu ciri ''Zaman Kali'' (Kaliyuga) di mana hanya dana (uang, materi/benda) yang diutamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Kali dengan peradaban kontemporer yang cenderung makin sekuler seperti sekarang ini, pengaruh materialisme (mementingkan materi/benda) dan kapitalisme (mengagungkan uang) telah merasuk bahkan kemudian dapat merusak tatanan mapan pada level konsep ideal. Semisal menabrak bhisama yang menjiwai perlindungan kawasan suci dengan konsekuensi adanya larangan membangun fasilitas/akomodasi profan. Praktik menabrak bhisama semacam ini merupakan fenomena profanisasi/sekularisasi yang ditandai dengan dimarginalkannya elemen spirit dari manusia, tepinggirkan oleh supremasi materi sebagai kekuatan yang ampuh mengatasi segala persoalan, setidaknya dari sisi pemenuhan kebutuhan materi-ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bentuk real dari kekalahan telak manusia atas kekuasaan materi, sekaligus merupakan kelemahan utama peradaban kita di zaman Kali dewasa ini. Sebab, dengan memenangkan kekuasaan materi berarti akan terjadi degradasi pada nilai-nilai nonmateri, seperti idealisme, moralitas dan kesadaran spiritualitas itu sendiri, yang pada hakikatnya lebih mementingkan substansi (makna) dan esensi (nilai) daripada sekadar kepemilikan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan kehidupan berbasis materi ini kian jelas di dalam realitas sosial. Manusia modern dengan paradigma utamanya bertumpu pada materi senantiasa mengedepankan bagaimana bisa memiliki materi lebih banyak, lebih banyak bukan bagaimana saya menjadi manusia yang lebih berkualitas, lebih bermoral dan lebih bermakna bagi kehidupan dan sesama melalui praktik nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara, tempat-tempat ibadah serta keberadaan kawasan suci tempat di mana wilayah Bali dihormati sebagai Pulau Kahyangan, Pulau para Dewata, seharusnya menjadi inspirasi dan motivasi religi bagi manusia dewasa ini untuk meningkatkan sradha bhakti guna meningkatkan kualitas kehidupan. Di sisi lain, hari raya, hari-hari suci yang begitu tinggi frekuensinya dilaksanakan umat Hindu, termasuk Galungan dan Kuningan, sejatinya adalah momentum ritual untuk kebangkitan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, realitas yang kita saksikan saat ini justru kian memperjelas gaya hidup yang makin mengedepankan adharma. Banyaknya kasus amoral, asusila, perusakan alam lingkungan, termasuk pelecehan terhadap nilai-nilai sakral seperti maraknya pencurian benda-benda sakral di sejumlah pura di Bali oleh orang Bali (Hindu) sendiri, sungguh makin mengkhawatirkan kita. Teologi agama yang menghambakan Tuhan di era peradaban kontemporer yang makin sekuler seperti sekarang ini, ternyata dengan mudah dikalahkan oleh ideologi masa kini dengan ragam peradaban materialismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan sosial memang real dan pasti membutuhkan elemen material-finansial (materi, uang). Maka ketika niai-nilai idealitas harus berhadapan dengan realitas sosial dengan segala kebutuhan dan tuntutannya, yang patut ditumbuhkan adalah kesadaran iman, ketakwaan untuk memenangkan kesucian hati, kejernihan pikiran, dan spiritualitas agar dapat menghasilkan tindakan perilaku yang benar berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan hari raya agama seperti Galungan-Kuningan dan lainnya seharusnyalah merupakan aktualisasi dari perilaku spiritual yang merefleksikan terjadinya perbaikan moral, akhlak dan kemanusiaan pada setiap individu umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan, 8 dan 18 Desember 2010.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-5654158969672461523?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/5654158969672461523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=5654158969672461523' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5654158969672461523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5654158969672461523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/12/renungan-galungan-rabu-8-desember-2010.html' title='Renungan Galungan Rabu 8 Desember 2010'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TP3ZHxNp8gI/AAAAAAAACco/BQEOjyyfupw/s72-c/Selamat%2BHari%2BRaya%2BGalungan%2Bdan%2BKuningan%252C%2B8%2Bdan%2B18%2BDesember%2B2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-380019674180940861</id><published>2010-11-21T04:09:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T04:13:32.248-08:00</updated><title type='text'>Sorga Bagi yang Melestarikan Alam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TOkM04ORrZI/AAAAAAAACcg/sF_OgIg821U/s1600/Sorga.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 196px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TOkM04ORrZI/AAAAAAAACcg/sF_OgIg821U/s320/Sorga.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541974919041101202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Indraa ya dyaava osadhir uta aapah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayim raksanti jirayo vanani. (Regveda III.51.5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Lindungilah sumber-sumber kekayaan alam seperti atmosfir (dyau) tanam-tanaman bahan makan dan tumbuh-tumbuhan berhasiat obat (osadha), sungai sungai, sumber air (aapah) dan hutan-hutan belantara (vana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERMUJAAN Tuhan seyogianya didayagunakan untuk menguatkan komitmen umat manusia untuk melaksanakan sabdaNya. Salah satu sabda Tuhan itu seperti Mantra Rgveda III.51.5 yang dikutip di atas. Tuhan telah mensabdakan agar umat manusia menjaga kemurnian eksistensi atmosfir, tanam tanaman terutama bahan makanan dan obat-obatan. Demikian juga sungai-sungai dan sumber-sumber air lainnya dan juga kerimbunan tanaman hutan di kawasan hutan seperti dilereng gunung, hutan bakau di pantai dan kawasan hutan lainnya. Menjaga hutan tidak saja dari segi luasnya, tetapi dari segi jenis dan kwalitas pohon yang membuat rimbunnya hutan. Umat manusia seharusnya paham akan multi fungsi hutan untuk berlangsungnya kehidupan dibumi ini. Kalau sumber daya alam tersebut tak terjaga dengan baik maka hidup manusia di planet bumi ini akan menimbulkan banyak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam ajaran Hindu kegiatan hidup yang senantiasa menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari pengamalan ajaran Agama yang disebut Bhuta Yadnya. Tujuan Bhuta Yadnya itu adalah Bhuta Hita yaitu mensejahterakan alam lingkungan yang dibangun dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Bhagawad Gita V.25 dinyatakan barang siapa yang dalam hidupnya senantiasa memelihara dan menjaga kelestarian alam (Bhuta Hita Ratah) maka ia akan mencapai surga (Brahman Nirwana). Mereka yang disebut orang suci adalah ia yang dosanya telah dimusnahkan, kebimbangannya telah dihilangkan, pikirannya telah mencapai keadaan yang tetap dan mereka yang senantiasa menjaga kelestarian alam (Bhuta Hita Ratah). Artinya orang yang senantiasa melestarikan alam tergolong orang suci dan dijanjikan masuk surga oleh kitab suci. Sebelum masuk surga di niskala tentunya juga hidup bahagia dan sejahtra di dunia. Ini berarti nerakalah pahalanya bagi yang merusak alam seperti mengotori udara, mengotori sungai, merusak hutan, dstnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof.Dr. Emil Salim dalam tulisannya yang berjudul "Meningkatkan Daya Dukung Lingkungan" pada buku: Alumni FEUI dan Tantangan Masa Depan: Beragam Pemikiran diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Jakarta tahun 1995 menyatakan adanya sepuluh kerusakan di kulit bumi ini. Sepuluh kerusakan muka bumi ini disebabkan bergesernya gaya hidup manusia dan needs ke wants. Maksudnya dari hidup berdasarkan kebutuhan telah bergeser menjadi hidup berdasarkan keinginan. Dulu orang hidup mencari ketenangan telah bergeser hidup mencari kesenangan indriawi. Adanya pemanasan global yang semakin meningkat, menyebabkan semakin meningkatnya permukaan air laut dimuka bumi ini. Semakin menyusutnya air tawar baik di permukaan bumi maupun diperut bumi. Semakin menyusutnya populasi aneka hayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyaknya turun hujan asam atau acid rain yang banyak merusak pucuk pohon. Ada gejala semakin meluasnya gurun pasir di bumi ini. Karena hewan memakan rumput dan tanaman secara berlebihan sampai keakar-akarnya, dan manusia mengeksploitasi lahan subur secara berlebihan maka kwalitas tanah berubah menjadi gurun pasir. Limbah hewan yang disembelih paling banyak menimbulkan gas buang mengotori udara dan menimbulkan perubahan cuaca. Demikian antara lain kerusakan yang terjadi dikulit bumi ini menurut hasil kajian Prof.Dr. Emil Salim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swami Satya Narayana menyatakan dalam pustaka Anandadayi: Jangan salah gunakan lima unsur alam ini. Lima unsur alam itu adalah bumi, air, api, udara dan langit. Ini lima anggota badan Tuhan. Manusia boleh menggunakannya hanya sebatas kebutuhan. Menyakiti orang lain, sama saja dengan menyakiti Tuhan, karena dalam diri manusia ada Tuhan yang disebut atman. Manusia juga terbangun dari lima unsur alam tersebut. Menyalahgunakan Panca Maha Bhuta itu adalah kejahatan yang paling besar. Menghambur-hamburkan energi manusia akan mendapat luka bakar. Dengan mengotori udara manusia akan mendapatkan penyakit jiwa. Adalah tidak baik menginginkan yang tidak dibutuhkan. Begitu juga menginginkan kesenangan yang berlebihan. Bilamana manusia serakah bisa saja terjadi kehilangan apa yang telah dimiliki. Manusia tidak baik makan dengan rakus dan mengotori sekeliling lingkungan. Seseorang tidak boleh menjajah tanah lebih dari yang diperlukan untuk hidup. Bilamana berbicara atau bekerja jangan ramai hiruk-pikuk. Tidak boleh menimbulkan bunyi-bunyian yang berlebihan. Membuat keramaian yang hiruk-pikuk juga dosa. Kesunyian itu Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panca Maha Bhuta yang terpelihara kemurniannya akan mampu menumbuhkan pohon-pohonan yang menghijau. Mantra Atharvaveda.X.44.1 menyatakan sbb: Terdapat warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan (klorofil) yaitu unsur yang menyelamatkan hidup yang ada pada hijau daun. Ia ditutupi oleh Rta. Karena itu zat warna hijau tersebut yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan mengandung zat hidup menjadi bahan makanan dan berkhasiat obat. Manusia dan hewan tidak bisa hidup tanpa tumbuh-tumbuhan. Air, udara dan tumbuh-tumbuhan saling menguatkan. Karena itu air, tumbuh-tumbuhan dan udara (Apah, Isadah, Vata) disebut Tri Chandda dalam Atharvaveda XVIII.1.17. Unsur alam itu adalah tiga lapisan yang menyelubungi bumi yang membentuk tempat hidup semua makhluk hidup di bumi ini. Mantra Rgveda X.9.6 menyatakan baha air memiliki unsur-usnur penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manawa Dharmasastra IV.56 menyatakan: Hendaknya jangan berludah, membuang air kencing atau kotorannya ke air sungai. Juga tidak boleh melemparkan kata-kata yang tidak suci ke sungai, tidak juga darah maupun kotoran lainnya dan juga hal-hal yang mengandung racun (bisa). Kecerdasan orang akan sirna apa bila mengotori sungai. Pustaka Sarasamuscaya 363 menyatakan orang akan masuk surga apabila melakukan investasi untuk menguatkan eksistensi air dibumi ini, menciptakan pasar, membangun jalan, membangun balai pertemuan (Sabha) dan membangun tempat pengembangan kebudayan dan seni untuk masyarakat luas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-380019674180940861?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/380019674180940861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=380019674180940861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/380019674180940861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/380019674180940861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/11/sorga-bagi-yang-melestarikan-alam.html' title='Sorga Bagi yang Melestarikan Alam'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TOkM04ORrZI/AAAAAAAACcg/sF_OgIg821U/s72-c/Sorga.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-5418912353854136895</id><published>2010-11-21T04:00:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T04:07:56.512-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>Pura Kiduling Kreteg</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TOkLh96fnTI/AAAAAAAACcY/QA3GOtKRYH0/s1600/PURA%2BKiduling%2BKreteg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 196px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TOkLh96fnTI/AAAAAAAACcY/QA3GOtKRYH0/s320/PURA%2BKiduling%2BKreteg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541973494639598898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pura Kiduling Kreteg merupakan salah satu pura di kompleks Pura Besakih. Posisinya berada di sebelah selatan Pura Penataran Agung Besakih. Sesuai namanya, Kiduling Kreteg berarti di sebelah selatan jembatan. Kenyataannya memang pura berada di sebelah selatan jembatan dari Pura Penataran Agung Besakih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Penataran Agung Besakih menjadi pusat seluruh kompleks Pura Besakih, sedangkan Pura Kiduling Kreteg merupakan Pura Catur Dala. Sebagai Pura Catur Dala, Pura Kiduling Kreteg sebagai tempat suci untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma. Dewa Iswara adalah manifestasi Tuhan sebagai Dewanya sinar, menyinari alam semesta dari atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Dewa Brahma adalah manifestasi Tuhan sebagai Dewanya api, yang berkobar dari bawah menuju atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Purnama Sasih Keenam, di Pura ini diselenggarakan ritual Aci Panyeeb Brahma. Apa maknanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut agamawan, Drs. I Ketut Wiana, M.Ag., dalam bukunya Pura Besakih, hulunya Pulau Bali umat memuja Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa atau Batara Brahma, untuk memohon tuntunan agar tetap memiliki semangat untuk terus berkreasi mewujudkan kebenaran, kesucian, dan keharmonisan. Sebab, kehidupan yang bahagia lahir-batin akan terwujud, manakala dilandasi atau didasari kebenaran, kesucian dan keharmonisan satyam, siwam, dan sundaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut Wiana, salah satu tujuan pemujaan Tuhan sebagai Dewa Brahma di Pura Kiduling Kreteg adalah untuk menuntun umat Hindu agar senantiasa mengembangkan daya kreativitasnya dalam mewujudkan kebenaran Weda dalam kehidupan individual dan sosial. Di samping memelihara semangat hidup agar tetap berada di jalan dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg melalui pelinggih meru tumpang sebelas. Pujawali di Pura Kiduling Kreteg jatuh pada setiap Anggara Wage Wuku Dungulan atau Penampahan Galungan. Sedangkan upacara Aci Panyeeb Brahma di Pura Kiduling Kreteg dilangsungkan setiap Purnama Sasih Kaenem. Piodalan-nya menggunakan sistem wuku, sedangkan Aci Panyeeb Brahma menggunakan sistem sasih atau Chandra Premana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara Panyeeb Brahma ini dilangsungkan, menurut Wiana, bertujuan untuk memohon agar api yang berada di perut bumi agar benar-benar memberi energi seimbang dan sesuai dengan kebutuhan makhluk hidup penghuni bumi. Aci Penyeeb Brahma sebagai permohonan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma agar panas yang ada di perut bumi yang disebut Kurma Agni itu bereksistensi secara teratur sesuai dengan kebutuhan hidup tumbuh-tumbuhan. Kurma Agni atau Bedawang Nala adalah api magma yang memiliki berbagai kekuatan energi. Dengan adanya keseimbangan atau keteraturan kuatan energi api dan air, diharapkan dapat menjadikan bumi ini sebagai Ananta Bhoga yakni sumber makanan yang tak habis-habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Aci Panyeeb Brahma, umat memohon agar panas bumi yang berada di perut bumi dapat terserap secara terukur sesuai dengan hukum alam (rta). Dengan demikian maka tanah bumi pun menjadi subur. Di balik ritual ini, ada suatu dorongan spiritual, memotivasi umat untuk selalu menjaga alam agar tetap lestari. (lun)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-5418912353854136895?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/5418912353854136895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=5418912353854136895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5418912353854136895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/5418912353854136895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/11/pura-kiduling-kreteg.html' title='Pura Kiduling Kreteg'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TOkLh96fnTI/AAAAAAAACcY/QA3GOtKRYH0/s72-c/PURA%2BKiduling%2BKreteg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-4097165079425502412</id><published>2010-11-07T03:04:00.000-08:00</published><updated>2010-11-07T03:08:56.669-08:00</updated><title type='text'>Misteri Batu Makocok di Pura Watu Klotok Klungkung Bali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TNaIqDPJ5AI/AAAAAAAACcQ/kDDD7YOL2gk/s1600/Pura+Watu+Klotok+Klungkung+Bali.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 255px; height: 191px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TNaIqDPJ5AI/AAAAAAAACcQ/kDDD7YOL2gk/s320/Pura+Watu+Klotok+Klungkung+Bali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5536763047903355906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pura Watu Klotok merupakan salah satu pura terkenal di Kabupaten Klungkung Bali. Di samping pura kahyangan jagat, Pura Watu Klotok juga kerap dijadikan pusat pasucian Ida Batara Pura Besakih. Akhir tahun 2005 lalu, pascabencana ledakan bom Bali II dan terjadinya bencana tsunami di Aceh, di pura yang terletak di bibir pantai selatan Kota Semarapura itu berlangsung dua kali upacara permohonan keselamatan dan kesucian dunia. Upacara Samudra Kerthi dan Dirgayusa Bumi. Tak kalah pentingnya, Pura Watu Klotok juga berfungsi sebagai tempat memohon kesuburan lahan persawahan bagi para petani.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pura Watu Klotok letaknya tidak jauh dari pura terkenal lainnya yang ada di bumi serombotan. Salah satunya Pura Dasar Bhuwana Gelgel sehingga keberadaannya sangat mudah dijangkau bagi umat yang gemar matirtayatra. Apalagi saat ini, jalur By-pass Tohpati-Kusamba (By-pass I.B. Mantra) sudah tuntas dikerjakan. Tentu akses bagi umat menuju pura yang berada di Banjar Celepik, Tojan, Klungkung itu semakin mudah. Pura Watu Klotok memiliki panorama pantai selatan Klungkung yang memesona. Dari pura itu, sembari bersembahyang umat pun dapat menyaksikan keindahan kawasan Kepulauan Nusa Penida dan Hotel Bali Beach di Pantai Sanur. Hampir setiap bulan, persisnya ketika bulan purnama, Pura Watu Klotok benar-benar menjadi tempat yang paling dicari umat yang haus akan pendalaman spiritual. Karena Pura Watu Klotok dipercaya sangat baik dijadikan objek matirtayatra yang belakangan ini makin diminati umat Hindu. Bisa dikatakan Pura Watu Klotok merupakan tempat yang mampu menghilangkan dahaga bagi umat yang kehausan pendalaman spiritual,'' ungkap penekun spiritual asal Satra Dewa Ketut Soma yang kerap ditunjuk sebagai panitia karya di Pura Watu Klotok. Tak jarang, umat sampai makemit (begadang) sembari bersemedi di pura itu guna menemui kedamaian batin. Selain itu, umat Hindu yang berprofesi sebagai petani, juga mempercayakan keberhasilannya di bidang pertanian di pura ini. Umat selalu memohon petunjuk dan perlindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar senantiasa memberi kesuburan atas tanah pertanian mereka serta mencegah datangnya serangan hama tanaman. Atas hal itu, krama subak secara rutin, turun-temurun melaksanakan upacara mohon pekuluh jika sawah mereka terserang wabah tanaman sekaligus memohon keselamatan dan kesuburan tanam-tanaman yang dikenal dengan upacara neduh lan pangusaban. Umat yakin, dengan permohonan yang tulus, kesuburan tanah akan terwujud. ''Memang, para petani tidak cukup hanya berharap berkah dari doa semata, akan tetapi mesti dilengkapi dengan berusaha dan bekerja keras,'' tambahnya. Permohonan keselamatan dan penyucian serta anugerah kesuburan berlangsung ketika piodalan yang jatuh setiap enam bulan sekali. Persisnya pada Anggara Kasih Julungwangi. Ada juga yang diselenggarakan setiap tahun sekali, yakni upacara Ngusaba. Piodalan itu diselenggarakan pengempon dari Banjar Celepik, Gelgel dengan pendanaan bersumber dari hasil pelaba pura. Upacara lain yang kerap digelar di Pantai Watu Klotok yakni mulang pakelem dalam rangkaian upacara-upacara besar yang digelar di Pura Besakih seperti Eka Dasa Rudra, Tri Bhuana, Eka Bhuana, Panca Bali Krama dan lainnya. Bahkan, di pantai Watu Klotok juga sering dilakukan upacara nangkid, malukat serta neduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, Pantai Watu Klotok memendam misteri yang sulit dianalisis akal sehat. Bentangan pantai dari Ketapang Kembar sampai Pantai Sidayu merupakan kawasan misteri pasukan ''Kopassus'' Ratu Gde Nusa. Siapa pun yang berani berbuat onar dan kurang ajar di pantai itu, jangan harap untuk pulang kembali dengan selamat. Salah satu peninggalan yang dikeramatkan di Pura Watu Klotok adalah sebuah batu makocok (makocel). Batu makocok itu merupakan cikal bakal pendirian pura dengan kekeramatannya yang kini malinggih di utama mandala Pura Watu Klotok. Bukan hanya itu, ada juga unen-unen (rencang) Ida Batara berupa bikul (tikus) putih, lelipi poleng (ular belang) dan penyu macolek pamor. Penyu macolek pamor itu diyakini muncul seratus tahun sekali. Itu dibuktikan dengan terdamparnya seekor penyu raksasa beberapa tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arca Penjaga Kesucian&lt;br /&gt;Sebagaimana Pura-pura lain di Bali, struktur Pura Watu Klotok juga terdiri atas tiga bagian. Utama mandala, madya mandala dan nista mandala. Bagian nista mandala (paling luar) Pura Watu Klotok berupa Candi Bentar dan Arca Dwapara Pala lengkap dengan senjata gada. Dwapara berarti pintu, sedangkan pala berarti penjaga. Jadi, begitu memasuki wilayah Pura Watu Klotok diyakini sudah ada suatu kekuatan yang menjaga kesucian pura. ''Sehingga ketika pemedek baru menginjakkan kaki di gerbang pura, sudah diarahkan untuk mengarahkan pikiran dan perilaku ke arah kesucian,'' kata Dewa soma. Setelah memasuki candi bentar menuju madya mandala, di sebelah selatan terdapat pelinggih Sang Kala Sunya. Pelinggih itu merupakan aspek sakti dari Batara Baruna yang menguasai daerah kutub. Di sebelah timur pelinggih Sang Kala Sunya, juga dibangun pelingih penghayatan Ratu Gde Penataran Ped yang tak lain berupa pohon ketapang berukuran besar serta sebuah tugu seperti pelingih taksu atau ngerurah. Di utama mandala terdapat pelinggih Ida Batara Watu Makocok (Makocel). Sesuai namanya, pelinggih ini disebut batu makocel yang berarti batu berbunyi yang diyakini memiliki sinar vibrasi spiritual tinggi. Juga diyakini sebagai tempat memohon kekuatan alam agar dianugerahi keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan karena batu ini adalah cikal-bakal lahirnya Pura Watu Klotok. Karena pertama kali ada, makanya umat menyebut pelinggih Batu Makocel itu dengan sebutan Ida Bhatara Lingsir. Di samping itu, ada meru tumpang lima, gedong alit ,pule, padmasana, pengaruman, linggih Sri Sedana dan beberapa pelinggih lainnya. Singkatnya, di utama mandala terdapat 16 pelinggih termasuk Candi Bale dan sumur. Di madya mandala lima pelinggih yaitu bale pemedek, bale gong, bale kulkul, candi bentar dan apit lawang kiwa- tengen. Sementara pada nista mandala terdapat enam pelinggih yaitu Sanghyang Kala Sunia, Ida Batara Dalem Ped, bale pawedan, panggungan, candi bentar dan patung Dwarapala. Di samping terdapat piranti pelengkap lainnya seperti lumbung, bale petandingan, perantenan, bale sekepat, Sri Sedana dan bale paebatan yang terletak di sekitar areal pura. sumber Bali Post&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-4097165079425502412?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/4097165079425502412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=4097165079425502412' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/4097165079425502412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/4097165079425502412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/11/misteri-batu-makocok-di-pura-watu.html' title='Misteri Batu Makocok di Pura Watu Klotok Klungkung Bali'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TNaIqDPJ5AI/AAAAAAAACcQ/kDDD7YOL2gk/s72-c/Pura+Watu+Klotok+Klungkung+Bali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-7291539437672286808</id><published>2010-10-07T23:16:00.000-07:00</published><updated>2010-10-07T23:19:26.511-07:00</updated><title type='text'>Kehidupan Modern</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TK6304NdI4I/AAAAAAAACcI/AZNa5vMtRRo/s1600/Kehidupan+Modern.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 167px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TK6304NdI4I/AAAAAAAACcI/AZNa5vMtRRo/s320/Kehidupan+Modern.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525555911900078978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Raga dwesa yuktaistu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisayan indriyais caran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmawasair widheyaatmaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prasaadam adhigacchati (Bhagawad Gita II.64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Hidup di tengah-tengah hiruk pikuknya benda-benda duniawi dengan tetap menguasai kekuatan pikiran dari tarikan kesenangan dan kedengkian dengan kuat mengendalikan diri, akan mencapai kedamaian jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamika kehidupan di dunia dewasa ini semakin sulit diprediksi. Lebih-lebih hiruk pikuknya kehidupan di dunia ini disertai dengan pesatnya pengembangan rekayasa iptek. Akibat negatif dan positif dari rekayasa iptek itu semakin fluktuatif. Ada hasil rekayasa iptek yang akibat positifnya lebih banyak dari akibat negatifnya. Demikian juga sebaliknya. Sangat tergantung niat manusia yang ada dibelakang pengembangan IPTEK tersebut. Mahatma Gandi menyatakan ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan dapat menimbulkan dosa sosial. Ini berarti kalau rekayasa iptek itu dikembangkan oleh SDM yang kuat rasa kemanusiaannya tentunya rekayasa iptek itu justru akan menimbulkan kebaikan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalau SDM-nya sangat lemah rasa kemanusiaannya akan menimbulkan bencana kemanusiaan. Seperti adanya makanan oplosan dengan menggunakan zat kimia berbahaya. Ada obat-obat palsu beredar di pasaran. Ada uang palsu yang dapat merusak ekonomi bangsa. Adanya pemalsuan berbagai merek barang yang banyak merugikan berbagai pihak. Mereka yang merusak kehidupan publik itu nyatanya banyak yang hidupnya berkecukupan. Hukumpun tak mampu menyentuh prilaku jahatnya itu. Bahkan mereka yang melakukan kejahatan itu dari kalangan elit seperti pendidikan tinggi, dari keluarga mampu, ada dari mereka yang keluarganya sudah punya pengaruh luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tidak kuat berpegang pada dharma dapat hanyut ikut melakukan hal-hal yang melanggar Agama maupun hukum serta norma-norma hidup lainnya. Tapi bagi yang memahami posisi dharma ia tidak akan terpengaruh oleh hidup pikuknya gejolak zaman Kali yang bersifat palsu itu. Manawa Dharmasastra I.82 menyatakan bahwa pada zaman Kerta, dharma ditopang oleh empat kekuatan penuh. Pada zaman Tretya kekuatan dharma berkurang seperempatnya. Pada zaman Dwapara kekuatan dharma dan adharma seimbang betul. Pada zaman Kali kekuatan dharma hanya satu sedangkan adharma kekuatannya tiga. Kalau secara matematik adharma sepertinya akan unggul melawan dharma. Tetapi bagi yang kuat berpegang pada dharma jalkan pujanam dan sevanam ia akan mendapatkan perlindungan dari Tuhan dari pengaruh adharma. Pujanam artinya meyakini dan memuja Tuhan dengan penuh bhakti. Sedangkan sevanam artinya memandang hidup ini adalah pelayanan kepada alam, kepada sesama dan pada yang tertinggi yaitu Tuhan Yang Mahaesa. Subha Sita Veda menyatakan: Para upakara punyaya, papaya parapidana. Artinya siapapun yang hidupnya senantiasa melayani orang lain, ia akan dapat punia atau kemuliaan. Barang siapa yang hidupnya menyakiti pihak lain hidupnya akan dirundung oleh derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang kuat berpegang pada ajaran Dharmasastra ini, menghadapi hiruk pikuknya kehidupan didunia ini ia tidak akan khawatir. Hidup bukan kuantitas tetapi kualitas. Kualitas hidup ukurannya adalah dharma. Mereka merasa mewah dalam kesederhanaan. Hidup glamour bergelimang kenikmatan duniawi bukanlah kemewahan bagi mereka yang berpegang pada Dharma. Hal inilah yang dipegang oleh Pandawa. Meskipun mereka sederhana dalam ukuran duniawi, tetapi mereka berada di jalan dharma. Mereka merasa dekat dan berada pada lindungan Tuhan. Dekat dan merasa ada dalam perlindungan Tuhan, inilah kemewahan baginya. Pikiran dan hati nuraninya tak tergoyahkan oleh kenikmatan duniawi yang berada di luar jalur dharma. Keindahan dunia dinikmati sepanjang ada dijalur dharma. Mereka yang berpegang pada dharma bukan menolak keindahan dan gemerlapannya dunia. Keindahan dunia dapat dinikmati sepanjang berdasarkan dharma dan tidak merusak sistem alam berdasarkan hukum Rta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Rta-lah ciptaan Tuhan untuk menata dinaika alam. Dengan hukum Rta alam beredar sesuai dengan hak azasi alaminya. Menikmati dinamika alam dengan tidak melanggar hak azasi alam itu sendiri bahkan justru sebelum dinikmati alam itu dikuatkan eksistensi alaminya terlebih dahulu. Dengan demikian kehidupan itu dapat berlangsung dengan tidak merusak alam tersebut. Keyakinan dan bhakti pada Tuhan hendaknya menjadi sikap hidup untuk menguatkan pikiran dan hati nurani dalam mengarungi hiruk pikuknya dunia modern bahkan para ilmuwan menyebutnya post modern. Dengan kuatnya pikiran dan hati nurani berpegang pada Dharma dengan senantiasa berlindung pada Tuhan orang akan mampu mengarungi hiruk pikuknya glamournya benda-benda duniawi. Dalam Bhagawad Gita VII.1 dinyatakan untuk membuat senantiasa dekat Tuhan ada lima hal yang sepatutnya dilakukan yaitu: Asta manah; pusatkan dan kuatkan pikiran meyakini dan berbakti pada Tuhan Yoga yunjana; laksanakan ajaran yoga dengan tekun, Madasraya; selalu berlindung pada Tuhan, Asamsaya; tidak pernah ragu berpegang pada dharma, Samagraham yaitu pasrah dengan sepenuhnya hanya pada Tuhan. Dengan lima kegiatan itulah seseorang dapat menguatkan dirinya menghadapi dinamika dunia yang semakin fluktuatif. Dengan berpegang pada upaya yang ditunjukan oleh pustaka suci itu maka kita akan tidak ragu hidup dalam mengarungi hiruk pikuknya dunia post modern dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sikap hidup yang kuat berpegang pada nilai-nilai spiritual kitab suci itu kita tidak hanyut pada dinamika dunia yang multi dimensi tersebut. Justru sebaliknya tahap demi tahap dapat menjadi contoh dalam kehidupan modern itu. Pada zaman Kali ini masyarakat akan menutup telinga pada nasehat-nasehat, tetapi akan membuka mata pada contoh-contoh yang baik dari mereka kuat berpegang pada kehidupan yang kuat berpegang pada nilai-nilai dharma. Hidup ini tidak harus menjauhi dinamika duniawi, tetapi yang penting tidak hanyut oleh dinamika duniawi tersebut. Dunia ini adalah sarana kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Tanpa sarana dunia, manusia tidak bisa hidup. Yang penting dunia ini jangan dipandang sebagai tujuan. Manusia hendaknya menjadikan dunia ini sebagai sarana mewujudkan tujuan hidup mencapai dharma, artha dan kama sebagai dasar untuk mencapai moksha di dunia niskala. Mereka yang demikian itulah yang akan dapat mencapai ketenangan jiwa dalam hiruk pikuknya gejolak dunia. Oleh I Ketut Wiana&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-7291539437672286808?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/7291539437672286808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=7291539437672286808' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/7291539437672286808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/7291539437672286808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/10/kehidupan-modern.html' title='Kehidupan Modern'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TK6304NdI4I/AAAAAAAACcI/AZNa5vMtRRo/s72-c/Kehidupan+Modern.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-2417727216930208448</id><published>2010-09-23T21:50:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T21:57:01.017-07:00</updated><title type='text'>Wanara Laba dan Lelabaan Samar di Pura Pulaki</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TJwvcrOn5RI/AAAAAAAACcA/YXGngW9eiRU/s1600/Wanara+Laba+dan+Lelabaan+Samar+di+Pura+Pulaki.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 167px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TJwvcrOn5RI/AAAAAAAACcA/YXGngW9eiRU/s320/Wanara+Laba+dan+Lelabaan+Samar+di+Pura+Pulaki.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520339412936287506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semeton ingin meresapi dan melakoni ilmu keseimbangan hidup, baik kehidupan di dunia nyata maupun kehidupan di dunia kasatmata, datanglah dan berserah diri di Pura Pulaki. Ini bukan ajakan yang berlebihan, karena di Pura Pulaki kita bisa mendapat pencerahan tentang mahluk dan semesta yang benar-benar imbang, di mana segala makhluk diberi penghormatan dan penghargaan lewat upacara yang semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menakjubkan, melalui pura-pura pesanakan yang mengitari Pura Pulaki, hampir semua sendi kehidupan, mulai dari ekonomi, hukum dan kebudayaan, memiliki ruang religius untuk diberi sembah pemujaan secara iklas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Weraspati Watugunung, 23 September ini, adalah puncak pidodalan di Pura Pulaki. Umat Hindu yang ingin datang untuk bersembahyang bisa menemukan pura ini dengan mudah. Pura ini berlokasi di pinggir Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk, tepatnya di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat Kota Singaraja. Setelah bersembahyang di Pura Pulaki, umat bisa melanjutkan ke pura pesanakan lain, seperti Pura Agung Melanting, Pura Kerta Kawat, Pura Pabean dan Pura Pemuteran yang puncak piodalan-nya dilaksanakan secara berurutan setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upacara piodalan di Pura Pulaki ini akan diketahui betapa sebuah dunia dan mahluk yang menjadi penghuninya harus diberi penghormatan yang seimbang. Sebab tak mungkin satu makhluk bisa meniadakan mahluk lain. Masing-masing memiliki eksistensi, dan masing-masing harus saling mengakui keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pujawali digelar pada malam harinya, di Pura Pulaki diselenggarakan upacara Wanara Laba, sebuah upacara persembahan untuk ratusan kera yang selama ini menjadi penghuni perbukitan di areal Pura Pulaki. Yang lebih unik, saat itu juga digelar upacara lelabaan untuk wong samar atau gamang yang sejauh ini diyakini turut menjaga keajegan Pura Pulaki dan pura pesanakannya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglingsir Pura Agung Pulaki, Ida Bagus Mangku Temaja, memaparkan Wanara Laba merupakan sebuah upacara persembahan bagi kera yang selama ini menjadi pengaja setia Pura Pulaki. Ini dilakukan agar pada saat pujawali para kera itu tetap setia menjaga kelancaran dan kerahayuan pujawali. Secara simbolis, upacara itu memang dilakukan bagi kera di Pura Pulaki. Namun, sesungguhnya upacara itu juga dihaturkan bagi kera yang ada di seluruh Bali agar selalu menjaga Bali tetap ajeg dan rahayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat upacara Wanara Laba, pengempon pura menghaturkan banten suci dan buah-buahan. Upacara itu biasanya dilakukan tepat pada siang hari sebelum digelar puncak pujawali pada siang harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, upacara lelabaan untuk wong samar dilaksanakan sebagai bentuk persembahan kepada makhluk yang tidak kelihatan di Pura Pulaki. Makhluk ini memang diyakini selalu setia menjaga parahyangan, menjaga Ida Batara dan menjaga umat di Pura Pulaki dan di pura-pura lain di Bali. Persembahan pada upacara lelabaan ini terdiri dari suci ageng, ajengan keplogan, klungah aijeng dan pisang aijeng yang diikat ibus (sejenis pohon). Upacara ini dimaksudkan sebagai sebuah bentuk kesadaran umat untuk selalu menjaga wong samar dan gamang sehingga jagat secara niskala dan sekala selalu seimbang dan rahayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah umat mengakui, ratusan kera yang selama ini berkeliaran di Pura Pulaki akan menunjukkan sikap yang jinak setelah digelar upacara Wanara Laba. Umat bahkan menganggap keberadaan ratusan kera di Pura Pulaki merupakan pelengkap yang tak bisa dipisahkan dari aura religius yang dipancarkan oleh Pura Pulaki. Meski terkadang kera-kera itu menunjukkan perilaku nakal, namun umat mengaku keberadaan kera itu merupakan bentuk kesempurnaan dari prosesi persembahyangan di Pura Pulaki. ''Justru ketika tak ada kera di Pura Pulaki, kami merasa persembahyangan belum terasa lengkap,'' kata seorang umat saat bersembahyang di Pulaki belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Pesanakan&lt;br /&gt;Selain Pura Pulaki, terdapat sejumlah pura besar di sekelilingnya. Ida Bagus Mangku Temaja mengatakan terdapat empat pura lagi yang berada di sekitar Pura Pulaki. Lokasi pura itu sepertinya memang diatur secara rapi, sehingga Pura Pulaki berada di tengah-tengah atau kerap disebut sebagai pusat atau pusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat pura itu yakni Pura Melanting yang berada di sebelah selatan, Pura Kerta Kawat yang berada di sebelah timur, Pura Pemuteran di barat dan Pura Pabean yang berada di sebelah utara Pura Pulaki. Keempat pura itu memiliki ruang dan fungsi yang berbeda sesuai dengan bidang kehidupan yang dilakoni manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pura Pulaki berstana Bhetara Sakti Wawu Rauh dan Sri Padmi Keniten. Di Pura Melanting dipuja Ida Betari Ayu Mas Melanting yang menjadi sumber pencerahan bidang ekonomi. Lalu di Pura Kerta Kawat disembah Ida Betara Mentang Yuda yang menjadi sumber pencerahan bidang hukum. Kemudian di Pura Pemuteran berstana Ida Batara Manik Mencorong yang dihormati sebagai sumber yang memberi penerangan kepada dunia (nyorongin jagat). Dan Pura Pabean adalah tempat pemujaan Ida Ayu Mas Subandar yang dalam dunia nyata bisa dianggap sebagai sumber pencerahan bidang bea dan cukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujawali Pura Pulaki dan pesanakannya juga dilakukan secara berurutan setiap hari. Tahun ini, pujawali di Pura Pulaki pada 23 Sepetember. Besoknya, 24 September adalah pujawali di Pura Agung Melanting. Lalu 25 September pujawali di Pura Kerta Kawat, 26 September di Pura Pemuteran dan 27 September di Pura Pabean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba bahkan menyebutkan ada tujuh pura di kawasan Pura Pulaki. Yakni Pura Pulaki, Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatungan, Pura Puncak Manik dan Pura Pemuteran. Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan itu memang tak bisa dipisahkan. Dan dilihat dari 7 lokasi Pura-pura tersebut dan sesuai konsep Hindu hal itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala, yakni 7 lapisan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara -- sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang -- maka diperkirakan Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah. Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. "Seperti Pura-pura di deretan pegunungan dari barat ke timur di Pulau Bali ini," kata Simba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang sangat diperlukan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan, kemungkinannya pada waktu itu sudah ada berlaku perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan hingga kini masih ditemukan tanaman lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian itu, kata Simba, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut hingga peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki dan Wangaya.&lt;br /&gt;Data lain yang menyebut tentang Pulaki terdapat juga dalam buku ''Dwijendra Tatwa'' karangan Gusti Bagus Sugriwa. Di situ ada tertulis, "Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri . Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirarta dengan peristiwa dipralinakan-nya Pura Pulaki sekitar 1489 Masehi. Keberadaan Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, dari kurun waktu zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Batara Dang Hyang Nirarta tahun 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dengan Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki. (ole)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dudonan Upacara Pujawali di Pura Pulaki dan Pesanakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu (8/9), negem dewasa, ngingsah beras, ngelinggihang Dewi Sri&lt;br /&gt;Rabu (15/9), nancep&lt;br /&gt;Senin (20/9), musanain, masang penjor, masang pangangge&lt;br /&gt;Selasa (21/9), nunas tirta ke Pura Besakih miwah pura tiosan.&lt;br /&gt;Rabu (22/9), melasti, masucian ring Pura Taman Banyupoh&lt;br /&gt;Kamis (23/9), pukul 11.30 wita, upacara wanara laba&lt;br /&gt;Kamis (23/9), pukul 20.00 wita, puncak karya pujawali&lt;br /&gt;Jumat (24/9), pujawali ring Pura Melanting&lt;br /&gt;Sabtu (25/9), pujawali ring Pura Kerta Kawat&lt;br /&gt;Minggu (26/9), pujawali ring Pura Pemuteran&lt;br /&gt;Senin (27/9), pujawali ring Pura Pabean&lt;br /&gt;Selasa (28/9) sampai Kamis (30/9), Ida Batara nyejer&lt;br /&gt;Kamis (7/10), ngaturang pakelem ke Ulun Danu Tamblingan&lt;br /&gt;Sumber Bali Post.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-2417727216930208448?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/2417727216930208448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=2417727216930208448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/2417727216930208448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/2417727216930208448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/09/wanara-laba-dan-lelabaan-samar-di-pura.html' title='Wanara Laba dan Lelabaan Samar di Pura Pulaki'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TJwvcrOn5RI/AAAAAAAACcA/YXGngW9eiRU/s72-c/Wanara+Laba+dan+Lelabaan+Samar+di+Pura+Pulaki.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-1863518428691382494</id><published>2010-09-23T21:21:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T21:26:49.179-07:00</updated><title type='text'>Mesaiban Merupakan Bentuk Panca Yadnya Terkecil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TJwoSSYPsEI/AAAAAAAACb4/ygKCddS8pj4/s1600/Mesaiban+Bentuk+Panca+Yadnya+Terkecil.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 259px; height: 195px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TJwoSSYPsEI/AAAAAAAACb4/ygKCddS8pj4/s320/Mesaiban+Bentuk+Panca+Yadnya+Terkecil.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520331537885671490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tesam kramena sarvasam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niskrtyastham maha resibhih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panca kripta maha yadnyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pratyahan grhamedhinam. (Manawa Dharmasastra.III.69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Untuk menebus dosa yang ditimbulkan pemakaian lima alat penyemblihan itu, para Maha Resi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manawa Dharmasastra III.68  menyatakan bahwa penggunaan lima tempat penyemblihan oleh kepala keluarga seperti tempat memasak, batu pengasah, sapu lesung dengan alunya dan tempat air. Pemakaian semuanya itu menimbulkan dosa. Hal inilah yang menyebabkan sloka Manawa Dharmasastra III.69 yang dikutip di atas itu menganjurkan agar setiap kepala keluarga melakukan Panca Yadnya setiap harinya. Bentuknya itu dibuat dari makanan yang mampu dimasak hari itu seperti nasi dengan lauk pauknya yang ada. Banten saiban itu bukanlah banten segehan dengan nasi dan bawang jahe sebagai perlengkapannya, tapi nasi dengan lauk pauk yang dimasak hari itu sebagai wujud Panca Yadnya terkecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manawa Dharma Sastra III.117 menyatakan bahwa keluarga akan makan setelah mempersembahkan makanan itu pada para dewa, para leluhur (Dewa Pitara), pada para resi dan pada para dewa penjaga rumah. Dalam sloka selanjutnya dinyatakan keluarga yang makan tanpa persembahan dinyatakan ia makan dosa. Orang bijaksana memakan sisa dari yang dipersembahkan itu. Karena itu disebut Yadnya Sesa. Sejalan dengan konsep Yadnya Sesa yang dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra III.118 dinyatakan juga dalam Bhagawad Gita.III.12 bahwa orang-orang bijaksana akan makan apa yang tersisa dari yadnya, mereka itu akan terlepas dari dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi mereka yang menyediakan makanan hanya untuk dimakannya sendiri sesungguhnya ia makan dosanya sendiri. Dalam Manawa Dharmasastra III.104 dinyatakan bahwa mereka yang mendapatkan makanan dengan mengambil hak orang lain secara tidak benar, kelak ia akan menjelma menjadi binatang ternak peliharan orang yang diambil haknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan berbagai ketentuan pustaka suci Hindu tersebut dapat disimpulkan bahwa upacara mesaiban itu adalah wujud Panca Yadnya terkecil yang seyogianya dilakukan setiap hari oleh setiap keluarga selesai ia masak. Mereka boleh makan setelah upacara mesaiban itu selesai dilakukan. Ritual keagamaan Hindu di Bali yang disebut mesaiban ini sepertinya amat sederhana dilihat dari tata cara penyelenggaraannya. Namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat nilai-nilai falsafah kehidupan yang amat dalam yang seyogianya kita maknai lebih lanjut dalam meningkatkan kwalitas hidup kita di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan setelah beryadnya ini artinya kita tidak baik kalau makan tidak dari hasil kerja sendiri. Kita harus kerja untuk mendapatkan berbagai kebutuhan hidup seperti sandang, pangan dan papan atau perumahan tempat kita berteduh. Dalam tradisi Hindu-Jawa dinyatakan kebutuhan pokok hidup manusia adalah: wareg, waras, wastra, wisma, wasita. Artinya kebutuhan pokok manusia yaitu makanan, kesehatan, pakaian, perumahan dan pendidikan. Untuk memenuhi lima kebutuhan pokok orang harus bekerja sesuai dengan fungsi dan profesi berdasarkan yadnya. Kerja berdasarkan yadnya itu adalah kerja sebagai pesembahan. Kerja dengan dasar yadnya kepada Tuhan akan amat kuat motivasi spiritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memelihara kelestarian alam dengan dasar ''asih'' mengabdi pada sesama dengan dasar ''punia''. Asih dan punia itu dilakukan sebagai wujud ''bhakti'' pada Tuhan. Kalau memelihara alam dan mengabdi pada sesama sesuai dengan fungsi dan profesi itu dilakukan sebagai wujud bhakti pada Tuhan hal itu akan dapat menimbulkan Cakra Yadnya atau yadnya yang timbal balik antara manusia dengan alam lingkungan dan antara manusia dengan sesama sebagai wujud bhakti pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan yadnya dengan konsep cakra diajarkan dalam Bhagawad Gita III.16. Artinya Cakra Yadnya itu adalah manusia dapat kehidupan dari alam dan dari sesama manusia secara timbal balik dan itu diyakini sebagai karunia Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang dapat kehidupan dari alam dan dari sesama secara timbal balik itu atas karunia Tuhan disimbulkan dengan ritual Mesaiban. Ini artinya ritual mesaiban itu ada dua maknanya yaitu sebagai penebusan dosa karena menggunakan lima tempat penyemblihan dalam rangka memasak itu dan juga sebagai suatu peringatan bahwa manusia itu wajib beryadnya pada dewa manifestasi Tuhan, kepada para resi, kepada leluhur atau dewa pitara, pada dewa penjaga rumah seperti Watospati dan semua pihak yang mendukung kehidupan yang timbal balik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hidup manusia itu atas yadnya semuanya itu. Karena itu manusiapun wajib beryadnya pada semuanya itu. Mewujudkan nilai-nilai spiritual mesaiban itu dengan melakukan kerja dengan dasar yadnya sesuai dengan fungsi dan profesi. Setiap orang memiliki fungsi dan profesi. Ada fungsi berdasarkan Asrama dan ada profesi berdasarkan Catur Varna. Kalau kita hidup dalam tahapan hidup brahmacari lakukanlah swadharma brahmacari asrama seperti hidup berguru belajar mencari, memelihara dan mengembangkan ilmu pengetahuan sampai memberikan kontribusi positif pada kehidupan individu, kehidupan sosial dan pelestarian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga sebagai grhasta lakukanlah sesuai dengan swadharma grhastha membangun kehidupan yang mandiri. Dalam Agastya Parwa disebutkan grhastha ngarania sang yatha sakti kayika dharma. Artinya grhastha namanya orang yang sudah mandiri dalam mengamalkan dharma. Demikianlah cakra yadnya dilakukan secara timbal balik secara vertikal antargenerasi berdasarkan ajaran Catur Asrama. Sedangkan bekerja berdasarkan profesi melakukan pengabdian berdasarkan masing-masing varna. Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra bekerja dengan sinergis dengan dasar yadnya. Catur Varna bekerja dengan dasar yadnya secara timbal balik sinergi dan horizontal. Dengan demikian masyarakat akan terayomi mendapatkan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera. Oleh I Ketut Wiana&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-1863518428691382494?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/1863518428691382494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=1863518428691382494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1863518428691382494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1863518428691382494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/09/mesaiban-merupakan-bentuk-panca-yadnya.html' title='Mesaiban Merupakan Bentuk Panca Yadnya Terkecil'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TJwoSSYPsEI/AAAAAAAACb4/ygKCddS8pj4/s72-c/Mesaiban+Bentuk+Panca+Yadnya+Terkecil.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-3279235479345195485</id><published>2010-09-06T19:50:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T20:09:45.165-07:00</updated><title type='text'>Otonan atau Weton</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TIWsxPz8aeI/AAAAAAAACbo/3O-A0UbElA0/s1600/Otonan+atau+weton+merupakan+peringatan+hari+kelahiran.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 266px; height: 199px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TIWsxPz8aeI/AAAAAAAACbo/3O-A0UbElA0/s320/Otonan+atau+weton+merupakan+peringatan+hari+kelahiran.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514003280843008482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Otonan atau weton merupakan peringatan hari kelahiran. Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanya Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang “Bali”. Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja, dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya (12 bulan kalender).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput aleh pemangku (Pinandita). Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini ada1ah; biyukawonan, tebasan lima, tumpeng lima, gebogan dan sesayut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe (see) yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol­-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh : Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa : “Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi” (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihat dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyeberangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia (searah jarum jam) dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut: “Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu “bencah” (Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari doa tersebut dapat dilihat makna:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Ngilehang sampan ngilehang perahu” bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Batu makocok” adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah Pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Tungked bungbungan” (tongkat berlobang) adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. “Perahu hidup ini” jangan mudah tenggelam oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai memper­gunakan tongkat (usia tua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. “Teked dipasisi napetang perahu bencah” (sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar). Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada .pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra­-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan. oleh  I Wayan Ritiaksa, M.Ag (Denpasar)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-3279235479345195485?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/3279235479345195485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=3279235479345195485' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/3279235479345195485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/3279235479345195485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/09/otonan-atau-weton.html' title='Otonan atau Weton'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TIWsxPz8aeI/AAAAAAAACbo/3O-A0UbElA0/s72-c/Otonan+atau+weton+merupakan+peringatan+hari+kelahiran.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-285485743039597786</id><published>2010-08-22T05:41:00.000-07:00</published><updated>2010-08-22T05:47:36.233-07:00</updated><title type='text'>Pura Agung Kentel Gumi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/THEcNwD6I0I/AAAAAAAACaY/YgRHTbcwsCM/s1600/Pura+Agung+Kentel+Gumi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 236px; height: 172px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/THEcNwD6I0I/AAAAAAAACaY/YgRHTbcwsCM/s320/Pura+Agung+Kentel+Gumi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508214841815999298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pura Agung Kentel Gumi terletak di Desa Tusan Banjarangkan Klungkung Bali. Merupakan salah satu Pura kahyangan Jagat Bali, sungsungan umat Hindu sebagai stana Ida Sang Hyang Reka Bhuwana. Pura ini berfungsi sebagai tempat memohon kedegdegan jagat. Sebagaimana dipaparkan dalam lontar Raja Purana batur, Pura Agung Kentel Gumi merupakan Tri Guna Pura (Kahyangan Tiga-nya Jagat Bali). Pura Batur/Tampurhyang sebagai Pura Desa-nya (mohon kesuburan), Pura Kentel Gumi sebagai Puseh (Kedegdegan jagat) dan Pura Agung Besakih/Tohlangkir sebagai Dalem (kesucian sekala niskala). Terkait catatan tentang Tri Guna Pura, ternyata bukan ditemukan di Pura Agung Kentel Gumi, melainkan termuat dalam Raja Purana Batur yang tersimpan di Pura Batur, Kintamani, Bangli. Berdasarkan penelusuran tokoh agama dan pengurus PHDI bahwa Tri Guna Pura ini sebelumnya nyaris tak ada yang tahu, sehingga Pura Kentel Gumi seperti ikut terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terungkapnya fungsi Tri Guna Pura itulah yang menjadi salah satu dorongan melakukan pemugaran Pura Kentel Gumi. Selain karena kondisi fisik bangunan, memang banyak yang sudah keropos. Pemugaran, sedapat mungkin dilakukan dengan mempertahankan "keaslian" pura — detail pelinggih, tembok, serta corak dan ragam hias ukiran diupayakan semirip mungkin dengan aslinya. Kalaupun ada tiruan, bahan dan garapan harus ditiru dari dokumentasi berupa foto-foto Pura Kentel Gumi yang masih tersimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Agung Kentel Gumi terdiri atas empat halaman utama. Utamaning Utama Mandala terdiri atas 23 pelinggih di antaranya Lingga Reka Bhuwana/Pancer Jagat, Meru Tumpang Solas (pelinggih Ida Sanghyang Reka Bhuwana). Di sisi utara (kompleks pelinggih Bathara Maspahit), terdiri atas enam pelinggih. Pelinggih utama Gedong stana Bathara Maspahit. Di sisi selatan, kompleks pelinggih Batara Masceti, terdapat 9 pelinggih, Gedong merupakan stana Batara Masceti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utàma Mandala - beda dengan utamaning utama mandala. Di sini terdapat sumanggen sebagai ciri utama. Ada juga perantenan suci, dengan ciri pelinggih Lumbung Agung/tempat penetegan. Sedangkan di Madya Mandala (tengah). Di sini terdapat empat pelinggih, salah satunya pelingguh Bale Agung, Gedong Sari stana Batari Saraswati. Nista Mandala (jaba sisi/luar). ada dua Padmasari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelinggih-pelinggih itu bagian dan perluasan Pura Agung Kentel Gumi, yang diawali Mpu Kuturan masa pemenintahan Raja Bali Kuna dan dinasti Warmadewa yakni Raja Udayana Warmadewa dengan permaisuri Putri Mahendradatta. Purana mencatat, setelah Mpu Kuturan, Pura Kentel Gumi diperluas dengan pembangunan pelinggih, menyusul berkuasanya Sri Haji Cili Kresna Kepakisan (bungsu Danghyang Soma Kepakisan) yang diminta Mahapatih Gajah Mada/Majapahit menjadi adipati Bali pasca kalahnya Raja Sri Tapolung di Bedahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju Bali, Dalem Cili Kresna Kepakisan tiba di Tusan. Dalem tahu keutamaan tempat suci/parahyangan Kentel Gumi. Bersama pangiringnya, dipimpin Arya Kenceng dan warga, dilakukan perbaikan membangun/menambah pelinggih. Di antaranya Meru Tumpang Solas, Padmasana, Meru Tumpang Sia, Tumpang Pitu, Tumpang Lima, Tumpang Telu dan pelinggih lainnya. Termasuk palinggih dasar sebagai stana Ida Dewi Basundari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlupakannya Tri Guna Pura Agung Kentel Gumi, luput pula ingatan orang tentang salah satu aci (upacara) pokok yang semestinya digelar di Pura Agung Kentel Gumi sesuai fungsinya sebagai Pura Puseh Jagat, yakni Upacara Panyegjeg Jagat (upacara Reka Bhumi). Tersurat dalam sastra — baik purana atau babad — upacara Panyegjeg Jagat digelar ketika Raja Dalem Waturenggong bertahtha di Gelgel sekaligus mengukuhkan Pura Kentel Gumi sebagai Tri Guna Pura. Selain Pura Besakih dan Pura Batur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Raja Dalem Waturenggong memerintah, Pulau Bali mencapai kesejahteraan dan ketenteraman. Karena kewibawaan dan keberanian Raja yang diabaratkan Sanghyang Hari Murti bentangan empat (Catur Bhuja). Raja Dalem Waturenggong menggelar yadnya di Khayangan Jagat, Eka Dasa Rudra di Besakih, Pancawali Krama di Batur dan Panyegjeg Jagat di Kentel Gumi. Itu yang kemudian dijadikan acuan digelarnya upacara Panyegjeg Jagat di Pura Kentel Gumi. Diperkirakan, sejak 548 tahun lalu upacara Penyegjeg Jagat tidak pernah digelar. Perkiraan itu dikarenakan Dalem Waturenggong naik tahta tahun 1460.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAIN sebagai "Tri Guna Pura", sejumlah hal menarik lainnya juga terdapat di Pura Agung Kentel Gumi. Salah satunya, peninggalan sejarah dan purbakala menurut purana dibangun Mpu Kuturan masa pemerintahan Raja Sri Dharmodayana Warmawadewa-Gunapridharmapatni Makutawangsawardana (Putni Mahendradatta) pada 989 M.&lt;br /&gt;Untuk diketahui, Pura Agung Kentel Gumi menyimpan puluhan area kuno. Ada yang masih utuh, ada juga berupa pragmen. Salah satu fragmen itu, sebuali lingga. Bisa disebut Lingga Reka Bhuwana karena berkaitan dengan sejarah, legenda dan mitologi. Lingga itu terletak di utama mandala. Dengan ukuran sangat kecil dibanding bangunan lainnya yang lebih besar dan menjulcing seperti meru, gedong danlainnya, sulit melihat Lingga Reka Bhuwana tersebut, jika tak diteliti. Letaknya persis di tengah-tengah jeroan pura. Tinggi lingga tak lebih 2 meter. Alasnya (Yoni) sekitar 2 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bentuknya terlihat lebih unik dibanding Lingga-Yoni umumnya. Lingga-Yoni umumnya berupa selinder berujung bulat. Lingga melambangkan purusa. Yoni berbentuk lesung segi empat sebagai simbol pradana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Lingga Reka Bhuwana di Pura Agung Kentel Gumi ujungnya (puncak) tidak bulat, tetapi berbentuk pipih. Badan lingga berbentuk persegi. Begitupun Yoni (alas) Sebagai simbol pradana, sekilas tampak seperti punden berundak. Tidak ada yang tahu persis, terkait bentuk Lingga Reka Bhuwana yang berbeda dibanding Lingga-Yoni pada umumnya. Berdasarkan dugaan, itu dikarenakan berkaitan dengan riwayat (tatwa) Pura Agung Kentel Gumi.&lt;br /&gt;Seorang penekun spiritual, urati lontar/babad/prasasti asal Desa Satra, Klungkung, Dewa Ketut Soma, menyebutkan lazimnya Lingga-Yoni Reka Bhuwana disebut Linggih Pancer Jagat. Karena diyakini di tempat itulah Mpu Kuturan meletakkan tanda (titik awal) ketika mengawali pembangunan Pura Agung Kentel Gumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan purana, pendirian Pura Agung Kentel Gumi erat kaitannya dengan kedatangan Mpu Kuturan pada masa pemerintahan Raja Udayana dan istrinya Putri Mahendradatta. Mpu Kuturan datang ke Bali untuk dimintai nasehat sebagai purohito, menyusul adanya pertikaian antar sekte keagamaan di Bali. Untuk mengatasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpu Kuturan mengundang tokoh sekte dan menggelar pertemuan di sebuah tempat di Gianyar yang sekarang ini merupakan Pura Samuan Tiga. Menyusul kesepakatan leburnya paham sekte, disepakati juga pemujaan Batara Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa). Dan sini juga muncul konsep Kahyangan Tiga dan desa pakraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lokasi, sekarang kawasan Pura Agung Kentel Gumi, dipilih Mpu Kuturan sebagai tempat yoga semadi. Berkat kesidhiannya, sosial keagamaan masyarakat Bali jadi kondusif, kokoh. Bebas dan pertikaian antar sekte. Itu yang kemudian disimbolkan dengan Linggih Pancer Jagat—berupa Lingga-Yoni khas Pura Agung Kentel Gumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Agung Kentel Gumi juga menyimpan keunikan lain berkaitan dengan kepurbakalaan, Lusinan benda purbakala berupa area, fragmen area, pratima ada di sana. Untuk sementara disimpan di Gedong Murda Manik (palinggih sementara) sambil menunggu tuntasnya pemugaran. Selanjutnya dikembalikan pada pelinggih masing-masing, di mana benda-benda sakral itu berada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling mencolok, bentuk area batu dengan catur muka (wajah ke empat penjuru mata angin). Ukurannya lebih besar dibanding area lain. Tingginya diperkirakan 1,2 meter. Berwarna keabu-abuan berbahan batu andesit selayaknya area kuna umumnya. Namun, tak ada yang tahu secara jelas, makna area tersebut terkait dengan keberadaan Pura Agung Kentel Gumi. Meski demikian, mengingat pura sebagai tempat suci/pemujaan Ida Sang Hyang Widhi dengan berbagai manifestasinya, bukan hal yang salah area Catur Muka dimaksudkan sebagai penggambaran Dewa Brahma/Brahma Catur Muka. Dalam pemahaman Hindu, Dewa Brahma merupakan manisfestasi Tuhan Yang Maha Esa yang berwajah empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PURA Agung Kentel Gumi di Desa Tusan Kecamatan Banjarangkan, Klungkung adalah Pura Kahyangan Jagat sebagai media pemujaan Tuhan dengan sebutan Sang Hyang Reka Bhuwana atau disebut juga Sang Hyang Pancering Jagat. Manifestasi Tuhan&lt;br /&gt;dengan sebutan lokal Bali itu dipuja di Meru Tumpang Sebelas. Menurut Yajurveda XXXII.3 Tuhan itu tidak punya bentuk seperti ciptaan-Nya (Na tasya pratima asti). Para Vipra atau orang-orang suci yang ahli (Brahmana Sista) itulah yang menyebutkan dengan banyak nama —Ekam sat vipra bahuda badanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dinyatakan dalam Veda bahwa tujuan pemujaan pada Tuhan Yang Maha Esa dengan teguh adalah untuk mewujudkan kehidupan yang makmur secara adil. Hal ini dinyatakan dalam Atharvaveda VIII.2.25. Karena itu pemujaan pada Tuhan bukan untuk membuat umat semakin menderita. Karena itu Mantra Veda yang dikutip di atas menyatakan bahwa bumi ini diciptakan oleh Tuhan sebagai wadah kehidupan semua makhluk hidup. Apa yang boleh, baik dan benar dilakukan di bumi ini dinyatakan dalam mantra Atharvaveda, XII, 1.1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan perbuatan yang menjunjung kehidupan yang baik dan benar tidaklah mudah. Karena itu umat seyogianya memuja Tuhan untuk mendapatkan penguatan diri lahir bathin. Dalam hal inilah Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Reka Bhuwaria di Pura Kentel Gumi di Desa Tusan, Klungkung. Reka Bhuwana artinya suatu perencanaan matang yang seyogianya dilakukan di bhuwana atau bumi ini. Di Pura Agung Kentel Gumi ada upacara Reka Bhumi suatu upacara yadnya yang wajib dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan upacara Reka Bhumi ini untuk mendapatkan Penyegjeg Jagat. Artinya, untuk mencapai tegaknya kehidupan dibumi ini. Ada enam hal yang wajib dibumi ini agar Ibu Pertiwi jegjeg yaitu Satya, artinya kebenaran Veda yang bersifat Sanatana Dharma yaitu kebenaran yang kekal abadi. Kebenaran yang disebut Satya itu adalah dasar untuk berperilaku untuk menuju jalan Tuhan. Berperilaku itu adalah berpikir, berkata dan berbuat menuju jalan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Slokantara 2 ada dinyatakan bahwa Satya itu lebih utama nilainya daripada seratus Suputra. Seorang Suputra seratus kali lebila utama nilainya daripada seratus kali upacara yadnya. Yakinlah kalau senantiasa berpegang dengan Satya hidup ini pasti mendapatkan anugerah atau karunia dan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rta artinya hukum alam. Hiduplah dengan menggunakan sumber-sumber alam dengan tidak melanggar hukum alam itu sendiri. Alam ini terbentuk dan Panca Maha Bhuta yaitu tanah, air, udara, panas dan akasa. Swami Satya Narayana dalam buku "Anandadayi" menyatakan bahwa kejahatan yang paling besar di bumi ini adalah merusak unsur-unsur alam tersebut. Menggunakan sumber-sumber energi alam ini secara berlebihan akan menimbulkan kebakaran. Kalau langit atau akasa itu dikotori akan meñyebabkan manusia menderita penyakit gangguan mental, bahkan penyakit gangguan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya ini memang sudah terbukti Sekarang banyak teijadi kebakaran hutan, panas menyembur clan dalam tanah, suhu bumi semakin meningkat dan berbagai kerusakan alam lainnya. Prof. Dr. Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup RI, menyatakan sudah terjadi sepuluh kerusakan muka bumi ini. Hal ini disebabkan bergesernya hidup manusia modern dari needs ke wants. Artinya, hidup berdasarkan kebutuhan telah bergeser berdasarkan keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan itu tak ada batasnya. Diksa artinya penyucian atau pemberkatan. Dalam anti proses hendaknya setiap orang terus berusaha meningkatkan kesucian dininya dengan berusaha menguatkan kesadaran budhi-nya untuk mencerahkan kecerdasan pikirannya. Pikiran yang cerdas berfungsi mengendalikan indriya atau nafsunya. Nafsu yang terdidik dan terlatih itulah akan mengekspresikan perilaku suci. Kalau hal itu sudah dapat dicapai dan dibuktikan barulah dilakukan ritual diksa atau pentasbihan sebagai diksita. Melakukan diksa ini bukanlah hak suatu wangsa tertentu. Diksa itu adalah kewajiban dan hak setiap umat Hindu dengan tidak melihat asal-usul wangsa-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapa artinya secara denotatif dalam bahasa Sansekerta adalah panas atau bersinar. Secara konotatif artinya pengendalian diri dengan cara membangkitkan kekuatan sinar Sang Hyang Atma dalam diri. Kalau sinar Atman dapat dilepaskan dan halangan kuatnya gejolak hawa nafsu maka tujuan tapa untuk mengendalikan diri itu dapat terwujud. Dengan tapa itu keinginan nafsu yang disebut Wisaya Kama itu dapat diubah menjadi Sreya Kama yaitu keinginan untuk selalu mendekatkan diri sesuai dengan tuntutan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunut Ayur Veda hal itu akan dapat dicapai dengan mengendalikan makanan, gaya hidup dan kesehatan fisik (Ahara, Wihara dan Ausada). Brahma artinya menumbuhkan diri dengan doa. Kata "brahma" dalam bahasa Sansekerta berasal dan akar kata "brh" artinya tumbuh atau mencipta. Karena itu sinar suci Tuhan dalam menciptakan disebut Dewa Brahma. Berdoa dengan melapalkan mantra-mantra Weda dengan tekun sebagai puja stawa akan dapat menguasai kesadaran budhi, kecerdasan pikiran dan kepekaan emosional dalam kesucian mantra Weda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candogya Upanishad menyebutkan, setiap han usahakan berdoa pagi saat raditya dina, siang saat madya dina dan sore saat sandhya dina. Yadnya artinya suatu keikhlasan untuk melakukan pengorbanan untuk tujuan yang suci. Inilah merupakan unsur yang utama dalam melangsungkan upacara keagamaan Hindu. Upacara dalam bahasa Sansekerta artinya mendekat. Karena itu, upacara yadnya itu dilakukan dengan mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara bakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekatkan diri pada sesama manusia dengan punia atau pengabdian. Mendekatkan diri pada alam lingkungan asih. Asih, punia dan bhakti inilah landasan melakukan yadnya. Yadnya itu bentuknya bukan upacara keagamaan semata-mata. Dengan menghemat penggunaan sumbersumber alam itu juga suatu yadnya. Tidak memaksakan kehendak itu juga yadnya. Mengendalikan hawa nafsu juga yadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan enam langkah yang disebut Sat Pertiwi Dharyante (enam upaya menyangga ibu pertiwi inilah sebagai upaya Reka Bhuwana mewujudkan Jejeg Jagat. Inilah yang terus-menerus dimohonkan pada Tuhan lewat Pura Kentel Gumi. Di Pura Besakih juga dilangsungkan upacara Penyejeg Jagat di Pura Gelap dan Pengurip Bumi di Pura Ulun Kulkul. Diambil dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-285485743039597786?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/285485743039597786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=285485743039597786' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/285485743039597786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/285485743039597786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/08/pura-agung-kentel-gumi.html' title='Pura Agung Kentel Gumi'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/THEcNwD6I0I/AAAAAAAACaY/YgRHTbcwsCM/s72-c/Pura+Agung+Kentel+Gumi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-1462691047090663084</id><published>2010-08-17T00:15:00.000-07:00</published><updated>2010-08-17T00:18:14.338-07:00</updated><title type='text'>''Padma Tiga'' Pura Besakih Sumber Kesucian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGo3l8TTdWI/AAAAAAAACZ4/UY3q28qbh8s/s1600/%27%27Padma+Tiga%27%27+Pura+Besakih+Sumber+Kesucian.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGo3l8TTdWI/AAAAAAAACZ4/UY3q28qbh8s/s320/%27%27Padma+Tiga%27%27+Pura+Besakih+Sumber+Kesucian.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506274619395634530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PURA Besakih banyak mengandung filosofi. Menurut Piagam Besakih, Pura Agung Besakih adalah Sari Padma Bhuwana atau pusatnya dunia yang dilambangkan berbentuk bunga padma. Oleh karena itu, Pura Agung Besakih adalah pusat untuk menyucikan dunia dengan segala isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Besakih juga pusat kegiatan upacara agama bagi umat Hindu. Di Pura ini setiap sepuluh tahun sekali dilangsungkan upacara Panca Bali Krama dan setiap seratus tahun diselenggarakan upacara Eka Dasa Rudra. Pura Agung Besakih secara spiritual adalah sumber kesucian dan sumber kerahayuan bagi umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan yang paling utama di Pura Besakih adalah palinggih Padma (Padmasana) Tiga. Letaknya di Pura Penataran Agung Besakih. Palinggih tersebut terdiri atas tiga bangunan berbentuk padmasana berdiri di atas satu altar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat agama dan budaya Ida Bagus Gede Agastia mengatakan bangunan suci Padma Tiga yang berada di Pura Agung Besakih adalah tempat pemujaan Tri Purusa yakni Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa (Tuhan Yang Mahaesa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piodalan di Padmasana Tiga dilangsungkan setiap Purnama Kapat. Ini terkait dengan tradisi ngapat. Sasih Kapat atau Kartika, merupakan saat-saat bunga bermekaran. Kartika juga berarti penedengan sari. Padmasana tersebut dibangun dalam satu altar atau yoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Bagus Agastia mengatakan palinggih padmasana merupakan stana Tuhan Yang Mahaesa. Padmasana berasal dari kata padma dan asana. Padma berarti teratai dan asana berarti tempat duduk atau singgasana. Jadi, padmasana artinya tempat duduk atau singgasana teratai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yang Mahaesa secara simbolis bertahta di atas tempat duduk atau singgasana teratai atau padmasana. Padmasana lambang kesucian dengan astadala atau delapan helai daun bunga teratai. Bali Dwipa atau Pulau Bali dibayangkan oleh para Rsi Hindu zaman dulu sebagai padmasana, tempat duduk Tuhan Siwa, Tuhan Yang Mahaesa dengan asta saktinya (delapan kemahakuasaan-Nya) yang membentang ke delapan penjuru (asta dala) Pulau Bali masing-masing dengan dewa penguasanya. Dewa Iswara berada di arah Timur, bersemayam di Pura Lempuyang. Brahma di selatan bersemayam di Pura Andakasa. Dewa Mahadewa di barat (Pura Batukaru), Wisnu di utara (Pura Batur), Maheswara di arah tenggara (Pura Goa Lawah), Rudra di barat daya (Pura Uluwatu), Sangkara di barat laut (Pura Puncak Mangu), Sambhu di timur laut (Pura Besakih), Siwa bersemayam di tengah, pada altar dari Pura Besakih dengan Tri Purusa-Nya yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tri Purusa tersebut dipuja di Padmasana Tiga Besakih. Palinggih Padmasana Tiga tersebut merupakan intisari dari padma bhuwana, yang memancarkan kesucian ke seluruh penjuru. ''Karena itu, sumber kesucian tersebut penting terus dijaga, sebagai sumber kehidupan,'' ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pembangunan Pura Agung Besakih dan Pura-pura Sad Kahyangan lainnya adalah berdasarkan konsepsi Padma Mandala, bunga padma dengan helai yang berlapis-lapis (Catur Lawa dan Astadala). Pura Besakih adalah sari padma mandala atau padma bhuwana. Pura Gelap, Pura Kiduling Kerteg, Pura Ulun Kulkul dan Pura Batumadeg adalah Catur Lawa. Sedangkan Pura Lempuyang Luhur, Goa Lawah, Andakasa, Luhur Uluwatu, Batukaru, Puncak Mangu, dan Pura Batur adalah Astadala. Pura-pura tersebut sangat disucikan dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pura-pura tersebut pusat kesucian dan kerahayuan bagi umat Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen IHDN Denpasar Ketut Wiana mengatakan Pura Besakih sebagai huluning Bali Rajya, hulunya daerah Bali. Pura Besakih sebagai kepala atau jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di bagian timur laut Pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timur laut adalah arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi. Pura Besakih juga hulunya berbagai pura di Bali. Kata Wiana, di Padma Tiga ini Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusa, tiga manifestasi Tuhan sebagai jiwa alam semesta. Tri artinya tiga dan purusa artinya jiwa. Tuhan sebagai Tri Purusa adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni Bhur Loka (alam bawah), Bhuwah Loka (alam tengah) dan Swah Loka (alam atas). Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa atau Iswara. Sebagai jiwa alam tengah, Tuhan disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa agung alam atas, Tuhan disebut Parama Siwa atau Parameswara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palinggih padma paling kanan tempat memuja Sang Hyang Parama Siwa. Bangunan ini biasa dihiasi busana hitam. Sebab, alam yang tertinggi (Swah Loka) tak terjangkau sinar matahari sehingga berwarna hitam. Bangunan padma yang terletak di tengah adalah lambang pemujaan terhadap Sang Hyang Sadha Siwa. Busana yang dikenakan pada padma tengah itu berwana putih. Warna putih lambang akasa. Sedangkan, bangunan padma paling kiri lambang pemujaan Sang Hyang Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa Bhur Loka. Busana yang dikenakan berwarna merah. Di Bhur Loka inilah Tuhan meletakkan ciptaan-Nya berupa stavira (tumbuh-tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia. Jadi, palinggih Padma Tiga merupakan sarana pemujaan Tuhan sebagai jiwa Tri Loka. Karena itu dalam konsepsi rwa-bhineda, Pura Besakih merupakan Pura Purusa, sedangkan Pura Batur sebagai Pura Predana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wiana, busana hitam pada palinggih Padma Tiga bukanlah simbol Dewa Wisnu, tetapi Parama Siwa. Dalam Mantra Rgveda dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan Yang Mahaesa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap, karena tidak dijangkau oleh sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan juga maha-ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman atau tanpa sifat. Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padmasana yang berada di tengah, busananya putih-kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada padma paling kiri bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Sthitti dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di kompleks Pura Besakih, manifestasi Tuhan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg, Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan Batara Iswara di Pura Gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat Pura Padma Bhuwana, Batara Wisnu dipuja di Pura Batur, simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Bhatara Iswara dipuja di Pura Lempuhyang Luhur, simbol Tuhan di arah timur dan Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa, simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan. Sementara di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Pura Kahyangan Tiga. sumber balipost&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-1462691047090663084?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/1462691047090663084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=1462691047090663084' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1462691047090663084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1462691047090663084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/08/padma-tiga-pura-besakih-sumber-kesucian.html' title='&apos;&apos;Padma Tiga&apos;&apos; Pura Besakih Sumber Kesucian'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGo3l8TTdWI/AAAAAAAACZ4/UY3q28qbh8s/s72-c/%27%27Padma+Tiga%27%27+Pura+Besakih+Sumber+Kesucian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-8726287271296665439</id><published>2010-08-16T23:52:00.000-07:00</published><updated>2010-08-16T23:58:27.069-07:00</updated><title type='text'>Manusia Durjana dan Sujana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGoy5B0pPcI/AAAAAAAACZo/QADo1F8jxKY/s1600/Manusia+Durjana+dan+Sujana.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 269px; height: 264px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGoy5B0pPcI/AAAAAAAACZo/QADo1F8jxKY/s320/Manusia+Durjana+dan+Sujana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506269449737027010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Vidyaamada dhanamadastritiyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;abhijanairmadah, madaahyete'valipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anaameta eva sataam damah (Sarasamuscaya. 337).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Hal yang menimbulkan kesombongan bagi si durjana adalah widya, dhana dan abhijana. Widya artinya ilmu pengetahuan. Widyamada artinya rasa bangga terus sombong karena ilmu pengetahuan. Dhana adalah segala rupa kekayaan seperti emas dan permata mulia. Dhanamada adalah kesombongan karena yang disebabkan oleh kekayaan. Abhijana artinya kewangsaan atau keturunan mulia. Abhijanamada menyebabkan sombongnya (mada) si durjana. Sebaliknya bagi Sang Sujana ketiga hal itu menyebabkan timbulnya kedamaian hati (kopasama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan (widya), kekayaan (dhana) dan kebangsawanan (abhijana) adalah tiga hal yang sungguh mulia di dunia ini. Tetapi amat tergantung pada yang memiliki tiga hal itu. Beda halnya hal itu dimiliki oleh Sang Durjana dan Sang Sujana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Widya: Artinya ilmu pengetahuan; ada para widya ilmu tentang kerokhanian dan ada apara widya ilmu tentang keduniaan. Karena itu ilmu pengetahuan sungguh sangat mulia bahkan dalam Bhuwana Kosa disebut sebagai utama saoca artinya ilmu pengetahuan itu sebagai sarana untuk penyucian yang paling utama di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyucian yang lainnya adalah patra (daun), jala (air), pertiwi (tanah), bhasma saoca (abu suci). Dalam Canakya Niti XII, 11 dinyatakan bahwa satya mata pita jnyana. Artinya kebenaran Weda itu adalah ibu dan jnyana atau ilmu pengetahuan suci itu adalah ayah. Bhagawad Gita IV.38 menyatakan: tidak ada sesuatupun di dunia ini yang menyamai kesucian ilmu pengetahuan (na hi jnyanena sadrsam, pavitram iha vidyate). Bhagawad Gita IV.33 menyatakan bahwa persembahan ilmu pengetahuan (jnyana yadnya) jauh lebih mulia dari pada persembahan harta benda (druvya yadnya). Dalam Sarasamuscaya 336 ada dinyatakan: Don Sang Hyang Aji ngaranira manghilangken mada, kunang ring durjana mangdadyaken amda sira. Artinya: Tujuan ilmu pengetahuan itu adalah menghilangkan kesombongan. Tetapi bagi si durjana justru ilmu pengetahuan itu membangkitkan kesombongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra suci ini seyogianya dijadikan renungan serius bagi para ilmuwan. Apa lagi ilmuwan yang bersifat formal dengan berbagai embel-embel titelnya. Hendaknya jangan mabuk karena sudah mencapai studi formal di perguruan tinggi. Di Bali Gubernur Made Mangku Pastika sering menyampaikan secara halus bahwa jumlah guru besar di Singapura seimbang dengan jumlah guru besar di Bali. Di Singapura berbagai permasalahan dapat diatasi dimana para ilmuwan itu memberikan solusi pemecahan berbagai masalah yang ada di Singapura yang pulaunya lebih kecil dari Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentunya jangan dijadikan ajang saling menyalahkan antara para ilmuwan dengan pemimpin formal di pemerintahan. Seyogianya saling bersinergi untuk berdialog satu dengan yang lain yang lainnya untuk saling mengingatkan dan bekerja sama dengan sungguh-sungguh. Jangan hanya sama-sama kerja saja. Pemerintah juga hendaknya memperhatikan hasil-hasil penelitian dan kajian-kajian para ilmuwan. Tentunya juga nasib sosial ekonomi para ilmuwan. Ada kesan hasil kerja para ilmuwan dihargai terlalu murah oleh berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dhana sesuatu yang amat mulia kalau tepat caranya memberikan peran sesuai dengan fungsinya. Dhana artinya harta benda kekayaan. Bedakan artinya kata dhana dengan dana. Dhana artinya harta kekayaan sedangkan dana artinya memberikan. Dalam Wrehaspati Tattwa 25 dinyatakan: Dana ngaraning paweweh. Dana artinya memberikan. Dhana ini sering juga diartikan uang. Uang yang disebut dhana itu adalah uang yang belum terarah atau pure money atau istilah sekarang disebut ''anggaran non budgeter''. Dhana yang begitulah bisa menggoda orang bisa menjadi dhanamada artinya dhana yang bisa membuat orang menjadi sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhana yang non budgeter ini mudah menggoda berbagai pihak sampai terpleset menjadi mabuk karena dhana tersebut. Dhana yang merupakan hasil kerja atau rejeki disebut arjana. Arjana itu sebagai uang yang sudah terarah disebut artha. Kata artha dalam bahasa Sansekerta artinya tujuan. Dengan demikian dhana yang sudah jelas tujuan penggunaannya disebut artha. Seorang durjana yang memiliki dhana akan membangkitkan mada atau kesombongannya. Dhana yang dimiliki bukan untuk dijadikan artha untuk mensukseskan tujuan hidupnya di dunia mencapai dharma, artha dan kama sebagai dasar mencapai moksha. Dhana yang dimiliki oleh Sang Durjana untuk mengikuti dorongan indrianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Abhijana artinya kewangsaan. Kemuliaan wangsa atau keturunan sesungguhnya sesuatu yang mulia. Lahir dari keturunan orang mulia terpandang sesungguhnya suatu karunia Tuhan. Tetapi karunia Tuhan itu bagi Sang Durjana akan digunakan untuk membangkitkan kesombongannya atau mada. Dalam Bhagawad Gita XVI.4 membangga-banggakan keturunan yang disebut abhijatasya tergolong salah satu dari sifat manusia yang tergolong asuri sampad atau manusia yang memiliki kecendrungan keraksasaan. Lahir dari keturunan yang mulia itu hendaknya dijadikan media untuk minimal mempertahankan nama baik dari leluhur yang melahirkan kita. Setidak-tidaknya abhijatasya itu sebagai modal untuk mengembangkan sifat-sifat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda Sang Durjana dengan Sang Sujana. Kalau Sang Durjana menggunakan widya, dhana dan abhijana itu untuk membangkitkan mada atau kesombongan. Sedangkan Sang Sujana kesempatan memiliki widya, dhana dan abhijana itu akan dijadikan media untuk meningkatkan kualitas hidupnya sampai mencapai upasama yaitu hidup yang aman damai secara lahir dan bathin. Widya itu dijadikan media untuk mencapai jnyana yaitu ilmu pengetahuan suci sebagai media untuk meningkatkan supremasi kesadaran rokhani mengendalikan dinamika kehidupan duniawi. Dengan demikian dinamika kehidupan duniawi akan senantiasa berada di jalan dharma. Dhana yang dimiliki dinikmati dan di-dana-punia-kan. Dinikmati untuk menjaga kesehatan dan kebugaran hidup serta untuk mensukseskan Swadharma. Di-dana-punia-kan untuk membantu sesama meningkatkan kualitas hidup. penulis I Ketut Wiana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-8726287271296665439?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/8726287271296665439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=8726287271296665439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8726287271296665439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8726287271296665439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/08/manusia-durjana-dan-sujana.html' title='Manusia Durjana dan Sujana'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGoy5B0pPcI/AAAAAAAACZo/QADo1F8jxKY/s72-c/Manusia+Durjana+dan+Sujana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-8540509677929706325</id><published>2010-08-16T23:42:00.000-07:00</published><updated>2010-08-16T23:46:30.567-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>Merdeka Menurut Hindu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGowJnIQSCI/AAAAAAAACZg/7YAVpVEtWNo/s1600/Merdeka+Menurut+Hindu.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 278px; height: 208px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGowJnIQSCI/AAAAAAAACZg/7YAVpVEtWNo/s320/Merdeka+Menurut+Hindu.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506266436094412834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lwirning mangdadi madaning jana sur pa guna dhana kula kulina yowana lawan tang sura len kas aran agawe wereh manahikang sarat kabeh, yang wwanten wang sira sang dhanewsara sur apa guna dhana kula yowana yan ta mada maharddhikeka panggarannia sira putusi sang pinandita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Nitisastra, IV. 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Hal yang dapat membikin orang mabuk adalah keindahan rupa, kepandaian, kekayaan, kemudahan, kebangsawanan, keberanian dan air nira. Barang siapa tidak mabuk karena semuanya itu dialah yang dapat disebut merdeka (mahardika), bijaksana bagaikan Sang Pinandita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP tanggal 17 Agustus sejak tahun 1945 bangsa Indonesia memperingati hari Kemerdekaan. Hal itu dilakukan karena pada hari itulah Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari penjajahan diproklamirkan oleh Bung Karno. Kemerdekaan yang kita peringati itu adalah baru tahap kemerdekaan politik dalam artian bangsa Indonesia sudah berdaulat tidak lagi diatur kehidupannya oleh bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan politik itu seyogyanya dijadikan kesempatan emas untuk menata kehidupan sendiri tanpa ada campur tangan bangsa lain. Kedaulatan tersebut hendaknya dijadikan jembatan emas untuk mewujudkan kemerdekaan individual dan kemerdekaan sosial dalam artian yang sesungguhnya bagi rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka berasal dari bahasa Sansekerta dari kata ''maharddhika'' yang artinya berkuasa, bijaksana, orang berilmu. Dalam Kekawin Nitisastra IV.19 dijelaskan konsep ''mahardhika'' amat nyata. Ada tujuh penyebab orang bisa mabuk. Tetapi barang siapa yang tidak mabuk atau dapat menguasai tujuh penyebab mabuk itu dialah yang disebut hidupnya ''merdeka''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah orang bijaksana bagaikan Sang Pinandita. Ini artinya perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan itu adalah perjuangan untuk membangun tujuh hal yaitu surupa guna dhana kula kulina yowana, sura, kasuran. Yang penting ketujuh hal itu tidak membuat mabuk atau dapat menguasai tujuh penyebab mabuk itu. Adapun tujuh hal itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Surupa yaitu keindahan rupa seperti cantik bagi mereka yang perempuan dan ganteng bagi mereka yang laki-laki. Cantik dan ganteng ini tentunya tidak ada artinya dalam hidup ini kalau tidak disertai dengan sehat dan bugar. Kalau kebetulan berhasil lahir cantik atau ganteng tentunya amat membahagiakan. Ini artinya hidup ini boleh dan semestinya berusaha untuk menguatkan eksistensi cantik dan ganteng tersebut dengan usaha membina kesehatan diri yang bugar dan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting hal itu tidak menyebabkan orang itu mabuk. Ada sementara fakta sosial yang kita jumpai bahwa ada orang yang cantik atau ganteng tetapi sulit mendapatkan pasangan yang ideal karena sering tampil sombong atau gelap hati karena kecantikan atau kegantengannya itu. Ini artinya dia dijajah oleh kecantikan atau kegantengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Guna artinya ilmu terapan yang telah memberikan makna pada kehidupan. Dalam Nitisastra II.5 ada dinyatakan: Norana mitra mengelewihaning wara guna maruhur. Artinya tidak ada sahabat yang melebihi bersahabat dengan ilmu pengetahuan yang luhur. Ilmu itu adalah tongkat penunjang kehidupan. Dalam susastra Hindu di Bali disebut: matungked tutur utama. Ini artinya ilmu itu adalah sarana untuk mensukseskan tujuan hidup. Kalau tongkat ilmu pengetahuan itu telah dimiliki, selanjutnya mereka tidak sombong atau mabuk karena ilmu pengetahuan itu, dialah yang disebut merdeka. Kalau mereka itu sombong bersikap ekslusif karena memiliki ilmu pengetahuan itu artinya mereka belumlah merdeka. Bahkan bisa menjadi budaknya ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Dhana artinya memiliki kekayaan berupa harta benda. Hubungan kekayaan dengan manusia ibarat air dengan perahu. Perahu tidak bisa berlayar tanpa air. Tujuan perahu berlayar bukan mencari air, tetapi, mencari pantai tujuan. Kalau salah caranya perahu berlayar, air itulah yang menenggelamkan perahu tersebut. Ini artinya harta benda itu adalah sarana hidup untuk menyelenggarakan kehidupan. Janganlah sampai harta benda itu menenggelamkan hidup ini sehingga justru menggagalkan usaha mencapai tujuan hidup. Orang yang sombong dan mabuk karena merasa memiliki harta benda itu artinya mereka belum merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Kula kulina artinya memiliki keturunan yang mulia. Lahir dalam keluarga yang mulia artinya dari keluarga orang suci, orang berjasa pada bangsa atau orang yang kaya dermawan adalah suatu karunia yang patut disyukuri. Yang penting tidak mabuk karena merasa memiliki wansga yang mulia itu. Apa lagi Bhagawad Gita menyatakan bahwa membangga-banggakan wangsa (abhijana) itu salah satu sifat manusia yang keraksasaan atau asuri sampad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Yowana artinya senantiasa punya semangat muda. Semangat muda didukung oleh kesehatan yang prima dan wawasan yang luas tentunya karunia yang amat utama. Apa lagi delapan sistem ajaran Ayurveda itu salah satu adalah Rasayana Tantra yaitu ilmu kesehatan untuk membina hidup sehat bugar awet muda. Yang penting tidak sombong karena kemudaan dan segalanya itu. Kalau sombong dan mabuk karena kemudaannya itu artinya ia belum juga merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Sura artinya nira atau di Bali disebut tuak. Minuman itu mengandung alkohol. Memang ada obat tertentu yang membutuhkan alkohol sebagai salah satu unsur yang membentuk obat tersebut. Yang penting jangan sampai alkohol itu diminum di luar fungsinya sebagai obat sampai kecanduan. Kalau sampau mabuk-mabukan itu artinya mereka itu belum juga merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Kasuran artinya pemberani karena memiliki kesaktian artinya memiliki ilmu dan kemampuan untuk mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan empiris. Mereka yang sakti itu tentunya menjadi dambaan masyarakat pada umumnya. Yang penting mereka tidak sombong dan mabuk karena semuanya itu. Kalau mabuk artinya mereka belum merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut di atas merdeka menurut Hindu adalah suatu upaya yang mampu membangun diri yang sehat, berilmu, sejahtera secara ekonomi, mampu menjaga harkat dan martabat keturunan, bersemangat karena sehat bugar dan berwawasan, tidak pemabuk, minum alkohol, memiliki keberanian karena memiliki ilmu dan kemampuan untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki itu. Pengertian merdeka menurut Hindu itulah yang wajib kita wujudkan untuk mengisi kemerdekaan politik. penulis I Ketut Wiana&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-8540509677929706325?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/8540509677929706325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=8540509677929706325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8540509677929706325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/8540509677929706325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/08/merdeka-menurut-hindu.html' title='Merdeka Menurut Hindu'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGowJnIQSCI/AAAAAAAACZg/7YAVpVEtWNo/s72-c/Merdeka+Menurut+Hindu.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-7782011432579312608</id><published>2010-08-11T18:11:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T18:18:51.920-07:00</updated><title type='text'>Canang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGNLTDTU8bI/AAAAAAAACZQ/lnIdPS-FokY/s1600/Canang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 284px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGNLTDTU8bI/AAAAAAAACZQ/lnIdPS-FokY/s320/Canang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504325960252846514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Canang merupakan upakara yang sangat sering digunakan dalam kehidupan beragama umat hindu khususnya di Bali. Hampir setiap hari dapat kita jumpai adanya umat yang menghaturkan canang sebagai wujud bhakti dan syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Walaupun bentuk dan ukuranya kecil, canang memiliki peranan yang sangat penting, sehingga canang juga disebut Kanista atau inti dari upakara. Sebesar apapun upakara tersebut maka tidak akan menjadi lengkap kalau tidak diisi dengan canang.&lt;br /&gt;           Canang terdiri dari dua suku kata yang berbahasa kawi yaitu "ca" yang berarti indah dan "nang" yang berarti tujuan. Jadi canang adalah sebuah sarana dalam bahasa Weda yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.&lt;br /&gt;Dalam ajaran agama Hindu di Bali, canang mempunyai beberapa bentuk dan fungsi sesuai dengan kegiatan upacara yang diadakan. Canang adalah sebuah penjabaran nilai - nilai Weda yang disimboliskan melalui unsur - unsur yang terdapat di dalam Canang, antara lain :&lt;br /&gt;1. Ceper&lt;br /&gt;Canang yang dialasi oleh ceper sebagai simbol Ardha Candra, sedangkan canang yang dialasi oleh tamas kecil adalah simbol dari Windhu&lt;br /&gt;2. Porosan&lt;br /&gt;Didalam canang terdapat sebuah porosan sebagai simbol silih asih, yang mempunyai makna bahwa setiap umat harus mempunyai hati (posros) yang berisikan cinta kasih dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa&lt;br /&gt;3. Jajan, Tebu dan Pisang&lt;br /&gt;Didalam ceper berisikan jajan, tebu dan pisang sebagai simbol dari Tedong Ongkara yang melambangkan kekuatan Upetti, Stiti dan Pralinan dalam kehidupan di alam semesta&lt;br /&gt;4. Sampan Urasari&lt;br /&gt;Diatas raka - raka tadi disusunkan sebuah sampian urasari (di beberapa daerah disebut Duras) yang melambangkan kekuatan Windhu dan ujung - unjung sampian tersebut merupakan perlambangan Nadha&lt;br /&gt;5. Bunga&lt;br /&gt;Diatas sampian urasari disusunkan anekan bunga dengan susunkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Bunga berwarna Putih disususnkan di Timur sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Iswara&lt;br /&gt;Bunga berwarna Merah disusunkan di Selatan sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Brahma&lt;br /&gt;Bunga berwarna Kuning disusunkan di Barat sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Mahadewa&lt;br /&gt;Bunga berwarna Biru atau Hijau disusunkan di Utara sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Wisnu&lt;br /&gt;Kembang Rampai disusunkan ditengah - tengah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Panca Dewata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Dengan demikian Canang mempunyai makna sebagai sarana permohonan umat Hindu kehadapan Sang Hyang Widhi (berwujud Ogkara) dan memohon kekuatan beliau dalam manifestasi Sang Hyang Ista Dewata. sumber &lt;span style="visibility: visible;" id="main"&gt;&lt;span style="visibility: visible;" id="search"&gt;&lt;em&gt;Ida Pedanda Gede Made Gunung&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-7782011432579312608?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/7782011432579312608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=7782011432579312608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/7782011432579312608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/7782011432579312608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/08/canang.html' title='Canang'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TGNLTDTU8bI/AAAAAAAACZQ/lnIdPS-FokY/s72-c/Canang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-9004752562620206861</id><published>2010-08-06T00:13:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T00:15:43.154-07:00</updated><title type='text'>Perbuatan Susila</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFu2feO1-wI/AAAAAAAACYc/cQG-2f8t26Q/s1600/Pendeta.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 208px; height: 242px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFu2feO1-wI/AAAAAAAACYc/cQG-2f8t26Q/s320/Pendeta.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502192021570714370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apanikang dharma, satya, maryada yukti, sri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kasaktin, kaniscayan ika, sila hetunyan hana (Sarasamuscaya.158)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Prilaku susila sebagai sumber datangnya kebajikan, kebenaran, kehidupan yang layak, kesejahtraan, kesaktian dan keteguhan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat Susila di zaman Kali ini sungguh tidak mudah. Banyak hambatan dan godaan yang menghadangnya. Hal ini disebabkan pada zaman Kali ini dharma hanya di topang oleh satu kaki, sedangkan adharma di topang oleh tiga kaki. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra I.81 dan 82. Untuk menguatkan hidup di zaman Kali ini dibutuhkan bhakti pada Tuhan dan pelayanan yang tulus pada sesama atau puja dan seva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puja itu adalah bhakti pada Tuhan sedangkan seva adalah pelayanan dengan asih pada alam dan punya pada sesama. Dalam Cinakata ada diceritrakan bahwa ada seorang pandita dengan sisya-nya sedang berjalan-jalan di tepi sungai Gangga. Sedang asiknya pandita dengan sisya-nya menikmati panorama sungai Gangga hanyutlah seekor kala jengking. Salah satu swadharma pandita adalah menyelamatkan semua makhluk dari penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala jengking itupun diselamatkan dari derasnya sungai Gangga dengan tanganya sendiri. Kala jengking saat diambil menyengat tangan pandita. Kala jengking pun lepas dari tangan pandita. Namun demikian pandita kembali mengambil kala jengking itu untuk diselamatkan. Kala jengking itu kembali menyengat tangan pandita. Meskipun berkali-kali tangan pandita disengat oleh kala jengking, pandita yang teguh hati itu tetap menyelamatkan kala jengking jangan sampai hanyut oleh derasnya aliran sungai Gangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketekunan sang pandita, kala jengking pun selamat meskipun tangan pandita itu sampai bengkak disengat kala jengking. Sisya pengiring pandita itupun bertanya. Mengapa guru pandita menyelamatkan kala jengking yang jahat itu yang telah berkali-kali menyengat tangan sang pandita. Pandita yang sabar itupun menjawab: kala jengking berbuat jahat saja ia punya ketetapan hati. Mengapa kita berbuat baik tidak punya ketetapan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban pandita itu patut kita jadikan renungan bersama dalam hidup ini. Sarasamuscaya 158 di atas menjanjikan enam pahala bagi mereka yang konsisten berbuat susila. Enam pahala yang akan diperoleh bagi yang konsisten berbuat susila yaitu Dharma: Orang yang konsisten berbuat susila tidak mudah terpancing oleh propokasi seperti pandita yang disengat kala jengking itu akan mendapatkan pahala mulia akan senantiasa sukses menyelesaikan kewajibannya (dharma) selama hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini setiap orang memiliki kewajiban. Dalam Watsyayana Smrti ada empat kewajiban dalam hidup ini yaitu: Asrama Dharma yaitu kewajiban sesuai dengan tingkatan hidup atau asrama masing-masing. Asrama Dharma adalah brahmacari, grihastha, wanaprastha dan sanyasin asrama. Varna dharma adalah kewajiban sesuai dengan profesi masing-masing. Ada brahmana varna, kastriya varna, waisya varna dan sudra varna. Ada juga guna dharma yaitu kewajiban bagi para ilmuwan untuk men-dharmabhakti-kan ilmu yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadharana Dharma adalah kewajiban umum yang wajib dilakukan oleh setiap orang. Misalnya setiap orang wajib menolong sesama yang membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuannya. Dalam Wrehaspati Tattwa 25 dinyatakan pengamalan dharma ada tujuh macam yaitu: sila, yadnya, tapa, dana, prawrajya, biku, yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satya: adalah kebenaran Weda. Pada zaman Kali ini tidak mudah menegakan kan kebenaran. Banyak dihadang oleh ancaman, gangguan, hambatan dan tangtangan menegakan kebenaran pada zaman Kali ini. Tetapi bagi yang konsisten melakukan susila, Tuhan akan menciptakan berbagai kemudahan baginya dalam melakukan satya tersebut. Apalagi menurut Slokantara 2 menyatakan bahwa satya itu lebih mulia dari seratus suputra. Seorang suputra lebih mulia dari seratus kali melangsungkan upacara yadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maryada yukti: artinya kehidupan yang layak. Untuk mendapatkan hidup yang layak juga tidak mudah. Tetapi bagi yang konsisten berpegang pada susila maka ia akan diberikan kemudahan oleh Tuhan dalam memproleh kehidupan yang layak. Hidup yang layak itu adalah hidup yang seimbang lahir batin, hidup yang mengutamakan kualitas dari pada kuantitas, mementingkan fungsi dari gensi. Secara sosial memiliki integrasi sosial yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri: artinya makmur secara ekonomi. Orang yang konsisten berlaku susila akan dimudahkan rezekinya oleh Tuhan. Sri bukan berati kaya raya. Karena kemakmuran tidak bisa diukur dari jumlah kekayaan yang berlimpah. Kekayaan berlimpah dapat membuat orang bersikap eksklusif. Sikap eksklusif dapat membawa orang hidup menderita banyak musuh karena kekayaan berlimpah kalau tidak disertai dengan moral dan mental yang baik dapat membawa orang jadi sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasaktin: Orang yang tekun berbuat susila akan dipermudah oleh Tuhan mendapatkan kesaktian. Sakti menurut Wrehaspati Tattwa 14 adalah sang sarwa jnyana muang sang sarwa karya. Maksudnya; Sakti adalah orang yang banyak ilmu dan banyak kerja berdasarkan ilmu yang dimiliki. Dunia yang semakin global dengan tehnologi yang semakin canggih, semakin dibutuhkan SDM yang sakti. SDM yang sakti itulah yang akan dapat menolong masyarakat keluar dari berbagai kemelut yang semakin merisaukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai ilmu yang dimiliki oleh SDM sakti itu akan diwujudkan dalam kerja sebagai pengamalan dari ilmu yang dimiliki. SDM sakti itu tidak disebut sakti kalau hanya berhenti dalam teori semata. Dalam Canakya Nitisastra IV.15 dinyatakan sbb: Anabhyasa visam sastram. Artinya: ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan dalam praktek kehidupan akan menjadi racun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaniscayan: artinya keteguhan hati seperti pandita yang diceritrakan di atas. Pada zaman post modern ini dinamika hidup semakin flutuatif sering sulit diprediksi. Makna teguh dalam hal ini tidak mudah gede roso (GR) kalau dipuji dan tidak mudah putus asa kalau dicaci. Berbagai suka duka dihadapi dengan sama dan dhira artinya seimbang dan tahan uji. Artinya kuat memegang prinsip hidup. Penulis I Ketut Wiana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-9004752562620206861?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/9004752562620206861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=9004752562620206861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/9004752562620206861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/9004752562620206861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/08/perbuatan-susila.html' title='Perbuatan Susila'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFu2feO1-wI/AAAAAAAACYc/cQG-2f8t26Q/s72-c/Pendeta.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-4517378605175359963</id><published>2010-07-29T20:10:00.000-07:00</published><updated>2010-07-29T20:17:52.660-07:00</updated><title type='text'>Pura Pengayengan Tangkas di Lombok NTB</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFJD03dMVEI/AAAAAAAACXg/25OCdj6woDc/s1600/Pura+Pengayengan+Tangkas+Lombok+NTB.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 237px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFJD03dMVEI/AAAAAAAACXg/25OCdj6woDc/s320/Pura+Pengayengan+Tangkas+Lombok+NTB.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499532670491448386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Om Swastyastu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(51, 51, 51); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Om Awighnamastu Namosiddham, Terlebih dahulu, Titiang haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara -Batari Junjungan dan Leluhur Sinamian. Semoga kami terlepas dari kutuk dan neraka.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Pare Semeton Arya Tangkas Kori Agung, dimanapun berada. Titiang permaklumkan bahwa titiang mewakili Semeton Warga Prethisentana Arya Tangkas Kori Agung yang berdomisili di Mataram - Lombok dan sekitarnya, dengan ini menyampaikan salam dan informasi bahwa di Lombok tepatnya di kota Mataram Semeton Tangkas&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;saat ini sudah mencapai kurang lebih 1.000 Kepala Keluarga yang tersebar di seputaran Kota Mataram, maupun&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;di Kabupaten Lombok Barat sampai ke Lombok Tengah.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Atas Prakarsa para Pengelingsir Semeton Dadya Tangkas&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;khususnya yang berada&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;di Karang Medain,&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;berhasil mendirikan atau membangun&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pura Pengayengan Tangkas sebagai sarana pemujaan leluhur / bhatara kawitan, yang pembangunannya diawali pertama kali&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;pada tahun 1978. Namun keadaan bangunannya pada awal pendiriannya sangat sederhana.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Kemudian sejak&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;bulan September 2007 yang lalu, secara bertahap telah dilakukan renovasi. Program ini juga telah sampaikan kepada Pengelingsir / Pengurus Pusat Prethisentana Tangkas (Bapak I Wayan Geredeg SH), dan&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;sampai saat ini sedang renovasi tahap ke-II yaitu pembangunan Kori Agung dan Candi Bentar.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Seiring dengan Proses Pembangunan Pura Pengayengan Tangkas ini, sudah barang tentu ada&lt;span&gt; &lt;/span&gt;kendala yang dihadapi, karena minimnya dana saat ini pelaksanaan program renovasi berjalan tersendat.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Untuk memperlancar Proses Pembangunan Pura, kami memerlukan dukungan secara&lt;span&gt; &lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Moral maupun Material kepada Umat Sedharma maupun Semetonan Prethisentana untuk&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;melanjutkan Yadnya Karya penyediaan sarana peribadatan yang layak sebagai wadah pemersatu warga yang ada di lombok, yaitu salah satunya adalah dengan pembangunan Pura pengayengan ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Bagi Umat Sedharma maupun Semetonan Prethisentana yang ingin beryadya silahkan menghubungi Ketua Panitia Karya yang tertera di akhir tulisan ini. Semoga niat baik Umat Sedharma mendapatkan Waranugraha dari Ida Sanghyang Widhi – Tuhan Yang Maha Esa.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Om, Santih, santih, santih, Om&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Ketua Panitia Pembangunan Pura Tangkas Mataram Lombok&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;I Komang Rupadha&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Rumah :&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Jl. HOS Cokroaminoto&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Gg. Melati No. 2&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Mataram&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Lombok – Nusa Tenggara Barat&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Telp. 0370 638737&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;HP: 08179799526&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;E-mail:&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:k_rupadha@yahoo.com" target="_blank" style="color: rgb(54, 84, 82);"&gt;k_rupadha@yahoo.com&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Kantor&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Perpustakaan Pusat Universitas Mataram&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Jl. Majapahit&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;No. 62 Mataram&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Lombok – Nusa Tenggara Barat&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Rekening Punia&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Bank BNI Cab Mataram&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;No. Rekening. : 0123672349&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0px;"&gt;Atas Nama : I Komang Rupadha&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;(Panitia Karya)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-4517378605175359963?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/4517378605175359963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=4517378605175359963' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/4517378605175359963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/4517378605175359963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/07/pura-pengayengan-tangkas-di-lombok-ntb.html' title='Pura Pengayengan Tangkas di Lombok NTB'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFJD03dMVEI/AAAAAAAACXg/25OCdj6woDc/s72-c/Pura+Pengayengan+Tangkas+Lombok+NTB.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-3594165152799774579</id><published>2010-07-21T22:26:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T22:32:30.997-07:00</updated><title type='text'>Rerainan Umat Hindu Bulan Juni 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TEfXz7_a70I/AAAAAAAACWs/Gpyl33fB_X8/s1600/Rerainan+Umat+Hindu+-Kajeng+Kliwon.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 186px; height: 271px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TEfXz7_a70I/AAAAAAAACWs/Gpyl33fB_X8/s320/Rerainan+Umat+Hindu+-Kajeng+Kliwon.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496599157505978178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut merupakan Rangkaian Rerainan bagi Umat Hindu yang akan di laksanakan pada bulan Juni 2010, adapun rerainan tersebut adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Selasa 1 Juni, Anggara Kasih Medangsia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anggara Kliwon adalah rerainan yang datang setiap pertemuan Saptawara Anggara dengan Pancarawa Kliwon. Pada rerainan ini Sang Hyang Ayu dan Sang Hyang Rudra beryoga melimpahkan anugrah beliau. Pada hari ini umat menghaturkan canang dan melakukan persembahyangan memohon wara nugraha beliau agar menglebur segala keletehan / kekotoran dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Minggu 6 Juni, Kajeng Kliwon Uwudan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rerainan kajeng kliwon datangnya setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon Uwudan adalah Kajeng Kliwon yang jatuh pada Pangelong atau periode hingga 15 hari setelah Purnama. Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Rerainan kajeng kliwon dipercaya sebagai hari yang keramat. Pada hari kajeng kliwon umat menghaturkan segehan yang dihaturkan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah segehan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Dhurga Bucari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jumat 11 Juni, Tilem sasih Sadha&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rerainan tilem merupakan pemujaan Sang Hyang Surya, tilem juga merupakan rerainan penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra, yang mempunyai makna sama dengan rerainan Purnama. Pada waktu Candra Graha (gerhana bulan) maka dilakukanlah pemujaan Candra Sthawa / Soma Sthawa, dan pada waktu Surya Graha (gerhana matahari) dilakukan pemujaan Surya Cakra Bhuwana Sthawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rabu 16 Juni, Buda Kliwon Pahang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rerainan Buda Kliwon datang setiap pertemuan Pancawara Kliwon dengan Saptawara Buda dan nama belakangnya disesuaikan dengan nama wuku dimana pertemuan itu terjadi, misalnya jika terjadi pada wuku Sinta maka disebut buda klion sinta, jika pada wuku gumbreg disebut buda klion gumbreg dan selanjutnya. Pada rerainan Buda Klion umat hindu melakukan persembahyangan dan mengahturkan canang lengawangi buratwangi, yang dipersembahkan di merajan / kemulan Rong tiga dan juga di plangkliran, ditujukan kepada Sang Hyang Sri Nini. Pada malam harinya umat Hindu mengheningkan seluruh pikiran, dengan tujuan memohon kerahayuan dan kadirgayusan. Buda kliwon pahang juga disebut dengan Buda Kliwon Pegat Uwakan yang menandai berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan yang ditandai dengan mencabut penjor di muka rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Senin 21 Juni, Kajeng Kliwon Enyitan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rerainan kajeng kliwon datangnya setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon Nyitan adalah Kajeng Kliwon yang jatuh pada Pananggal atau periode hingga 15 hari setelah Tilem. Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Rerainan kajeng kliwon dipercaya sebagai hari yang keramat. Pada hari kajeng kliwon umat menghaturkan segehan yang dihaturkan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah segehan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Dhurga Bucari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sabtu 25 Juni, Tumpek Krulut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tumpek datangnya setiap 35 hari sekali, yaitu pada saat pertemuan Pancawara Kliwon dengan Saptawara Saniscara itu terjadi, misalnya pada tanggal 2 Mei 2009 jatuh pada Wuku Krulut jadi disebut dengan Tumpek Krulut, atau misalnya saja jatuh pada Wuku Wariga maka disebut dengan Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh.&lt;br /&gt;         &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; Rerainan Tumpek Krulut diperingati guna memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Bhatara Iswara. Kata Krulut berarti Lulut yang artinya menyentuh jiwa, jadi pada Tumpek Krulut ini umat menghaturkan rasa syukur atas anugerah tuhan berupa seni tabuh / musik yang dapat mengetarkan jiwa bahkan hingga ke alam semesta. Tumpek Klurut juga diistilahkan dengan odalan gong, karena pada hari inilah para pragina / seka gong melakukan pemujaan sebagai wujud syukur dan bhakti atas anugerah Sang Hyang Widhi berupa seni tetabuhan, karena seni tetabuhan tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat Bali, baik itu dalam hal Upacara Agama ataupun upacara kemanusiaan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu peras, pengambean, ajuman, tigasan, beserta tipat/ketupat gong. Ada yang unik dalam sesajen hari ini yaitu segala sesuatu yang dihaturkan seperti telur, buah-buahan, dll dihaturkan dalam bentuk yang utuh/tidak dibagi-bagi. Sebelum menghaturkan upacara ini dilakukan upacara Mabyekala atau Beakaon sebagai upacara penyucian atau menghilangkan segala mala. Pada hari ini umat melakukan persembahnyangan di Mrajan / Kemulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sabtu 25 Juni, Purnama Sasih Kasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rerainan purnama jatuh setiap 30 hari sekali. Pada hari ini seluruh pura - pura di Bali biasanya ramai oleh umat yang melakukan persembahyangan. Pada rerainan Purnama beryogalah Sang Hyang Candra (bulan) yang merupakan hari penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra. Rerainan Purnama merupakan sebuah momentum guna mengintrospeksi diri, bersujut dihadapan Tuhan dan kembali kepada keseimbangan (Rwa Bhineda) sekala dan niskala. Disamping itu pada rerainan Purnama vibrasi suci akan terpancar dari sinar rembulan sehingga sangat baik untuk melaksanakan yoga samadhi. Pada hari ini umat melakukan persembahyangan dimulai dari merajan / kemulan masing - masing, merajan dadia, Pura Kahyangan Tiga dan jika memungkinkan sangat baik untuk melakukan Tirta Yatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rabu 30 Juni, Buda Cemeng Merakih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rerainan Buda Cemeng dilaksanakan setiap pertemuan pertemuan Saptawara Buda dengan Pancawara Wage. Pada rerainan ini Sang Hyang Manik Galih beryoga menurunkan Sang Hyang Ongkara Merta di Bumi. Yadnya dipersembahkan di Sanggah Kemulan kehadapan Sang Hyang Sri Nini, nunas wara nugraha agar beliau menciptakan kemakmuran dunia. sumber http://idapedandagunung.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-3594165152799774579?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/3594165152799774579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=3594165152799774579' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/3594165152799774579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/3594165152799774579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/07/rerainan-umat-hindu-bulan-juni-2010.html' title='Rerainan Umat Hindu Bulan Juni 2010'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TEfXz7_a70I/AAAAAAAACWs/Gpyl33fB_X8/s72-c/Rerainan+Umat+Hindu+-Kajeng+Kliwon.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-7037052325231382716</id><published>2010-06-29T02:36:00.000-07:00</published><updated>2010-06-29T02:49:33.800-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>Mantra Pasupati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCnBkJ6gUGI/AAAAAAAACWk/r3Z5SGdOqrE/s1600/Mantra+Pasupati+oleh+Pasek+Tangkas+Blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 192px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCnBkJ6gUGI/AAAAAAAACWk/r3Z5SGdOqrE/s320/Mantra+Pasupati+oleh+Pasek+Tangkas+Blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488130447808417890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“srayan dravyamayad yajnaj&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jnanayajnah paramtapa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sarvam karma 'khilam partha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jnane perimsamapyate”&lt;/span&gt; (BhagavadgītāIV.33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa lebih bermutu daripada persembahan materi dalam keseluruhannya semua kerja iniberpusat pada ilmu-pengetahuan, Oh Parta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hari suci agama Hindu yang cukup istimewa adalah Tumpek Landep yang jatuh setiap 210 hari sekali tepatnya pada setiap hari Saniscara Kliwon wuku Landep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum untuk merayakannya, masyarakat Hindu menggelar kegiatan ritual yangkhusus dipersembahkan untuk benda-benda dan teknologi, yang berkat jasanya telah mampu memberikan kemudahan bagi umat dalam mencapai tujuan hidup. Utamanya adalah benda-benda pusaka, semisal keris, tombak, sampai kepada kendaraan bermotor, komputer, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping hal tersebut, sesungguhnya hari suci Tumpek Landep merupakan hari Rerahinan gumi dimana umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi yang telah memberikan kecerdasan, pikiran tajam serta kemampuan yang tinggi kepada umat manusia (Viveka dan Vinaya), sehingga mampu menciptakan berbagai benda yang dapat memudahkan hidup termasuk teknologi. Mesti disadari, dalam konteks itu umat bukanlah memuja benda-benda tersebut, tetapi memuja kebesaran Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana Upacara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap upacara; maka keberadaan upakara tentu tidak dapat dikesampingkan, demikian pula halnya ketika umat Hindu melaksanakan upacara Tumpek Landep ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sarana/upakara yang dibutuhkan dalam Tumpek Landep, yang paling sederhana adalah canang sari, dupa, dan tirtha pasupati. Yang lebih besar dapat menggunakan upakara Peras, Daksina atau Pejati. Dan yang lebih besar biasanya dapat dilengkapi dengan jenis upakara yang tergolong sesayut, yaitu Sesayut Pasupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai jenis upakara tersebut yang terpenting barangkali adalah Tirtha Pasupati; karena umat Hindu masih meyakini betapa pentingnya keberadaan tirtha ini. Tirtha Pasupati biasanya didapat melalui Pandita atau Pinandita melalui tatacara pemujaan tertentu. Tapi bagaimana halnya dengan individu-individu umat Hindu, apa yang mesti dilakukan jika ingin mendapatkan Tirtha Pasupati? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisakah memohonnya seorang diri tanpa perantara Pinandita dan atau Pandita?&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawabannya tentu saja boleh...!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup menyiapkan sarana seperti di atas (seuaikan dengan desa-kala-patra). Misalnya dengan sarana canang sari, dupa dan air (toya anyar), setelah melakukan pembersihan badan (mandi dsb). Letakkan sarana/ upakara tersebut di pelinggih/ altar/ pelangkiran. Kemudian melaksanakan asuci laksana (asana, pranayama, karasudhana) dan matur piuning (permakluman) sedapatnya baik kepada leluhur, para dewa dan Hyang Widhi, ucapkan mantra berikut ini dengan sikap Deva Pratista atau Amusti Karana sambil memegang dupa dan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mantra Pasupati:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Sanghyang Pasupati Ang-Ung Mang ya namah svaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Brahma astra pasupati, Visnu astra pasupati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siva astra pasupati, Om ya namah svaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Sanghyang Surya Chandra tumurun maring Sanghyang Aji Sarasvati-tumurun maring Sanghyang Gana, angawe pasupati maha sakti, angawe pasupati maha siddhi, angawe pasupati maha suci, angawe pangurip maha sakti, angawe pangurip maha siddhi, angawe pangurip maha suci, angurip sahananing raja karya teka urip, teka urip, teka urip.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Sanghyang Akasa Pertivi pasupati, angurip........&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om eka vastu avighnam svaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Sang-Bang-Tang-Ang-Ing-Nang-Mang-Sing-Wang-Yang-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ang-Ung-Mang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Brahma pasupati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Visnu Pasupati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Siva sampurna ya namah svaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian masukkan bunga ke dalam air yang telah disiapkan&lt;br /&gt;Dengan demikian maka air tadi sudah menjadi Tirtha Pasupati, dan siap digunakan untuk mempasupati diri sendiri dan benda-benda lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;……………………….Titik-titik pada mantra di atas adalah sesuatu yang mau dipasupati)-dalam hal ini adalah air untuk tirtha pasupati. Dalam hal tertentu dapat dipakai mempasupati yang lainnya..tergantung kebutuhan (tapi tetap saya sarankan hanya untuk Dharma, karena jika akan dipakai untuk hal-hal negatif maka mantra tersebut tidak akan berguna bahkan akan mencederai yang mengucapkannya)!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra di atas bersumber dari lontar Sulayang Gni Pura Luhur Lempuyang. Oleh : I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-7037052325231382716?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/7037052325231382716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=7037052325231382716' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/7037052325231382716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/7037052325231382716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/06/mantra-pasupati.html' title='Mantra Pasupati'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCnBkJ6gUGI/AAAAAAAACWk/r3Z5SGdOqrE/s72-c/Mantra+Pasupati+oleh+Pasek+Tangkas+Blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-1636275429259867491</id><published>2010-06-24T19:40:00.000-07:00</published><updated>2010-06-24T19:48:48.747-07:00</updated><title type='text'>Jadwal Pesta Kesenian Bali ke - 32 Tahun 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCQYgB8xYDI/AAAAAAAACWU/DeowcFFhHX8/s1600/Pesta+Kesenian+Bali+XXXII+tahun+2010.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 224px; height: 226px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCQYgB8xYDI/AAAAAAAACWU/DeowcFFhHX8/s320/Pesta+Kesenian+Bali+XXXII+tahun+2010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486537184602316850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadwal Pesta Kesenian Bali ke - 32 Tahun 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;&lt;div&gt;       &lt;b&gt;HARI/DAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;WAKTU/&lt;i&gt;TIME&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;ACARA/&lt;i&gt;PROGRAM&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;TEMPAT/&lt;i&gt;LOCATION&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SABTU/SATURDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       12 June2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       14.00 – 17.00&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Pawai Pembukaan /&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Opening Procession&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Acara Pembukaan PKB ke XXXII Tahun 2010&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Pementasan Sendratari Kolosal ’Anggada Duta’ Pemda prov. Bali Garapan Institut Seni Indonesia Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Opening ceremony of The 32&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;sup&gt;nd&lt;/sup&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Bali Arts Festival 2010&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Collosal Balinese mime dance drama ”Anggada Duta” by Bali Province Goverment Productions Indonesian Art Insitute Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Jln. Surapati Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ardha Candra amphitheatre&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;MINGGU/SUNDAY &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       13 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;Lomba Merangkai Bunga dan Janur serta Makanan &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Flower arranging and Food competition&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Lantai 1 Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;First floor of Ksirarnawa&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 11.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Karawitan Gender Wayang Br. Batan Nyuh Marga Kabupaten Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Gender Wayang Ensemble from Banjar Batan Nyuh Marga .Tabanan Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Angsoka stage&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="86"&gt;      &lt;div&gt;       14.00 – 16.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="348"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Klasik oleh Pasemetonan  Pragina Mas&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Taman Budaya Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Classical dance by Pasemetonan Pragina Mas&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Taman Budaya Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="132"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Wantilan Hall&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       18.30 – 20.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Paduan Suara Inovasi Partisipasi Pemerintah Provinsi Gorontalo  &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Inovative Choir presented by Government of Gorontalo Province&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ksirarnawa Hall&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Jakarta Barat&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of West Jakarta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Wantilan Hall&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Calonarang oleh Sanggar Manik Swari Br Buda Ireng Desa Batuyang Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Calonarang Dance by Manik Swari dance studio, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;Ireng Banjar &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;Buda Batuyang village Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ayodya stage&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SENIN/MONDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       14 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Klasik oleh Sekaa Gong Kumara Eka Cita Br. Lepang Kec. Banjarangkan Kabupaten Klungkung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Classical dance by&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Sekaa Gong Kumara Eka Cita Br. Lepang Kec. Banjarangkan &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Kabupaten Klungkung&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ayodya stage&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kepulauan Riau Ibu kota Tanjung Pinang&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Cultural and Tourism Office of Kepulauan Riau Province&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Wantilan Hall&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Kantor Perwakilan Kalimantan Barat di Jakarta&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Representative Office of West Kalimantan in Jakarta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Wantilan Hall&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt; Parade Angklung Kreasi oleh Sekaa Gong Widya Asrama Br. Kelaci Marga Kabupaten Tabanan dengan Sekaa Angklung Werdhi Budaya,Desa Ambengan Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;New Angklung creation exhibition featuring Sekaa Gong Widya Asrama Br. Kelaci Marga Tabanan Regency and Sekaa Angklung Werdhi Budaya, Ambengan village Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Panggung Terbuka ISI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;ISI amphitheatre&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="86"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="348"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Sendratari Satrio Garudho Pinilih oleh Malang Dance&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Satrio Garudho Pinilih mime dance drama&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;presented by Malang presented by Malang Dance&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="134"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Depan Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ksirarnawa open stage&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td width="1"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SELASA/TUESDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       15 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Karawitan Klasik Caruk Sanggar Raka Rai Kabupaten Bangli&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Caruk Classical music presented by   Sanggar Raka Rai Bangli regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka / &lt;i&gt;&lt;span&gt;Angsoka Stage&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       17.00 -18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Komunitas teater Kakanna Balanipa Mandar Sulawesi Barat&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Kakanna Balanipa Theatre Comunity,  Mandar West Sulawesi &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya/&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;Ayodya stage&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Parade Wayang Kulit Dalang I Made Juanda oleh Sanggar Suara Murti Sukawati Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Wayang Kulit shadow puppet exhibition featuring Dalang I Made Juanda&lt;/i&gt;&lt;i&gt; from &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sanggar Suara Murti Sukawati Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt; Parade Angklung Kreasi oleh Sekaa Angklung desa adat Pangsan,Kecamatan Petang Kabupaten Badung dengan Sanggar Palgunadi, Pengosekan, Ubud, Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;New Angklung creation exhibition featuring Sekaa Angklung desa adat Pangsan, Petang Badung Regency with Sanggar Palgunadi, Pengosekan, Ubud, Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka ISI/&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;ISI amphitheatre&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Wanita Sekaa gong wanita Br.kelod,Desa adat Ungasan,Kuta selatan Kabupaten Badung  dengan Dharma Suci, Kelurahan Padang Sambian, Denpasar Barat&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Women Gong Kebyar exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa gong wanita Br.Kelod,Desa adat Ungasan, south Kuta Badung Regency and  Dharma Suci, Kelurahan Padang Sambian, Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Ardha Candra amphitheatre&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;RABU/WEDNESDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       16 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Karawitan Klasik Selonding Oleh Sekaa Selonding Br.Intaran, Pejeng, Tampaksiring Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Selonding Classical music presented by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Selonding Br.Intaran, Pejeng, Tampaksiring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Topeng Prembon Sekaa Topeng Bujangga Puspa Desa Dukuh Kabupaten Karangasem&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Topeng Bujangga Puspa Dukuh&lt;/i&gt;&lt;i&gt; village Karangasem Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Dramatari Arja oleh Sekaa Arja Siwa Ratri Br. Biya Desa Keramas Blahbatuh Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Arja dance drama by Sekaa Arja Siwa Ratri Br. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Biya Desa Keramas Blahbatuh Gianyar&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ayodya stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       18.00 – 19.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Teruna Teruni Bali Festival&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Depan Ksirarnawa&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa open stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt; Parade Angklung Kreasi oleh Sekaa Angklung Prabu Ningrat Desa Sangkan Gunung Kec Sidemen Kabupaten Karangasem dengan Sekaa Angklung Mekar Sari Br. Pande Kec. Klungkung Kabupaten Klungkung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;New Angklung creation exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Angklung Prabu Ningrat Sangkan Gunung village Kec Sidemen Karangasem Regency and Sekaa Angklung Mekar Sari Br. Pande Kec. Klungkung, Klungkung Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka ISI&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       ISI amphitheatre&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Anak-Anak  Sekaa Gong Kumara Asti, Desa Pekraman Bangunliman, Buruan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar dengan Sekaa Gong Anak-anak Sadguna Kumara, Banjar Lebah, Desa Sumerta Kaja, Denpasar Timur Kota Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Children Gong Kebyar exhibition featuring Sekaa Gong Kumara Asti, Desa Pekraman Bangunliman, Buruan Blahbatuh, Gianyar Regency and Sekaa Gong Anak-anak Sadguna Kumara, Banjar Lebah, Sumerta Kaja, Denpasar &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ardha Candra amphitheatre&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;KAMIS/ THURSDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       17 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Karawitan   Gandrung oleh Sekaa Ambek Suci Pura Majapahit Br. Monang-maning Kota Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Gandrung music presented by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Ambek Suci Pura Majapahit Br. Monang-maning &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       17.00 -18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Wayang Wong Anak-anak Inovasi oleh Yayasan Tri Pusaka Sakti Br. Pekandelan Batuan Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Innovative children Wayang Wong masked dance drama by Tri Pusaka Sakti Foundation ,Br Pekandelan Batuan Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ayodya stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 20.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Virpi Pahkinen Dance Company Stockholm, Sweden&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Virpi Pahkinen Dance Company Stockholm, Sweden&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Dewasa  Sekaa Gong “Kanti budaya” desa adat Jimbaran,Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung dengan Sanggar Miniartis Amlapura Jl. Untung Surapati Amlapura Kabupaten Karangasem&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Men Gong Kebyar exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt; Sekaa Gong “Kanti budaya” desa adat Jimbaran,Kecamatan Kuta Selatan Badung Regency and Sanggar Miniartis Amlapura Jl. Untung Surapati Amlapura Karangasem Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ardha Candra amphitheatre&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;JUMAT/FRIDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       18 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Karawitan Klasik Selonding oleh Sekaa Selonding Sudamala, Desa Tangkas Kec. Klungkung Kabupaten Klungkung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Selonding Classical music by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Selonding Sudamala, Desa Tangkas Kec. Klungkung&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Kabupaten Klungkung&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka,&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       18.00 – 19.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Tari kontemporer oleh Sanggar Cek Gen Tegalalang Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Contemporary dance by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sanggar Cek Gen Tegalalang&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Riau&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Cultural and Tourism Office, Riau Province&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00.&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Drama Tari Arja Geguntangan Sanggar Seni Dot Bagus Dot Jegeg Desa Petiga Kec. Marga Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Arja Geguntangan dance drama by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sanggar Seni Dot Bagus Dot Jegeg Desa Petiga Kec. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Marga Tabanan Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ayodya stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;  &lt;/table&gt;  &lt;div&gt;   &lt;b&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;   &lt;b&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;ACARA MINGGU II/ 2&lt;sup&gt;nd&lt;/sup&gt; Week Program&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;HARI/DAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;WAKTU/TIME&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;ACARA/PROGRAM&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;TEMPAT/LOCATION&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SABTU/SATURDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       19 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 11.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Karawitan Klasik Gambang oleh Sekaa Mekar Sari Desa Tumbak Bayuh Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Gambang Classical music by Sekaa Mekar Sari Desa Tumbak Bayuh Kecamatan Mengwi Badung Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        Pesantian oleh Sanggar Giri Lango Banjar Bukit Batu Samplangan Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Pesantian from Sanggar Giri Lango Banjar Bukit Batu Samplangan Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;        Wantilan Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       18.30 – 20.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tarian oleh Sanggar Sawung Galih Kota Magelang&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Dances from Sanggar Sawung Galih , Magelang city&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ratna Kanda&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ratna Kanda stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Topeng Prembon oleh Sekaa prembon himpunan  seniman Kabupaten Badung (HSKB).&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring Sekaa prembon himpunan seniman Kabupaten Badung (HSKB)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt; Parade Angklung Kreasi oleh Jaya Kanti, Banjar Cengkilung, Peguyangan Kangin, Denpasar Barat Kota Denpasar dengan Sekaa Angklung Darma Suara, Desa Kaliakah,Kec.Negara Kabupaten Jembrana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;New Angklung creation exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Jaya Kanti, Banjar Cengkilung, Peguyangan Kangin, Denpasar Barat Denpasar City and Sekaa Angklung Darma Suara, Kaliakah Village,Kec.Negara Jembrana Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka ISI&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       ISI amphitheater&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        Pemutaran Film  Dokumenter&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Documentary Film Show &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       ISI Denpasar&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Kolaborasi Puisi – Musik oleh Group Band Puisi-Musik Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Poetry –music collaboration by Puisi-Musik Group Band Denpasar &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="156"&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa  Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        Dramatari klasik Penyalonarangan “Kali Yuga Nemu Kerta Sanggar Gita Bandana Praja Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Penyalonarangan Classical dance drama ” Kali Yuga Nemu Kerta Sanggar Gita Bandana Praja Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Cak Kreasi oleh Sanggar Paripurna Bona Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;New Cak Creation from Sanggar Paripurna Bona Regency Gianyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ayodya Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;MINGGU/SUNDAY &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       20 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Topeng Panca oleh Sekaa Topeng Panca Kanda Eka Swara Murti Br. Anggabaya Penatih Denpasar Timur.&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Panca masked dance drama by Sekaa Topeng Panca Kanda Eka Swara Murti Br. Anggabaya Penatih Denpasar &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Leko Banjar Parekan Sibang Gede Kec. Abian Semal Kabupaten Badung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Leko dance from Banjar Parekan Sibang Gede Kec. Abian Semal Badung Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan  Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="6" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Lomba Busana Anak-anak dan Remaja&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Children and Adult Fashion Show &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td width="3"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       17.00-18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Tari Janger Sekaa Janger Br.Palak,Sukawati, Kabupaten Gianyar  &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;J&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;anger dance from &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Sekaa Janger Br.Palak,Sukawati, Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Ayodya stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Drama Gong oleh Sekaa Drama Gong Kundi Manik Desa Buana Giri Kec. Bebandem Kabupaten Karangasem&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Drama Gong exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Drama Gong Kundi Manik Desa Buana Giri Kec. Bebandem &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Karangasem Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Dramatari Arja Muwani oleh Sekaa Arja Mwani Printing Mas Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Arja Muwani dance drama by Sekaa Arja Mwani Printing Mas Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Theater Bali Modern Sanggar Teater Bali Ambengan Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Balinese modern theatre from Sanggar Teater Bali Ambengan Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya/ Ayodya stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SENIN/MONDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       21 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Pesantian oleh Persatuan Tuna Netra Indonesai (PERTUNI)&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Jln Seririt Singaraja Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Pesantian from Indonesia Handicap Organization (PERTUNI) Jln Seririt Singaraja&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya/ Ayodya stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Pemberian Penghargaan Kepada Seniman Tua&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; &lt;i&gt;Award to Old Artists &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;&lt;span&gt;                                      &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Wayang Kulit Tradisi Sekaa Wayang Brahma Cita Swadiaya, Desa Buda Keling Kec. Bebandem Karangasem&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Kabupaten Karangasem&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Tradition Wayang Kulit puppet exhibition featuring Sekaa Wayang Brahma Cita Swadiaya, Desa Buda Keling Kec. Bebandem Karangasem&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Balaganjur Fragmentari oleh Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Badung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Baleganjur dance drama featuring representative of Denpasar City, Gianyar Regency and Badung Regency &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka ISI Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       ISI amphitheater&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Prembon Kreasi oleh Sanggar Alit Sundari&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Batubulan Kangin Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon creation dance presented by Sanggar Alit Sundari&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Batubulan Kangin Gianyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Dramatari Calonarang Sanggar Tari Gita Lestari Petak Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Calonarang dance drama presented by &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Sanggar Tari Gita Lestari Petak Kabupaten Gianya&lt;/i&gt;&lt;i&gt;r&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya/ Ayodya stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SELASA/TUESDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       22 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Kesenian oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Cultural and Tourism Office of East Nusa Tenggara Province&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya/ Ayodya stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari dan Tabuh oleh Sanggar Yenira Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Music and Dance from Sanggar Yenira Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka/&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Parade Topeng Prembon oleh Sekaa Topeng Smara Buana Br. Losan Desa Takmung Kabupaten Klungkung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring Sekaa Topeng Smara Buana Br. Losan Desa Takmung Klungkung Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="340"&gt;      &lt;div&gt;        Parade Drama Gong  oleh Sekaa Drama Langlang Budaya Tegalalang Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Drama Gong exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Drama Langlang Budaya Tegalalang Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="156"&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa Hall&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="8"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Lagu Daerah Bali oleh Kabupaten  Klungkung dan Karangasem&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Balinese Song exhibition featuring representative of Klungkung and Karangasem Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung terbuka Ardha Candra/Ardha Candra Amphitheatre&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;RABU/WEDNESDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       23 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Topeng Betawi, Tari None tugu dan silat Beksi oleh Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Utara&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Betawi masked dance, None Tugu dance and Silat Beksi presented by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Suku Dinas Kebudayaan North Jakarta &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       17.00 – 19.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Tari kontemporer oleh  HSB Kabupaten Bangli&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Contemporary dance by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;HSB Bangli Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Topeng Prembon oleh Sanggar Yama Sari, Peliatan, Ubud, Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring Sanggar Yama Sari, Peliatan, Ubud, Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="89"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="6" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Calonarang Sanggar Seni Werdhi Sanggita&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Br. Samsam Kerambitan Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Calonarang dance presented by Seni Werdhi Sanggita&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Br. Samsam Kerambitan Tabanan Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="161"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Lagu Daerah Bali oleh Kabupaten Jembrana, Buleleng dan Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Balinese Song exhibition featuring representative of Jembrana, Buleleng and Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;KAMIS/ THURSDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       24 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bukit Tinggi&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Cultural and Tourism Office o Bukit Tinggi City &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       17.00 – 19.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;        Dramatari Arja “ Cecupu Manik Windusara oleh Sekaa Arja  Gitanjali Mengwitani Kecamatan Mengwi Badung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Arja dance drama “ Cecupu Manik Windusara” by Sekaa Arja Gitanjali Mengwitani Kecamatan Mengwi Badung&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Topeng Prembon oleh  Sanggar Seni Santhi Budaya, Singaraja Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring Sanggar Seni Santhi Budaya, Singaraja Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Lagu Daerah Bali oleh Kabupaten Tabanan, Badung dan Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Balinese Song exhibition featuring representative of Tabanan , Badung Regency and Denpasar City &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;JUMAT/ FRIDAY&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       25 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Tari dan Tabuh Klasik oleh Sanggar Mekar Bhuana Jl. Penyaringan No. 42, Br. Penyaringan Sanur&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Classical music and dance presented by Sanggar Mekar Bhuana Jl. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Penyaringan No. 42, Br. Penyaringan Sanur&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="6" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Arja Klasik Oleh Sanggar puri Saraswati Singapadu&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Clasical Arja dance drama presented by Sanggar puri Saraswati Singapadu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="157"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ratna Kanda&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td width="3"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;        Parade Topeng Prembon Sekaa Prembon Pesona Budaya Bangli Kabupaten Bangli&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring Sekaa Prembon Pesona Budaya Bangli,&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Bangli Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;  Pementasan Wayang Modern Oleh dalang I Wayan Mardika Bhuwana,S.Sn dari Sanggar Wayang Kulit Gita Mahardika Br. Babakan Sukawati Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Modern Puppet Show by I Wayan Mardika Bhuwana S.Sn from Sanggar Wayang Kulit Gita Mahardika Br. Babakan Sukawati Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="5"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;  &lt;/table&gt;  &lt;div&gt;   &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;   &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;   &lt;b&gt;ACARA MINGGU III&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;HARI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;WAKTU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;ACARA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;TEMPAT/LOKASI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SABTU/SATURDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       26 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Tari Hudoq Suku Dayak oleh Dewan Kesenian Balik Papan (DKB)&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Hudoq Suku Dayak Dance presented by arts Council of Balik Papan (DKB)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ratna Kanda&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Tari Klasik Gambuh oleh Sekaa Gambuh, Desa Pacung, &lt;span&gt;   Tejakula&lt;/span&gt; Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Gambuh Classical Dance by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Gambuh, Desa Pacung,     Tejakula&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       17.00-18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Tari Joged Bumbung Br. Begawan Pedungan Denpasar Selatan Kota Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;J&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;oged Bungbung Dance presented by &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Br. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Begawan Pedungan South Denpasar, &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Denpasar City&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 20.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="348"&gt;      &lt;div&gt;        Musik etnik Fusion oleh Abi Group Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Etnict Fusion Music by Abi Group Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="134"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="21"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Wayang Kulit Banjar Padang Sambu, Denpasar Barat Kota Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Shadow Puppet presented by Banjar Padang Sambu, West Denpasar, Denpasar City&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Pemutaran  Film Dokumenter&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Documentary  Film Show &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="6" valign="top" width="139"&gt;      &lt;div&gt;       ISI Denpasar&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td width="17"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00 &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Final Pemilihan Jegeg Bagus Provinsi Bali&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Final of The Bali Best Model Competition &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;MINGGU/SUNDAY &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       27 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Ngelawang Oleh Kabupaten Klungkung, Gianyar, Bangli dan Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ngelawang Procession exhibition featuring representative of Klungkung, Gianyar, Bangli and Tabanan Regency &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Areal Taman Budaya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Klasik oleh Kota Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Classical dance presented by Denpasar City &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Joged Bumbung oleh Sanggar Tari Dharma Santhi&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Desa Bila Tua Kubu tambahan Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Joged Bumbung presented by Sanggar Tari Dharma Santhi &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Bila Tua Village Kubu tambahan Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Pagelaran Wayang Listrik oleh Grup Sidhakarnoyako Tokyo Japan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Electric puppet show by Sidhakarnoyako Group, Tokyo Japan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="88"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="98"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 20.22&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="344"&gt;      &lt;div&gt;       Wayang Betel Oleh Dalang I Ketut Kodi SSP.M.Si&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt; Inovation Shadow puppet by Dalang I Ketut Kodi SSP.M.Si&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="7" valign="top" width="155"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="85"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="349"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Drama Gong oleh Himpunan Seniman Kabupaten Badung (HSKB)&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Drama Gong exhibition featuring Himpunan Seniman Kabupaten Badung (HSKB)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="131"&gt;      &lt;div&gt;       Gd. Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" width="24"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="97"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="350"&gt;      &lt;div&gt;       Musik kolaborasi oleh Group Musik Progresif Jes Gamelan Fusion &lt;b&gt;“Penggak Men Mersi”&lt;/b&gt; Puri Kesiman Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Collaboration music show by Progressive Jazz Gamelan Fusion &lt;b&gt;“Penggak Men Mersi”&lt;/b&gt; Puri Kesiman Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="128"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" width="27"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SENIN/MONDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       28 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Klasik  Arja Klasik oleh Sekaa Kertya Kencana Budaya Buduk Kediri Kabupaten Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Classical Arja dance drama by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Kertya Kencana Budaya Buduk Kediri Tabanan&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       17.00 – 19.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Tari kontemporer garapan Kolaborasi Sanggar samer Galang, Kelurahan Dauhwaru, Kec.Jembrana. Kabupaten Jembrana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Contemporary dance presented by Collaboration of dance studio &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Samer Galang, Dauhwaru, Kec.Jembrana.&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Jembrana Ragency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Parade Wayang Kulit Tradisi oleh Sanggar Kuta Kumara Agung&lt;span&gt;   Kuta Kabupaten Badung&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Tradition Puppet exhibition featuring Sanggar Kuta Kumara Agung   Kuta Badung Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Drama Tari Arja Dengan dengan Judul “&lt;b&gt;&lt;i&gt;Roro Mendut&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;” oleh RRI Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Arja dance drama entittle ”&lt;b&gt;Roro Mendut&lt;/b&gt;” by RRI Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Wanita Sekaa Gong Wanita Ardana Kusuma.Kel.Tegalcakring,Kec.Mendoyo Kabupaten Jembrana dengan Pendamping Sanggar Cudamani Pengosekan Ubud Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Women Gong Kebyar exhibition featuring Sekaa Gong Wanita Ardana Kusuma.Kel.Tegalcakring,Kec.Mendoyo Kabupaten Jembrana and Sanggar Cudamani Pengosekan Ubud Gianyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SELASA/TUESDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       29 June 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – selesai&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Lomba Nyastra&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Literature recitation competition&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka, Kalangan Ayodya, Kalangan Ratna Kanda, Wantilan, Panggung Tertutup Ksirarnawa&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       17.00-18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Tari Janger oleh Sanggar Citta Usadi Kecamatan  &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        Mengwi Kabupaten Badung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Janger dance presented by Sanggar Citta Usadi,   &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Mengwi Badung Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;  Parade Wayang Kulit oleh Sekaa Wayang Parwa Suci Laksana Dalang Wanita Kadek Suciati Desa Paksebali Kec. Dawan Kabupaten Klungkung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Puppet show exhibition featuring Sekaa Wayang Parwa Suci Laksana women Dalang : Kadek Suciati from  Paksebali Village Kec. Dawan Klungkung Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;span&gt;Partisipasi Indian Cultural Centre Bali&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Indian Cultural Centre Bali&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Anak-Anak Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Manik Anyar br. Umanyar Desa Ababi Kec. Abang Kabupaten Karangasem dengan Sanggar Seni Kumara Widya Suara, Kel.Tegalcangkring,Kec. Mendoyo Kabupaten Jembrana.&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Children &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Gong Kebyar exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Manik Anyar br. Umanyar Desa Ababi Kec. Abang Karangasem Regency and Sanggar Seni Kumara Widya Suara, Kel.Tegalcangkring,Kec. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Mendoyo Jembrana Regency &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;RABU/WEDNESDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       30 June  2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="83"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="97"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="350"&gt;      &lt;div&gt; Tari tradisi suku Dayak Pedalaman dengan judul ”Corita Nya Muntuh Mula” Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Dayak Pedalaman tradition dance enacting ”Corita Nya Muntuh Mula” presented by Cultural and Tourism Office of Sanggau Regency , West Kalimantan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="124"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="6" width="32"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Taman Penasar oleh Sanggar Seni Penyandang Cacat Rwa Bineda Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Taman&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Penasar featuring Handicap Arts Studio “Rwa Bineda” Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       18.30 – 20.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Tari dan fashion show pakaian daerah Balikpapan Dinas pemuda, Olah raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Balikpapan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Dance and Balik Papan traditional cloth Fashion Show presented by Youth ,Sport, Cultural, and Tourism Office of Balikpapan City&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksiarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Arja Remaja Sanggar Tari Sentana Mandala&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Br, Belaluan desa Singapadu Tengah Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Adolescent Arja dance presented by Sentana Mandala dance studio Br, Belaluan Singapadu village Gianyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Parade Wayang Kulit oleh Sekaa Wayang Kulit Wakul Piluk Jiner, Baluk,Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Puppet show exhibition featuring Sekaa Wayang Kulit Wakul Piluk Jiner, Baluk,Kec Negara Jembrana Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       20.00-23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Dewasa oleh Sekaa Gong Dwi Karya Budaya Br. Sanda Kec. Pupuan Kabupaten Tabanan dengan Sekaa gong Murdaning Katon Jaya, Kelurahan Tonja, Denpasar Utara Kota Denpasar.&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Men &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Gong Kebyar exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Gong Dwi Karya Budaya Br. Sanda Kec. Pupuan Tabanan Regency and Sekaa gong Murdaning Katon Jaya, Kelurahan Tonja, Denpasar Utara Denpasar City.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;KAMIS/ THURSDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       1 July 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Kreasi dan Fragmentari oleh Sanggar Siwer Nadi Swara Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Creation dance and dance drama by Sanggar Siwer Nadi Swara Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       17.00-18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Joged Bumbung oleh Sekaa Jaya Suara, Br.Pangkung Liplip, Desa. Kaliakah Kec. Jembrana KabupatenJembrana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;J&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;oged Bumbung dance by Sekaa Jaya Suara, Br.Pangkung Liplip, Kaliakah Village Kec. Jembrana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt; Jembrana Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Parade  Wayang Kulit oleh Jro Mangku Dalang I Wayan Badra Dusun Demulih Kabupaten Bangli&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Puppet show exhibition featuring Jro Mangku Dalang I Wayan Badra Dusun Demulih Bangli Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Cak Wanita oleh ISI Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Women CAK dance presented by ISI Denpasar &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Wanita oleh Sekaa Gong Dharma Gita Sadu Br. Dauh Peken Kabupaten Tabanan dengan Sekaa Gong Wanita Gita Kencana Br. Tengah Dawan Kec. Dawan Kabupaten Klungkung.&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Women Gong Kebyar exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Gong Dharma Gita Sadu Br. Dauh Peken Tabanan Regency and Sekaa Gong Wanita Gita Kencana Br. Tengah Dawan Kec. Dawan Klungkung Regency.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;JUMAT/ FRIDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       2 July 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       09.00 – selesai&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Sarasehan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Workshop and Discussion&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Natya Mandala ISI&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="98"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="340"&gt;      &lt;div&gt; Kreasi Legong Gender dengan Barong Macan oleh Yayasan Seni Puspa Kirana Br. Tangkup Desa Kedisan Kec. Tegalalang Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Legong Gender creation with Barong Macan by Seni Puspa Kirana Foundation Br. Tangkup Kedisan Village Kec. Tegalalang Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="134"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka, Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="21"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       17.00-18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;       Joged Bumbung Br. Payuk Tembuku Bangli Kabupaten Bangli  &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Joged Bumbung dance presented by Br. Payuk Tembuku Bangli Regency &lt;/i&gt;&lt;i&gt;  &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Parade Wayang Kulit Dalang Gede Sugiantara, Desa Tejakula. Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Puppet exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Dalang Gede Sugiantara, Tejakula &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        Parade Drama Gong oleh Kabupaten Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Drama Gong exhibition presented by Tabanan Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Gd. Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Parade Balaganjur Iringan Fragmentari oleh Kabupaten Klungkung, Jembrana, Karangasem dan Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Baleganjur exhibition feturing representative of Klungkung,Jembrana, Karangasem, and Tabanan Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Stage Terbuka ISI Denpasar&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="345"&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Anak-Anak  Sekaa gong anak-anak ”rare angon”SMPN2 Abiansemal Kabupaten Badung dengan Sekaa Gong Alit Puspa Sari Br. Suda Kanginan Kediri Kabupaten Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Children Gong Kebyar exhibition featuring Sekaa gong anak-anak ”rare angon”SMPN2 Abiansemal Badung Regency and Sekaa Gong Alit Puspa Sari Br. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Suda Kanginan Kediri Tabanan Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="5" valign="top" width="135"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="20"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;  &lt;/table&gt;  &lt;div&gt;   &lt;b&gt;ACARA MINGGU IV&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;         &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;HARI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;WAKTU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;ACARA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;TEMPAT/LOKASI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SABTU/SATURDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       3 Juli 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Lomba Kerajinan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Handicraf competetion &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       11.00 – 13.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Karawitan Kendang Mebarung oleh Kabupaten Jembrana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Kendang Mebarung music presented by Jembrana Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       17.00-18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Joged Bumbung oleh Sekaa Joged Semara Nadi Desa Tohpati Kec. Banjarangkan Kabupaten Klungkung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Joged Bumbung dance by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Joged Semara Nadi Desa Tohpati Kec. Banjarangkan&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Klungkung Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Topeng Prembon oleh Sekaa Gong Puspa Sari, Banjar Peken, Kelurahan Renon Kota Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring  Sekaa Gong Puspa Sari, Banjar Peken, Kelurahan Renon Denpasar &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="107"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Paguyuban Puspo Budoyo Tangerang&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Paguyuban &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Puspo Budoyo Tangerang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="139"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="2"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;        20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="340"&gt;      &lt;div&gt;         Pemutaran Film Dokumenter&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Documentary Film Show &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="141"&gt;      &lt;div&gt;       ISI Denpasar&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td width="1"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="107"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Legong Kreasi “Karna Gugur” produksi GEOKS Singapadu&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Creation Legong dance ” Karna Gugur” produced by  GEOKS Singapadu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="139"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" width="2"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;MINGGU/SUNDAY &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;4 Juli &lt;/b&gt;2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Ngelawang oleh Kabupaten Jembrana, Badung, Karangasem dan Kota Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ngelawang procession exhibition featuring representative of &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Jembrana, Badung, Karangasem Regency and  Denpasar City&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Areal Taman Budaya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Topeng Kreasi oleh IHDN Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Jl. Ratna Tatasan Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Creation masked dance by IHDN Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Jl. Ratna Tatasan Denpasar &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Partisipasi Sekolah Santa Laurensia Serpong Tangerang Banten &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Performance of Santa Laurensia School Serpong Tangerang Banten &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       17.00 – 19.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Tari kontemporer oleh Sekaa Mario Bross Desa Tunjuk Kabupaten Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Contemporary dance by Sekaa Mario Bross Tunjuk Village Tabanan Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade  Wayang Kulit oleh Sekaa Wayang Tomblos Br. Bengkel Kediri Kabupaten Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Puppet exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Wayang Tomblos Br. Bengkel Kediri Tabanan&lt;/i&gt;&lt;i&gt;  Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Gong Kebyar Dewasa  Sekaa Gong Kebyar Traya Gita Winangun Br. Karangsari Nusa penida dengan Kabupaten Bangli&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Men Gong Kebyar exhibition featuring Sekaa Gong Kebyar Traya Gita Winangun Br. Karangsari Nusa penida Klungkung and Bangli Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SENIN/MONDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       5 Juli 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 11.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Gambuh Sanggar Seni Kembang Bang. Jalan Kedisan Sebatu Tegalalang Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Gambuh dance drama presented by Seni Kembang Bang. Kedisan Sebatu Tegalalang Gia&lt;/i&gt;&lt;i&gt;nyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       17.00-18.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari  Joged Bumbung oleh Sekaa Tunjung mekar, Desa Sinabun Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Joged Bumbung dance by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Tunjung mekar, Sinabun Village Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Parade Topeng Prembon Sekaa Topeng Once Srawa,Desa Penyaringan, Kec.Mendoyo Kabupaten Jembrana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring Sekaa Topeng Once Srawa, Penyaringan village, Kec.Mendoyo Jembrana Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt; Kolaborasi oleh Group Bhaskar’Arts theatre (India) di Singapore dengan Sanggar Seni Saba Sari Puri Taman Saba Blahbatuh Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Colaboration show perform Bhaskar’Arts theatre (India) in Singapore with Sanggar Seni Saba Sari Puri Taman Saba Blahbatuh Gianyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        Parade Gong Kebyar Wanita Sekaa Gong Wanita Madya Sari, Desa Peliatan, Ubud, Kabupaten Gianyar dengan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Sekaa Gong Kebyar Wanita Gurnita Semara Kunti Desa Padangbai Kec. Manggis Karangasem Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Women &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Gong Kebyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SELASA/TUESDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       6 Juli 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Genjek Kadong Iseng Desa Sraya Barat Kec. Karangasem Kabupaten Karangasem&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Genjek show perform Kadong Iseng from West Sraya Village,Karangasem Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       17.00 – 19.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Kreasi dan Tabuh Kontemporer oleh Sanggar Musik Tradisional Radikal Ceraken Desa Batuyang Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Creation dance and contemporary tabuh  presented by Ceraken Radical Tradition Music Studio Batuyang Village Gianyar Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       19.00-21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Parade Topeng Prembon oleh Sekaa Topeng Kalangen Tanah bang Selemadeg Barat Kabupaten Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Prembon masked dance exhibition featuring Sekaa Topeng Kalangen Tanah bang West Selemadeg Tabanan Regency &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00-21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Karawitan oleh Group Gamelan Madu Sari Of Vancouver Canada&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Karawitan Music featuring Gamelan Madu Sari group Of Vancouver Canada &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;  Parade Gong Kebyar Anak-Anak Sekaa Gong Putra Samanjaya Desa Jumpai Kabupaten Klungkung dengan Pendamping SMP Dwi Jendra Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Children Gong Kebyar exhibition featuring Sekaa Gong Putra Samanjaya Jumpai Village Klungkung Regency and SMP Dwi Jendra Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;RABU/WEDNESDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;7 Juli &lt;/b&gt;2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari dan Tabuh Semar Pagulingan Anak-anak oleh Sanggar Citarum Jl. Tukad Citarum No. 35 Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Children Semar Pegulingan dance and tabuh presented by Sanggar Citarum Jl. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Tukad Citarum No. 35 Denpasar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00-21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Dramatari Prembon Kocak oleh Gamelan Cendana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Batubulan Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Funny Prembon dance drama by Gamelan Cendana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Batubulan Gianyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00-22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Jazz Fusion oleh Balawan dengan Batuan Etnik Fusion&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Jazz Fusion by Balawan with Batuan Etnik Fusion &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00-23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Dewasa oleh Sanggar Seni Dharma Suara, Br.Delod Peken, Kreramas, Blahbatuh Kabupaten Gianyar dengan Sekaa Gong Sanggar Triptaka Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Men Gong Kebyar exhibition featuring Sanggar Seni Dharma Suara, Br.Delod Peken, Kreramas, Blahbatuh Gianyar Regency and Sekaa Gong Sanggar Triptaka Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;KAMIS/ THURSDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       8 Juli 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Klasik Wayang Wong oleh Sekaa Wayang Wong Dewa Kosala Rakta Desa Telepud Tegalalang Gianyar Kabupaten Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Clasical Wayang wong dance drama presented by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Wayang Wong Dewa Kosala Rakta Telepud Village&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Tegalalang Gianyar&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       17.00 – 19.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari kontemporer oleh Sanggar Seni Tri Datu, Desa anturan Kabupaten Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Contemporary dance by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sanggar Seni Tri Datu, Anturan&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Village Buleleng Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 – 20.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Jegog Kreasi oleh Group Sekar Jaya California Amerika&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Creation of Jegog Music by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekar Jaya Group &lt;/i&gt;&lt;i&gt;California&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Amerika&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00-22.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        Pemutaran Video Dokumenter&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Documentary Film Show&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       ISI Denpasar&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00-21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Sendratari ”Bima Angkus Prana” oleh Sekaa Kesenian Lango Murti Br. Mukti Desa Singapadu Kab. Gianyar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Mime dance drama “Bima Angkus Prana” by Sekaa Kesenian Lango Murti Br. Mukti Desa Singapadu Gianyar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00-23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt; Parade Gong Kebyar Dewasa Sanggar Gita Santhi, Kel.DauhWaru, Kec.Jembrana Kabupaten Jembrana dengan  Pendamping Grup Dharma Swara New York Amerika.&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Men Gong Kebyar exhibition featuring &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sanggar Gita Santhi, Kel.Dauh Waru, Kec.Jembrana ,Jembrana Regency and accompanied by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Dharma Swara Group New York Amerika.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Panggung Terbuka Ardha Candra&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;JUMAT/ FRIDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt;9 Juli &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="95"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="94"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="340"&gt;      &lt;div&gt;       Janger Kreasi Melampahan oleh Sanggar Pelangi Budaya Nusantara Sesetan Kota Denpasar&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Enacted Creation janger dance by Sanggar Pelangi Budaya Nusantara Sesetan Kota Denpasar &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="142"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 12.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Kesenian Arja Sewagati Br. Pengajaran Desa Brangbang Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Arja Sewagati arts from Br. Pengajaran Desa Brangbang Kec Negara Jembrana Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       16.00-18.00&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       20.00-21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Joged Bumbung Sekaa Chandra Metu Penatahan Penebel Kabupaten Tabanan&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Joged Bumbung presented by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sekaa Chandra Metu Penatahan Penebel Tabanan Regency&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;div&gt;        Partisipasi oleh Art Contemporain – Instalation Prancis&lt;/div&gt;       &lt;div&gt;        &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Performance of Art Contemporain – Instalation Prancis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Joint Concert Group Kesenian Cakra Dance Company Jepang dengan Jegog Suar Agung Jembrana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Joint Concert featuring Cakra Dance Company Japan with Jegog Suar Agung Jembrana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Depan Gedung Ksirarnawa&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       20.00-21.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Tari Kreasi oleh Sanggar Wyarihita Jepang&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Creation dance presented by Sanggar Wyarihita Japan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;SABTU/SATURDAY&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       10 Juli 2010&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 11.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Rindik oleh Sanggar Lege Sawitra&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Desa Pakraman Suwug Kec. Sawan Buleleng&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Rindik music show by Sanggar Lege Sawitra&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Desa Pakraman Suwug Kec. Sawan Buleleng&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Angsoka&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Angsoka Stage&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       10.00 – 11.30&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Wayang Wong  Oleh Sekaa Wayang Wong Griya Jelantik Dlod Pasar Sanur&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Wayang Wong dance drama by Sekaa Wayang Wong Griya Jelantik Dlod Pasar Sanur &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Kalangan Ayodya&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.00 - 21.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Wayang Gambuh Sanggar Seni werdhi Santana&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Br. Dangin Sema Desa Tumbak Bayuh Mengwi&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Badung&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Wayang Gambuh dance drama presented by &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sanggar Seni werdhi Santana Br. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Dangin Sema Tumbak Bayuh Village Mengwi Badung&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="138"&gt;      &lt;div&gt;       Wantilan&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="4"&gt;      &lt;div&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="104"&gt;      &lt;div&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="90"&gt;      &lt;div&gt;       19.30 – 23.00&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;     &lt;td colspan="2" valign="top" width="342"&gt;      &lt;div&gt;       Penutupan PKB&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Pementasan Sendratari Kolosal Pemda prov. Bali&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       Garapan SMKN 3 Sukawati&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;i&gt;Closing ceremony &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div&gt;       &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;i&gt;Collosal mime dance drama “ Kunti Yadnya” by Goverment Of Bali Province Productions SMKN 3 Sukawati&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-1636275429259867491?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/1636275429259867491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=1636275429259867491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1636275429259867491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/1636275429259867491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/06/jadwal-pesta-kesenian-bali-ke-32-tahun.html' title='Jadwal Pesta Kesenian Bali ke - 32 Tahun 2010'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCQYgB8xYDI/AAAAAAAACWU/DeowcFFhHX8/s72-c/Pesta+Kesenian+Bali+XXXII+tahun+2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-628681515573901179</id><published>2010-06-24T19:25:00.000-07:00</published><updated>2010-06-24T19:28:29.316-07:00</updated><title type='text'>Renungan Saraswati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCQULrERqCI/AAAAAAAACWE/2Au4UZSrXfg/s1600/Saraswati+oleh+Pasek+Tangkas+Blog.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 192px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCQULrERqCI/AAAAAAAACWE/2Au4UZSrXfg/s320/Saraswati+oleh+Pasek+Tangkas+Blog.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486532436815882274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Adbhirgatrani suddhyanti,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manah satyena suddhyanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;widyatapobhyam bhutatma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;budhhir jnyanena suddyanti. (Manawa Dharmasastra, V.109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya: Badan dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran (satya), atman dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, budhi disucikan dengan jnyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI Raya Saraswati adalah hari raya untuk mengingatkan umat Hindu untuk memuja Tuhan sebagai sumber dan pencipta ilmu pengetahuan. Pemujaan Tuhan sebagai pencipta ilmu pengetahuan untuk memotivasi umat agar senantiasa mencari ilmu untuk memelihara dan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu hari raya Saraswati dinyatakan dalam Pustaka Hindu sebagai Hyang-hyangning pangeweruh. Kata ''Hyang dalam bahasa Jawa Kuna artinya suci. Kata ''pangeweruh'' artinya ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah agar umat Hindu senantiasa mencari ilmu pengetahuan dengan niat suci dan juga bertujuan yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam kekawin Nitisastra IV, 19 ada dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan (guna) itu dapat menimbulkan kemabukan atau timira. Mabuk karena ilmu pengetahuan sebagai salah satu dari unsur Sapta Timira atau tujuh kemabukan. Dalam Nitisastra tersebut dinyatakan bahwa barang siapa yang tidak mabuk oleh Sapta Timira itu dialah orang disebut ''Sang Mahardika'' atau orang yang merdeka dan dapat dijadikan ''Pinandita''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenjang pinandita inilah sebagai tangga menuju pandita sebagai jenjang yang lebih tinggi melalui proses diksita. Karena itu perayaan harirRaya Saraswati dilakukan setiap Saniscara Umanis Watugunung agar umat Hindu tidak mabuk karena ilmu dan senantiasa ingat akan makna ilmu pengetahuan itu untuk tujuan yang mulia dan suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu itu ada yang disebut Para Widya dan Apara Widya. Para Widya itu ada yang tergolong jnyana yaitu ilmu pengetahuan suci untuk membangun kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual itu untuk memberikan landasan moral dan mental pada dinamika kecerdasan intelektual. Daya spiritual yang melandasi kecerdasan intelektual untuk melandasi kepekaan emosional agar diwujudkan untuk membina kelestarian alam lingkungan dengan asih dan mengabdi pada sesama manusia dengan punia sebagai wujud bhakti pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pustaka Bhuwana Kosa VIII.2-3 dinyatakan ada lima jenis penyucian yaitu Patra Sauca, Pertiwi Sauca, Jala Sauca, Bhasma Sauca dan Jnyana Sauca. Patra Sauca adalah penyucian dengan daun yang mengandung chlorofil. Pertiwi Sauca adalah tanah itu sebagai sumber penyucian. Dengan kekuatan tanah berbagai kekotoran dapat dirubah menjadi sesuatu yang berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jala Sauca adalah penyucian dengan air. Air dalam bahasa Sansekerta disebut jala. Air dalam pustaka Canakya Nitisastra salah satu unsur dari Triji Ratna Permata Bumi. Dua unsur Triji Ratna Permata Bumi itu adalah tumbuh-tumbuhan bahan makanan/bahan obat-obatan dan Subha Sita. Manusia akan keracunan kalau unsur air seara drastis menurun dalam tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhasma Sauca artinya abu suci sebagai sarana untuk melambangkan penyucian diri. Abu suci itu dalam tradisi agama Hindu Siwa Sidhanta adalah dilambangkan dengan sarana serbuk cendana dengan sedikit air kunyit. Kata ''bhasma'' dalam bahasa Sansekerta artinya abu suci. Jnyana Sauca artinya penyucian dengan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pustaka Bhuwana Kosa penyucian dengan ilmu pengetahuan inilah dinyatakan sebagai penyucian yang paling utama. Dalam Bhuwana Kosa dinyatakan: anghing Jnyana Soca juga lewih saking soca kabeh, ya kita aprameya phalanya... Artinya Jnyana Soca inilah yang paling utama di antara semua soca (penyucian) itu karena pahalanya tiada terhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hidup dengan ilmu pengetahuan akan semakin cerah dan tertuntun dengan baik perjalanan hidup kita ini sepanjang ilmu itu dicari dan digunakan secara baik, benar dan tepat serta tidak mabuk oleh ilmu pengetahuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tujuan pemujaan Tuhan sebagai Dewi Saraswati yaitu Dewi-nya ilmu pengetahuan adalah untuk mencegah agar jangan manusia mabuk oleh karena kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan tersebut. Kekawin Nitisastra II.5 ada dinyatakan sebagai berikut: Norana mitra mangeluwihaning wara guna maruhur. Artinya tidak ada sahabat yang melebihi bersahabatan dengan ilmu pengetahuan yang luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks mitologi, sakti diartikan istri). Sakti sesungguhnya berarti kekuatan yang terwujud dari kemampuan menguasai ilmu serta menerapkannya sampai ilmu itu berguna untuk meningkatkan kwalitas hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pengertian sakti dalam Wrehasati Tattwa 14 dinyatakan sebagai berikut: Sakti ngarania sangsarwa jnyana sarwa karta. Maksudnya: Sakti namanya adalah mereka yang memiliki banyak ilmu dan banyak karya berdasarkan ilmu yang dimiliki. Dengan demikian Dewa Brahma adalah sinar suci Tuhan dalam wujud nyata spiritual Tuhan dalam menciptakan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Dewi Saraswati adalah aspek Tuhan dalam mewujudkan ilmu itu menjadi nyata di bumi ini sehingga dapat didaya gunakan oleh manusia untuk dijadikan pegangan dalam menyelenggarakan dalam membenahi hidupnya di bumi ini agar menjadi semakin baik dan benar untuk mencapai kehidupan yang bahagia di jalan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini pada kenyataannya banyak sekali kejadian yang muncul karena penyalahgunaan iptek tersebut sampai menimbulkan banyak penderitaan hidup. Mengapa hal itu terjadi, karena motivasi mencari dan menggunakan ilmu masih banyak tidak dilandasi sebagai wujud bhakti pada Tuhan dengan wujud kasih pada dalam lingkungan dan melakukan pengabdian (punia) pada sesama umat manusia dalam. Mencari dan menggunakan iptek itu dengan motivasi asih, punia sebagai wujud bhakti pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah tujuan utama dari perayaan Saraswati. Bhakti pada Tuhan tanpa wujud asih dan punia akan menimbulkan beragama hanya formalitas saja. Beragama yang hanya formalistis saja akan menjadi beban hidup yang memberatkan. sumber I Ketut Wiana&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4497180311586230428-628681515573901179?l=pasektangkas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasektangkas.blogspot.com/feeds/628681515573901179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4497180311586230428&amp;postID=628681515573901179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/628681515573901179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4497180311586230428/posts/default/628681515573901179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasektangkas.blogspot.com/2010/06/renungan-saraswati.html' title='Renungan Saraswati'/><author><name>Arya Tangkas Kori Agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07224917492897005728</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TFlCUC5yLYI/AAAAAAAACX8/t_bV78PHHUs/S220/I+Made+Artawan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TCQULrERqCI/AAAAAAAACWE/2Au4UZSrXfg/s72-c/Saraswati+oleh+Pasek+Tangkas+Blog.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4497180311586230428.post-2893356723037491180</id><published>2010-06-15T20:08:00.000-07:00</published><updated>2010-06-15T20:22:21.080-07:00</updated><title type='text'>Loloh Cemcem Laris Manis di Ajang Pesta Kesenian Bali 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TBhDTGKfLbI/AAAAAAAACV8/8kHt6KWwr0o/s1600/Loloh+Cemcem.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 225px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_76ZSx9-6-AA/TBhDTGKfLbI/AAAAAAAACV8/8kHt6KWwr0o/s320/Loloh+Cemcem.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5483206541674753458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Loloh Cemcem minuman Favorite pelepas dahaga di ajang Pesta Kesenian Bali ke - 32 tahun 2010. Sejak  adanya stan kuliner Bali di arena PKB mulai tahun lalu, berbagai macam menu masakan khas Bali makin dikenal oleh masyarakat. Salah satunya loloh cemcem khas Kabupaten Bangli. Loloh yang dibuat dari daun cemcem dicampur dengan kelapa muda itu sudah memasuki arena PKB setahun lalu. Demikian juga pada PKB XXX
