Arya Tangkas Kori Agung

Om AWIGHNAMASTU NAMOSIDDHAM, Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.

 
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, ... Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.
Berbakti
Janji bagi yang Berbakti kepada Leluhur BERBAKTI kepada leluhur dalam rangka berbakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa.
Mantram Berbakti
Berbakti kepada Leluhur Abhivaadanasiilasya nityam vrdhopasevinah, Catvaari tasya vardhante kiirtiraayuryaso balam. (Sarasamuscaya 250) Maksudnya: Pahala bagi yang berbakti kepada leluhur ada empat yaitu: kirti, ayusa, bala, dan yasa. Kirti adalah kemasyuran, ayusa artinya umur panjang, bala artinya kekuatan hidup, dan yasa artinya berbuat jasa dalam kehidupan. Hal itu akan makin sempurna sebagai pahala berbakti pada leluhur.
Ongkara
"Ongkara", Panggilan Tuhan yang Pertama Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu?
Gayatri Mantram
Gayatri Mantram Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam. Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam Mahyam dattwa vrajata brahmalokam. Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.
Dotlahpis property
Image and video hosting by TinyPic
Tujuan Akhir Hidup Keduniawian
Senin, 09 November 2009
Tujuan akhir hidup di atas bumi adalah untuk menyadari Jati Diri, pencapaian yang sangat sulit, melalui sadhana yang ajeg tanpa kenal putus asa. Dalam samadhi, setiap jiwa menemukan Ketuhanannya, Realitas Absolut, Tuhan yang kekal, Sang Pribadi yang ada di luar waktu, bentuk dan ruang.

Realisasi atman adalah realisasi Brahman, dapat dicapai melalui renunsiasi; penolakan atau penyangkalan terhadap semua yang maya. Dunia beserta isinya disebut "mayapada" karena sifatnya yang maya. Penyangkalan tidak berarti meninggalkannya secara fisik, tetapi melepaskan diri dari keterikatan padanya dengan terus bermeditasi pada apa yang menjadi tujuan akhir dan membakar benih-benih karma yang masih bertunas. Ini adalah pintu gerbang menuju moksha, pembebasan dari punarbhawa. Atman berada di luar perkiraan pikiran, di luar perasaan yang alami, di luar aksi atau pergerakan bahkan bagian tertinggi dari kesadaran pikiran. Atman jauh lebih halus daripada sebuah inti atom, lebih sukar dipahami daripada ruang hampa, lebih mendalam daripada pikiran dan perasaan. Ini realitas terakhir diri kita, Kebenaran terdalam yang dicari-cari semua pencari Brahman. Ini adalah suatu yang paling berharga untuk diperjuangkan. Ini perjuangan bernilai tinggi yang dijalani dengan susah payah untuk membawa pikiran di bawah perintah kehendak. Setelah Atman disadari, pikiran terlihat sebagai sesuatu yang maya, dan begitulah sesungguhnya. Karena Kesadaran Atman harus dialami di dalam tubuh fisik, putaran jiwa kembali lagi dan lagi ke dalam badan jasmani untuk menari bersama Brahman, hidup bersama Brahman dan akhirnya manunggal dengan Brahman, menyatu dalam keesaan-Nya. Ya, Atman kita sebenarnya adalah Brahman. Seperti yang digambarkan di dalam Veda, bahwa manunggalnya Atman dan Brahman bagaikan air dituangkan ke dalam air, susu dituangkan ke dalam susu, api disulutkan ke dalam api, udara dihembuskan ke dalam udara, menjadi satu tanpa diferensiasi, jiwa individual dan Jiwa Tertinggi manunggal. sumber mangku suro
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 07:04   0 comments
Moksha
Kamis, 05 November 2009
MOKSHA -Kebebasan Paripurna, Keselamatan atau Pembebasan-ialah purushaartha keempat sekaligus terakhir DARI empat pilar yang menyangga struktur kehidupan kita. Tiga yang pertama telah dibahas sebelumnya, Dharma atau Kebajikan, Artha atau Kekayaan dan Kama atau Keinginan.

Lazimnya, moksha diartikan sebagai "kebebasan dari siklus kehidupan dan kelahiran." Banyak pembicaraan, diskusi dan penelitian ilmiah pada subjek kehidupan setelah kematian, kehidupan setelah kehidupan, pengalaman dekat kematian, reinkarnasi dan seterusnya. Kendati demikian, moksha tetaplah sebuah misteri, karena ini bersinggungan dengan sebuah situasi di balik kehidupan dan di balik kematian. Dan yang paling penting, siapa dapat menjamin bahwa Anda tak akan terlahir kembali setelah anda mati "kali ini"?

Moksha setelah atau melampaui kematian ialah sebuah pikiran yang menghibur. Buddha menyebutnya Nirwana, satu dan hal yang sama. Teolog Buddhis, kendati demikian, membela diri, "Tidak, mereka tidak sama." Baiklah kalau anda ingin mendirikan agama baru, maka Anda harus menciptakan seperangkat doktrin dan dogma yang baru pula. Oleh sebab itu, saya bisa memahami keberatan mereka atas kesamaan nirwana dengan moksha.

Sebuah cawan terisi air terkosongkan di tengah lautan. Buddha memperhatikan cawan yang kosong dan berkata, "Lihatlah, airnya hilang. Nirwana, ini berakhir, selesai, terlaksana."

Orang lain yang memperhatikan lautan mengatakan, "Air di dalam cawan telah bersatu dengan lautan. Persatuan Agung. Inilah saatnya merayakan Pertemuan Paripurna - wow, moksha!"

Kejadiannya sama; penjelasan kitalah yang berbeda. Tapi, sekali lagi, itu sekadar penjelasan, pikiran, hipotesis, wacana. Sebagai salah satu purusahartha, moksha - nirwana, pembebasan, keselamatan, surga, atau dengan istilah apapun Anda menyebutnya - mesti berada di dalam hidup kita. Ia mesti terkait dengan kehidupan, dan tak hanya dengan kehidupan setelah kematian saja.

Dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam apa yang disebut "waktu sesungguhnya," moksha dapat diterjemahkan sebagai kebebasan. Saya teringat sebuah puisi yang indah, ditulis oleh Rabindranath Tagore (1861-1941).

"Di mana pikiran tak terikat rasa takut dan kepala berdiri tegak

Di mana pengetahuan begitu bebas

Di mana dunia tak lagi terpecah-pecah ke dalam kepingan-kepingan

oleh sekat-sekat sempit buatan sendiri

Di mana kata-kata keluar dari kedalaman kebenaran

Di mana upaya tak kenal lelah membentangkan lengannya menuju kesempurnaan

Di mana aliran jernih penalaran tak tersesat di jalannya

Memasuki gurun pasir yang menjemukan dan kebiasaan yang mematikan

Di mana pikiran dibimbing maju oleh-Nya

Memasuki pikiran dan tindakan yang terus meluas

Ke dalam surga kebebasan semacam itu, oh Bapa, biarkan negaraku terus terjaga..."

Tiada pemahaman yang lebih baik tentang moksha dalam kehidupan kita sehari-hari selain seperti yang diuraikan oleh puisi hebat di atas.

Moksha dalam hidup ialah kebebasan berpikir, berekspresi, berkreasi, bergerak dan mengikuti apa yang dikatakan hatimu.

"Dimana pikiran tak terikat rasa takut dan kepala berdiri tegak" - mokhsa pertama dan utama ialah bebas dari rasa takut. Ketakutan melemahkan jiwa kita. Ketakutan membunuh jiwa kita. Ketakutan ialah penghalang bagi mekarnya potensi manusia. Ketakutan itu anti-jiwa.

"Kepala berdiri tegak" dalam bait ini mengacu pada situasi tanpa rasa takut. Ini bukan karena arogan dan egois. Ini merupakan ekspresi jiwa lewat badan kita - jiwa yang selalu bergerak membumbung ke atas, mencoba meraih kemungkinan lapisan kesadaran yang tertinggi.

"Di mana pengetahuan bebas," tak dimanipulasi oleh pemerintah, oleh masyarakat, oleh institusi agama atau lembaga buatan manusia lainnya. Segera setelah seorang anak lahir, kita diberi identitas, bahkan faktanya seperangkat identitas, sosial dan juga agama.

Pangeran Charles lahir sebagai manusia, sama seperti anda dan saya. Kendati demikian, kita berbeda lokasi kelahirannya. Dia lahir di istana; kita lahir di luar istana. Karena alasan itu, ia disebut "pangeran" sejak lahirnya. Bayi Charles tak paham arti gelar yang diberikan padanya, atau implikasinya. Karena gelar itu dipaksakan atasnya tanpa kemauannya.

Lalu mulailah latihannya sebagai seorang pangeran. Pengetahuan, ilmu dan seni dikemas baik secara khusus untuknya. Pihak kerajaan memutuskan apa yang sesuai dan yang tidak bagi seorang pangeran.

Tapi tidakkah anda berpikir situasi kita lebih baik? Charles ialah korban pihak kerajaan dan masyarakat kerajaan. Kita ialah para korban dari para miskin dan masyarakat miskin. Kita semua ialah korban dari sistem-sistem buatan manusia.

"Di mana dunia belum terpecah-belah ke dalam kepingan-kepingan oleh sekat-sekat sempit buatan sendiri" - semua sistem buatan manusia, dogma, doktrin, dan kredo menciptakan batasan-batasan. Tagore menyebutnya "sekat sempit buatan sendiri." Itu tak konkret, tapi sekat mental dan emosional.

"Di mana kata-kata keluar dari kedalaman kebenaran" - kata-kata dan perbuatan kita diatur oleh pikiran, benak kita. Jika pikiran kita tak bebas, kata-kata kita tak bisa menjadi benar. Karena butuh jiwa yang berani dan bebas untuk menjadi benar. Menjadi benar ialah mengambil resiko. Juga, jika pikiran kita tak bebas, kita tak bisa bertindak dengan bebas. Kita tak bisa bergerak dengan bebas.

"Di mana upaya tanpa lelah membentangkan lengannya menuju kesempurnaan" - orang bebas ialah orang yang berupaya mencapai kesempurnaan. Karena alasan inilah para sultan, emir, raja dan pejabat yang berkuasa tak tertarik pada kesempurnaan kita.

"Di mana aliran bening nalar tak tersesat dalam jalannya memasuki gurun pasir yang menjemukan dan kebiasaan yang mematikan - penalaran bersebrangan dengan perbudakan." Nalar itu anti manipulasi. Nalar ialah untuk berkembang, untuk membuka diri, untuk belajar lebih dan mengetahui lebih. Nalar tak membiarkan status quo. Penalaran sangat sangatlah dinamis, senantiasa berubah, bertransformasi dan menyempurnakan.

Inilah sebabnya kenapa pejabat, lembaga, politisi tanpa prinsip dan korporasi tanpa kesadaran selalu mencoba untuk memburu lembaga penalaran di dalam diri kita. Inilah sebabnya dogma dan doktrin dibuat. Inilah kenapa ritual dipaksakan. Kita dipaksa untuk membentuk kebiasaan yang menguntungkan sistem.

Kurang atau lebih, setiap dari kita telah menjadi korban sistem dan kemapanan. Lebih cepat kita menyadari ini, lebih baik.

"Di mana pikiran dibimbing maju oleh nya memasuki pikiran dan tindakan yang meluas terus" - Tagore dilahirkan sebagai "subjek" atau "warga jajahan" Inggris. Negaranya tidak merdeka; masih dijajah oleh Inggris. Tapi dalam jiwanya ia manusia bebas. Dalam ruh, ia membumbung tinggi, terbang melintasi lapisan tertinggi di atas langit.

"Di dalam surga kebebasan itu, oh Bapa, biarkan negaraku terjaga" - bangsa-bangsa menjadi merdeka dan sekali lagi diperbudak oleh korporasi rakus dan politisi korup. Oleh sebab itu, adalah penting, dan mendesak bila terlebih dahulu manusia menjadi bebas - bebas dalam pikiran, dalam hati, dalam jiwa, dalam roh.

Manusia mesti menjadi bebas terlebih dahulu. Ia harus belajar mengapresiasi kebebasan. Hanya dengan demikian, dan hanya setelahnya, ia dapat menghargai, menjaga dan merawat kemerdekaan bangsanya.

Ada istilah yang indah dalam bahasa Sansekerta, Jeewan Mukta - Seseorang Yang Bebas dalam Hidup. Ini, yang kemudian, menjadi benih bagi moksha, atau kebebasan sampurna setelah kehidupan.

Demikianlah purushartha - empat pilar yang menopang struktur kehidupan kita. (*)

* Penulis adalah aktivis spiritual, dan telah menulis lebih dari 130 buku. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatannya di Bali, silahkan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595 atau 8477490, atau kunjungi www.aumkar.org , www.anandkrishna.org (Tulisan ini pertama kali dimuat di The Bali Times, diterjemahkan oleh Nugroho Angkasa).

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01:18   0 comments
Berpasrah Diri Tidak Berarti Bermalas-malasan
Senin, 02 November 2009
Bagi umat hindu yang ada di jenjang hidup Grhasta Asrama, Karma Yoga lebih mendominasi. Kerja keras dan tidak malas merupakan kewajiban dan kebajikan yang patut dilakukan. Tuhan hanya menyayangi mereka yang suka bekerja keras dan memiliki ketekunan, bukan mereka yang malas, dan bukan mereka yang menyepelekan segala sesuatu. Orang yang suka bekerja keras dan memiliki ketekunan akan mencapai keberhasilan. Hal ini sangat relevan dengan perkembangan dunia modern.

Siapa saja yang tekun bekerja, tekun belajar, berdisiplin dan memiliki kualitas SRADDHA yang mantap akan sukses dalam berbagai aspek kehidupan. Demikian pula orang yang tidak mengenal lelah, tidak cepat putus asa akan memperoleh kecukupan lahir dan batin. Tuhan selalu menolong orang yang suka bekerja keras.

KURVAM EVEHA KARMANI JIJIVISET SATAM SAMAH. EVAM TVAYI NANYATHETO-ASTI NA KARMA LIPYATE NARE (Yajurveda XI.2) ... Orang seharusnya suka hidup di dunia ini dengan melakukan kerja keras selama seratus tahun. Tidak ada cara yang lain bagi keselamatan seseorang. Suatu tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak memihak, menjauhkan pelaku dari keterikatan.

ICCHANTI DEVAH SUNVANTAM NA SVAPNAYA SPRHAYANTI. YANTI PRAMADAM ATANDRAH (Atharvaveda XX.18.3) ... Para Dewa menyukai orang-orang yang bekerja keras. Para Dewa tidak menyukai orang-orang yang bermalas-malasan. Orang-orang yang selalu waspada mencapai kebahagiaan yang agung.

ASMANVATI RIYATE SAM RABHADHVAM UTTISHATA PRA TARATA SAKHAYAH. ATRA JAHAMA YE ASAN ASEVAH SIVAN VAYAM UTTAREMABHI VAJAN (Rgveda X.53.8) ... Ya para sahabat, dunia yang penuh dosa dan kesedihan sedang lewat bagaikan sebuah sungai, alirannya yang dihalangi oleh batu-batu besar yang berat. Tekunlah, bangkit dan seberangilah, tinggalkanlah pengikut yang tak berbudi. Seberangilah sungai kehidupan ini untuk pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran.

MA SREDHATA SOMINO DAKSATA MAHE KRNUDHVAM RAYA ATUJE. TARANIR IJ JAYATI KSETI PUSYATI NA DEVASAH KAVATNAVE (Rgveda VII.32.9) ... Wahai orang-orang yang berpikiran mulia, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras untuk mencapai tujuan-tujuan yang mulia. Bekerjalah dengan tekun untuk memperoleh kecukupan hidup. Orang yang bersemangat dan tekun akan berhasil, hidup menikmati kemakmuran. Para Dewa tidak pernah menolong orang yang bermalas-malasan.

ATANDRASO AVRKA ASRAMISTHAH (Rgveda IV.4.12) ... Hanya orang-orang yang giat, tulus hati dan tak kenal lelah berhasil dalam kehidupan.

NASUSVER APIR NA SAKHA NA JAMIH (Rgveda IV.25.6) ... Tuhan bukanlah sahabat, kerabat atau sanak saudara dari orang yang malas.
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 04:56   0 comments
Hari Ulihan
Jumat, 23 Oktober 2009
Hari minggu 18 Oktober 2009 ini bertepatan dengan Tilem Sasih Kapat. Umat Hindu yang masih berada dalam suasana hari raya, pada hari Minggu atau Radite Wage Kuningan menyebutnya sebagai Hari Ulihan. Secara umum, umat menghaturkan canang raka di merajan atau di kemulan, mohon keselamatan dan panjang umur.

Di daerah tertentu, hari Ulihan termasuk istimewa. Bagi umat di Desa Pujungan, Kec. Pupuan (Tabanan), umat membuat "intil", yaitu semacam ketupat yang dibungkus dengan daun bambu. Pagi-pagi sekitar pukul 05.00 Wita, intil itu dihaturkan di bale adat atau di tempat tidur (bagi yang tidak punya bale adat). Intil itu ditaruh di atas dulang bersama lauk pauknya. Sesajen itu dihaturkan kehadapan pitara-pitari (dewata-dewati) atau roh leluhur, baik yang belum maupun yang sudah diaben. Pada hari Ulihan, umat Hindu memiliki kepercayaan bahwa roh leluhur pulang dan oleh karenanya dihaturkan sesajen. Pada hari Redite ini, beliau kembali ke alam niskala setelah memberikan berkat kepada turunannya.

Hari Ulihan ini memiliki makna, bahwa umat manusia hendaknya selalu ingat kepada roh leluhur yang telah membuat manusia ini berkembang. (Wayan Supartha).

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 19:41   0 comments
Makna Galungan
Senin, 12 Oktober 2009
Hari Raya Galungan jatuh pada Rabu Kliwon Dungulan 14 Oktober 2009. Menurut lontar Purana Bali Dwipa: “Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya.” Terjemahannya: Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka.”.

Mulai tahun saka itulah, Galungan dirayakan. Namun pada tahun 1103 Saka, saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 Saka Galungan sempat tidak dirayakan. Akibatnya, konon para pejabat kerajaan berumur pendek. Raja Sri Jaya Kasunu saat naik tahta heran atas kejadian itu. Beliau lalu bersamadi untuk mendapatkan petunjuk Dewata. Dewi Durgha memberi penjelasan, bahwa umur pendek para raja dan pejabat disebabkan oleh melupakan Galungan.

Macam-macam Galungan: (1) Galungan; (2) Galungan Nadi; (3) Galungan Naramangsa. Galungan Nadi, yaitu Galungan yang jatuh pada bulan Purnama. Galungan Naramangsa.yaitu apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9.

Galungan sering disebut kemenangan dharma melawan adharma. Mitologi yang dihubungkan dengan Galungan yaitu kemengan Dewa Indra (kebenaran) melawan Mayadenawa (adharma). Di India, ada juga hari raya semacam Galungan, namanya Wijaya Dasami. Mitologi yang diambil yakni kemenangan Rama melawan Rahwana.(Wayan Supartha).

Biasanya setiap menyambut hari raya keagamaan maupun menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan umat membuat PENJOR adapun makna penjor adalah sebagai berikut :

Makna Penjor
Masyarakat mengenal dua jenis penjor, yaitu penjor sakral dan penjor hiasan. Pepenjoran atau penjor hiasan biasanya dipergunakan saat adanya lomba desa, pesta seni dan acara lain yang sifatnya profan. Pepenjoran atau penjor hiasan tidak berisi sanggah penjor, tidak adanya pala bungkah/pala gantung, porosan dll.
Bentuk penjor sakral yang dipergunakan pada waktu hari raya Galungan yaitu sama dengan penjor yang lain, yaitu pada ujung atasnya melengkung. Pada penjor Galungan berisi sanggah penjor, adanya pala bungkah dan pala gantung, sampiyan, lamak, jajan dll. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa), pala bungkah (umbi-umbian seperti ketela rambat), Pala Gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), Pala Wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit. Pada zaman dahulu penjor dipasang kalau ada upacara keagamaan. Makna penjor adalah: kemenangan dharma melawan adharma, kesejahteraan dan kemakmuran, kelestarian lingkungan dan sebagainya.(kmb)

Kata-Kata Emas Bhagawadgita

paritranaya sadhunam
vinasaya ca duskrtam
dharma-samasthapanarthaya
sambhavami yuge-yuge

Terjemahan:
Untuk melindungi orang-orang baik dan untuk memusnahkan orang jahat, Aku lahir ke dunia dari masa ke masa, untuk menegakkan dharma (Bhagavadgita.IV.8)
Awatara adalah kekuatan illahi di bumi, untuk mengingatkan kembali status manusia yang sejati. Melalui ajaranNya, Dia berusaha menegakkan kembali aturan-aturan dharma yang semakin merosot serta untuk melindungi para bhaktanya yang tulus dari kemunduran spiritual. Tuhan selalu berada di pihak kebenaran, karena Dia adalah kebenaran itu sendiri. Kasih sayang pada akhirnya akan lebih berkuasa daripada kebencian dan kekejaman. Dharma akan menaklukkan adharma.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 03:14   0 comments
Memaknai Galungan dengan Konteks Kekinian 14 Oktober 2009
Rabu 14 Oktober 2009 umat Hindu akan merayakan hari raya Galungan. Penyiapan spiritual untuk merayakan ''hari kemenangan'' ini telah dilakukan sejak Kamis 8 Oktober 2009 yang dikenal dengan Sugihan Jawa. Sementara keesokan harinya, Jumat Kliwon, Sungsang 9 Oktober 2009 disebut Sugihan Bali.

Banyak umat Hindu masih bingung, merayakan Sugihan Jawa atau Sugihan Bali. Mereka mengira, kata ''Jawa'' dan ''Bali'' adalah nama tempat, padahal tidak. Kata ''Jawa'' di sini berarti jaba yang artinya di luar. Sama seperti orang Bali menyebut pendatang dari luar selalu menyebutkan uli Jawa, walaupun mereka dari Lombok, Kalimantan atau daerah lain di Indonesia.

Dengan demikian, makna upacara Sugihan Jawa adalah penyucian makrokosmos atau buana agung atau alam semesta sebagai tempat kehidupan. Pembersihan ini secara sekala dilakukan dengan membersihkan palinggih atau tempat-tempat suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan.

Kemudian pada hari Sugihan Bali, umat Hindu mengaturkan sesaji yang pada intinya melakukan penyucian buana alit atau diri sendiri (mikrokosmos), sehingga bersih dari perbuatan-perbuatan yang ternoda. Dengan adanya kesucian lahir dan batin itu, umat lebih bisa memaknai hari suci Galungan sebagai kemenangan dharma.

Pada Jumat lalu, sebaiknya umat melakukan tirta gocara atau tirtayatra yakni dengan pergi ke samudera -- sumber mata air atau bisa di merajan. Dalam praktik yoga umat Hindu pada Sugihan Bali melakukan yoga semadi yang ditujukan untuk mulatsarira. Untuk menyambut hari raya Galungan, umat seharusnya memiliki kesucian batin dengan menahan diri dari segala macam godaan indria.

Dengan demikian, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali jika dilihat dari konsepnya menyiapkan umat Hindu menghadapi berbagai godaan duniawai yang datang menjelang hari raya Galungan. Pada kedua sugihan ini, kekuatan rwa bhinneda diupayakan berada pada titik keseimbangan untuk menuju pada ketenangan dan kedamaian.

Dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar Wayan Suka Yasa mengatakan, prinsip yang paling mendasar dalam perayaan Galungan dan Kuningan itu adalah tegaknya dharma. Untuk menegakkan dharma itu mesti ada proses penyucian buana agung dan buana alit. Proses itu dimulai saat sugihan. ''Sugi'' artinya membersihkan. Jika dalam Sugihan Bali umat membersihan atau menyucikan buana alit, sedangkan Sugihan Jawa diasosiasikan melakukan penyucian di luar diri (buana agung). Proses pendakian spiritual ini melewati rerahinan penyajan (apang saja nyujatiang raga -- berjanji menegakkan dharma). Untuk menegakkan dharma mesti ada upaya untuk melenyapkan sifat-sifat buruk dalam diri, sehingga ada prosesi penampahan Galungan. Yang di-tampah (dipotong atau dihilangkan) itu sejatinya adalah sifat buruk dalam diri. Sifat buruk itu diasosiasikan dalam bentuk binatang babi. Jika sifat-sifat rajas dan tamas sudah hilang dalam diri, yang tersisa hanya sifat satwan. ''Semua rerahinan serangkaian Galungan itu mengandung filosofi yang perlu kita maknai dalam konteks kekinian,'' ujar Suka Yasa.

Hal yang sama dikatakan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti dari Gria Bhuwana Dharma Santhi Sesetan. Sugihan itu merupakan prosesi membersihkan buana agung (alam lingkungan) dan buana alit dalam rangka mempersiapkan diri menuju kegiatan spiritual. Dalam upacara Sugihan itu ada prosesi ngerebu. Prosesi ngerebu itu adalah salah satu konsep pembersihan buana alit. Ngerebu itu hendaknya jangan dilihat dari sisi upacaranya saja, sebab di situ sesungguhnya ada konsep masimakrama (bertemu keluarga). Ketika prosesi perebuan terjadi, anggota keluarga ada di sana. Setelah dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, aturan yang berisi nasi, daging, telor dan sebagainya disantap bersama. Dalam santap bersama ini rasa kekeluargaan akan makin erat. Jika ada anggota keluarga yang sebelumnya sempat bersitegang, misalnya, melalui prosesi ngerebu diharapkan bisa mencair. Dalam konteks itu sejatinya ada proses penyucian pikiran, yang tadinya keruh bisa menjadi bening kembali. Dengan demikian kedamaian dan ketenangan akan tercipta dalam diri menyongsong hari raya Galungan.

Galungan juga merupakan momen untuk melakukan introspeksi diri (mulatsarira) atau evaluasi diri. Apakah selama ini kita sudah mampu mengalahkan hawa nafsu atau melenyapkan sifat-sifat rajas dan tamas. (lun)

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 03:02   0 comments
ASTA KOSALA dan ASTA BUMI
Rabu, 07 Oktober 2009
Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan. Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih. Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bumi ditulis oleh Pendeta : Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala khusus untuk bangunan Padmasana telah dikemukakan pada bab : Hiasan Padmasana, Bentuk-bentuk Padmasana dan Letak Padmasana.

Asta Bumi menyangkut pembuatan Pura atau Sanggah Pamerajan adalah sebagai berikut :

Tujuan Asta Bumi adalah :

  1. Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi.
  2. Mendapat vibrasi kesucian.
  3. Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi.

Luas halaman :Memanjang dari Timur ke Barat ukuran yang baik adalah : Panjang dalam ukuran “depa” (bentangan tangan lurus dari kiri ke kanan dari pimpinan/klian/Jro Mangku atau orang suci lainnya) : 2,3,4,5,6,7,11,12,14,15,19. Lebar dalam ukuran depa :

1,2,3,4,5,6,7,11,12,14,15. Alternatif total luas dalam depa : 2×1,3×2, 4×3, 5×4, 6×5, 7×6, 11×7, 12×11, 14×12, 15×14, 19×15. b) Memanjang dari Utara ke Selatan ukuran yang baik adalah : Panjang dalam ukuran depa : 4,5,6,13,18. Lebar dalam ukuran depa : 5,6,13. Alternatif total luas dalam depa : 6×5, 13×6, 18×13. Jika halaman sangat luas, misalnya untuk membangun Padmasana kepentingan orang banyak seperti Pura Jagatnatha, dll. boleh menggunakan kelipatan dari alternatif yang tertinggi. Kelipatan itu : 3 kali, 5 kali, 7 kali, 9 kali dan 11 kali. Misalnya untuk halaman yang memanjang dari Timur ke Barat, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah : 3x(19×15), 5x(19×15), 7x(19×15), 9x(19×15), 11x(19×15). Untuk yang memanjang dari Utara ke Selatan, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah : 3x(18×13), 5x(18×13), 7x(18×13), 9x(18×13), 11x(18×13).

HULU-TEBEN.

“Hulu” artinya arah yang utama, sedangkan “teben” artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu. Sebagaimana telah diuraikan terdahulu, ada dua patokan mengenai hulu yaitu
1) Arah Timur, dan
2) Arah “Kaja”

Mengenai arah Timur bisa diketahui dengan tepat dengan menggunakan kompas. Arah kaja adalah letak gunung atau bukit. Cara menentukan lokasi Pura adalah menetapkan dengan tegas arah hulu, artinya jika memilih timur sebagai hulu agar benar-benar timur yang tepat, jangan melenceng ke timur laut atau tenggara. Jika memilih kaja sebagai hulu, selain melihat gunung atau bukit juga perhatikan kompas. Misalnya jika gunung berada di utara maka hulu agar benar-benar di arah utara sesuai kompas, jangan sampai melenceng ke arah timur laut atau barat laut, demikian seterusnya. Pemilihan arah hulu yang tepat sesuai dengan mata angin akan memudahkan membangun pelinggih-pelinggih dan memudahkan pelaksanaan upacara dan arah pemujaan.

BENTUK HALAMAN.

Bentuk halaman pura adalah persegi empat sesuai dengan ukuran Asta Bumi sebagaimana diuraikan terdahulu. Jangan membuat halaman pura tidak persegi empat misalnya ukuran panjang atau lebar di sisi kanan – kiri berbeda, sehingga membentuk halaman seperti trapesium, segi tiga, lingkaran, dll. Hal ini berkaitan dengan tatanan pemujaan dan pelaksanaan upacara, misalnya pengaturan meletakkan umbul-umbul, penjor, dan Asta kosala.

PEMBAGIAN HALAMAN.

Untuk Pura yang besar menggunakan pembagian halaman menjadi tiga yaitu :

  1. Utama Mandala
  2. Madya Mandala
  3. Nista Mandala.

Ketiga Mandala itu merupakan satu kesatuan, artinya tidak terpisah-pisah, dan tetap berbentuk segi empat; tidak boleh hanya utama mandala saja yang persegi empat, tetapi madya mandala dan nista mandala berbentuk lain. Utama mandala adalah bagian yang paling sakral terletak paling hulu, menggunakan ukuran Asta Bumi; Madya Mandala adalah bagian tengah, menggunakan ukuran Asta Bumi yang sama dengan utama Mandala; Nista Mandala adalah bagian teben, boleh menggunakan ukuran yang tidak sama dengan utama dan nista mandala hanya saja lebar halaman tetap harus sama. Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama, di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya bale gong, perantenan (dapur suci), bale kulkul, bale pesandekan (tempat menata banten), bale pesamuan (untuk rapat-rapat), dll. Di nista mandala ada pelinggih “Lebuh” yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir, penjual makanan, dll. Batas antara nista mandala dengan madya mandala adalah “Candi Bentar” dan batas antara madya mandala dengan utama mandala adalah “Gelung Kori”, sedangkan nista mandala tidak diberi pagar atau batas dan langsung berhadapan dengan jalan.

MENETAPKAN PEMEDAL.

Pemedal adalah gerbang, baik berupa candi bentar maupun gelung kori.

Cara menetapkan pemedal sebagai berikut :
1) Ukur lebar halaman dengan tali.
2) Panjang tali itu dibagi tiga.
3) Sepertiga ukuran tali dari arah teben adalah “as” pemedal. Dari as ini ditetapkan lebarnya gerbang apakah setengah depa atau satu depa, tergantung dari besar dan tingginya bangunan candi bentar dan gelung kori. Yang dimaksud dengan teben dalam ukuran pemedal ini adalah arah yang bertentangan dengan hulu dari garis halaman pemedal. Misalnya hulu halaman Pura ada di Timur, maka teben dalam menetapkan gerbang tadi adalah utara, kecuali di utara ada gunung maka tebennya selatan, demikian seterusnya. Penetapan gerbang candi bentar dan gelung kori ini penting untuk menentukan letak pelinggih sesuai dengan asta kosala.JARAK ANTAR PELINGGIH.

Jarak antar pelinggih yang satu dengan yang lain dapat menggunakan ukuran satu “depa”, kelipatan satu depa, “telung tapak nyirang”, atau kelipatan telung tapak nyirang. Pengertian “depa” sudah dikemukakan di depan, yaitu jarak bentangan tangan lurus dari ujung jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan. Yang dimaksud dengan “telung tampak nyirang” adalah jarak dari susunan rapat tiga tapak kaki kanan dan kiri (dua kanan dan satu kiri) ditambah satu tapak kaki kiri dalam posisi melintang. Baik depa maupun tapak yang digunakan adalah dari orang yang dituakan dalam kelompok “penyungsung” (pemuja) Pura. Jarak antar pelinggih dapat juga menggunakan kombinasi dari depa dan tapak, tergantung dari harmonisasi letak pelinggih dan luas halaman yang tersedia. Jarak antar pelinggih juga mencakup jarak dari tembok batas ke pelinggih-pelinggih. Ketentuan-ketentuan jarak itu juga tidak selalu konsisten, misalnya jarak antar pelinggih menggunakan tapak, sedangkan jarak ke “Piasan” dan Pemedal (gerbang) menggunakan depa. Ketentuan ini juga berlaku bagi bangunan dan pelinggih di Madya Mandala.

PELINGGIH (STANA) YANG DIBANGUN.

Jika bangunan inti hanya Padmasana, sebagaimana tradisi yang ada di luar Pulau Bali, maka selain Padmasana dibangun juga pelinggih:
TAKSU sebagai niyasa pemujaan Dewi Saraswati yaitu saktinya Brahma yang memberikan manusia kemampuan belajar/mengajar sehingga memiliki pengetahuan, dan
PANGRURAH sebagai niyasa pemujaan Bhatara Kala yaitu “putra” Siwa yang melindungi manusia dalam melaksanakan kehidupannya di dunia. Bangunan lain yang bersifat sebagai penunjang adalah :
PIYASAN yaitu bangunan tempat bersemayamnya niyasa Hyang Widhi ketika hari piodalan, dimana diletakkan juga sesajen (banten) yang dihaturkan.
BALE PAMEOSAN adalah tempat Sulinggih memuja. Di Madya Mandala dibangun
BALE GONG, tempat gambelan,
BALE PESANDEKAN, tempat rapat atau menyiapkan diri dan menyiapkan banten sebelum masuk ke Utama Mandala.
BALE KULKUL yaitu tempat kulkul (kentongan) yang dipukul sebagai isyarat kepada pemuja bahwa upacara akan dimulai atau sudah selesai.

Jika ingin membangun Sanggah pamerajan yang lengkap, bangunan niyasa yang ada dapat “turut” 3,5,7,9, dan 11. “Turut” artinya “berjumlah”.
Turut 3 : Padmasari, Kemulan Rong tiga (pelinggih Hyang Guru atau Tiga Sakti : Brahma, Wisnu, Siwa), dan Taksu. Jenis ini digunakan oleh tiap keluarga di rumahnya masing-masing.
Turut 5 : Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu, Pangrurah, “Baturan Pengayengan” yaitu pelinggih untuk memuja ista dewata yang lain.
Turut 7 : adalah turut 5 ditambah dengan pelinggih Limas cari (Gunung Agung) dan Limas Catu (Gunung Lebah). Yang dimaksud dengan Gunung Agung dan Gunung Lebah (Batur) adalah symbolisme Hyang Widhi dalam manifestsi yang menciptakan “Rua Bineda” atau dua hal yang selalu berbeda misalnya : lelaki dan perempuan, siang dan malam, dharma dan adharma, dll.
Turut 9 adalah turut 7 ditambah dengan pelinggih Sapta Petala dan Manjangan Saluwang. Pelinggih Sapta Petala adalah pemujaan Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi yang menyebabkan manusia dan mahluk lain dapat hidup. Manjangan Saluwang adalah pemujaan Mpu Kuturan sebagai Maha Rsi yang paling berjasa mempertahankan Agama Hindu di Bali.
Turut 11 adalah turut 9 ditambah pelinggih Gedong Kawitan dan Gedong Ibu. Gedong Kawitan adalah pemujaan leluhur laki-laki yang pertama kali datang di Bali dan yang mengembangkan keturunan. Gedong Ibu adalah pemujaan leluhur dari pihak wanita (istri Kawitan).

Cara menempatkan pelinggih-pelinggih itu sesuai dengan konsep Hulu dan Teben, dimana yang diletakkan di hulu adalah Padmasari/Padmasana, sedangkan yang diletakkan di teben adalah pelinggih berikutnya sesuai dengan turut seperti diuraikan di atas. Bila halamannya terbatas sedangkan pelinggihnya perlu banyak, maka letak bangunan dapat berbentuk L yaitu berderet dari pojok hulu ke teben kiri dan ke teben kanan. sumber Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01:24   0 comments
Penyadur

Name: I Made Artawan
Home: Br. Gunung Rata, Getakan, Banjarangkan - Klungkung, Bali, Indonesia
About Me: Perthi Sentana Arya Tangkas Kori Agung
See my complete profile
Artikel Hindu
Arsip Bulanan
Situs Pendukung
Link Exchange

Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

Rarisang Mapunia
© 2006 Arya Tangkas Kori Agung .All rights reserved. Pasek Tangkas