Arya Tangkas Kori Agung

Om AWIGHNAMASTU NAMOSIDDHAM, Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.

 
Refrensi Pasek Tangkas
Untuk menambah Referensi tentang Arya Tangkas Kori Agung, Silsilah Pasek Tangkas, Babad Pasek Tangkas, Perthi Sentana Pasek Tangkas, Wangsa Pasek Tangkas, Soroh Pasek Tangkas, Pedharman Pasek Tangkas, Keluarga Pasek Tangkas, Cerita Pasek Tangkas. Saya mengharapkan sumbangsih saudara pengunjung untuk bisa berbagi mengenai informasi apapun yang berkaitan dengan Arya Tangkas Kori Agung seperti Kegiatan yang dilaksanakan oleh Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Pura Pedharman Arya Tangkas Kori Agung, Pura Paibon atau Sanggah Gede Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Keluarga Arya Tangkas Kori Agung dimanapun Berada Termasuk di Bali - Indonesia - Belahan Dunia Lainnya, sehingga kita sama - sama bisa berbagi, bisa berkenalan, maupun mengetahui lebih banyak tentang Arya Tangkas Kori Agung. Media ini dibuat bukan untuk mengkotak - kotakkan soroh atau sejenisnya tetapi murni hanya untuk mempermudah mencari Refrensi Arya Tangkas Kori Agung.
Dana Punia
Dana Punia Untuk Pura Pengayengan Tangkas di Karang Medain Lombok - Nusa Tenggara Barat


Punia Masuk Hari ini :

==================

Jumlah Punia hari ini Rp.

Jumlah Punia sebelumnya Rp.

==================

Jumlah Punia seluruhnya RP.

Bagi Umat Sedharma maupun Semetonan Prethisentana yang ingin beryadya silahkan menghubungi Ketua Panitia Karya. Semoga niat baik Umat Sedharma mendapatkan Waranugraha dari Ida Sanghyang Widhi – Tuhan Yang Maha Esa.

Rekening Dana Punia
Bank BNI Cab Mataram
No. Rekening. : 0123672349
Atas Nama : I Komang Rupadha (Panitia Karya)
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, ... Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.
Berbakti
Janji bagi yang Berbakti kepada Leluhur BERBAKTI kepada leluhur dalam rangka berbakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa.
Mantram Berbakti
Berbakti kepada Leluhur Abhivaadanasiilasya nityam vrdhopasevinah, Catvaari tasya vardhante kiirtiraayuryaso balam. (Sarasamuscaya 250) Maksudnya: Pahala bagi yang berbakti kepada leluhur ada empat yaitu: kirti, ayusa, bala, dan yasa. Kirti adalah kemasyuran, ayusa artinya umur panjang, bala artinya kekuatan hidup, dan yasa artinya berbuat jasa dalam kehidupan. Hal itu akan makin sempurna sebagai pahala berbakti pada leluhur.
Ongkara
"Ongkara", Panggilan Tuhan yang Pertama Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu?
Gayatri Mantram
Gayatri Mantram Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam. Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam Mahyam dattwa vrajata brahmalokam. Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.
Dotlahpis property
Image and video hosting by TinyPic
Sang Hyang Kumara - Putra Siwa
Jumat, 12 Oktober 2007

Menurut kisah yang terdapat dalam Lontar Siwa Gama bahwa Dewa Kumara adalah salah satu putra Dewa Siwa dan Dewi Uma. Putra Siwa yang lainnya adalah Dewa Kala dan Dewa Ghana. Dikisahkan suatu ketika Dewa Siwa sedang sakit. Untuk mengobati sakitnya itu Dewa Siwa minta kepada Dewi Uma untuk mencarikan susu lembu hitam. Demi kesehatan Dewa Siwa dan rasa setianya kepada suami maka Dewi Uma berusaha keras untuk mendapatkan susu tersebut. Setelah berusaha sekian lama tetapi belum juga memperoleh hasil, maka Dewi Uma mencoba mencarinya di dunia. Turunlah Dewi Uma ke dunia dan berusaha mendapatkan susu lembu hitam. Setelah sekian lama mencarinya maka akhimya berjumpalah Dewi Uma dengan seorang gembala yang sedang menggembalakan seekor lembu hitam. Dewi Uma mencoba meminta kepada penggembala tersebut agar diberikan meminta susu lembu dimaksud. Tetapi permintaan Dewi Uma tersebut ditolak. Dewi Uma berusaha meyakinkan penggembala tersebut bahwa dirinya adalah seorang Dewi sedangkan susu tersebut akan digunakan untuk mengobati Dewa Siwa yang sedang sakit. Namun demikian penggembala tersebut tetap tidak memberikan susu lembunya. la bersedia memberikan susu tersebut kepada Dewi Uma asalkan Dewi Uma bersedia memenuhi keinginannya untuk bersetubuh. Dewi Uma berada pada posisi dilematis, bila tidak mendapatkan susu tersebut maka suaminya dalam bahaya; bila dia bersedia bersetubuh maka ia akan menjadi kotor tetapi suaminya selamat. Akhimya karena dorongan rasa cinta demi keselamatan suaminya Dewi Uma bersedia bersenggama dengan penggembala tersebut.
Selanjutnya dikisahkan Bhatari Uma datang menyembah di kaki Bhatara Guru (Dewa Siwa) Beliau mempersembahkan susu, susu itu diterima oleh Bhatara Guru dengan pandangan lembut. Adalah perintah Bhatara Guru kepada Sang Hyang Ghana. Sang Hyang Ghana disuruh menyelidiki perjalanan ibunya dalam memperoleh susu. Sang Hyang Ghana menurut, lalu mengambil pustaka tenung pemberian Bhatara Guru, kemudian diberi mantra, Upasinam na ca kuryat. Tampaklah bayangan ibunya berbuat serong dengan pengembala. Hal itu lalu disampaikan kepada Bhatara Guru, Bhatara Guru tampak tersipu dan betapa marahnya Bhatari Uma dengan serta merta berkata kasar. Atyatam durmukam vedah "Apa katamu Ghana? Kau masih bayi, sok tahu meramal sesuatu yang tidak jelas. Kau begitu tega mencela perilaku ibumu, kau tidak tahu rahasia. Jika saja kau tidak memegang pustaka suci, pastilah kau mati dimakan olehku. Kau kira siapa ibumu ini. Bukankah aku ini perwujudan Durga, aku bisa menelan bumi, demikian kata Bhatari Uma menghujat. Keluarlah api dari mukanya, sangat dahsyat membasmi pustaka itu dalam sekejap berubah menjadi abu.
Hati Sang Hyang Ghana sedih atas terbakamya pustaka itu. Pustaka itu ditulis kembali oleh Sang Hyang Ghana. Bhatari Uma menyuruh Sang Kumara untuk menginjak-injak debu pustaka itu. Segera Sang Kumara menginjak-injak abu pustaka itu dengan kedua kakinya. Oleh karena itu abu itu berserakan menyebar tidak bisa dilihat lagi. Sang Hyang Ghana marah kepada Sang Kumara, ia berubah wujud . menjadi Ghanamurti bertangan empat, bertaring empat. Sang Kumara ditangkap dan dibantai. Segera Bhatara Guru menyapa Sang Hyang Ghana dengan ramah "Wahai Ghana janganlah kau berbuat demikian, itu dinamakan brahmatya, yang dapat mengakibatkan kesucianmu hilang. Dia masih kanak-kanak, jika seseorang ; belum genap berumur empat belas tahun, janganlah dikenai hukuman, hentikanlah, kemarahanmu kepada Sang Kumara". (Nanti jika Sang Kumara sudah besar, lebih dari sepuluh tahun disanalah kau melanjutkan kemarahanmu kepada Sang Kumara, kau tidak akan kena brahmatya (hukum kemarahan) silahkan bunuh Sang Kumara. Demikianlah kata Bhatara Guru.
Akhirnya Sang Hyang Ghana merasa kasihan, Sang Kumara dilepaskannya dan menangis tersedu-sedu memeluk kaki Bhatara Guru, memohon maaf atas kesalahannya, memohon agar terhindari dari kematiannya, jika besar akan dimakan oleh kakaknya Sang Hyang Ghana. Demikian ratapan Sang Kumara Bhatara Guru menjawab. Sang Kumara bertanya: "Daulat Bhatara, apakah maksudnya aku terus menerus menjadi kanak-kanak, dikutuk oleh Bhatara"? Demikian kata Sang Kumara. Pravaksya tryambakobhavah, jayati Kumara jayet, svya manah sukavaptih, bahuni janigastutah.
Bhatara Guru menjawab: "Wahai anakku Sang Kumara, janganlah kau salah paham akan isi kata-kataku. Ada baiknya jika kau bisa menjaga dunia sejak kanak-kanak, kokoh beristana sebagai pelindung bayi, dikelilingi oleh Sang pancakosika, sebagai dewanya "baligya rare". Kau mengetahui prilaku semua mahluk, baik buruk perbuatan manusia. Ada perjanjianmu dengan anak-anak bahwajika gigi anak-anak telah tanggal berhentilah kau menjaganya.
Adapun hukumanmu kepada manusia, jika ada bayi giginya belum tanggal, tidak boleh membuka pintu Sang Hyang Saraswati. Bila akan itu meninggal tidak boleh diupacarai di rumah, disemayamkan sampai besok. Kapan mati, saat itu juga dibawa ke kuburan. Kau berhak menghukum orang yang melanggarmu. Biarlah ia menemukan bahaya besar, sebab mayat bayi yang disemayamkan di rumah dapat mengotori dunia". Demikian kata Bhatara Guru, setelah itu beliau dinobatkan menjadi Sang Wredhakumara atas kemuliaan yoganya. Beliau ditemani Sang Pancaresi diberi anugerah sebagai pahala atas perbuatan jasanya dulu, berhak atas keinginannya. Beliau adalah juga Jagatpati demikian anugerah Bhatara Gum.
Sang Hyang Kumara dalam Lontar Kala Purana dan Dharma Pewayangan merupakan Putra Dewa Siwa. Tersebutlah Bhatara Siwa di Sorga mempunyai dua orang putra, yang satu berperawakan raksasa yang bernama Bhatara Kala, sedangkan adiknya bemama Sang Hyang Kumara yang masih kecil atau rare. Bhatara Kala lahir pada saat sore hari tepat pada sandikala yaitu Kemis Pon wuku Wayang dan adiknya Sang Hyang Kumara lahir pada Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Wayang. Bhatara Kala pergi bertapa dan adiknya diasuh oleh ayahnya (Bhatara Siwa) karena masih kecil. Setelah lama Bhatara Kala bertapa besarlah la dan mendapat penugrahan dari Sanghyang Kasuhan Kidul. Isi panugrahan itu yang memperbolehkan memakan orang-orang yang lahir pada wuku Wayang, memakan orang yang berjalan pada kalitepet (pertengahan hari) dan sandikala (waktu peralihan antara sore dan malam hari). Bhatara Kala teringat dengan anaknya yang lahir pada wuku Wayang itu, yang kiranya dapat menjadi makanannya, begitu pikiran serta keinginan Bhatara Kala, akhimya datanglah Bhatara Kala menghadap kepada ayahnya di Sorga dan menyembah dihadapan ayahnya lalu berkatalah ayahnya, "Hai anakku Bhatara Kala bagaimana kabarmu dan apa kehendakmu datang kemari, cepat katakan". Menyembahlah Bhatara Kala kepada ayahnya dan berkata, "Tujuan saya datang kemari meminta makanan kehadapan ayah, sebagai panugrahan Sanghyang Kasuhun Kidul. Orang yang dapat saya makan adalah orang-orang yang lahir pada waktu Wayang, orang berjalan pada kalitepet dan sandikala. Karena adik saya Sanghyang Kumara lahir pada wuku Wayang akan saya makan tapi sebelumnya saya minta dulu kepada ayah". Begitulah perkataan Bhatara Kala kepada ayahnya. Menyahut Bhatara Siwa, "Uduh anakku Hyang Kala besar sekali permintaanmu kepada ayah, ayah akan berikan betapi dengan syarat supaya adikmu berukur akupak, kalau belum akupak tidak boleh kau makan, tunggulah dulu", begitulah kata Bhatara Siwa.
Setelah lima tahun teringatlah Bhatara Kala akanjanjinya kemudian lagi menghadap ayahnya minta adiknya Sanghyang Kumara. Bhatara Siwa minta lagi waktu akajeng (tiga hari menurut perhitungan Agama Hindu). Lagi Bhatara Kala mohon diri dari hadapan ayahnya kembali ke tempat asalnya. Disinilah Bhatara Siwa mengutuk anaknya Sanghyang Kumara agar tetap menjadi rare (bayi) selamanya. Setelah akajeng datang lagi Bhatara Kala menghadap kepada ayahnya hendak memakan Sanghyang Kumara. Berkatalah Bhatara Siwa, "karena adikmu lahir pada hari Saniscara Kliwon wuku Wayang, sebaiknya hari itu kau makan adikmu", demikian kata Bhatara Siwa. Lagi Bhatara Kala kembali ke tempatnya semula. Pada saat ini berkatalah Bhatara Siwa kepada Sanghyang Kumara yang sudah dikutuk itu, "Hai anakku Sanghyang Kumara, engkau akan dimakan oleh kakakmu Bhatara Kala pada waktu Saniscara Kliwon wuku Wayang. Nah sekarang akal ayahmu, pergilah engkau ke Mercapada. Di saja ada raja baik sekali bemama Prabu Maya Sura sebagai raja di Kreta Negara. Di situlah kuinginkan sebagai tempat persembunyianmu. Mintalah keterangan padanya sebagai petunjuk untuk hidupmu, karena kakakmu Hyang Kala lagi tiga hari pada hari Saniscara Kliwon wuku Wayang akan datang memakanmu. Baiklah, sekarang turunlah ke dunia, tujulah Kreta-Negara. Dipastu Sanghyang Kumara supaya selamat dan panjang umur, sempurna selamanya oleh Bhatara Siwa. Menyembah dan minta dirilah Sanghyang Kumara kepada ayahnya lalu turun ke dunia, menuju tempat kediaman kerajaan Maya Sura di Kreta Negara.
Setibanya Sanghyang Kumara di Kreta-Negara terlihatlah raja Maya Sura sedang rapat dengan para pendeta semuanya. Di sanalah ia menyerahkan dirinya kepada sang Prabu. Begitu Sanghyang Kumara dilihatnya datang terkejutlah Sang Prabu dan berkata, "Hai, engkau masih bayi datang kepadaku sambil menangis apakah yang menyebabkan?", cepat katakan. Berkatalah sang rare (Sanghyang Kumara) dengan tak putus-putus tangisnya. Ya, Tuan Prabu Maya Sura, saya anak Bhatara Siwa. Nama saya Sanghyang Kumara, tujuan saya datang kemari ialah untuk meminta perlindungan Tuan Prabu, sebab kakak saya yang mendapat panugrahan dari Sanghyang Kasuhun Kidul yang menyuruh memakan orang-orang yang lahir pada waku Wayang dan saya lahir pada hari Saniscara Kliwon wuku Wayang. Itulah tujuan saya datang kemari minta perlindungan kehadapan paduka Tuan. Demikianlah permintaan Sanghyang Kumara. Berkatalah Sang Prabu, "Ya anakku Sanghyang Kumara, kalau betui begitu mulai sekarang saya melindungimu".
Para pejabat kraton, para mentri, menjemput kedatangan Sanghyang Kumara, serta dihormatilah la yang baru datang itu. Berkata lagi Prabu Maya Sura kepada Sanghyang Kumara, "Uduh, anak dewa putra, janganlah takut bersembunyi di kerajaanku ini semasih saya hidup. Sekarang saya menjaga kehidupanmu bersama mentri semua. Saya memberitahu untuk mempersiapkan perang dan mengecek kelengkapan senjata, kamu diam saja di keraton dan saya akan menghalangi kedatangan Bhatara Kala". Begitu kata sang Prabu, lalu Sanghyang Kumara dibawa masuk ke dalam kamar. Sang Prabu mempersiapkan semua tentaranya untuk menjaga sekeliling kratonnya dengan segala macam senjata untuk menandingi kedatangan Bhatara Kala.
Setelah waktunya tiba teringatlah Bhatara Kala akan janjinya dahulu, yaitu untuk memakan adiknya pada hari Saniscara Kliwon uku Wayang. Berangkatlah Bhatara Kala menuju Sorga menghadap Bhatara Qiwa menuntut janjinya. Setibanya Bhatara Kala di Sorga disambut oleh Bhatara Siwa dan berkata "Nah, mengenai janjiku yang dahulu sekarang saya beritahu kamu memakan Sanghyang Kumara, carilah dia karena ia pergi dari Sorga, kemungkinan ia turun ke dunia. Di sanalah dia dimakan, karena ia tidak ada di Sorga. Pergilah jika engkau ingin memakan manusia", demikianlah kata Bhatara Ciwa kepada Bhatara Kala. Mohon dirilah Bhatara Kala terns pergi ke Mercapada. Bhatara Siwa membayang-bayangkan anaknya yang akan dimakan oleh kakaknya. Didoakanlah agar anaknya mendapat keselamatan dan panjang umur. Dalam perjalanan Bhatara Kala menuju Mercapada, dipanggil-panggillah Sanghyang Kumara dari angkasa. Dikatakan Sanghyang Kumara membawa leteh yang maha besar bagi Mercapada. Langsung Bhatara Kala menuju bumi Kreta-Negara. Setibanya di sana dijumpai manusia-manusia serta tentara-tentara lengkap dengan senjata dalam keadaan siap untuk bertempur. Di sini tertegunlah Bhatara Kala melihat keadaan demikian terus bertanya kepada orang yang banyak itu. "Apa yang kamujaga siap siapa begini? Apa yang menyebabkan, apapula yang terjadi dan siapa musuhmu? Cepat katakan kepadaku". Menjawablah orang banyak itu dengan serentak. "Saya siap siaga karena disuruh oleh Prabu Maya Sura, untuk menghadang kedatangan Bhatara Kala, konon yang akan membunuh dan memakan manusia di Mercapada ini. Hai, langgah katamu. Kamu manusia, coba beri tahu akan dimana tempatnya Sanghyang Kumara itu. Kalau tidak bisa mengatakan, kamu semuanya yang akan kumakan. Menjawablah prajurit semuanya, mengatakan tidak ada Sanghyang Kumara. Disinilah Bhatara Kala marah dan mengamuk semua prajurit Sang Prabu merebut Bhatara Kala. Akhimya tentara Sang Prabu mengalami kekalahan. Ada yang lari, ada yang mati dan ada yang ditangkap serta diinjak-injak oleh Bhatara Kala, sehingga tak ada yang berani lagi. Beberapa diantara yang lari itu ada yang masuk ke dalam kraton memberitahukan kepada Prabu Maya Sura bahwa prajuritnya Mercapada. Bhatara Siwa membayang-bayangkan anaknya yang akan dimakan oleh kakaknya. Didoakanlah agar anaknya mendapat keselamatan dan panjang umur. Dalam perjalanan Bhatara Kala menuju Mercapada, dipanggil-panggillah Sanghyang Kumara dari angkasa. Dikatakan Sanghyang Kumara membawa leteh yang maha besar bagi Mercapada. Langsung Bhatara Kala menuju bumi Kreta-Negara. Setibanya di sana dijumpai manusia-manusia serta tentara-tentara lengkap dengan senjata dalam keadaan siap untuk bertempur. Di sini tertegunlah Bhatara Kala melihat keadaan demikian terus bertanya kepada orang yang banyak itu. "Apa yang kamujaga siap siapa begini? Apa yang menyebabkan, apapula yang terjadi dan siapa musuhmu? Cepat katakan kepadaku". Menjawablah orang banyak itu dengan serentak. "Saya siap siaga karena disuruh oleh Prabu Maya Sura, untuk menghadang kedatangan Bhatara Kala, konon yang akan membunuh dan memakan manusia di Mercapada ini. Hai, langgah katamu. Kamu manusia, coba beri tahu akan dimana tempatnya Sanghyang Kumara itu. Kalau tidak bisa mengatakan, kamu semuanya yang akan kumakan. Menjawablah prajurit semuanya, mengatakan tidak ada Sanghyang Kumara. Disinilah Bhatara Kala marah dan mengamuk semua prajurit Sang Prabu merebut Bhatara Kala. Akhimya tentara Sang Prabu mengalami kekalahan. Ada yang lari, ada yang mati dan ada yang ditangkap serta diinjak-injak oleh Bhatara Kala, sehingga tak ada yang berani lagi. Beberapa diantara yang lari itu ada yang masuk ke dalam kraton memberitahukan kepada Prabu Maya Sura bahwa prajuritnyabanyak yang mati dan kalah dalam peperangan melawan Bhatara Kala.
Setelah Prabu Maya Sura mendengar laporan bahwa tentaranya sudah dikalahkan oleh Bhatara Kala, cepat-cepatlah Sang Prabu masuk ke dalam kamarnya Sanghyang Kumara, mengatakan tentaranya sudah kalah dan saya pasti akan mati juga dalam amukan Bhatara Kala demikian kata Pramu Maya Sura kepada Sanghyang Kumara. Sekejap lagi sudah terjadilah peperangan antara Prabu Maya Sura dengan Bhatara Kala, saling tusuk, akhimya kalahlah Sang Prabu Maya Sura dan mati kena tusukan Bhatara Kala. Maka dengan mudah masuklah Bhatara Kala ke dalam kraton mencari Sanghyang Kumara. Setelah lama dalam pencarian itu tidak dijumpai, terbanglah Bhatara Kala melihat dari atas tersembunyi. Karena ketidaksucian Sanghyang Kumara, terlihatlah Sanghyang Kumara keluar lalu dikejar sampai padajalanan yang besar dan Sanghyang Kumara menangis menjerit-jerit minta tolong. Didengarlah tangisan anaknya Sanghyang Kumara oleh Bhatara Siwa, lalu turunlah Bhatara Siwa ke dunia bersama dengan istrinya, dengan menunggang lembu laki-laki berwarna putih keluar dari angkasa dan memastu Bhatara Kala supaya muntah. Keluarlah Sanghyang Kumara dari mulut Bhatara Kala dan lari kebarat kebirit. Bhatara Kala marah dan mengejarnya tapi terlebih dahulu dijumpai Bhatara Qiwa dengan istrinya menunggangi lembu putih laki-laki berjalan tepat pada pertengahan hari. Bhatara Siwa dengan istrinya mau dimakan oleh Bhatara Kala. Berkatalah Bhatara Siwa, "Jangan dulu memakan saya bersama ibumu". Menyahut Bhatara Kala, "Karena ayah dan ibu salah berjalan sebab menurut panugrahan Sanghyang Kasuhun Kidul saya berhak memakan orang yang berjalan tepat pertengahan hari", demikian kata Bhatara Kala. Menyahut Bhatara Siwa "Ya, boleh dimakan kalau bisa menjawab atau cecangkriman saya ini. "Baiklah ayah cepat katakan cecangkrinman itu". Kata Bhatara Siwa sebagai berikut. Om, Asta pada sad lungyan, dwi grenggi muka enggul, catur puto dwi purusa, eka bhaga sapta locanam. Artinya: Tuhan, berkaki delapan bertangan enam, bertanduk dua, berekor satu, berbiji kemaluan empat, berkemaluan laki-laki dua satu kemaluan perempuan, bermata tujuh. Dijawab oleh Bhatara Kala sebagai berikut.
- Om =adalah sebutan Tuhan dalam hal ini Bhatara Ciwa
- Astapada = berkaki delapan dengan perhitungan kaki lembu empat, kaki Bhatara Ciwa dua, kaki Dewi Uma dua sehingga berjumlah delapan.
- Sad lunggyan = bertangan enam dihitung oleh Bhatara Kala, tangan Bhatara Ciwa empat, tangan Dewi Uma dua berjumlah enam.
- Dwi crenggi = memiliki tanduk dua yaitu tanduknya lembu.
- Muka enggul = berekor satu, yaitu ekomya lembu.
- Catur puto =berbiji kemaluan empat dengan perincian : biji kemaluan Bhatara Ciwa dua, biji kemaluan lembu dua sehingga berjumlah empat.
- Dwi purusa=dua kemaluan laki-laki dengan hitungan : Bhatara Ciwa satu, kemaluan lembu lagi satu.
- Eka bhaga ==satu kemaluan perempuan yaitu kemaluannya Dewi Uma.
- Sapta locanam = terdapat tujuh mata yaitu : mata Bhatara Siwa, Dewi Uma dua, lembu dua berjumlah enam. Disini kurang lagi satu yang tidak dapat dijawab oleh Bhatara Kala.
Di sini lama dipikir-pikir oleh Bhatara Kala tidak bertemu lagi satu itu. Sampai matahari condong ke barat. Berkata lagi Bhatara Siwa, "karena matahari sudah sore maka Bhatara Kala tidak boleh memakan saya". Sanghyang Kumara sudah jauh pergi dari Bhatara Kala maka Bhatara Kala sangatlah marah dan memukuli pohon kelapa yang membayangi sinar matahari sehingga tidak dilihatnya serta mengutuknya supaya pohon kelapa tidak ada yang lurus sampai sekarang.
Saat itu ada orang yang membersihkan lalang yang akan dipakai atap rumahnya yang masih diikat dua, disanalah Sanghyang Kumara masuk di tengah-tengah lalangnya, diambil lalang itu oleh Bhatara Kala, Sanghyang Kumara keluar dengan cepatnya sampai jauh. Bhatara Kala marah dan mengutuk orang yang menaruh lalang yang masih diikat dua. "Semoga orang itu tidak menjelma lagi sebagai manusia".
Setelah demikian lagi dikejar Sanghyang Kumara. Dilihatnya masuk di bawah jineng, pada kelumpu yang sedang berisi kayu api yang masih diikat dimasukkan dalam kelumpunya itu diterkam oleh Bhatara Kala tetapi tidak didapatinya dan cepat keluar Sanghyang Kumara dari bawah kayu api itu sampai jauh. Di situ lagi marah Bhatara Kala dan mengutuknya "Siapa saja yang menaruh kayu api di bawah jineng yang masih diikat, semoga kelak tidak lagi menjelma sebagai manusia". Bhatara Kala melanjutkan pengerjarannya dan memburu Sanghyang Kumara. Dilihatnya masuk pada jalikan yang tidak ditutup. Terus diterkam oleh Bhatara Kala, Sanghyang Kumara keluar melalui rirun. Kemudian sampaijauh. Lagi marah Bhatara Kala kepada setiap orang yang punya dapur yang tidak ditutupinya, dikutuk semoga mendapat bahaya kebakaran. Karena sudah sore hari akan sandikala, Sanghyang Kumara juga dikejar oleh Bhatara Kala dalam keadaan remang-remang Bhatara Kala menjumpai orang yang sedang bertengkar dengan anaknya lalu dipastu oleh Bhatara Kala, "Siapa saja yang bertengkar pada saat sandikala akan menjadi makanan saya". Sehabis mengutuk Bhatara Kala melanjutkan pengejarannya, saat itu sudah malam dijumpai orang yang sedang ngewayang yang bemama Empu Leger, sedangkan hari itu masih wuku Tumpek Wayang. Sang Dalang sudah membeberkan wayangnya begitu pula sudah mulai menabuh, yang kedengarannya merdu sekali. Datanglah Bhatara Kala memburu Sanghyang Kumara, di sanalah Sanghyang Kumara minta urip terus masuk dan duduk di pangkuan Sang Empu Leger. Terkejutlah Empu Leger terus berkata, "Duh, siapa kamu ini datang kepangkuanku". Menyahut Sanghyang Kumara, anak dari Bhatara Siwa, minta urip kepada Kaki Dalang, karena saya akan dimakan oleh kakak saya Bhatara Kala yang mendapat panugrahan dari Sanghyang Kasuhun Kidul, dan memakan setiap orang yang lahir pada wuku Wayang. Saya lahir pada Saniscara Kliwon wuku Wayang atau hari ini. Itulah yang saya mintakan perlindungan kepada Kaki". Setelah Empu mendengar permintaan anak kecil itu merasa kasihan dan disambutnya. Sanghyang Kumara disembunyikan di lubang dari gender (gambelan). Kemudian Empu Leger melanjutkan pementasan wayangnya.
Pada saat asiknya pementasan wayang datanglah Bhatara Kala langsung menuju sesajen. Karena laparnya tidak berpikir lagi langsung dimakannya sesajen bebangkit yang masih berisi babi guling, sampai habis Widi Wedanaan wayang itu. Ributlah juru tabuh dan yang menonton semua takut melihat wama dan keadaan Bhatara Kala yang serba besar itu, yang berwarna hitam berambut giling-giling yang warnanya agak kemerah-merahan serta semrawut. Setiap sendi kaki dan tangan mengeluarkan sinar seperti binatang. Karena tinggi dan besamya betul-betui angker kelihatannya. Pada saat itu berkatalah Empu Leger "perbuatan Paduka Bhatara Kala yang memakan bebantenan kami, dimana kami belum selesai ngewayang, sekarang saya , minta lagi widi wedanaan itu yang Paduka Bhatara makan”. Menyahut Bhatara Kala, “beri tahu aku dimana makananku, Sanghyang Kumara yang kamu sembunyikan disini. Itulah sebabnya saya memakan bebantenmu, karena kamu salah". Menjawab lagi Empu Leger, "tidak (ada orang mengambil sebelum meminta terlebih dahulu, itulah musuh Sanghyang Kumara karena dia minta urip kepada kami, kalau ada meminta kepada kami sebelumnya mengambil patut saya berikan. Karena belum meminta dengan memaksa mengambil banten saya, Bhatara Kala salah namanya, menurut ajaran dharma, pokoknya Bhatara Kala harus kembalikan banten saya itu". Bhatara Kala tidak bisa menjawab lagi. Nah, sebaiknya sekarang Paduka Bhatara Kala asung nugraha kepada saya, supaya dikenal dijagat memberi pengelukatan dari saya sebelumnya, setiap orang yang membayar hutang kepada saya yang berisi bebangkit segenapnya bagi orang yang lahir pada wuku Wayang, tidak lagi Bhatara mengganggunya. Dan apalagi sampai memakannya. Tetapi kalau tidak membayar hutang kepada saya, silahkan Paduka Bhatara mengganggu dan memakannya.
Mulailah Sanghyang Kumara pada saat itu bebas dari kejaran Bhatara Kala. Sekarang Sanghyang Kumara mendapat kesempurnaan, diketahui dari setiap manusia karena mendapat panugrahan dari Empu Leger. Di situlah Bhatara Kala berjanji dan memenuhi permintaan Ki Dalang Empu Leger. Senanglah hati Sanghyang Kumara mendengar kata-kata Empu Leger. Sekarang saya mendapat penghormatan di Mercapada dan saya harus melindungi dunia. Kembalilah Sanghyang Kumara ke Sorga. Setibanya Sanghyang Kumara di Sorga dijemput dari angkasa oleh ayahnya bersama ibunya Dewi Uma yang menunggangi lembu putih itu ikut naik lembu, menuju kraton serta diiringi oleh Widyadara Widyadari. Kemudian dipujai dengan Widi wedanaan oleh Bhatara Guru yang mempunyai prinsip panyudamalaan (Penyucian leteh rohani dengan jalan melakukan upacara manusa yadnya.
posted by I Made Artawan @ 20.02  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Penyadur

Name: I Made Artawan
Home: Br. Gunung Rata, Getakan, Klungkung, Bali, Indonesia
About Me: Perthi Sentana Arya Tangkas Kori Agung
See my complete profile
Artikel Hindu
Arsip Bulanan
Situs Pendukung
Link Exchange

Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

Rarisang Mapunia
© 2006 Arya Tangkas Kori Agung .All rights reserved. Pasek Tangkas