Arya Tangkas Kori Agung

Om AWIGHNAMASTU NAMOSIDDHAM, Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.

 
Pura Lempuyang
Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, ... Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.
Berbakti
Janji bagi yang Berbakti kepada Leluhur BERBAKTI kepada leluhur dalam rangka berbakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa.
Mantram Berbakti
Berbakti kepada Leluhur Abhivaadanasiilasya nityam vrdhopasevinah, Catvaari tasya vardhante kiirtiraayuryaso balam. (Sarasamuscaya 250) Maksudnya: Pahala bagi yang berbakti kepada leluhur ada empat yaitu: kirti, ayusa, bala, dan yasa. Kirti adalah kemasyuran, ayusa artinya umur panjang, bala artinya kekuatan hidup, dan yasa artinya berbuat jasa dalam kehidupan. Hal itu akan makin sempurna sebagai pahala berbakti pada leluhur.
Ongkara
"Ongkara", Panggilan Tuhan yang Pertama Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu?
Gayatri Mantram
Gayatri Mantram Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam. Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam Mahyam dattwa vrajata brahmalokam. Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.
Dotlahpis property
Image and video hosting by TinyPic
Rerainan Hindu pada bulan November 2009
Senin, 23 November 2009
Rerainan Hindu pada bulan November 2009

Purnama Sasih kalima senin 2 November 2009
Rerainan purnama jatuh setiap 30 hari sekali. Pada hari ini seluruh pura - pura di Bali biasanya ramai oleh umat yang melakukan persembahyangan. Pada rerainan Purnama beryogalah Sang Hyang Candra (bulan) yang merupakan hari penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra. Rerainan Purnama merupakan sebuah momentum guna mengintrospeksi diri, bersujut dihadapan Tuhan dan kembali kepada keseimbangan (Rwa Bhineda) sekala dan niskala. Disamping itu pada rerainan Purnama vibrasi suci akan terpancar dari sinar rembulan sehingga sangat baik untuk melaksanakan yoga samadhi. Pada hari ini umat melakukan persembahyangan dimulai dari merajan / kemulan masing - masing, merajan dadia, Pura Kahyangan Tiga dan jika memungkinkan sangat baik untuk melakukan Tirta Yatra.

Anggara kasih Medangsia Selasa 3 November 2009
Anggara Kliwon adalah rerainan yang datang setiap pertemuan Saptawara Anggara dengan Pancarawa Kliwon. Pada rerainan ini Sang Hyang Ayu dan Sang Hyang Rudra beryoga melimpahkan anugrah beliau. Pada hari ini umat menghaturkan canang dan melakukan persembahyangan memohon wara nugraha beliau agar menglebur segala keletehan / kekotoran dunia.

kajeng Kliwon uwudan Minggu 8 November 2009
Rerainan kajeng kliwon datangnya setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon Uwudan adalah Kajeng Kliwon yang jatuh pada Pangelong atau periode hingga 15 hari setelah Purnama. Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Rerainan kajeng kliwon dipercaya sebagai hari yang keramat. Pada hari kajeng kliwon umat menghaturkan segehan yang dihaturkan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah segehan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Dhurga Bucari.

Tilem Sasih Kalima Selasa 17 November 2009
Rerainan tilem merupakan pemujaan Sang Hyang Surya, tilem juga merupakan rerainan penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra, yang mempunyai makna sama dengan rerainan Purnama. Pada waktu Candra Graha (gerhana bulan) maka dilakukanlah pemujaan Candra Sthawa / Soma Sthawa, dan pada waktu Surya Graha (gerhana matahari) dilakukan pemujaan Surya Cakra Bhuwana Sthawa.

Buda Kliwon Pahang atau Buda Kliwon Pegat Uwakan Rabu 18 November 2009
Rerainan Buda Kliwon datang setiap pertemuan Pancawara Kliwon dengan Saptawara Buda dan nama belakangnya disesuaikan dengan nama wuku dimana pertemuan itu terjadi, misalnya jika terjadi pada wuku Sinta maka disebut buda klion sinta, jika pada wuku gumbreg disebut buda klion gumbreg dan selanjutnya. Pada rerainan Buda Klion umat hindu melakukan persembahyangan dan mengahturkan canang lengawangi buratwangi, yang dipersembahkan di merajan / kemulan Rong tiga dan juga di plangkliran, ditujukan kepada Sang Hyang Sri Nini. Pada malam harinya umat Hindu mengheningkan seluruh pikiran, dengan tujuan memohon kerahayuan dan kadirgayusan. Buda kliwon pahang juga disebut dengan Buda Kliwon Pegat Uwakan yang menandai berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan yang ditandai dengan mencabut penjor di muka rumah.

Kajeng Kliwon Enyitan Senin 23 November 2009
Rerainan kajeng kliwon datangnya setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon Nyitan adalah Kajeng Kliwon yang jatuh pada Pananggal atau periode hingga 15 hari setelah Tilem. Kajeng kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, yang diyakini pada hari tersebut Sang Hyang Siwa bersemadi. Rerainan kajeng kliwon dipercaya sebagai hari yang keramat. Pada hari kajeng kliwon umat menghaturkan segehan yang dihaturkan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah segehan dihaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bhucari dan Sang Dhurga Bucari.

Tumpek Krulut Sabtu 28 November 2009
Tumpek Klurut diperingati sebagai bentuk ucapan puji syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berupa bunyi - bunyian (gambelan). pada hari ini umat menghaturkan sembah bhakti dan pemujaan dalam manifestasi beliau sebagai Sang Hyang Iswara dan memhon berkah semoga seni gambelan dapat selalu bertuah dan bermakna sehingga bisa menjadi sarana penuntun umat guna mencapai keseimbangan dan ketentraman.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 05:50   0 comments
Uang dan Keadilan
Adhaarmika naroyo hi yasya caapya nrtam dhanam Himsaaratasca yo nityam nehaa
sau sukhamedate
(Manawa Dharmasastra IV.170)

Artinya: Hidup penuh dosa apabila mengumpulkan kekayaan dengan cara yang tidak sah. Orang hidupnya selalu gembira bila dapat dapat menyakiti orang lain. Orang yang demikian itu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya di dunia ini maupun di dunia lain.
---

PADA zaman Kali ini banyak oknum pejabat tidak menggunakan jabatannya untuk melayani rakyat. Padahal, rakyat memberikan mereka hidup dengan berbagai fasilitas hidup yang umumnya melebihi kebutuhan hidupnya yang wajar. Meskipun sudah demikian berlebihan, jabatan yang diberikan itu disalahgunakan juga untuk memperkaya diri.

Pejabat penegak hukum pun banyak juga yang menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri. Orang yang berperkara itu kan sudah susah, dibuat susah lagi oleh oknum-oknum yang menyalahgunakan jabatannya mencari kekayaan. Dari cara-cara seperti itulah rakyat jadi menderita. Mereka takut berperkara untuk mencari kebenaran dan keadilan kalau tak punya uang. Mereka pun menjadi frustrasi kalau berurusan dengan birokrasi pemerintahan, apalagi mereka tidak memegang segepok uang.

Uang yang tidak syah inilah yang banyak beredar sebagai penyebab derita masyarakat. Proses uang yang tidak syah itu menimbulkan berbagai pihak menderita kecemasan. Cemas itu sumber derita bagi mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses munculnya uang yang tidak sah itu.

Dalam kitab Brahma Purana dijelaskan bahwa sarira (badan) yang diberikan oleh Tuhan ini adalah sarana untuk mendapatkan empat tujuan hidup. Empat tujuan hidup itu adalah dharma, artha, kama dan moksha. Dalam kitab itu disebut, artha menjadi salah satu tujuan hidup di dunia ini. Istilah artha (bahasa Sansekerta) berarti "tujuan". Makanya ada istilah parama artha yang artinya tujuan mulia.

Dalam perkembangan berikutnya, kata artha juga berarti segala sesuatu yang memperlancar tercapainya tujuan. Karena itu, uang dan harta benda lainnya juga disebut artha karena uang dan harta benda itu adalah sebagai sarana untuk memperlancar tercapainya tujuan. Mencari uang itu bukanlah sebagai tujuan tertinggi namun sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup.

Mencari uang itu hendaknya sebagai bermain bola. Pemain bola yang baik adalah pemain yang rajin dan gigih mengejar bola. Setelah didapatkan, bola itu diarahkan kepada gawang lawan atau diarahkan kepada kawan agar bola itu diarahkan ke gawang lawan. Mencari bola dan menendang bola dalam permainan sepak bola ada aturan-aturan yang wajib ditaati oleh para pemain.

Demikianlah sesungguhnya dalam hidup, mencari uang itu dapat diumpamakan sebagai bermain bola. Gigihlah berusaha mencari uang asalkan sesuai dengan dharma. Namun begitu, jika dapat uang, gunakanlah uang itu untuk memenuhi kebutuhan hidup berdasarkan dharma dan juga harus ada yang di-danapunia-kan. Semakin lancar peredaran uang itu, makin baiklah fungsi uang itu memberikan kesejahteraan secara adil. Ibarat bola tadi, makin ramai beredar bola itu di lapangan permainan, makin baiklah permainan bola itu. Asal, peredaran bola itu sesuai dengan aturan main bola.

Demikian juga kalau ada orang mengumpulkan uang itu dengan cara yang tidak sah, ibarat seorang pemain memegang sendiri bola itu terus-terusan. Jadinya, permainan bola menjadi terhenti. Demikianlah kalau ada pihak yang mengumpulkan uang dengan cara yang tidak sah. Tidak mendistribusikan uang itu secara adil dapat menimbulkan kemelaratan orang lain. Ini sama dengan membuat macetnya fungsi uang untuk membangun kesejahteraan yang adil.

Dalam ekonomi industri dewasa ini banyak terjadi kemiskinan struktural. Dalam suatu usaha bersama banyak terjadi ketidak-adilan dalam mendistribusikan hasil usaha tersebut. Banyak orang kaya karena hasil memeras tenaga orang lain, bahkan memeras hak-hak rakyat seperti rusaknya lingkungan alam dan lingkungan sosial budaya. Sistem hukum untuk menegakkan kebenaran dan keadilan pun menjadi kacau, banyak uang yang tidak sah beredar di sementara para penegak hukum. Setelah rusak mereka pun pergi mencari tempat baru untuk mengeruk keuntungan yang sama.

Orang yang menumpuk kekayaan seperti itu tidak akan pernah mendapatkan hati yang bahagia dalam hidupnya di dunia ini dan di dunia lain. Yang lebih parah lagi, rakyat banyak juga menjadi menderita tidak dapat kebenaran dan keadilan karena ulah sementara oknum pejabat yang cari uang tidak sah seperti itu.

Demikian juga ada orang yang demikian bahagia kalau dapat menyakiti hati orang lain. Menurut ahli ilmu jiwa Prof Dr Zakiah Darazat, ada orang yang demikian gembira melihat orang lain menderita dan sedih melihat orang lain bahagia. Orang yang demikian itu menderita penyakit gangguan mental. Penyakit gangguan mental seperti itu banyak diderita oleh masyarakat modern. Hal ini disebabkan kehidupan yang dirubung oleh materialisme dan hedonisme. Hal ini akan menyebabkan orang kehilangan integritas diri. Hidup pun makin individualistis.

Nafsu distinski makin kuat menguasai pikirannya untuk mendapatkan perhatian dari lingkungannya. Nafsu distinksi adalah suatu dorongan agar mendapatkan pengakuan lebih dari yang lain. Pengakuan yang seperti itu sangat sulit didapatkan dalam kehidupan sosial yang individualitis seperti ini. Dari sinilah muncul perilaku menyakiti hati orang lain karena kalajengking iri dan kedengkian menguasai diri orang yang tidak kuat daya tahan rohaninya.

Namun, kalau rasa cinta kasih dengan sesama mengalir dalam diri (prema wahini), orang akan sangat bahagia melihat orang lain hidup bahagia dan sukses. Ia pun tidak perlu menyesali diri kalau belum hidup sukses. Hal itu merupakan kemahakuasaan Tuhan mengatur umatnya sesuai dengan Karma dari masing-masing umatnya.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 03:00   0 comments
Pengalaman adalah Sumber Pengetahuan
Dari pengalaman manusia mendapatkan pengetahuan, dari pengetahuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan.Justify Full

Manusia adalah makhluk yang suka bertanya, karena didorong oleh rasa ingin tahunya. Apa saja yang dilihat, didengar, dialami, manusia ingin mendapat keterangan tentang itu. Setelah mendapat keterangan, ia merasa puas. Hal ini trjadi karena manusia mempunyai kemampuan untuk mengerti. Setiap orang mengerti akan apa yang diketahuinya, dan mengerti pula bahwa ia tidak tahu yang tidak diketahuinya. Segala apa yang diketahui orang disebut pengetahuan.

Pengetahuan dapat dimiliki orang dengan beberapa cara. Ada pengetahuan yang didapat dengan mendengarkan cerita-cerita orang lain, yang mungkin orang itupun mendapatkannya dari orang lain pula. Pengetahuan yang kebanyakan tidak dapat dipercaya kebenarannya karena seringkali tanpa bukti-bukti yang nyata. Banyak pula pengetahuan itu didapat orang karena pengalaman. Pengetahuan didapatkan dari pengalaman-pengalaman sendiri atau orang lain. Pengetahuan yang didapat dari pengalaman sendiri memang berdasarkan kepada kenyataan yang pasti, namun kebenarannya bergantung kepada benar atau kelirunya penglihatan kita. Orang yang mengetahui sesuatu atas dasar pengalaman menjadikan pengalamannya itu sebagai pedoman. Orang yang biasa memikirkan sesuatu yang dilihatnya, tidak puas dengan kenyataan itu saja. Ia ingin mendapatkan keterangan tentang bagaimana dan mengapa bisa demikian. Orang terpelajar yang berpikir teratur akan menerangkan bagaimana dan mengapa bisa demikian.

Dari orang-orang terpelajar, seseorang mendapatkan pengetahuan berdasarkan keterangan yang logis, berdasarkan hubungan sebab akibat. Orang akan mengusahakan agar pengetahuannya itu sesuai dengan hal yang diketahuinya. Dengan demikian pengetahuan itu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran. Untuk mencapai tujuan itu orang memakai metode dan sistem tertentu. Pengetahuan yang menuntut kebenaran dengan dasar yang bermetode dan bersistem disebut ilmu. Di dalam ilmu terdapat susunan pengertian yang teratur. Sebenarnya susunan pengertian yang teratur itu sudah dimiliki orang sejak jaman dahulu. Buktinya, nenek moyang kita telah menggolong-golongkan benda-benda dan masalah-masalah yang dijumpai dalam hidupnya. Benda-benda dan masalah-masalah itu diberi nama untuk membedakan satu dengan yang lain. Dengan demikian orang mempunyai susunan pengertian yang teratur akan sesuatu dengan menggolong-golongkan atau mengelompokannya. Misalnya, orang mempunyai pengertian tentang benda mati dan makhluk hidup, mengelompokkan makhluk hidup menjadi manusia, binatang dan tumbuhan. Mempunyai pengertian tumbuh-tumbuhan mana yang termasuk bangsa rumput, palma dan lain-lain, binatang yang mana termasuk binatang yang hidup di darat dan yang hidup di air.

Ilmu memandang secara terpilah-pilah terhadap benda-benda dan masalah-masalah yang menjadi obyeknya. Dengan cara itu orang akan lebih mudah mendapatkan pengertian yang teratur tentang sesuatu dari suatu segi pandangan tertentu. Misalnya manusia itu dapat ditinjau dari banyak segi segi ilmu, walaupun obyeknya itu-itu juga. Bila ditinjau dari kerja alat-alat tubuhnya, maka bidang itu adalah bidang biologi. Bila orang mempelajari manusia dari caranya hidup dan bergaul dalam hubungannya dengan kelompok lain, itu adalah bidang sosiologi. Sikap hatinya, perubahan-perubahan jiwanya menjadi studi phsikologi. Dari contoh di atas, ternyata ada dua atau tiga ilmu yang berobyek satu. Adanya dua atau tiga ilmu itu karena adanya dua atau tiga sudut pandang yang berbeda. Lain sudut pandangnya lain pula jenis ilmunya. Jadi, yang menentukan macam ilmu itu bukan bahan atau bidang penyelidikannya, tetapi sudut pandangnya. Lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu disebut obyek material, sedangkan sudut tertentu yang menentukan macam ilmu itu disebut obyek forma. Makin lama makin bertambah pula jenis ilmu itu. Masing-masing ilmu disusun dengan teratur dan hanya berkisar di dalam ruang lingkupnya saja. Masalah-masalah yang bukan menjadi ruang lingkupnya diserahkan kepada ilmu yang lain. Misalnya tentang peraturan-peraturan yang mengatur orang dalam hubungannya dengan orang lain tidak akan dibicarakan dalam biologi, karena hal itu bukan menjadi ruang lingkupnya. Demikianlah ilmu juga memakai disiplin, sehingga dikenal dengan adanya disiplin ilmu. Jaman dahulu jenis ilmu yang dikenal orang hanya sedikit, tetapi jaman sekarang jumlahnya sangat banyak dan terus bertambah. Beberapa jenis ilmu itu seperti: Ilmu Bahasa, Ilmu Hayat, Ilmu Matematika, Ilmu Fisika, Ilmu Kimia, Ilmu Sejarah, Ilmu Bumi, Ilmu Hukum, Ilmu Politik, Sosiologi, anthropologi, Ilmu Ekonomi, dan lain-lain. Masing-masing ilmu memiliki bagian-bagian ilmunya lagi. Semoga masing-masing disiplin ilmu yang dimiliki dapat diabdikan untuk kedamaian, sebagai wujud bhakti kepada Tuhan. Apalah artinya ilmu yang tinggi jika itu tidak menuntunnya pada pemujaan kepada Tuhan sebagai sumber dari segala sumber ilmu itu sendiri. sumber SRADDHA

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 02:47   0 comments
Kata - Kata Bhagawadgita
Selasa, 17 November 2009
Seseorang yang tidak membenci atau bernafsu (menginginkan segala sesuatu) adalah seorang sanyasi yang konstan. Karena seorang yang telah lepas dari dvandas (dua rasa yang saling berlawanan), akan cepat lepas dari keterikatan duniawi, oh Arjuna!

Penjelasannya :
Kedua rasa atau sifat ini adalah musuh-musuh besar seorang manusia. Seorang karma-yogi tidak akan mengacuhkan kedua-duanya lagi dan memasrahkan semua yang dialaminya kepada KehendakNya semata, dan sekiranya ini dilakukan penuh kesadaran dan dengan jiwa yang tulus maka ia pun terlepaslah dari keterikatan karma-karmanya. Seorang sanyasi yang konstan, adalah seorang yang tidak pernah menginginkan sesuatu ataupun tidak bernafsu akan sesuatu, dan sifatnya ini konstan, jadi terus-menerus ia akan berpikir dan bertindak demikian karena sudah menjadi itikadnya yang tegas dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini timbul dari kesadarannya yang tinggi. Hidupnya adalah suatu hal yang netral, semua suka dan duka, untung dan rugi sama saja harkat atau artinya, dan baginya semua ini selalu datang dan pergi tidak pernah abadi, jadi ia selalu tidak acuh lagi kepada dua sifat yang berlawanan ini. Dengan begitu lepaslah ia dari semua ilusi duniawi ini karena memang ia secara sadar tidak mau terikat olehnya, walaupun sebenarnya ia tinggal dan bekerja di dunia ini yang penuh dengan segala aktivitas yang tak kunjung habis-habisnya.

2. Hanya anak-anak, dan bukan orang-orang bijaksana, yang mengatakan bahwa ajaran Sankhya dan ajaran yoga sebagai dua hal yang berbeda. Seseorang yang telah mapan dalam salah satu ajaran ini mendapatkan imbalan dari kedua-duanya.

3.. Tingkat tertinggi yang dicapai oleh para penganut Sankhya juga dicapai oleh penganut ajaran Yoga. Barangsiapa melihat (menyadari) bahwa ajaran Sankhya dan Yoga adalah satu benar-benar melihat dengan mata yang terang.

Penjelasannya:
Ilmu pengetahuan yang sejati dan aksi atau tindakan tanpa pamrih sebenarnya bagi Sang Kreshna adalah dua hal yang sama saja arti dan maknanya, dan lebih dari itu satu saja tujuannya, yaitu Yang Maha Esa. Ambillah salah satu jalan yang berkenan di hati dan sesuai dengan keinginan pribadi kita yang tulus, dan berjalanlah di jalan tersebut dengan tulus dan pada suatu saat nanti kita akan mendapati bahwa ujung jalan ternyata berakhir pada titik yang sama. Kedua penganut masing-masing jalan yang nampak berbeda ini pada hakikatnya sama-sama bebas dari nafsu-nafsu duniawi ini dengan segala ikatan-ikatan dan ilusi-ilusinya.

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01:11   0 comments
Kemurahan Hati
Jumat, 13 November 2009
Murah hati, suka menolong, dermawan, diwahyukan Tuhan untuk dipedomani oleh umat manusia. Berbagai benda atau pengetahuan dapat didermakan, mulai dari yang paling murah, misalnya memberikan minum air putih bagi yang kehausan, memberikan makanan kepada yang kelaparan, memberikan beasiswa kepada siswa atau mahasiswa berprestasi tapi tidak mempunyai dana, itu adalah langkah nyata untuk melakukan sadhana, mempraktekkan kedermawanan.

Kemurahan hati adalah wujud dari dharma, yakni berupa pemberian atau dana punia. Swami Vivekananda menyatakan ada 3 hal yang patut didermakan, yaitu:
  1. DHARMADANA berupa memberikan pendidikan budi pekerti yang luhur untuk merealisasikan ajaran agama.
  2. VIDYADANA berupa memberikan pengetahuan.
  3. ARTHADANA berupa memberikan materi yang dibutuhkan
Dari ketiga macam derma atau dana punia tersebut DHARMADANA menempati kedudukan yang tertinggi kemudian VIDYADANA dan terakhir ARTHADANA yang semuanya dilakukan dgn tulus ikhlas.

SATAHASTA SAMA HARA, SAHASRAHASTA SAM KIRA (Atharvaveda III.24.5) ... Wahai umat manusia, perolehlah kekayaan dengan seratus tanganmu dan dermakanlah dalam kemurahan hati dengan seribu tanganmu.

INDRA KSUDHYADBHYO VAYA ASUTIM DAH (Rgveda I.104.7) ... Wahai para pemimpin dengan murah hati sediakanlah makanan dan air untuk orang-orang kelaparan.

Agung Adnyani:
Bagaiman halnya jk bantuan yg kita berikan kpd org yg membutuhkan justru akan menciptakan ketergantungan yang terus-menerus, bukannya kemandirian. Dan mohon dijelaskan, apa tujuan yang sebenarnya dibalik sadhana memperaktekkan kedermawanan itu ? Terimakasih sebelumnya.
Mangku Suro:
ARTHADANA (bantuan materi) sebaiknya disertai dengan VIDYADANA sehingga si penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperoleh artha sendiri, dan DHARMADANA sehingga si penerima menyadari bahwa memberi jauh lebih mulia daripada menerima dan tumbuh tekad untuk tidak selamanya bergantung dalam hal artha pada orang lain, bila perlu karena bantuan seseorang dia bisa bangkit. Baca Selengkapnya dari kemiskinan artha menjadi orang sukses, kemudian berbalik dengan seribu tangannya melaksanakan dana punia. Mempraktekkan kedermawanan untuk menguji diri sendiri dan berlatih untuk melepaskan diri kita dari belenggu duniawi kira-kira kita begitu maksud Tuhan mewahyukan kedermawanan ini.

Agung Adnyani:
Apakah memang kita hidup didunia ini hanya melaksanakan takdir kita (karma) ? Apakah bisa kita keluar dari lingkaran karma ? Dan apa yang sebaiknya kita lakukan agar kita bisa mengingat kembali akan jati diri kita ?
Mangku Suro:
Terimalah karma kita apa adanya sehingga tdk tumbuh tunas karma yang baru, itu akan membebaskan kita dari lingkaran karma. Agar kita bisa menemukan jati diri kita sebaiknya (bahkan harus) meninggalkan ikatan dari semua yang tidak sejati.

Agung Adnyani:
Apa saja yang termasuk ikatan tidak sejati itu ? Dalam kenyataannya sering kita menemukan kesulitan dalam memperktekan ide - ide tersebut dikarenakan keterkondisian kita. Adakah sadhana unt menghapus keterkondisian tersebut ?
Mangku Suro:
Selain Atman tidak ada yg sejati. Sebelum ditanya, "Berarti Tuhan tidak sejati?" ... Brahman Atman Aikyam ... Mempraktekkan ide - ide tersebut memang sangat sulit, bahkan Bhagawan Wararuci mengakui betapa sulitnya mencapai Kesadaran Tertinggi seperti yg disampaikan pada penutup Kitab Sarasamuccaya. Untuk menghapus keterkondisian tersebut, cobalah ikuti tuntunan sadhana: astangga yoga.

Agung Adnyani:
Untuk Astangga Yoga terutama Dyana Yoga dan Yoga Samadhi, apakah bisa dilakukan tanpa bimbingan ?
Mangku Suro:
Sulit. Jangankan tahapan 7 dan 8, tahapan 1 dan 2 saja kita memerlukan bimbingan untuk mendapatkan pemahaman yang benar. Awali dengan poin 1 tahap 1: Anrsangsya: berlatihlah mengendalikan piranti ahamkara yang kita miliki, menahan ego kita, tidak mementingkan diri sendiri, tidak memandang rendah orang lain, dan banyak lagi implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Agung Adnyani:
Jika sulit dilakukan, kemana kita (yang ingin belajar) mencari bimbingan tersebut. Apakah bimbingan harus dilakukan face to face ?
Mangku Suro
Yang penting ada kontinuitas komunikasi dengan pembimbing. Catat setiap perkembangan yang kita alami lalu konsultasikan.

Adijaya Ketut:
Swastyastu Jro, Bagaimana menyeimbangkan "tanggungjawab saat ini" terutama karena kemelekatan cinta kasih kita terhadap sentana dengan pencarian kita yang pada saatnya nanti akan harus meninggalkan kemelekatan itu.
Mangku Suro:
Orang Jawa bilang, "Manungsa mung sadrema nindakake wajib." Lakukanlah semuanya sebagai sebuah kewajiban tanpa tendensi keinginan (nafsu). Serahkan hasilnya sepenuhnya kepada Tuhan. Terimalah hasilnya apa adanya. sumber SRADDHA

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 06:13   0 comments
Tujuan Akhir Hidup Keduniawian
Senin, 09 November 2009
Tujuan akhir hidup di atas bumi adalah untuk menyadari Jati Diri, pencapaian yang sangat sulit, melalui sadhana yang ajeg tanpa kenal putus asa. Dalam samadhi, setiap jiwa menemukan Ketuhanannya, Realitas Absolut, Tuhan yang kekal, Sang Pribadi yang ada di luar waktu, bentuk dan ruang.

Realisasi atman adalah realisasi Brahman, dapat dicapai melalui renunsiasi; penolakan atau penyangkalan terhadap semua yang maya. Dunia beserta isinya disebut "mayapada" karena sifatnya yang maya. Penyangkalan tidak berarti meninggalkannya secara fisik, tetapi melepaskan diri dari keterikatan padanya dengan terus bermeditasi pada apa yang menjadi tujuan akhir dan membakar benih-benih karma yang masih bertunas. Ini adalah pintu gerbang menuju moksha, pembebasan dari punarbhawa. Atman berada di luar perkiraan pikiran, di luar perasaan yang alami, di luar aksi atau pergerakan bahkan bagian tertinggi dari kesadaran pikiran. Atman jauh lebih halus daripada sebuah inti atom, lebih sukar dipahami daripada ruang hampa, lebih mendalam daripada pikiran dan perasaan. Ini realitas terakhir diri kita, Kebenaran terdalam yang dicari-cari semua pencari Brahman. Ini adalah suatu yang paling berharga untuk diperjuangkan. Ini perjuangan bernilai tinggi yang dijalani dengan susah payah untuk membawa pikiran di bawah perintah kehendak. Setelah Atman disadari, pikiran terlihat sebagai sesuatu yang maya, dan begitulah sesungguhnya. Karena Kesadaran Atman harus dialami di dalam tubuh fisik, putaran jiwa kembali lagi dan lagi ke dalam badan jasmani untuk menari bersama Brahman, hidup bersama Brahman dan akhirnya manunggal dengan Brahman, menyatu dalam keesaan-Nya. Ya, Atman kita sebenarnya adalah Brahman. Seperti yang digambarkan di dalam Veda, bahwa manunggalnya Atman dan Brahman bagaikan air dituangkan ke dalam air, susu dituangkan ke dalam susu, api disulutkan ke dalam api, udara dihembuskan ke dalam udara, menjadi satu tanpa diferensiasi, jiwa individual dan Jiwa Tertinggi manunggal. sumber mangku suro
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 07:04   0 comments
Moksha
Kamis, 05 November 2009
MOKSHA -Kebebasan Paripurna, Keselamatan atau Pembebasan-ialah purushaartha keempat sekaligus terakhir DARI empat pilar yang menyangga struktur kehidupan kita. Tiga yang pertama telah dibahas sebelumnya, Dharma atau Kebajikan, Artha atau Kekayaan dan Kama atau Keinginan.

Lazimnya, moksha diartikan sebagai "kebebasan dari siklus kehidupan dan kelahiran." Banyak pembicaraan, diskusi dan penelitian ilmiah pada subjek kehidupan setelah kematian, kehidupan setelah kehidupan, pengalaman dekat kematian, reinkarnasi dan seterusnya. Kendati demikian, moksha tetaplah sebuah misteri, karena ini bersinggungan dengan sebuah situasi di balik kehidupan dan di balik kematian. Dan yang paling penting, siapa dapat menjamin bahwa Anda tak akan terlahir kembali setelah anda mati "kali ini"?

Moksha setelah atau melampaui kematian ialah sebuah pikiran yang menghibur. Buddha menyebutnya Nirwana, satu dan hal yang sama. Teolog Buddhis, kendati demikian, membela diri, "Tidak, mereka tidak sama." Baiklah kalau anda ingin mendirikan agama baru, maka Anda harus menciptakan seperangkat doktrin dan dogma yang baru pula. Oleh sebab itu, saya bisa memahami keberatan mereka atas kesamaan nirwana dengan moksha.

Sebuah cawan terisi air terkosongkan di tengah lautan. Buddha memperhatikan cawan yang kosong dan berkata, "Lihatlah, airnya hilang. Nirwana, ini berakhir, selesai, terlaksana."

Orang lain yang memperhatikan lautan mengatakan, "Air di dalam cawan telah bersatu dengan lautan. Persatuan Agung. Inilah saatnya merayakan Pertemuan Paripurna - wow, moksha!"

Kejadiannya sama; penjelasan kitalah yang berbeda. Tapi, sekali lagi, itu sekadar penjelasan, pikiran, hipotesis, wacana. Sebagai salah satu purusahartha, moksha - nirwana, pembebasan, keselamatan, surga, atau dengan istilah apapun Anda menyebutnya - mesti berada di dalam hidup kita. Ia mesti terkait dengan kehidupan, dan tak hanya dengan kehidupan setelah kematian saja.

Dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam apa yang disebut "waktu sesungguhnya," moksha dapat diterjemahkan sebagai kebebasan. Saya teringat sebuah puisi yang indah, ditulis oleh Rabindranath Tagore (1861-1941).

"Di mana pikiran tak terikat rasa takut dan kepala berdiri tegak

Di mana pengetahuan begitu bebas

Di mana dunia tak lagi terpecah-pecah ke dalam kepingan-kepingan

oleh sekat-sekat sempit buatan sendiri

Di mana kata-kata keluar dari kedalaman kebenaran

Di mana upaya tak kenal lelah membentangkan lengannya menuju kesempurnaan

Di mana aliran jernih penalaran tak tersesat di jalannya

Memasuki gurun pasir yang menjemukan dan kebiasaan yang mematikan

Di mana pikiran dibimbing maju oleh-Nya

Memasuki pikiran dan tindakan yang terus meluas

Ke dalam surga kebebasan semacam itu, oh Bapa, biarkan negaraku terus terjaga..."

Tiada pemahaman yang lebih baik tentang moksha dalam kehidupan kita sehari-hari selain seperti yang diuraikan oleh puisi hebat di atas.

Moksha dalam hidup ialah kebebasan berpikir, berekspresi, berkreasi, bergerak dan mengikuti apa yang dikatakan hatimu.

"Dimana pikiran tak terikat rasa takut dan kepala berdiri tegak" - mokhsa pertama dan utama ialah bebas dari rasa takut. Ketakutan melemahkan jiwa kita. Ketakutan membunuh jiwa kita. Ketakutan ialah penghalang bagi mekarnya potensi manusia. Ketakutan itu anti-jiwa.

"Kepala berdiri tegak" dalam bait ini mengacu pada situasi tanpa rasa takut. Ini bukan karena arogan dan egois. Ini merupakan ekspresi jiwa lewat badan kita - jiwa yang selalu bergerak membumbung ke atas, mencoba meraih kemungkinan lapisan kesadaran yang tertinggi.

"Di mana pengetahuan bebas," tak dimanipulasi oleh pemerintah, oleh masyarakat, oleh institusi agama atau lembaga buatan manusia lainnya. Segera setelah seorang anak lahir, kita diberi identitas, bahkan faktanya seperangkat identitas, sosial dan juga agama.

Pangeran Charles lahir sebagai manusia, sama seperti anda dan saya. Kendati demikian, kita berbeda lokasi kelahirannya. Dia lahir di istana; kita lahir di luar istana. Karena alasan itu, ia disebut "pangeran" sejak lahirnya. Bayi Charles tak paham arti gelar yang diberikan padanya, atau implikasinya. Karena gelar itu dipaksakan atasnya tanpa kemauannya.

Lalu mulailah latihannya sebagai seorang pangeran. Pengetahuan, ilmu dan seni dikemas baik secara khusus untuknya. Pihak kerajaan memutuskan apa yang sesuai dan yang tidak bagi seorang pangeran.

Tapi tidakkah anda berpikir situasi kita lebih baik? Charles ialah korban pihak kerajaan dan masyarakat kerajaan. Kita ialah para korban dari para miskin dan masyarakat miskin. Kita semua ialah korban dari sistem-sistem buatan manusia.

"Di mana dunia belum terpecah-belah ke dalam kepingan-kepingan oleh sekat-sekat sempit buatan sendiri" - semua sistem buatan manusia, dogma, doktrin, dan kredo menciptakan batasan-batasan. Tagore menyebutnya "sekat sempit buatan sendiri." Itu tak konkret, tapi sekat mental dan emosional.

"Di mana kata-kata keluar dari kedalaman kebenaran" - kata-kata dan perbuatan kita diatur oleh pikiran, benak kita. Jika pikiran kita tak bebas, kata-kata kita tak bisa menjadi benar. Karena butuh jiwa yang berani dan bebas untuk menjadi benar. Menjadi benar ialah mengambil resiko. Juga, jika pikiran kita tak bebas, kita tak bisa bertindak dengan bebas. Kita tak bisa bergerak dengan bebas.

"Di mana upaya tanpa lelah membentangkan lengannya menuju kesempurnaan" - orang bebas ialah orang yang berupaya mencapai kesempurnaan. Karena alasan inilah para sultan, emir, raja dan pejabat yang berkuasa tak tertarik pada kesempurnaan kita.

"Di mana aliran bening nalar tak tersesat dalam jalannya memasuki gurun pasir yang menjemukan dan kebiasaan yang mematikan - penalaran bersebrangan dengan perbudakan." Nalar itu anti manipulasi. Nalar ialah untuk berkembang, untuk membuka diri, untuk belajar lebih dan mengetahui lebih. Nalar tak membiarkan status quo. Penalaran sangat sangatlah dinamis, senantiasa berubah, bertransformasi dan menyempurnakan.

Inilah sebabnya kenapa pejabat, lembaga, politisi tanpa prinsip dan korporasi tanpa kesadaran selalu mencoba untuk memburu lembaga penalaran di dalam diri kita. Inilah sebabnya dogma dan doktrin dibuat. Inilah kenapa ritual dipaksakan. Kita dipaksa untuk membentuk kebiasaan yang menguntungkan sistem.

Kurang atau lebih, setiap dari kita telah menjadi korban sistem dan kemapanan. Lebih cepat kita menyadari ini, lebih baik.

"Di mana pikiran dibimbing maju oleh nya memasuki pikiran dan tindakan yang meluas terus" - Tagore dilahirkan sebagai "subjek" atau "warga jajahan" Inggris. Negaranya tidak merdeka; masih dijajah oleh Inggris. Tapi dalam jiwanya ia manusia bebas. Dalam ruh, ia membumbung tinggi, terbang melintasi lapisan tertinggi di atas langit.

"Di dalam surga kebebasan itu, oh Bapa, biarkan negaraku terjaga" - bangsa-bangsa menjadi merdeka dan sekali lagi diperbudak oleh korporasi rakus dan politisi korup. Oleh sebab itu, adalah penting, dan mendesak bila terlebih dahulu manusia menjadi bebas - bebas dalam pikiran, dalam hati, dalam jiwa, dalam roh.

Manusia mesti menjadi bebas terlebih dahulu. Ia harus belajar mengapresiasi kebebasan. Hanya dengan demikian, dan hanya setelahnya, ia dapat menghargai, menjaga dan merawat kemerdekaan bangsanya.

Ada istilah yang indah dalam bahasa Sansekerta, Jeewan Mukta - Seseorang Yang Bebas dalam Hidup. Ini, yang kemudian, menjadi benih bagi moksha, atau kebebasan sampurna setelah kehidupan.

Demikianlah purushartha - empat pilar yang menopang struktur kehidupan kita. (*)

* Penulis adalah aktivis spiritual, dan telah menulis lebih dari 130 buku. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatannya di Bali, silahkan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595 atau 8477490, atau kunjungi www.aumkar.org , www.anandkrishna.org (Tulisan ini pertama kali dimuat di The Bali Times, diterjemahkan oleh Nugroho Angkasa).

Label:

posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01:18   0 comments
Penyadur

Name: I Made Artawan
Home: Br. Gunung Rata, Getakan, Banjarangkan - Klungkung, Bali, Indonesia
About Me: Perthi Sentana Arya Tangkas Kori Agung
See my complete profile
Artikel Hindu
Arsip Bulanan
Situs Pendukung
Link Exchange

Powered by

Free Blogger Templates

BLOGGER

Rarisang Mapunia
© 2006 Arya Tangkas Kori Agung .All rights reserved. Pasek Tangkas