| Refrensi Pasek Tangkas |
| Untuk menambah Referensi tentang Arya Tangkas Kori Agung, Silsilah Pasek Tangkas, Babad Pasek Tangkas, Perthi Sentana Pasek Tangkas, Wangsa Pasek Tangkas, Soroh Pasek Tangkas, Pedharman Pasek Tangkas, Keluarga Pasek Tangkas, Cerita Pasek Tangkas. Saya mengharapkan sumbangsih saudara pengunjung untuk bisa berbagi mengenai informasi apapun yang berkaitan dengan Arya Tangkas Kori Agung seperti Kegiatan yang dilaksanakan oleh Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Pura Pedharman Arya Tangkas Kori Agung, Pura Paibon atau Sanggah Gede Keluarga Arya Tangkas Kori Agung, Keluarga Arya Tangkas Kori Agung dimanapun Berada Termasuk di Bali - Indonesia - Belahan Dunia Lainnya, sehingga kita sama - sama bisa berbagi, bisa berkenalan, maupun mengetahui lebih banyak tentang Arya Tangkas Kori Agung. Media ini dibuat bukan untuk mengkotak - kotakkan soroh atau sejenisnya tetapi murni hanya untuk mempermudah mencari Refrensi Arya Tangkas Kori Agung. |
| Dana Punia |
Dana Punia Untuk Pura Pengayengan Tangkas di Karang Medain Lombok - Nusa Tenggara Barat
Punia Masuk Hari ini :
==================
Jumlah Punia hari ini Rp.
Jumlah Punia sebelumnya Rp.
==================
Jumlah Punia seluruhnya RP.
Bagi Umat Sedharma maupun Semetonan Prethisentana yang ingin beryadya silahkan menghubungi Ketua Panitia Karya. Semoga niat baik Umat Sedharma mendapatkan Waranugraha dari Ida Sanghyang Widhi – Tuhan Yang Maha Esa.
Rekening Dana Punia
Bank BNI Cab Mataram
No. Rekening. : 0123672349
Atas Nama : I Komang Rupadha (Panitia Karya)
|
| Pura Lempuyang |
| Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, ... Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara. |
| Berbakti |
| Janji bagi yang Berbakti kepada Leluhur
BERBAKTI kepada leluhur dalam rangka berbakti kepada Tuhan sangat dianjurkan dalam kehidupan beragama Hindu. Dalam Mantra Rgveda X.15 1 s.d. 12 dijelaskan tentang pemujaan leluhur untuk memperkuat pemujaan kepada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita diajarkan kalau hanya berbakti pada bhuta akan sampai pada bhuta. Jika hanya kepada leluhur akan sampai pada leluhur, kalau berbakti kepada Dewa akan sampai pada Dewa. |
| Mantram Berbakti |
| Berbakti kepada Leluhur
Abhivaadanasiilasya nityam vrdhopasevinah,
Catvaari tasya vardhante kiirtiraayuryaso balam.
(Sarasamuscaya 250)
Maksudnya:
Pahala bagi yang berbakti kepada leluhur ada empat yaitu: kirti, ayusa, bala, dan yasa. Kirti adalah kemasyuran, ayusa artinya umur panjang, bala artinya kekuatan hidup, dan yasa artinya berbuat jasa dalam kehidupan. Hal itu akan makin sempurna sebagai pahala berbakti pada leluhur. |
| Ongkara |
| "Ongkara", Panggilan Tuhan yang Pertama
Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu? |
| Gayatri Mantram |
| Gayatri Mantram
Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam.
Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam
Mahyam dattwa vrajata brahmalokam.
Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku. |
| Dotlahpis property |
  |
|
| Hari Raya Kuningan 11 Februari 2012 |
| Senin, 13 Februari 2012 |
 Sabtu 11 Februari 2012 umat hindu kembali merayakan Hari Raya Kuningan. Hari Raya Kuningan diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali dalam kalender Bali tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. (1 bulan dalam kalender Bali = 35 hari)
Di hari suci diceritakan Ida Sang Hyang Widi turun ke dunia untuk memberikan berkah kesejahteraan buat seluruh umat di dunia. Sering juga diyakini, pelaksanaan upacara pada hari raya Kuningan sebaiknya dilakukan sebelum tengah hari, sebelum waktu para Betara kembali ke sorga.
Kuningan adalah rangkaian upacara Galungan, 10 hari sebelum Kuningan. Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua. |
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 18:33  |
|
|
|
| Galungan Rabu, 1 Februari 2012 |
|
 Rabu pagi hari ini 1 Feburai 2012 ribuan umat Hindu di Denpasar memenuhi Pura Jagatnatha untuk bersembahyang perayaan hari Galungan.
Pemangku atau pengurus Pura Jagatnatha Denpasar Jero Mangku Ida Bagus Ketut Japa menjelaskan, Galungan bermakna sebagai hari kemenangan atau dharma melawan adharma atau keburukan.
"Adharma adalah suatu sifat yang buruk yang ada di dalam diri manusia, saat itulah dharma atau kebaikan dalam diri manusia berusaha untuk memerangi keburukan sebelum tiba Galungan atau yang disebut penampahan," jelasnya.
Biasanya, kata Jero Mangku Japa, pada hari penampahan atau sebelum hari Galungan, umat Hindu melakukan sesembahan dengan memotong babi atau ayam yang dipersembahkan untuk Yadnya.
"Penampahan berarti tampa atau saat untuk mendekatkan diri dengan kebaikan yakni mendekatkan diri pada hari Raya Galungan," katanya.
Di Pura Jagatnatha pada dua hari sebelum Galungan sudah disiapkan, termasuk sesajen yang akan dipersembahkan, yakni penuajan pada hari Senin (30/1/2012), dan penampahan pada Selasa (31/1/2012), lalu galungan pada hari ini 1 Februari 2012.
"Disinilah umat diuji ketabahan dan imannya oleh tiga butha: butha galungan, butha dedungulan, dan butha amangkurat," kata Jero Mangku Japa.
Pura ini pun sudah dipenuhi umat sejak pagi karena para umat harus bergantian melakukan sembahyang bersama keluarga masing-masing. Diperkirakan perayaan Galungan ini akan ramai pada malam hari sebagai puncak waktu persembahyangan umat Hindu.
Umumnya, warga Denpasar yang melakukan sembayang di Pura Jagatnatha karena umat Hindu di luar daerah seperti Lombok dan sekitarnya tidak sempat untuk pulang ke kampung halamannya.
Perayaan Galungan pun tidak hanya dilakukan upacara sembahyang melainkan juga menjadi sebuah obyek wisata turis asing. Sejumlah wisatawan asing tampak bedatangan untuk meyaksikan umat Hindu yang tengah bersembahyang, beberapa turis mengenakan pakaian adat Bali. |
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 18:26  |
|
|
|
| Ramalan Tahun Naga Air 2012 |
| Sabtu, 21 Januari 2012 |
 Tahun 2012 ini merupakan Tahun Naga atau lebih tepatnya Tahun Naga Air. Menurut perhitungan kalender LUNAR (Yin Li atau Imlek), awal tahun jatuh pada 23 Januari 2012, tetapi berdasarkan kalender HSIA, awal tahun akan jatuh pada tanggal 4 Februari 2012. Perhitungan menurut kalender bulan menjadi tradisi dan senantiasa dirayakan, sedangkan perhitungan berdasarkan Hsia tidak banyak diketahui orang. Banyak orang ingin mengetahui apakah tahun mendatang akan memberikan keberuntungan bagi dirinya atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus diketahui lebih dahulu, bahwa dalam astrologi Cina terdapat lima unsur (elemen), yaitu logam, air, kayu, api, dan tanah. Teori ini dipakai untuk menjelaskan mengapa seseorang akan lebih beruntung dari orang lain secara lebih terperinci. Sementara itu dalam perhitungan Capjie Shio (12 Horoskop), seringkali perhitungan tersebut dibuat sederhana saja. Jadi, langsung disimpulkan shio mana yang baik peruntungannya dan shio mana yang kurang baik peruntungannya di tahun tersebut. Karena Naga itu hap (cocok) dengan shio Monyet, Tikus, dan Ayam, maka banyak orang mengatakan ketiga shio itulah yang mempunyai keberuntungan besar. Di lain pihak, Naga Chiong besar dengan shio Anjing mendatangkan perpisahan (bisa dengan nyawa, kesehatan, harta atau dengan pasangan). Naga Chiong kecil dengan shio Kelinci mendatangkan pengkhianatan dan sakit hati. Sementara Naga Chiong kecil dengan shio Naga akan mendatangkan saling hukum, atau membuat keputusan yang salah kemudian menyesali. Oleh karena itu, kedua orang yang memiliki ketiga horoskop itu dikatakan akan mengalami kemalangan. Tentu saja perhitungan seperti itu terlalu sempit. Perhitungan seperti itu sebenarnya terlalu menggeneralisasi fenomena yang terjadi, sehingga kebenarannya memiliki probabilitas yang rendah. Tahun Naga kali ini merupakan Tahun Naga Air (Ren Chen). Berdasarkan teori, Naga mempunyai kandungan elemen Tanah, Kayu, dan Air. Sesungguhnya Naga adalah "gudangnya air". Karena yang dibawa oleh Naga di tahun 2012 ini adalah Naga Air, maka air akan melimpah besar sekali. Jika diibaratkan, tahun 2012 ini seperti bendungan yang jebol dan air melimpah keluar. Peruntungan Berdasarkan Waktu Lahir Tidak ada seorang-pun yang pernah melihat naga. Dalam berbagai gambaran, orang-orang menceritakan makhluk seperti naga, tetapi tidak pernah melihat secara utuh. Ada yang hanya melihat ekornya dan ada yang hanya melihat kepalanya. Oleh karena itu tahun Naga selalu diartikan sebagai tahun misterius; sulit menebak apa yang bakal terjadi di tahun ini. Lalu bagaimana caranya kita mengetahui tahun 2012 (Naga Air) ini membawa keberuntungan atau tidak? Unsur-unsur yang dimiliki seseorang, tergantung pada saat kelahirannya. Dengan mengetahui tanggal lahir, kita bisa memprediksi unsur-unsur apa dari ke lima elemen itu yang paling menonjol di diri kita. Berikut ini kami memberikan pedomannya: dengan melimpahnya air pada tahun 2012 ini, maka mereka yang paling beruntung adalah orang yang memerlukan elemen air. Sebaliknya, mereka yang kurang beruntung adalah orang yang sudah memiliki banyak air dan tambahan air, karena hal itu menyebabkan keberuntungan menjauh darinya. Nah, sekarang bagaimana cara mengetahui apakah kita membutuhkan air atau tidak? Pertama, dari shio (tahun lahir). Mereka yang berunsur api atau kandungannya, yaitu ber-shio Ular, Kuda, Kambing, dan Macan akan lebih diuntungkan. Sebaliknya yang memiliki kandungan air, yaitu shio Babi, Tikus, dan Naga. Sementara itu, shio lain bisa dikatakan netral. Kedua, dari bulan lahir. Mereka yang dilahirkan pada bulan/musim Semi (Maret dan April) dan bulan/musim Panas (Mei, Juni, dan Juli) lebih beruntung, karena memerlukan air untuk mengimbanginya. Sedangkan mereka yang dilahirkan pada musim dimana banyak unsur air, yaitu November, Desember, dan Januari, dianggap kurang beruntung karena sudah memiliki banyak unsur air. Tahun 2012 yang berlimpah air ini menjadi tahun yang banyak halangan. Sementara itu, perhitungan berdasarkan hari/tanggal lahir agak sulit dikemukakan di sini, karena harus dikonversikan ke kalender Imlek/Hsia terlebih dahulu. Ketiga, dari jam lahir. Mereka yang dilahirkan pada pagi dan siang hari memiliki unsur Kayu dan Api yang banyak. Oleh karena itu, tahun 2012 yang mengandung banyak unsur air, akan menjadi berkah dan rezeki. Sebaliknya, mereka yang lahir pada malam hari, antara jam 21:00 hingga 03:00 dini hari memiliki banyak unsur air, sehingga tahun ini kurang beruntung bagi mereka. Dengan mengetahui aturan di atas, maka dengan cepat kita bisa menghitung, apakah kita beruntung atau kurang beruntung menghadapi tahun Naga Air ini. Sebagai contoh, apakah seseorang yang lahir pada tanggal 9 Februari 1969 jam 12:00 akan beruntung? Jawabannya sebagai berikut: tahun 1969 adalah tahun Ayam (menurut Kalender Hsia) dan tahun Monyet (menurut Kalender Imlek). Baik Ayam atau Monyet adalah shio yang hap (serasi) dengan Naga. Dari tahun lahir ini, sudah pasti ada faktor keberuntungan yang memihak kepada dirinya. Bulan Februari adalah dimulainya musim Semi, dimana unsur Kayu sangat dominan. Karena Kayu memerlukan Air untuk tumbuh, maka orang yang lahir pada musim Semi akan memiliki peruntungan yang baik. Selanjutnya, lahir pada siang hari jam 12:00, ketika matahari sedang panas-panasnya, membuat orang ini sangat memerlukan Air, untuk mengimbangi Api yang dimiliki dalam jam lahirnya itu. Maka jawabannya, dia akan beruntung di tahun Naga Air ini. Sekarang Anda bisa mengerti, bahwa perhitungan keberuntungan itu tidak hanya melihat horoskop (tahun lahir) atau shio-nya saja. Semua elemen yang ada di dalam data lahir seseorang mempunyai faktor yang harus diperhitungkan. Selamat menyambut Tahun Naga Air. Sumber Mauro Rahardjo dan Lelyana Rahardjo. |
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 19:56  |
|
|
|
| Saraswati |
| Jumat, 18 November 2011 |
 Hari ini Sabtu, 19 Nopember 2011 umat Hindu di Bali merayakan Hari Saraswati atau Hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati dengan arti harfiah hari suci Saraswati adalah hari ulang tahun bagi ilmu pengetahuan atau Hari Diturunnya ilmu pengetahuan oleh Sang Hyang Widdhi. Perayaan Hari Saraswati ini jatuh setiap Saniscara Umanis Wuku Watugunung . Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Ia tampak berpakaian dengan dominasi warna putih, terkesan sopan, menunjukan bahwa pengetahuan suci akan membawa para pelajar pada kesahajaan. Saraswati dapat digambarkan duduk atau berdiri diatas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan wahana atau kendaraan suci darinya, yang mana semua itu merupakan simbol dari kebenaran sejati. Selain itu, dalam penggambaran sering juga terlukis burung merak. Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing-masing lengan tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu: - Lontar (buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi, dan ilmu sejati.
- Genitri (tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.
- Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.
- Damaru (kendang kecil).
Angsa merupakan simbol yang sangat populer yang berkaitan erat dengan Saraswati sebagai wahana (kendaraan suci). Angsa juga melambangkan penguasaan atas Wiweka (daya nalar) dan Wairagya yang sempurna, memiliki kemampuan memilah susu di antara lumpur, memilah antara yang baik dan yang buruk. Angsa berenang di air tanpa membasahi bulu-bulunya, yang memiliki makna filosofi, bahwa seseorang yang bijaksana dalam menjalani kehidupan layaknya orang biasa tanpa terbawa arus keduniawian.
Selain angsa, juga sering terdapat merak dalam penggambaran Dewi Saraswati, yang mana adalah simbol dari kesombongan, kebanggaan semu, sebab merak sesekali waktu mengembangkan bulu-bulunya yang indah namun bukan keindahan yang abadi.
Filosofi Penggambaran Dewi Sarasswati:
- Dewi simbol Kecantikan , bahwa ilmu Pengetahuan itu indah, cantik, menarik, dan lemah lembut dan mulia.
- Alat musik simbol, bahwa ilmu Pengetahuan itu seni budaya yang agung.
- Genetri simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu tak terbatas dan kekal abadi.
- Pustaka suci simbol, bahwa itu sumber ilmu pengetahuan yang suci.
- Teretai simbol, bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan kesucian Hyang Widhi.
- Angsa adalah simbol kebijaksanaan, Angsa bisa membedakan antara yang baik dan buruk.
Etika Pada Saat Hari Saraswati Puja.
Pustaka-pustaka (Kitab Suci), lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai
- Pemujaan Saraswati dilakukan sebelum tengah hari.
- Sebelum perayaan Saraswati, tidak diperkenankan membaca atau menulis.
- Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati tidak diperkenankan membaca dan menulis selama 24 jam.
Dalam mempelajari segala pangaweruh selalu dilandasi dengan hati Astiti kepada Hyang Saraswati, termasuk dalam hal merawat perpustakaan.
Puja Saraswati
Om, Brahma Putri Maha Dewi, Brahmanya Brahma wandini, Saraswati sayajanam, praja naya Saraswati. Om, Saraswati dipata ya namah.
Om Saraswati namastubhyam Varade kama rupini Siddharambha karisyami Siddhir bhawantu me sada Stuti & Stava 839.1
Om Hyang Widhi, Sakti-Mu selaku Maha Dewi dari Brahma, Pancaran Pradana dari Brahma. Saraswati, Dewi kemampuan berpikir, Saraswati tiada tara kebijaksanaanNya AUM, Dewi Saraswati hamba menyembah-Mu. Aum, Saraswati sebagai pemberi Anugrah, dalam bentuk yang didambakan Semogalah atas segala dharma yang hamba lakukan sukses selalu atas karunia-Mu.
“Om Hyang Widdhi , Engkau adalah Ibu Kami , Anugrahilah kami ilmu kebijaksanaan, Atas anugrah-Mu semoga Ilmu menjadikan kami hidup berbahagia, Smasta Loka sukino bawantu, semoga semua mahkluk berbahagia“
Demikianlah cara umat Hindu menghormati anugrah Tuhan yang berupa Ilmu pengetahuan suci dan ilmu pengetahuan material serta kebijaksanaan.
|
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 19:32  |
|
|
|
| Desa Pakraman |
| Minggu, 25 September 2011 |
 Jagat pratistathaa Brahma, Wisnu palayito bhawet Rudra sangharake loke, jagat sthawara janggamah. (Bhuwana Kosa, VII.27). Maksudnya: Tuhan saat menciptakan disebut Dewa Brahma, saat memelihara dan melindungi ciptaan-Nya disebut Dewa Wisnu dan saat mengakhiri keberadaan ciptaan-Nya disebut Dewa Rudra. Demikianlah manusia dan semua makhluk hidup ciptaan-Nya tercipta, terpelihara dan kembali pada asalnya, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Diperkirakan pada abad ke-11 Masehi Mpu Kuturan menganjurkan pendirian Kahyangan Tiga di desa pakraman. Tentunya ada tujuan mulia mengapa Beliau menganjurkan pendirian tiga tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti. Dalam Lontar Mpu Kuturan juga dinyatakan bahwa desa pakraman itu dibangun berdasarkan petunjuk pustaka suci (manut linging Sang Hyang Aji) oleh Sang Catur Varna. Ini artinya desa pakraman itu adalah unit sosial religius Hinduistis. Lembaga sosial umat Hindu yang disebut desa pakraman itu didirikan untuk mengamalkan ajaran Hindu agar sampai mentradisi. Hal ini sangat sesuai dengan pernyataan Sarasamuscaya 260 yang menyatakan dengan istilah Weda abyasa yang maksudnya membiasakan mengamalkan ajaran suci Weda. Pentradisian Weda itu menurut Manawa Dharmasastra I.89 sampai mengantarkan kebiasaan hidup yang kuat menuntun umatnya mencapai kehidupan yang raksanam dan dhanam. Artinya hidup yang aman dan sejahtera. Hakikat desa pakraman mengupayakan kehidupan bersama dengan program-program yang aktual dan kontekstual. Dengan program itu, tahap demi tahap kehidupan bersama yang aman (raksanam) dan sejahtera (dhanam) akan semakin terwujud. Hal inilah yang seyogianya menjadi fokus desa pakraman. Hidup ini adalah suatu proses dari utpati, sthiti dan pralina. Tiga proses ini disebut Tri Kona. Dalam pustaka Bhuwana Kosa.IV. 33 ada dinyatakan: ''Tuhanlah yang menciptakan seluruh alam dengan segala isinya. Tuhan sebagai perwujudan utpati, sthiti dan pralina (tercipta, terpelihara dan tiada). Ini artinya semua makhluk ciptaan Tuhan tidak akan pernah tidak melalui ketiga proses itu. Tuhan pun turun menjadi Tri Murti untuk menuntun umatnya agar sukses menjalankan proses hidup dengan hukum Tri Kona. Hakikat hidup adalah menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan, memelihara sesuatu yang sepatutnya dipelihara dan meniadakan sesuatu yang sepatutnya ditiadakan. Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti untuk menuntun umat agar sukses menjalankan proses hidup utpati, sthiti dan pralina. Menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan, pujalah Tuhan sebagai Dewa Brahma. Memelihara segala sesuatu dalam hidup ini tidaklah mudah. Untuk mendapat kekuatan rokhani dalam memelihara dan melindungi itu pujalah Tuhan sebagai Dewa Wisnu. Untuk meniadakan sesuatu yang sepatutnya ditiadakan pujalah Tuhan sebagai Dewa Siwa atau Iswara. Inilah tujuan pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Ini artinya hakikat desa pakraman adalah sebagai lembaga umat Hindu untuk mengamalkan ajaran Tri Kona. Ajaran Tri Kona itu untuk menciptakan iklim hidup masyarakat yang dinamis dan kreatif positif. Utpati artinya hidup ini hendaknya kreatif menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan di desa pakraman. Sthiti artinya desa pakraman hendaknya kreatif untuk memelihara dan melindungi segala sesuatu yang semestinya dilindungi. Demikian juga dalam hal meniadakan sesuatu yang sudah usang dan tidak relevan dengan dharma wajib ditiadakan agar proses menuju cita-cita mulia Agama Hindu terwujud. Ini artinya mengamalkan ajaran Tri Kona di desa pakraman ini agar hidup ini senatiasa dinamis menuju hidup yang ananda yaitu bahagia lahir batin. Isi Weda adalah sanatana dharma kebenaran yang kekal abadi. Tetapi penerapannya harus nutana artinya dinamis selalu diremajakan sesuai dengan kebutuhan zaman dalam mengamalkan dharma. Mengamalkan ajaran Tri Kona di desa pakraman dengan pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga bukan sekadar ada perubahan dan dinamika. Perubahan itu harus ke arah yang lebih baik, benar dan wajar. Apalagi dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan dalam diri manusia ada Citta Aiswarya sebagai salah satu unsur Catur Budhi yang senantisa mendorong manusia berniat baik meningkatkan diri ke arah yang semakin baik, benar dan mulia. Sifat-sifat inilah yang senantiasa didorong dalam masyarakat oleh desa pakraman sehingga menumbuhkan umat yang sehat, sabar dan ulet dalam menghadapi dinamika hidup untuk mencapai perubahan ke arah positif. Agar perubahan itu senantiasa mengarah yang positip maka umat harus dididik untuk menguasai Tri Gunanya. Peras ngarania prasida Tri Guna Sakti. Artinya sukses itu dicapai dengan menguatkan Tri Guna yaitu Sattwam, Rajah dan Tamah. Untuk mengedalikan Tri Guna ini Tuhan turun menjadi Tri Murti. Menurut pustaka Matsya Purana 53. Sloka 68 dan 69 ada dinyatakan bahwa Brahma, Wisnu dan Siwa adalah Guna Awatara. Artinya Tuhan menuntun umatnya yang bhakti mengendalikan Tri Gunanya. Melindungi sifat Sattwam Tuhan di puja sebagai Dewa Wisnu. Untuk mengendalikan Guna Rajah Tuhan dipuja sebagai Dewa Brahma. Sedangkan untuk mengendalikan Guna Tamas Tuhan dipuja sebagai Dewa Siwa. Tri Guna ini akan kuat mendukung kesucian Atman menyinari hidup manusia apabila Tri Guna itu berada di bawah kendali kecerdasan intelektual, kesadaran budhi dan kesucian Atman. Pemujaan Tuhan di Pura Kahyangan Tiga di samping untuk menuntun umat mengamalkan ajaran Tri Kona juga untuk menuntun umat mengendalikan Tri Guna. Untuk membangun Tri Guna yang sakti sesungguhnya Desa Pakraman dapat membuat program-program yang aktual dan kontektual menuju Desa Pakraman yang aman dan sejahtera. Wrehaspati Tattwa 21 menyatakan bahwa: Kalau alam pikiran (Citta) itu kuat dan seimbang dipengaruhi oleh Guna Sattwam dan Guna Rajah maka Guna Sattwam itu membuat orang berkehendak baik sedangkan Guna Rajah membuat orang nyata berbuat baik. Karena itu Tri Guna yang komposisinya ideal itu akan dapat membuat orang jadi sukses dalam hidupnya. Demikianlah latar belakang tattwa keberadaan desa pakraman di Bali yang oleh ahli Belanda disebut desa adat. |
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 01:08  |
|
|
|
| Rangda Ratunya Leak Dalam Mitologi Bali |
| Senin, 19 September 2011 |
 Rangda merupakan RATUnya LEAK dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan penganut sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik. Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti Janda. Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu Waisya, Ksatria, Brahmana. Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah Rangda. Perkembangan selanjutnya, istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang 'aeng' (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa). Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak). Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang. Mitos Rangda Diceritakan bahwa kemungkinan besar Rangda berasal dari ratu Mahendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad yang ke-11. Ia diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. Menurut legenda, ia membalas dendam dengan membunuh setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Erlangga. Kemudian ia digantikan oleh seseorang yang bijak. Rangda sangatlah penting bagi mitologi Bali. Pertempurannya melawan Barong atau melawan Erlangga sering ditampilkan dalam sendratari. Sendratari ini sangatlah populer dan merupakan warisan penting dalam tradisi Bali. Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku-kuku panjang, lidah yang menjulur panjang, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki taring-taring yang panjang dan tajam. Jenis-jenis Rangda Mengidentifikasi jenis-jenis Rangda yang berkembang di Bali amat sulit. Hal ini mengingat wujud Rangda pada umumnya adalah sama. Memang dalam cerita Calonarang ada wujud Rangda yang lain seperti Rarung, Celuluk, namun itu adalah antek-antek dari Si Calonarang dan kedudukannya lebih banyak dalam cerita-cerita bukan disakralkan. Untuk membedakan wujud Rangda adalah dengan melihat bentuk mukanya (prerai), yaitu : Nyinga : Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan (munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas. Nyeleme : Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar (lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker. Raksasa : Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan. |
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 05:48  |
|
|
|
| Penyucian Ilmu Pengetahuan |
| Senin, 25 Juli 2011 |
 Na hi jnyanena sadrisam pavitram iha vidyate tat svayam yogasam siddhah kaalena’mani vindati (Bhagavad Gita IV.38). Maksudnya: Tidak ada sesuatu di dunia ini yang dapat menyamai kesucian ilmu pengetahuan (jnana). Mereka yang sempurna dalam yoga akan memenuhi dirinya sendiri dalam jiwanya pada waktunya. Tujuan Tuhan menurunkan ilmu pengetahuan untuk menuntun umat manusia agar mengetahui, mengerti dan memahami dirinya dan alam semesta tempat manusia mengembangkan kehidupanya. Hidup yang baik adalah selalu berada pada jalan dharma. Dharmo raksati raksatah. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VIII.15. Artinya siapapun yang melindungi dharma dia akan dilindungi oleh dharma. Bagaimana agar manusia dapat melindungi dharma. Pertama dan paling utama adalah menguatkan keyakinan bahwa Tuhan itu maha adil dan maha pelindung. Karena itu lakukanlah sradha dan bhakti pada Tuhan setulus-tulusnya. Selanjutnya kuatkan kesadaran budhi menguasai kecerdasan intelektual. Pahami bahwa Tuhan juga menyemaikan citta atau idep yaitu alam pikiran pada diri setiap manusia. Manusia seharusnya mendayagunakan citta itu agar memiliki kesadaran ilmu untuk dengan cerdas melindungi dharma. Penguasaan ilmu itu maha penting dalam menegakkan dharma. Menegakkan dharma tanpa ilmu, akan mubazir. Karena itu carilah ilmu itu sepanjang zaman. Canakya Nitisastra V.15 juga menyatakan: ''Vidya mitram pravaasesu'' yang artinya sahabat yang paling dekat adalah ilmu atau vidya, apalagi di negeri orang. Demikian juga Kekawin Nitisastra II.5 menyatakan: ''Norana mitra mangelewihane wara guna maruhur.'' Artinya, tidak ada sahabat yang melebihi ilmu pengetahuan yang luhur. Dalam Canakya Nitisastra IV.15 ada dinyatakan ''Anabhyaase visam sastram.'' Maksudnya, ilmu pengetahuan atau sastra yang tidak diamalkan akan menjadi racun. Selanjutnya Canakya Nitisastra V.8 menyatakan, ''Abhyaasaad dhaaryate vidya'' yang artinya peliharalah ilmu pengetahuan dengan cara mempraktikan dengan membiasakannya dalam hidup. Karena itu dalam Bhagawad Gita IV.33 dinyatakan: Sreyan dravya-mayad yajnaj, jnyana yajnyah paramtapa. Artinya, ilmu pengetahuan merupakan yadnya yang lebih utama dibandingkan beryadnya dengan harta benda. Di India ada upacara Vijaya Dasami atau upacara untuk mengingatkan umat manusia untuk memenangkan dharma. Sedangkan di Nusantara, terutama di Bali umat Hindu memiliki Hari Raya Galungan. Kata Vijaya dalam bahasa Sansekerta dan Galungan dalam bahasa Jawa Kuna artinya sama yaitu menang. Vijaya Dasami di India dirayakan berdasarkan Tahun Surya pada bulan April dan Oktober. Sedangkan Galungan di Nusantara dirayakan berdasarkan tahun wuku yaitu pada saat Wuku Dungulan. Kata Dungulan dalam bahasa Jawa Kuno juga tidak jauh beda artinya dengan Galungan. Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan sebagai berikut: ''Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan, patitis ikang jnyana sandhi galang apadang mariakena byaparaning idep.'' Maksudnya, Rebo Kliwon Wuku Dungulan namanya Galungan untuk mengarahkan semua ilmu agar terpadu oleh para jnyanin (ilmuwan) untuk bersinergi agar membuat cerahnya hati masyarakat (galang apadang) untuk menghilangkan kegelapan hati (byaparaning oidep). Nampaknya konsep Sastra Suci Weda yang dinyatakan di atas diimplementasikan dalam perayaan Galungan sangat nyambung dengan arahan yang tertera dalam Lontar Sunarigama. Bahkan dalam Lontar Sunarigama ada dinyatakan juga merayakan Embang Sugi sebagai berikut: ''Embang Sugi anyekung jnyana nirmalakene.'' Ini artinya jnyana yang dipadukan itu untuk dibersihkan dari berbagai mala atau kekotoran agar benar-benar dapat mencapai nirmala untuk mencerahkan alam kejiwaan umat. Jnyana yang dipadukan untuk mencapai nirmala artinya jnyana itu benar-benar diaplikasikan dengan murni terpadu untuk mengangkat harkat dan martabat umat sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Karena ilmu dapat membuat orang mabuk maka muncullah teks tentang Embang Sugi dalam Sunarigama. Ini artinya perayaan Galungan dan juga hari raya Hindu mengandung nilai-nilai universal dalam kemasan budaya lokal Bali atau Nusantara. Kalau nilai-nilai suci Hindu tentang pengelolaan ilmu tersebut dievaluasi setiap merayakan Galungan maka jumlah ilmuwan mabuk kepintaran dan oknum pejabat mabuk kekuasaan dapat semakin dikurangi. Kalau ilmuwan mabuk dan pejabat mabuk itu artinya ilmu masih mengotori sementara manusia. Bukan salahnya ilmu tetapi manusia yang punya ilmu itulah yang belum bisa mendayagunakan ilmu itu untuk mengelola hidupnya. Kalau para ilmuwan dan pejabat tidak mabuk maka mereka akan benar-benar mengurus peningkatan harkat dan martabat rakyat untuk hidup aman, adil dan makmur lahir batin. Dengan konsep pengelolaan ilmu dan ilmuwan menjadi suci, dapat dijadikan acuan dalam mengamati perayaan Galung kini dan seterusnya. Hari Raya Galungan mengingatkan umat Hindu agar menjadikan hari itu momen untuk mengevaluasi upaya memelihara dan menerapkan ilmu agar terus berkembang dan teruji kemampuannya untuk digunakan menegakkan dharma. Karena, kalau ilmu tidak diterapkan akan menjadi racun. Setiap merayakan Galungan marilah kita amati kembali, sudahkan kita rayakan Galungan itu sesuai dengan tattwa yang ada dalam pustakanya. Boleh saja kita rayakan semeriah mungkin, tetapi jangan sampai menyimpang dari makna perayaan itu untuk memenangkan kehidupan berdasarkan dharma. Inti perayaan Galungan itu menghaturkan banten Tumpeng Galungan sebagai banten pokok. Tumpeng Galungan itu melambangkan keadaan bhuwana Agung ini sebagai wadah kehidupan yang aman damai dan sejahtera berdasarkan dharma. Keadaan bhuwana agung wadah kehidupan semua makhluk yang demikian itulah yang harus kita terus wujudkan dengan dasar memadukan penerapan ilmu pengetahuan. Tentunya akan menjadi mubazir kalau perayaan Galungan demikian meriahnya sedangkan alam semakin rusak dan kebersamaan sosial semakin merenggang dan ilmu semakin tidak digunakan dalam mengatasi berbagai persoalan. Jangan gunakan emosi yang bergejolak dan otot yang kekar mengatasi persoalan hidup di bumi ini. Analisalah dengan ilmu atau jnyana semua persoalan hidup di bumi ini. Hindari merayakan Galungan hanya untuk berhura-hura. Apalagi boros, karena boros tenaga, waktu, uang dan makanan sangat dilarang agama Hindu. |
posted by Arya Tangkas Kori Agung @ 05:04  |
|
|
|
|
| Penyadur |
|

Name: Arya Tangkas Kori Agung
Home: Br. Gunung Rata, Getakan, Klungkung, Bali, Indonesia
About Me: Perthi Sentana Arya Tangkas Kori Agung
See my complete profile
|
| Artikel Hindu |
|
| Arsip Bulanan |
|
|
| Situs Pendukung |
|
|
| Link Exchange |
|
| Powered by |

|
| Rarisang Mapunia |
|
|
|